Refleksi Akhir 2013
RASANYA baru kemarin Januari 2013, tapi kini sudah di pengujung Desember 2013. Gerak waktu terasa begitu cepat. Minggalkan kita pada kenangan-kenangan, sebuah sejarah yang telah kita ukir sepanjang 2013. Mungkin di antara kita merasa puas karena banyak melakukan hal-hal postif luar biasa pada 2013. Tetapi banyak juga di antara kita menyesali berlalunya waktu, sebab mungkin banyak melakukan hal negatif tidak biasa pada 2013 yang akan segera berlalu ini. Namun tak ada artinya kita menyesali yang telah terjadi, sebab yang berlalu tetaplah kenangan, entah itu baik ataupun buruk, semuanya telah terjadi. Tidak mungkin kita bisa kembali ke masa lalu.
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Ketika semua sudah terjadi, baru kita merasa bersalah. Tetapi saat melakukan kesalahan, perasaan bersalah tidak pernah muncul, bahkan ingin melakukannya berkali-kali. Kira-kira seperti halnya koruptor, saat mencuri uang negara dan menggunakannya untuk kebutuhan hidupnya terasa begitu nikmat sekali. Tetapi ketika sudah mendekam di penjara, atau setidaknya ketika namanya sudah disebut-sebut media sebagai tersangka korupsi, baru sadar jika yang dilakukannya tidak baik.
Refleksi diri
Bangsa kita seringkali terjebak pada hal-hal yang instan. Jarang orang Indonesia yang berpikir panjang atas dampak yang dilakukaknnya di masa depan. Akibatnya, kita menjadi bangsa yang kerap terjebak dalam penyesalan, disebabkan banyaknya kesalahan yang kita perbuat. Maka di pengujung 2013 ini, kita penting melakukan refleksi diri untuk belajar dari masa lalau. Jadi, bukan sekadar menyesalinya, melainkan perlu mengambil pelajaran dari masa lalu agar kita memahami kebijaksanaan hidup secara utuh. Benar bahasa pepatah, experience is the best teacher (pengalaman adalah guru terbaik).
Pengalaman hidup lebih menekankan pada pemaknaan realitas bukan sekedar melalui rasionalitas, tetapi juga melalui perasaan yang mendalam. Pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup menyadarkan kita saat hendak melakukan kesalahan yang kedua kali. Atau ketika hendak melakukan kesalahan seperti yang pernah dilakukan oleh orang lain kepada kita, kita menjadi sadar jika itu tidak baik. Dengan seperti ini, kehendak melakukan kesalahan akan berkurang, bahkan tidak lagi melakukannya.
Nabi Muhammad saw dalam satu hadisnya bersabda: “Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari). Hadis ini sangat penting menjadi bahan refleksi bagi kita menjelang akhir 2013.
Isyarat ideal perjalanan hidup dalam hadis di atas secara jelas digambarkan bahwa manusia yang lebih jelek perilakunya dari hari sebelumnya adalah terlaknat, bahkan yang sama dengan hari sebelumnya dinyatakan merugi. Maka pilihan terakhir dengan lebih baik dari hari sebelumnya sudah semestinya menjadi acuan dalam perjalanan hidup kita, agar kita menjadi orang yang beruntung.
Allah Swt berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-`Ashr: 1-3). Ayat ini memberikan gambaran kepada manusia betapa berharganya waktu.
Tuhan Yang Maha Sempurna, pencipta segala sesuatu, termasuk waktu, bersumpah atas nama makhluknya yang bernama waktu. Sumpah Tuhan atas nama waktu, menegaskan kepada kita makhlukNya bahwa waktu itu sangat berharga. Tanpa waktu semua yang ada di dunia ini akan binasa. Termasuk manusia, kita sampai hari ini masih bisa merasakan yang namanya hidup, karena kita masih memiliki waktu. Pada saatnya nanti, ketika jatah waktu dalam hidup kita habis, kita juga akan meninggalkan dunia ini.
Imam Syafi’i pernah berkata: “Seandainya Alquran tidak diturunkan seluruhnya dan yang turun itu hanya Surah Al-`Ashr saja, maka itu sudah cukup menjadi pedoman umat manusia.” Apa yang disampaikan Imam Syafi’i merupakan kekaguman yang luar biasa terhadap ayat di atas.
Dalam ayat itu diajarakan bagaimana semestinya manusia beriman kepada Allah Swt beramal baik, saling mengingatkan dalam kebaikan-kesabaran, dan menggunakan waktu sebaik mungkin. Ketika manusia bisa melakukan itu semua, niscaya dirinya akan menjadi orang luar biasa yang senantiasa menggunakan waktu dan kesempatan yang dimiliki secara baik, seperti digambarkan dalam hadis Nabi di atas, bahwa manusia harus senantiasa lebih baik dari waktu ke waktu. Seban itu, kiranya kita penting membangun kesadaran diri sebagai manusia.
Kesadaran eksistensial
Untuk membangun kesadaran pada diri kita, kiranya kita penting memahami pernyataan Bapak Filsafat Modern, Rene Descartes, terkait manusia. Descartes menyebut manusia sebagai animal rationale (binatang yang dapat berpikir) atau a thinking being (makhluk yang berpikir). Inilah yang membedakaan manusia dengan binatang lainnya yang tidak memiliki kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir yang dimiliki manusia mampu mengantarkan dirinya pada eksistensi yang utuh sebagai manusia yang berdiri sendiri dengan pikirannya. Pikiran menjadi auto-refleketif dalam melakukan perencanaan, penelaahan, pengambilan keputusan, dan pengoordinasian terhadap kerja jasmani-rohani manusia.
Satu tesa yang pernah dikemukakan Descartes adalah cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Ketika manusia cogito (aku berpikir), ia akan menemukan eksistensi dirinya secara utuh. Bahkan bukan hanya dirinya sendiri yang ditemukan, tetapi juga orang lain akan hadir dalam diri kita, ketika melakukan cogito. Kesadaran akan diri sendiri dan juga orang lain kemudian disebut filsuf eksistensialisme, Jean Paul Sartre, sebagai humanisme, bahwa manusia bukan hanya memiliki tanggung jawab atas individualitasnya sendiri, tetapi bertanggung jawab atas semua umat manusia.
Pemikiran dua tokoh filsafat tersebut bisa menjadi acuaan dalam menggugah kesadaran eksistensi kita di akhir 2013 ini. Pembacaan atas waktu yang kita miliki seperti diurai di bagian atas penting kita kaitkan dengan upaya kesadaran eksitensial yang dikemukakan kedua tokoh filsafat tersebut. Jika pada bagian awal kita menelaah makna waktu yang kita miliki. Sekarang kita perlu menggugah kesadaran eksistensi diri, untuk kemudian menjadi manusia ideal seperti hadis Nabi saw di atas, manusia yang selalu lebih baik dari waktu ke waktu.
Kesadaran cogito milik Descartes, kita gunakan untuk mempertayakan kembali misi dan makna hidup. Ketika sudah ditemukan jawabnya, mudah-mudahan kita tergerak melakukan perbaikan hidup, sebab pada prinsipnya tidak ada manusia yang menginginkan kematian eksistensi dirinya dengan melakukan kejahatan.
Setelah itu, gagasan humanisme Jean Paul Sartre penting kita hadirkan dalam diri kita, agar kita tidak menjadi manusia egois, angkuh, dan hanya memikirkan diri sendiri. Sebab pada prinsipnya manusia tidak bermakna apa-apa tanpa orang lain. Kita merasa ada dan bermakna dalam hidup, sebab ada orang lain yang mengakui eksistensi diri kita. Seandainya tidak ada orang lain atau tidak ada yang mengakui eksistnsi diri kita, maka kita tidak memiliki makna apa-apa dalam hidup.
Kealpaan akan kesadaran eksistensi inilah yang cenderung membuat manusia berperikalu koruptif, tidak adil, diskriminatif, brutal, saling menyesatkan, dan semua tindakan konyol lainnya. Karena itulah di pengujung 2013 ini, kita penting melakukan refleksi untuk menemukan eksistensi diri dan memaknai waktu secara utuh, sehingga kita tidak melakukan kesalahan yang sama pada 2014 mendatang. Selamat berefleksi!
* Masduri, Peneliti Teologi dan Filsafat Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Email: masduri_as@yahoo.co.id
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Ketika semua sudah terjadi, baru kita merasa bersalah. Tetapi saat melakukan kesalahan, perasaan bersalah tidak pernah muncul, bahkan ingin melakukannya berkali-kali. Kira-kira seperti halnya koruptor, saat mencuri uang negara dan menggunakannya untuk kebutuhan hidupnya terasa begitu nikmat sekali. Tetapi ketika sudah mendekam di penjara, atau setidaknya ketika namanya sudah disebut-sebut media sebagai tersangka korupsi, baru sadar jika yang dilakukannya tidak baik.
Refleksi diri
Bangsa kita seringkali terjebak pada hal-hal yang instan. Jarang orang Indonesia yang berpikir panjang atas dampak yang dilakukaknnya di masa depan. Akibatnya, kita menjadi bangsa yang kerap terjebak dalam penyesalan, disebabkan banyaknya kesalahan yang kita perbuat. Maka di pengujung 2013 ini, kita penting melakukan refleksi diri untuk belajar dari masa lalau. Jadi, bukan sekadar menyesalinya, melainkan perlu mengambil pelajaran dari masa lalu agar kita memahami kebijaksanaan hidup secara utuh. Benar bahasa pepatah, experience is the best teacher (pengalaman adalah guru terbaik).
Pengalaman hidup lebih menekankan pada pemaknaan realitas bukan sekedar melalui rasionalitas, tetapi juga melalui perasaan yang mendalam. Pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup menyadarkan kita saat hendak melakukan kesalahan yang kedua kali. Atau ketika hendak melakukan kesalahan seperti yang pernah dilakukan oleh orang lain kepada kita, kita menjadi sadar jika itu tidak baik. Dengan seperti ini, kehendak melakukan kesalahan akan berkurang, bahkan tidak lagi melakukannya.
Nabi Muhammad saw dalam satu hadisnya bersabda: “Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari). Hadis ini sangat penting menjadi bahan refleksi bagi kita menjelang akhir 2013.
Isyarat ideal perjalanan hidup dalam hadis di atas secara jelas digambarkan bahwa manusia yang lebih jelek perilakunya dari hari sebelumnya adalah terlaknat, bahkan yang sama dengan hari sebelumnya dinyatakan merugi. Maka pilihan terakhir dengan lebih baik dari hari sebelumnya sudah semestinya menjadi acuan dalam perjalanan hidup kita, agar kita menjadi orang yang beruntung.
Allah Swt berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-`Ashr: 1-3). Ayat ini memberikan gambaran kepada manusia betapa berharganya waktu.
Tuhan Yang Maha Sempurna, pencipta segala sesuatu, termasuk waktu, bersumpah atas nama makhluknya yang bernama waktu. Sumpah Tuhan atas nama waktu, menegaskan kepada kita makhlukNya bahwa waktu itu sangat berharga. Tanpa waktu semua yang ada di dunia ini akan binasa. Termasuk manusia, kita sampai hari ini masih bisa merasakan yang namanya hidup, karena kita masih memiliki waktu. Pada saatnya nanti, ketika jatah waktu dalam hidup kita habis, kita juga akan meninggalkan dunia ini.
Imam Syafi’i pernah berkata: “Seandainya Alquran tidak diturunkan seluruhnya dan yang turun itu hanya Surah Al-`Ashr saja, maka itu sudah cukup menjadi pedoman umat manusia.” Apa yang disampaikan Imam Syafi’i merupakan kekaguman yang luar biasa terhadap ayat di atas.
Dalam ayat itu diajarakan bagaimana semestinya manusia beriman kepada Allah Swt beramal baik, saling mengingatkan dalam kebaikan-kesabaran, dan menggunakan waktu sebaik mungkin. Ketika manusia bisa melakukan itu semua, niscaya dirinya akan menjadi orang luar biasa yang senantiasa menggunakan waktu dan kesempatan yang dimiliki secara baik, seperti digambarkan dalam hadis Nabi di atas, bahwa manusia harus senantiasa lebih baik dari waktu ke waktu. Seban itu, kiranya kita penting membangun kesadaran diri sebagai manusia.
Kesadaran eksistensial
Untuk membangun kesadaran pada diri kita, kiranya kita penting memahami pernyataan Bapak Filsafat Modern, Rene Descartes, terkait manusia. Descartes menyebut manusia sebagai animal rationale (binatang yang dapat berpikir) atau a thinking being (makhluk yang berpikir). Inilah yang membedakaan manusia dengan binatang lainnya yang tidak memiliki kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir yang dimiliki manusia mampu mengantarkan dirinya pada eksistensi yang utuh sebagai manusia yang berdiri sendiri dengan pikirannya. Pikiran menjadi auto-refleketif dalam melakukan perencanaan, penelaahan, pengambilan keputusan, dan pengoordinasian terhadap kerja jasmani-rohani manusia.
Satu tesa yang pernah dikemukakan Descartes adalah cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Ketika manusia cogito (aku berpikir), ia akan menemukan eksistensi dirinya secara utuh. Bahkan bukan hanya dirinya sendiri yang ditemukan, tetapi juga orang lain akan hadir dalam diri kita, ketika melakukan cogito. Kesadaran akan diri sendiri dan juga orang lain kemudian disebut filsuf eksistensialisme, Jean Paul Sartre, sebagai humanisme, bahwa manusia bukan hanya memiliki tanggung jawab atas individualitasnya sendiri, tetapi bertanggung jawab atas semua umat manusia.
Pemikiran dua tokoh filsafat tersebut bisa menjadi acuaan dalam menggugah kesadaran eksistensi kita di akhir 2013 ini. Pembacaan atas waktu yang kita miliki seperti diurai di bagian atas penting kita kaitkan dengan upaya kesadaran eksitensial yang dikemukakan kedua tokoh filsafat tersebut. Jika pada bagian awal kita menelaah makna waktu yang kita miliki. Sekarang kita perlu menggugah kesadaran eksistensi diri, untuk kemudian menjadi manusia ideal seperti hadis Nabi saw di atas, manusia yang selalu lebih baik dari waktu ke waktu.
Kesadaran cogito milik Descartes, kita gunakan untuk mempertayakan kembali misi dan makna hidup. Ketika sudah ditemukan jawabnya, mudah-mudahan kita tergerak melakukan perbaikan hidup, sebab pada prinsipnya tidak ada manusia yang menginginkan kematian eksistensi dirinya dengan melakukan kejahatan.
Setelah itu, gagasan humanisme Jean Paul Sartre penting kita hadirkan dalam diri kita, agar kita tidak menjadi manusia egois, angkuh, dan hanya memikirkan diri sendiri. Sebab pada prinsipnya manusia tidak bermakna apa-apa tanpa orang lain. Kita merasa ada dan bermakna dalam hidup, sebab ada orang lain yang mengakui eksistensi diri kita. Seandainya tidak ada orang lain atau tidak ada yang mengakui eksistnsi diri kita, maka kita tidak memiliki makna apa-apa dalam hidup.
Kealpaan akan kesadaran eksistensi inilah yang cenderung membuat manusia berperikalu koruptif, tidak adil, diskriminatif, brutal, saling menyesatkan, dan semua tindakan konyol lainnya. Karena itulah di pengujung 2013 ini, kita penting melakukan refleksi untuk menemukan eksistensi diri dan memaknai waktu secara utuh, sehingga kita tidak melakukan kesalahan yang sama pada 2014 mendatang. Selamat berefleksi!
* Masduri, Peneliti Teologi dan Filsafat Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Email: masduri_as@yahoo.co.id




No comments:
Post a Comment