Mengungkap Jejak Misteri Sang Pemimpin Nazi

(Cover diambil dari koleksi sendiri)
Judul buku : The History of Adolf Hitler
Penulis : Agus Nur Cahyo
Penerbit : Palapa
Cetakan : I, Oktober 2013
ISBN : 978-602-255-315-1

MENGUNGKAP JEJAK MISTERI SANG PEMIMPIN NAZI
Siapa yang tak kenal Adolf Hitler? Tokoh sentral Nazi berjuluk Fuhrer ini memang tak pernah habis untuk dibicarakan. Yang pasti, sejarah dunia telah mencatat dirinya sebagai seorang pemimpin yang keras, kasar, labil, kejam, otoriter, dan segala atribut menyeramkan lainnya. Namun dari sejarah perjalanan hidupnya, masih ada sejumput misteri yang sampai saat ini belum terkuak. Masih banyak sejarah yang mengandung celah perdebatan. Diantaranya adalah misteri tentang kematianya; bagaimana dan dimana? Serta misteri seputar Holocaust; apakah tragedi itu betul-betul terjadi? Dua misteri itulah yang diungkap dalam buku ini selain kisah perjalanan hidupnya mulai dari masa kecil hingga sukses menjadi orang nomor satu di Jerman.
Selama berpuluh tahun sejarah dunia memang mencatat bahwa kematian Hitler adalah dengan cara bunuh diri setelah kekalahan Jerman. Tapi belakangan kebenaran sejarah itu pun banyak dipertanyakan. Belakang malah Koran The Daily Telegraph menurunkan sebuah laporan bahwa tengkorak yang selama ini diyakini milik Hitler dan disimpan di Rusia ternyata tengkorak perempuan yang meninggal di bawah usia 40 tahun. (halaman. 125).
Memang sebelum itu telah banyak berkembang pendapat mengenai penyebab kematian tokoh Nazi ini, diantaranya adalah versi Jerman yang menyatakan dia bunuh diri bersama kekasihnya, Eva Braun, yang dinikahi sehari sebelumnya. Dalam sebuah bungker, ia menyuruh Braun menggigit kapsul sianida, sementara dirinya menembak dirinya sendiri. Namun sejak Koran The Daily Telegraph menurunkan berita itu bermuncullah beragam versi lain. Dan dari sekian versi yang ada, yang paling menggemparkan dunia adalah versi terbaru, yaitu versi yang menyatakan kalau Hitler ternyata melarikan diri dan tinggal di Indonesia, tepatnya di Sumbawa.
Fakta-fakta yang menjurus bahwa dr. Poch, pemimpin sebuah rumah sakit di Sumbawa adalah Hitler diungkap pertama kali oleh dr. Sosrohusodo melalui tulisannya pada Pikiran Rakyat tahun 1983. (hal. 132). Dia mengaku pernah bertemu beberapa kali dengan dr. Poch saat bertugas sebagai tenaga kesehatan di kapal Hope yang dijadikan rumah sakit pada tahun 1960. Melalui perbincangan masa lalu dan dengan melihat ciri-ciri fisik seperti jalannya yang pincang, kumis yang mirip Charlie Chaplin, dan berkepala plontos, dr. Sosrohusodo yakin kalau dr. Poch adalah Hitler. Terlebih dengan keberadaan wanita yang mirip dengan Eva Braun, istri Hitler. Keyakinan dr. Sosrohusodo kian kental saat ia akhirnya bertemu Sulaesih, wanita Sunda yang merupakan istri dr. Poch. Dari dialah ia mendapatkan dokumen yang berupa buku harian dr. Poch, foto-foto, pasport, SIM dan keterangan penting lainnya yang semuanya menguatkan kalau dr. Poch adalah Hitler.
Memang lebih lanjut dr. Sosrohusodo mengatakan Hitler masuk ke Indonesia dengan kapal selam dan mendarat di Sumbawa. Tapi mungkinkah penemuan bangkai kapal selam Nazi Jerman tipe Unterseeboot atau U-Boat di laut Jawa oleh tim peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional baru-baru ini merupakan bukti baru yang akan memperkuat pendapat dr. Sosrohusodo bahwa Sang Fuhrer betul-betul meninggal di Indonesia? Inilah satu fakta yang menarik untuk kembali ditelisik.
Sejarah lain seputar Hitler yang menarik ditelisik kebenarannya adalah seputar Holocaust, yakni pemusnahan hampir seluruh orang Yahudi-Eropa oleh Nazi selama Perang Dunia II hingga mencapai 5,6 sampai 5,9 juta. Orang-orang Yahudi disuruh menggali lubang kubur sendiri lalu ditembak mati. Selain itu, beberapa orang Yahudi yang berada di kamp pembantaian dimasukkan ke dalam kamar gas, kemudian gas Zyklon-B dialirkan.
Paul Rassinier, korban Holocaust yang selamat membantah sejarah itu. Dia mengatakan sebenarnya tak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi atas Yahudi, tidak ada kamar gas, dan jumlah korban tak sebesar itu. Sementara Artur Butz mengatakan kalau gas Zyklon-B bukan untuk membantai tapi untuk menghilangkan bakteri pada pakaian. Sedang mengenai kematian massal, Robert Faurisson, profesor literatur di University of Lyons 2 menyakini bahwa penyakit tifus-lah yang membunuh tawanan itu, bukan kamar gas. (halaman 160-161).
Tentang otak dibelakang tragedi Holocaust pun penuh misteri. Israel menyakini Adolf Eichmann, seorang militer berpangkat kolonel inilah otak pembantaian massal tersebut, hingga ia diburu, diadili, sampai akhirnya dihukum gantung. Namun belakangan kebenaran tuduhan tersebut ramai dipertanyakan. Justru, versi lain memberi informasi yang sangat mengejutkan, karena orang Yahudi sendirilah yang sebenarnya ada dibalik rencana keji itu. Dia adalah Karl Haushofer. Norman Finkeltstain dalam The Holocaust Indusry menegaskan bahwa Holocaust sesungguhnya didalangi oleh kaum Zionis-Yahudi guna memaksa orang Yahudi pindah ke Palestina, lewat tangan Hitler. Bahkan ia mengecam cara-cara kotor Zionis itu. (halaman 173-174).
Sedang dari beberapa riset lanjutan ternyata menguatkan fakta kalau Holocaust hanya sebuah mitos, yang berarti ada sejarah yang disembunyikan demi kepentingan kelompok tertentu. Pengungkapan fakta-fakta ini juga banyak dilakukukan para peneliti dan ilmuwan Barat, namun bukan saja fakta-fakta itu ditolak tapi mereka juga diadili dan dijebloskan ke penjara.
Buku ini benar-benar memberi satu pelajaran penting bagi kita untuk selalu berpikir kritis terhadap data-data sejarah agar tak mudah terjebak pada satu pendapat yang tidak menutup kemungkinan sarat dengan kepentingan suatu golongan tertentu atau dari orang-orang demi melanggengkan kuasaannya.
Resensor Moh. Romadlon. Penulis lepas Tinggal di Kebumen

No comments: