‘Pura-pura Hidup’ Pasca-Tsunami 2004

SEMBILAN tahun sudah berlalu, korban tsunami meninggalkan keluarga tercinta. Sebagian kita nyaris sudah lupa pada hikmah di balik ajal yang dahsyat itu. Dengan rajin merehab dan merekon, lantas jejak musibah pun, pelan-pelan kita hilangkan. Supaya tidak trauma, mungkin dalih sebagian kita. Tataplah ke depan, jangan larut ke belakang, jika ingin maju, saran orang pintar kita yang lain. Tersisalah monumen bisu, bukan lagi pengajaran untuk kita yang masih bernafas ini. Kita yang alpa pada maut, satu ciri kedunguan.

Sama saja dengan rumah kita yang bersebelahan dengan komplek kuburan. Kita beton dan pagar tinggi, agar makam sepi itu tak sering kelihatan. Agar kita lupa mati. Kita seakan-akan kekal di sini, di istana mewah. Kalau lewat mati tak bisa lagi menjadi obat hati, tak bisa menjadi pengajaran atau ‘ibrah, sungguh tiada obat mujarab lagi di bumi ini, di apotik mahal itu. Andai kematian yang ramai-ramai di depan mata, seperti musibah lalu, tak pula dapat mengobati kedurhakaan kita, bahkan kekufuran kian menjadi-jadi, bagaimana lagi dengan kematian personal di kampung sebelah. Kita memang tak cerdas terhadap hidup dan mati. Kita kadang pura-pura hidup, bagai mayat berjalan.

Soal hidup, sakit, dan mati, Prof Dr Safwan Idris MA, pernah membandingkan kita dengan alam binatang. Dalam dunia kebinatangan, tak ada tim dokter dan rumah sakit. Sunnatullah terpelihara di hutan. Hukum alam langgeng di sana. Mereka saling memakan. Dia yang kuat, kencang lari, tajam taring, keras kuku, akan memangsa yang lemah. Saat yang kuat, semisal harimau, singa, dan serigala pun sudah uzur, sakit-sakian, lalu mati, maka jasadnya akan dimakan kawan: binatang yang dua atau empat kaki. Atau oleh unsur tanah yang membiak. Tanaman akan subur tumbuh bersama bangkai. Tumbuhan akan dimakan lagi oleh hewan. Begitulah rantai makanan. Ekosistem dan simbiosis mutualis di rimba Tuhan. Sampai masuk manusia yang rakus dan tamak ini. Merusak tatanan alam Tuhan. Membabat hutan dan memburu binatang.

 Takut mati
Almarhum Safwan --yang syahid ditembak oleh sesama manusia di rumahnya usai shubuh, Sabtu 16 September 2000-- menyambung, bahwa yang paling takut mati, inilah manusia. Terutama kita, manusia di era modern ini, memang amat mencintai dunia (hubbud dun-ya) dan membenci mati (karahatul maut). Maksud takut mati dalam Islam, memang, bukan lari dari maut, tapi menyongsong dan merindukannya dengan amal shalih. Sebab mati, bukan hilang nyawa, tapi berpisah dengan jasad yang kasat dan rendahan ini. Sakarat itu cuma satu tiket, suatu gerbang ke akhirat. Tak mungkin masuk surga (atau neraka), tanpa mati dulu. Dijemput Izrail, menjemput maut dulu, baru boleh mengahadap Allah, dalam makna ukhrawi.

Jadi manusia, dia atau kita, pencinta dunia, cenderung menghindari mati dengan mengorbankan rupiah, emas dan deposito, asal jangan mati hari ini. Rela kita pasang alat medis di semua lobang kehidupan. Menelan semua obat dan suplemen, asal sehat. Senam dan pijat berjam-jam, supaya segar. Terbang ke Singapura dan Penang, agar bugar. Kita menyebut ini usaha, kita mengatakan agama melarang bunuh diri, membunuh pasien atau euthanasia, kita fatwakan semua haram. Padahal ada alasan tertentu --dalam fiqh-- barangkali lebih mashlahah, mempercepat kematian saudara kita, daripada menyiksa dengan mempertahankan di sel rumah sakit, pura-pura hidup.

Sedangkan bagi orang, dia atau kita, yang merindukan mati, tawakkal saja seidealnya, terus menyongsong maut dengan zikir atau ditalqinkan. Anak dan cucu, terus melantunkan Kalam-Nya, bukan ketawa bersama perawat dan tim medis yang dididik rata-rata dengan kurikulum sekuler! Menurut saya, daripada menemani si sakit yang tak sadarkan diri lagi --yang hanya dijenguk oleh perawat, ganti infus, diiringi dengan canda ria pengunjung dan tim medis, otak-atik HP-- sungguh amat baik dengan membawa pulang saja pasien ke rumah di kampung. Di sana kita perdengarkan Surat Yasin, ar-Rahman, al-Kahfi, atau ar-Ra‘du, lalu yang sakit akan meninggal dengan tenang dan syar‘i.

Antara titik tengah pengaharapan (raja’) dan cemas (khawf) itulah, kita menuju ke hadirat Tuhan. Ini konsep takut dan harap saat sakarat. Harap dan cemas dua syarat untuk mati baik. Mengharap Allah ridha dan ampunan; seiring dengan kekuatiran kalau-kalau Tuhan murka dan utang tak terlunasi, kredit bank macet. Kita mohon mati baik (khusnul khatimah), bukan mati jelek (su’ul khatimah). Dalam ibadah hari dan malam juga syaratnya begitu, antara harap dan cemas. Bagi orang baik, mati seakan dicari, bukan dihindari. Andai kita takut mati, jangan pernah hidup; dan jika takut hidup, kita mati saja.

Bagi kita yang sadar akan keberadaan (existence) di sini, di perut bola bumi yang mungil ini, akan pasrah seideal mungkin pada Ilahi. Baik dalam keidupan maupun menjelang kematian. Kita yang sadar akan jati diri, terbuat dari bahan hina apa, sedang merangkak di mana kini, sedang menjinjing apa di perut hari ini, esok mau dimakamkan ke mana, akan memberi sisa nyawa ini untuk sesama dan sekaligus buat agama. “Orang baik pada hakikatnya tidak pernah mati,” ujar nan arif. Walaupun nisannya sudah dibawa tsunami. Atau sudah berbilang abad di bawah sana. Inilah makna salah satu syuhada --sang mati syahid dengan jalan jihad yang banyak cara itu-- tidak diperkenankan kita menyebutnya mati.

Manusia bijaksana akan terus merasa mati. Siapa yang bisa senantiasa peka merasakan kematian, akan dapat benar-benar lebih hidup. Untuk menilai apakah kita benar-benar hidup, ada pada kontinuitas dalam mereposisikan diri. Kembali menata diri ke jalan Allah. Lewat syariat-Nya kita berjuang. Suka mengajak dan tulus membantu. Bukan malah mengejek orang beribadah. Bukan menyuruh orang saja, atau mengkritik orang saja; kita bilang cuma bisa mengamalkan ritual; dia belum mantap tauhid sosial. Sedangkan kita hanya pada tataran ceramah dan tulis-tulis saja. Jika tidak merasa ada kematian, dan terus pura-pura hidup, mengesankan kita hidup, sama saja kita ini, ada atau tiada dalam keberadaan, ada kayak tiada, “Wujuduhum ka`adamihim,” ejek orang Arab. Malang sekali kita yang tak diakui pernah ada di sini.

Kehidupan sesungguhnya, sudah sampai pada saat kapan pun siap menjemput mati. Kehidupan yang begini tidak merasa peduli hidup atau mati. Pada titik ketidakpedulian inilah sebenarnya ada kehidupan. Jadi, di saat kita merasa siap kehilangan hidup, di saat itulah benar-benar hidup. Bukankah tidak akan betul-betul mati melainkan sekali saja. Kebanyakan kita sekarang, barangkali lebih banyak telah mati, walaupun bergerak-gerak. Menyetir dan minum kopi, sambil ketawa memang. Kita mungkin tidak sungguh-sungguh hidup. Paling banyak sedang mempertahankan agar kelihatan hidup.

 ‘Bangkai’ berjalan
Bagi kita yang mempertahankan agar tubuh atletis terus hidup, pada hakikatnya bukanlah kehidupan. Saat menampakkan badan ini terus tampak hidup, pada dasarnya kita telah mati. Kehidupan model ini sedikit berbeda dengan ‘bangkai’ yang berjalan. Potret ini teringat kita pada beberapa cerita tentang mayat yang selagi hidup memelihara setan, sihir, dukun jahat. Dia belum mati walaupun sudah bau menusuk, hingga keluar setan itu dengan diusir atau atap rumah dibocorkan ke langit. Sakarat yang begitu amatlah merana.

Sungguh amat pedih rasanya mati. Juga bagi korban tsunami. Bagi kekasih-Nya yang sudah diringankan derajat kepedihan, tetap masih dahsyat dan pedih rasanya, apalagi kita yang hina ini. “Seperti tusukan besi bakar,” kata Ibrahim as, ketika Allah menanyakannya usai maut. Saat ruh Musa as sampai ke hadirat Allah dan ditanyai, lalu dia menjawab: “Saya mendapatkan diriku seperti burung yang hidup lalu dilempar ke atas penggorengan, tak mati dan tak pula dapat melepaskan diri.” Rasulullah saw menyamakan: “Aku mendapati diriku seperti kambing hidup yang dikuliti dengan pisau dan tidak mati-mati.” “Dia lebih sakit dari tebasan pedang, belahan gergaji, dan potongan alat potong,” sambung Isa bin Maryam as. Masihkan kita suka menjelekkan sesama, menggosip, nongkrong kelamaan dan membunuh waktu di kedai kopi, doyan maksiat, bukannya menyiapkan maut yang tiba-tiba, yang amat pedih itu?

Bagi orang arif, bukan sakit kematian yang diratapi --walaupun terus didoakan agar husnul khatimah, melainkan nilai kehidupan pascamaut nanti yang patut direnungi. Orang pandai, itulah siapa pun yang ingat mati (zikrul maut), dan siap menjemputnya. Kendatipun nilai akdemik dan tingkat ekonomi sering terus dikurangi, serta harga yang melekat di sampul kemegahan dalam sosial kemasyarakatan kerap luput dari perhitungan. Orang bodoh, kalau demikian, adalah kita yang lupa dan enggan menyiapkan diri untuk mati.

* Muhammad Yakub Yahya, Direktur TPQ Plus Baiturrahman, Subbag Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Aceh (Saksi Tsunami 26 Desember 2004, di Lampulo, Kuta Alam, Banda Aceh). Email: m.yakubyahya@yahoo.co.id

No comments: