Tan Malaka Misterius Hanya Mitos

Salah satu strategi kaum komunis Indonesia dalam membangkitkan dirinya kembali di zaman di mana rakyat Indonesia sudah banyak lupa terhadap sejarahnya sekarang ini adalah menceritakan sisi positif dari tokoh-tokoh komunis Indonesia sehingga menimbulkan simpati terhadap para komunis dan menciptakan komunis Indonesia adalah orang-orang nasionalis yang cinta tanah air. Masalahnya di mana cara mencari tokoh komunis semacam itu mengingat hampir seluruh tangan komunis Indonesia bersimbah darah rakyat sipil dan militer yang menjadi korban-korbannya. Para komunis tentu tidak bisa mengkampanyekan Musso yang terbukti bekerja sama dengan Partai Komunis Belanda untuk “mengembalikan” Republik Indonesia menjadi Hindia Belanda. Lebih jauh lagi, untuk mendukung gerakan meng-Hindia-Belanda-kan Indonesia, Musso menerima dana cukup besar dari Partai Komunis Cekoslovakia yang dititipkan kepada Paul De Groot, Ketua Partai Komunis Belanda. Menaikan nama Amir Sjarifuddin yang bersama-sama Musso mengadakan kudeta berdarah di Madiun pada tahun 1948 juga sama sekali tidak mungkin. Dengan alasan yang sama, para komunis Indonesia tidak bisa mencitrakan tokoh nasionalis kepada DN Aidit, Lukman, Njoto, Sudisman dan lain-lain karena mereka adalah perancang pemberontakan tahun 1965 yang sekarang dikenal sebagai G30S/PKI. Satu-satunya yang tersisa adalah Tan Malaka sebab memang jarang diulas dan memiliki status sebagai pahlawan nasional yang diberikan Soekarno ketika dirinya didesak PKI untuk menjadikan salah satu tokoh komunis menjadi pahlawan nasional. Sejarah hidup Tan Malaka memang jarang diulas akan tetapi bukan berarti tidak pernah dibahas dengan detail. Kendati demikian, hal ini tetap tidak menghentikan para propagandis komunis internasional seperti Wertheim, Carmel Budiardjo, Ben Anderson, Ruth McVey dan kemudian para ex Lekra untuk menciptakan mitos kemisteriusan Tan Malaka agar generasi muda Indonesia menjadi tertarik pada tokoh ini dan kemudian mempercayai cerita-cerita fiktif mengenai Tan Malaka sehingga melahirkan simpati kepada tokoh kemunis ini, dengan demikian ajaran komunis dapat disampaikan dan disebarkan dengan meminjam “mulut” Tan Malaka. Salah satu penulis kisah karir politik Tan Malaka adalah George McTurnan Kahin yang meneliti gerakan nasionalisme di Indonesia dan bahkan berada di Jogjakarta dalam rangka penelitian pada saat agresi militer kedua Belanda, dan dia juga mengkonfirmasi cerita Pak Harto bahwa serangan umum pasukan Indonesia memang tidak terjadi pada tanggal 1 Maret 1949 saja, melainkan beberapa bulan sebelumnya juga telah dilakukan berbagai serangan umum, yang dimulai sejak Desember 1948 atau beberapa hari setelah agresi militer Belanda. Hasil penelitian George M. Kahin ini dibukukan dengan judul Nationalism and Revolution in Indonesia, yang diterbitkan pada tahun 1952. Terjemahan buku ini sendiri pernah terbit di Indonesia tahun 1994 oleh penerbit Sinar Harapan dan baru-baru ini diterbitkan ulang oleh penerbit Komunitas Bambu. George Kahin sendiri adalah simpatisan komunis kalau tidak mau dikatakan dia adalah komunis, sehingga walaupun warga Amerika, akan tetapi dia memihak dan mendukung Vietnam Utara dalam perang Vietnam, dan mendukung rezim Khmer Merah. Bahkan murid-muridnya seperti Ben Anderson dan Ruth McVey belakangan terlibat dalam usaha pembersihan nama PKI yang terbukti sebagai pelaku utama G30S/PKI dengan menciptakan teori “konflik internal” dengan berbekal klipingan koran. Oleh karena itu tidak ada alasan mengatakan karya penelitian George Kahin mengenai Tan Malaka bias atau anti komunis, sebab kenyataannya George Kahin adalah pro-komunis. Dalam buku hasil penelitian George Kahin tersebut sangat jelas diceritakan kelahiran nasionalisme di Indonesia mulai dari kelompok Budi Oetomo, Serikat Dagang Islam yang kemudian menjadi Serikat Islam dan bagaimana beberapa tokoh Serikat Islam menjadi tertarik pada marxisme yang anti imperialisme dan kemudian sebagian tokoh Serikat Islam yang sudah menjadi komunis itu berusaha mengkomuniskan Serikat Islam dan bahkan memecah belah Serikat Islam menjadi “Serikat Islam Merah” (komunis) dan “Serikat Islam Hijau” (Islam), yang mana Tan Malaka berandil sangat besar dalam memecah belah Serikat Islam sebelum kemudian bersama teman-teman komunisnya mendirikan Partai Komunis India-Belanda (PKI), dan akhirnya tersingkir hingga ke Moskow sampai dia kembali ke Indonesia setelah Soekarno-Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Cerita Tan Malaka-pun berlanjut dengan berbagai usahanya menggulingkan pemerintahan Soekarno-Hatta demi memuluskan ambisi pribadinya menjadi presiden Indonesia. Salah satu usaha tersebut termasuk diam-diam menyuruh orang menembaki mobil Soekarno, Hatta dan Sjahrir, kemudian setelahnya mengajukan usul dibuat “surat wasiat” apabila Soekarno-Hatta tertimpa musibah maka Tan Malaka akan menjadi pewaris bersama-sama empat orang lainnya. Tidak puas dengan hal tersebut, George Kahin menemukan fakta bahwa Tan Malaka kemudian memalsukan surat tersebut dan menjadikan dirinya sebagai pewaris tunggal Soekarno-Hatta dan keliling Indonesia sambil menyebarkan propaganda bahwa Soekarno-Hatta antek Belanda dan Inggris serta telah menyerahkan kekuasaan kepada Tan Malaka. Usaha terakhir Tan Malaka untuk merebut kekuasaan adalah dengan mengangkat senjata, yang berlanjut dengan penculikan Sjahrir oleh Soedarsono atas perintah Tan Malaka dengan tujuan akhir mendemisioner seluruh kabinet Soekarno-Hatta. Untungnya rencana Tan Malaka ini digagalkan oleh Pak Harto, sedangkan Tan Malaka kemudian tertangkap tentara Indonesia dan dieksekusi mati karena penghianatannya kepada Republik Indonesia. Jadi sebenarnya kisah hidup Tan Malaka sama sekali tidak misterius apalagi penuh rahasia. Hendra D

No comments: