Selintas Ramalan Jayabaya
Jika Merujuk pada ramalan Jayabaya, entah benar atau tidak bangsa ini mengalami proses kehidupannya dari waktu-kewaktu, sebagian Masyarakat Jawa memang di kenal sangat mempercayai hal-hal mistis sering mengkaitkan ramalan Jayabaya ini di perjalanan negeri ini, hal yang lebih kepada pengetahuan Supranatural ini walaupun subjektif tapi kenyataannya sering dianggap mendekati kenyataan
Pengetahuan supranatural bersifat supranatural yang kebenarannya bersifat personal atau subjektif. Pengetahuan supranatural berdasarkan pada fakta supranatural yang diperoleh dengan kesadaran inderawi, akali, dan kesadaran ruhani serta tafsiran fakta supranatural, sehingga diperoleh suatu kebenaran. Sedangkan fakta supranatural pada umumnya berasal dari ayat-ayat kauliyah atau firman Tuhan Alloh Yang Maha Kuasa (Ahmad Abu Hamid, 2004: 107).
Walau dipenuhi mitos dan tentu hal yang tidak ilmiah, Ramalan Jaya baya pernah dipercaya oleh sebagian masyarakat dari masa ke masa dalam tulisan Ahmad Abu Hamid Dosen Universitas Universitas Yogyakarta di sebutkan jika ramalan yang dikenal sejak beberada abad silam ini ada yang telah menjadi kenyataan seperti tentang murcane Sabdo Palon Noyo Genggong yaitu keruntuhan Kerajaan Majapahit, semut ireng anak-anak sapi kebo bongkang atau tentang masuknya Belanda ke Indonesia, kebo nyebrang kali yang berarti Belanda hengkang dari Nusantara hingga ungkapan kejajah seumur jagung karo wong cebol kepalane dimana bangsa ini mengalami penjajahan oleh Jepang atau negeri matahari terbit tidak begitu lama (3,5) tahun. Bukan hanya itu ungkapan Pitik Tarung sa kandang yang diartikan pemberontakan-pemberontakan dimasa rezim orde lama hingga istilah kodok ijo ongkang-ongkang (kejayaan tentara di zaman rezim Soeharto telah menjadi kenyataan
Tentu saja ramalan ini tidak bermnaksud mendahului kehendak Tuhan, ramalan Jayabaya tersebut dalam kepercayaan masyarakat Jawa sebatas panduan untuk dapat hidup lebih waspada. Saat peramal mengeluarkan ramalannya ia tidak bermaksud mendahului kehendak Tuhan. Ramalan tersebut bertujuan sebagai pemandu dalam kehidupan agar bersikap hati-hati (Ibnu S. Karim, 2009: 1-2)
KEHIDUPAN BERAGAMA DALAM RAMALAN JAYABAYA
Kehidupan beragama dalam konteks Ramalan Jayabaya tak lepas dari perhitungan, dalam Kitab Ramalan ini disebutkan tentang sebuah zaman yang bernama zaman Surasa yang diperkirakan akan berlangsung antara tahun 2001 sampai 2100 masehi. Zaman ini terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Zaman daramana (luas), yang maknanya ialah: pada masa itu banyak orang yang berpengetahuan luas, banyak memberi pencerahan, dan hidup rukun.
b. Zaman watara (sederhana), yang maknanya ialah: pada masa itu banyak orang yang hidup sederhana, karena ketenteraman sudah merata, semua rakyat tidak ada bedanya, ayem tentrem loh jinawi, subur kang sarwo tinandur; serta
c. Zaman isaka (pegangan), yang maknanya ialah: pada masa itu banyak orang ingat pada pegangan hidupnya, yaitu agama. Mereka hidup rukun, aman tenteram, ayom ayem, tata titi tentrem kerta raharja; karena pencerahan agama. Hati mereka sama dengan perilaku mereka, ucapan mereka satu dengan hatinya, orang-orang munafik tidak ada, dan hukum agamalah yang berlaku.
Menurut perhitungan penulis tahun 2014 tentu masuk dalam masa zaman Surasa ini dengan ditandai banyak muncul tokoh-tokoh nasional yang cerdas, agamis namun sederhana. Pemimpin yang merakyat ala Jokowi dengan gaya blusukannya memberikan harapan besar warga Jakarta untuk perubahan signifikan Jakarta dimasa kepemimpinan tokoh tersebut.
Seorang Dahlan Iskan (DI) menjadi simbol lain Zaman Surasa di ramalan Jayabaya ini, seorang DI dengan kehidupan dan prilaku kesederhanaannya menjadi contoh dan sorotan tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang selama ini sering menganggap sosok pejabat sebagai seorang yang gila hormat jauh dari kata merakyat, pangreh praja atau selalu minta dilayani serta hidup yang glamour. Serta tokoh-tokoh lainnya yang menjadi panutan kesederhanaan
Kedamaian melaksanakan keragaman dan menjalankan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa pun walaupun masih diwarnai perselisihan antara sesama anak bangsa yang kadang berbau SARA tetap menempatkan rakyat Indonesia sebagai negara yang memiliki toleransi tinggi dalam menjalankan kepercayaann dan agama masing-masing. Istilah pluralisme, kemoderatan dan toleransi antar umat beragama ada didalam zaman ini, bisa jadi dengan ramalan yang subjektif ini kedamaian tersebut akan mulai terusik selepas tahun 2100-an kelak dalam arti yang lebih luas jika masyarakat Indonesia tidak memiliki platform keragaman yang ber-bhineka Tunggal Ika yang diamalkan maka perpecahan bangsa ini hanya menunggu waktu.
Sikap tolerance merupakan ajaran semua agama walaupun ajaran dakwah (mengajak) juga di miliki semua agama, namun pada prinsipnya memilih beragama merupakan hak asasi dan tidak boleh ada keterpaksaan. Kebebasan beragama juga ada dalam Undang-Undang Dasar di negeri ini, memaksakan beragama pada seseorang adalah pelanggaran dan melindungi setiap umat beragama merupakan kewajiban pemerintah@ori
Ridwan
Pengetahuan supranatural bersifat supranatural yang kebenarannya bersifat personal atau subjektif. Pengetahuan supranatural berdasarkan pada fakta supranatural yang diperoleh dengan kesadaran inderawi, akali, dan kesadaran ruhani serta tafsiran fakta supranatural, sehingga diperoleh suatu kebenaran. Sedangkan fakta supranatural pada umumnya berasal dari ayat-ayat kauliyah atau firman Tuhan Alloh Yang Maha Kuasa (Ahmad Abu Hamid, 2004: 107).
Walau dipenuhi mitos dan tentu hal yang tidak ilmiah, Ramalan Jaya baya pernah dipercaya oleh sebagian masyarakat dari masa ke masa dalam tulisan Ahmad Abu Hamid Dosen Universitas Universitas Yogyakarta di sebutkan jika ramalan yang dikenal sejak beberada abad silam ini ada yang telah menjadi kenyataan seperti tentang murcane Sabdo Palon Noyo Genggong yaitu keruntuhan Kerajaan Majapahit, semut ireng anak-anak sapi kebo bongkang atau tentang masuknya Belanda ke Indonesia, kebo nyebrang kali yang berarti Belanda hengkang dari Nusantara hingga ungkapan kejajah seumur jagung karo wong cebol kepalane dimana bangsa ini mengalami penjajahan oleh Jepang atau negeri matahari terbit tidak begitu lama (3,5) tahun. Bukan hanya itu ungkapan Pitik Tarung sa kandang yang diartikan pemberontakan-pemberontakan dimasa rezim orde lama hingga istilah kodok ijo ongkang-ongkang (kejayaan tentara di zaman rezim Soeharto telah menjadi kenyataan
Tentu saja ramalan ini tidak bermnaksud mendahului kehendak Tuhan, ramalan Jayabaya tersebut dalam kepercayaan masyarakat Jawa sebatas panduan untuk dapat hidup lebih waspada. Saat peramal mengeluarkan ramalannya ia tidak bermaksud mendahului kehendak Tuhan. Ramalan tersebut bertujuan sebagai pemandu dalam kehidupan agar bersikap hati-hati (Ibnu S. Karim, 2009: 1-2)
KEHIDUPAN BERAGAMA DALAM RAMALAN JAYABAYA
Kehidupan beragama dalam konteks Ramalan Jayabaya tak lepas dari perhitungan, dalam Kitab Ramalan ini disebutkan tentang sebuah zaman yang bernama zaman Surasa yang diperkirakan akan berlangsung antara tahun 2001 sampai 2100 masehi. Zaman ini terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Zaman daramana (luas), yang maknanya ialah: pada masa itu banyak orang yang berpengetahuan luas, banyak memberi pencerahan, dan hidup rukun.
b. Zaman watara (sederhana), yang maknanya ialah: pada masa itu banyak orang yang hidup sederhana, karena ketenteraman sudah merata, semua rakyat tidak ada bedanya, ayem tentrem loh jinawi, subur kang sarwo tinandur; serta
c. Zaman isaka (pegangan), yang maknanya ialah: pada masa itu banyak orang ingat pada pegangan hidupnya, yaitu agama. Mereka hidup rukun, aman tenteram, ayom ayem, tata titi tentrem kerta raharja; karena pencerahan agama. Hati mereka sama dengan perilaku mereka, ucapan mereka satu dengan hatinya, orang-orang munafik tidak ada, dan hukum agamalah yang berlaku.
Menurut perhitungan penulis tahun 2014 tentu masuk dalam masa zaman Surasa ini dengan ditandai banyak muncul tokoh-tokoh nasional yang cerdas, agamis namun sederhana. Pemimpin yang merakyat ala Jokowi dengan gaya blusukannya memberikan harapan besar warga Jakarta untuk perubahan signifikan Jakarta dimasa kepemimpinan tokoh tersebut.
Seorang Dahlan Iskan (DI) menjadi simbol lain Zaman Surasa di ramalan Jayabaya ini, seorang DI dengan kehidupan dan prilaku kesederhanaannya menjadi contoh dan sorotan tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang selama ini sering menganggap sosok pejabat sebagai seorang yang gila hormat jauh dari kata merakyat, pangreh praja atau selalu minta dilayani serta hidup yang glamour. Serta tokoh-tokoh lainnya yang menjadi panutan kesederhanaan
Kedamaian melaksanakan keragaman dan menjalankan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa pun walaupun masih diwarnai perselisihan antara sesama anak bangsa yang kadang berbau SARA tetap menempatkan rakyat Indonesia sebagai negara yang memiliki toleransi tinggi dalam menjalankan kepercayaann dan agama masing-masing. Istilah pluralisme, kemoderatan dan toleransi antar umat beragama ada didalam zaman ini, bisa jadi dengan ramalan yang subjektif ini kedamaian tersebut akan mulai terusik selepas tahun 2100-an kelak dalam arti yang lebih luas jika masyarakat Indonesia tidak memiliki platform keragaman yang ber-bhineka Tunggal Ika yang diamalkan maka perpecahan bangsa ini hanya menunggu waktu.
Sikap tolerance merupakan ajaran semua agama walaupun ajaran dakwah (mengajak) juga di miliki semua agama, namun pada prinsipnya memilih beragama merupakan hak asasi dan tidak boleh ada keterpaksaan. Kebebasan beragama juga ada dalam Undang-Undang Dasar di negeri ini, memaksakan beragama pada seseorang adalah pelanggaran dan melindungi setiap umat beragama merupakan kewajiban pemerintah@ori
Ridwan




No comments:
Post a Comment