Abdul Muththalib, Kakek Terbaik untuk Cucu Terbaik
Rasulullah Muhammad Saw berasal dari sulbi yang suci dan mulia.
Garis para leluhur beliau berisi para pribadi terpilih dan agung: agung di di langit, agung di bumi.. Mereka bukan saja pemimpin kaum pada masanya masing-masing, tetapi juga suci dari berbagai perilaku jahiliyah dan syirik; berpegang pada millah hanifah warisan kakek moyangnya, Bapak Tauhid, Ibrahim al-Khalil as.
Dari para pribadi itu, hanya satu yang berinteraksi langsung, mengasuh, mendidik, menyayangi dan melindungi Muhammad yang yatim itu adalah datuknya sendiri, Abdul Muththalib, manusia terbaik pada masanya, orang paling alim pada zamannya, tentang kitab-kitab suci yang diturunkan. Bahkan, ia orang yang sudah tahu –dari kitab suci yang ia baca– bahwa dari sulbinya kelak akan lahir seorang nabi yang ditunggu-tunggu…
Abdul Muththalib memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan Sang Nabi saat kecil, membentuk karakter terpuji Muhammad yang yatim. Kasih sayang, akhlak, bahkan perilaku dan tindakannya sangat membekas pada diri beliau, hingga beberapa “tradisi” Abdul Muththalib itu kelak menjadi sunnah Islam yang disyariatkan, seperti bilangan 7 kali dalam thawaf, pengharaman khamar, dan lain sebagainya.
Abdul Muthalib terpuji di langit, terpuji di bumi. Bahkan ia menjadi “penghubung” antara langit dan bumi. Bila ia berdoa, doanya dikabulkan. Ketika pasukan bergajah Abrahah al-Asyram datang untuk menghancurkan Ka`bah, Abdul Muththalib berdoa kepada Rabb al-Ka`bah dan memohon penjagaan untuk Rumah-Nya tersebut. Maka Allah mengirimkan burung ababil dan menghancurkan puluhan ribu pasukan dahsyat tanpa sisa.
Ketika suku Qays dan Mudharr datang kepadanya agar berdoa kepada Allah untuk menurunkan hujan di kampung mereka yang tengah kering, tandus dan paceklik, Abdul Muththalib memenuhinya. Setelah ia berdoa, Allah mengirimkan hujan untuk kedua suku itu.
Abdul Muththalib sangat terpuji. Ia memberi makan kepada penunggang unta yang meminta bantuannya: penunggung unta tetap berada di untanya sementara ia memberi makan dari bawah unta itu (di bawah kaki penunggang unta yang ia tolong). Ia mendaki bukit untuk memberi makan burung-burung. Ia memberi makan para peziarah Ka`bah dari berbagai penjuru. Dermawan dan baik hati, hingga ia digelari sebagai Lelaki Tua yang Terpuji, Syaibah al-Hamd.
Ia terbiasa beribadah di depan Ka`bah. Di depan Ka`bah ia mengelar permadani dan ia tinggalkan saat ia pergi. Tidak satu pun yang berani duduk di permadani itu bahkan hanya melewatinya.
Namun saat cucu mulianya duduk di atasnya, dan ketika orang-orang mencegahnya, Abdul Muththalib menegur mereka dan berkata, “Biarkan anak ini, karena ia memiliki kedudukan yang mulia.” Abdul Muththalib memangku dan membelai cucu agung ini, di atas permadani itu.
Abdul Muththalib terbiasa bertahannuts di Gua Hira, menyendiri di tempat sunyi itu. Dan kelak, kebiasaannya itu diikuti oleh cucunya yang agung. Dan di gua yang Abdul Muththalib singgahi ini kelak turun wahyu pertama untuk cucunya yang sangat ia muliakan.
Sungguh Allah telah memilihkan pribadi-pribadi agung untuk Nabi-Nya yang paling agung. Dan Abdul Muththalib adalah satu dari sekian pribadi hebat yang telah mendapatkan kehormatan mengasuh dan melindungi Kekasih-Nya.
Abdul Muththalib adalah sebaik-baik kakek untuk sebaik-baik cucu…
Allahu Akbar…
Allahumma shalli `ala Muhammad wa aali Muhammad..
– Dengan Cinta, Kita Jelang Mawlid al-Mushthafa, Nabi Saw –
Ashof M
Garis para leluhur beliau berisi para pribadi terpilih dan agung: agung di di langit, agung di bumi.. Mereka bukan saja pemimpin kaum pada masanya masing-masing, tetapi juga suci dari berbagai perilaku jahiliyah dan syirik; berpegang pada millah hanifah warisan kakek moyangnya, Bapak Tauhid, Ibrahim al-Khalil as.
Dari para pribadi itu, hanya satu yang berinteraksi langsung, mengasuh, mendidik, menyayangi dan melindungi Muhammad yang yatim itu adalah datuknya sendiri, Abdul Muththalib, manusia terbaik pada masanya, orang paling alim pada zamannya, tentang kitab-kitab suci yang diturunkan. Bahkan, ia orang yang sudah tahu –dari kitab suci yang ia baca– bahwa dari sulbinya kelak akan lahir seorang nabi yang ditunggu-tunggu…
Abdul Muththalib memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan Sang Nabi saat kecil, membentuk karakter terpuji Muhammad yang yatim. Kasih sayang, akhlak, bahkan perilaku dan tindakannya sangat membekas pada diri beliau, hingga beberapa “tradisi” Abdul Muththalib itu kelak menjadi sunnah Islam yang disyariatkan, seperti bilangan 7 kali dalam thawaf, pengharaman khamar, dan lain sebagainya.
Abdul Muthalib terpuji di langit, terpuji di bumi. Bahkan ia menjadi “penghubung” antara langit dan bumi. Bila ia berdoa, doanya dikabulkan. Ketika pasukan bergajah Abrahah al-Asyram datang untuk menghancurkan Ka`bah, Abdul Muththalib berdoa kepada Rabb al-Ka`bah dan memohon penjagaan untuk Rumah-Nya tersebut. Maka Allah mengirimkan burung ababil dan menghancurkan puluhan ribu pasukan dahsyat tanpa sisa.
Ketika suku Qays dan Mudharr datang kepadanya agar berdoa kepada Allah untuk menurunkan hujan di kampung mereka yang tengah kering, tandus dan paceklik, Abdul Muththalib memenuhinya. Setelah ia berdoa, Allah mengirimkan hujan untuk kedua suku itu.
Abdul Muththalib sangat terpuji. Ia memberi makan kepada penunggang unta yang meminta bantuannya: penunggung unta tetap berada di untanya sementara ia memberi makan dari bawah unta itu (di bawah kaki penunggang unta yang ia tolong). Ia mendaki bukit untuk memberi makan burung-burung. Ia memberi makan para peziarah Ka`bah dari berbagai penjuru. Dermawan dan baik hati, hingga ia digelari sebagai Lelaki Tua yang Terpuji, Syaibah al-Hamd.
Ia terbiasa beribadah di depan Ka`bah. Di depan Ka`bah ia mengelar permadani dan ia tinggalkan saat ia pergi. Tidak satu pun yang berani duduk di permadani itu bahkan hanya melewatinya.
Namun saat cucu mulianya duduk di atasnya, dan ketika orang-orang mencegahnya, Abdul Muththalib menegur mereka dan berkata, “Biarkan anak ini, karena ia memiliki kedudukan yang mulia.” Abdul Muththalib memangku dan membelai cucu agung ini, di atas permadani itu.
Abdul Muththalib terbiasa bertahannuts di Gua Hira, menyendiri di tempat sunyi itu. Dan kelak, kebiasaannya itu diikuti oleh cucunya yang agung. Dan di gua yang Abdul Muththalib singgahi ini kelak turun wahyu pertama untuk cucunya yang sangat ia muliakan.
Sungguh Allah telah memilihkan pribadi-pribadi agung untuk Nabi-Nya yang paling agung. Dan Abdul Muththalib adalah satu dari sekian pribadi hebat yang telah mendapatkan kehormatan mengasuh dan melindungi Kekasih-Nya.
Abdul Muththalib adalah sebaik-baik kakek untuk sebaik-baik cucu…
Allahu Akbar…
Allahumma shalli `ala Muhammad wa aali Muhammad..
– Dengan Cinta, Kita Jelang Mawlid al-Mushthafa, Nabi Saw –
Ashof M




No comments:
Post a Comment