“Oedjan” Tokoh Humahai yang Mendakwah di Tanah Dayak Mandomai
Nisan Makam “Oedjan” (Perpaduan Unsur Budaya Islam dan Kaharingan) Foto: Dayakofborneo.blogspot.com
Diperkirakan Islam masuk ke daerah Mandomai sekitar abad ke-18, para penghuni “huma hai” pun tertarik dengan ajaran Islam yang menurut mereka sangat relevan dengan kehidupan manusia, penyebaran Islam begitu pesat di Mandomai, hal ini terbukti dari adanya pembauran budaya setempat dengan corak budaya Islam, seperti nisan makam yang berbentuk tinggi seperti sapundu (titian menuju surga menurut ajaran agama Kaharingan) berukirkan kaligrafi arab di sebuah makam seorang penghuni “huma hai” yaitu Oedjan.
Perkembangan Islam di Mandomai ini berkaitan erat dengan seorang tokoh di “huma hai” yaitu Oedjan, orang tua Oedjan berasal dari daerah Palingkau, tepatnya Doesoen Timoer Patai, Oedjan adalah anak dari Damboeng Doijoe yang juga disebut seorang Temenggung Madoedoe yang merupakan sepupu dari Soetawana.
Temenggung Madoedoe atau Damboeng Doijoe adalah anak dari Djampi yang merupakan kakek dari Oedjan yang sudah memeluk Ajaran Islam terlebih dahulu. Oedjan ini menikah dengan seorang gadis keturunan Portugis yang bernama Makaw (Saleh), dari perkawinannya ini mereka di anugerahi 9 orang anak yaitu Sahaboe, Oemar, Aloeh, Galoeh, Soci, Ali, Esah, Tarih, dan Njai.
Pesatnya perkembangan islam diderah tersebut ditandai dengan dibangunnya sarana – sarana tempat ibadah, salah satu sarana tempat ibadah di daerah itu yang menjadi sorotan publik yaitu Mesjid Al-Iklas yang dikenal dengan Mesjid empat tiang guru.
Mesjid empat tiang guru ini di prakarsai oleh empat tokoh masyarakat yaitu : Rahman Abdi bin H. Muhammad Arsyad (Kuin), Abdullah bin H. Muhammad (penghulu Mandomai), Sabri bin H.Muchtar, Sahaboe bin H. Muhammad Aspar. Nama-nama para pemprakarsa pembangunan mesjid ini terpahat di empat tiang mesjid Jami Al- Ikhlas.
Editor : Safar syuhada




2 comments:
izin nanya anda dapat info darimana pak?
ralat salah ketik tdi , mau nanya dapat info darimana pak?
Post a Comment