Ariel Sharon Diantara Skandal Fasis-Zionisme
Sebagai tanggapan atas artikel ‘Seandainya Arab dan Israel mau berbagi’ dan tulisan sejenis lainnya.
Beberapa waktu lalu Ariel Sharon tokoh militer Israel yang paling militan meninggal dunia. Menjadikan ‘K’ yang memang selalu update menanggapi isu dunia ini selalu dinamis terlibat dalam pergumulan pendapat. Membahas konflik Palestina-Israel tak bisa dilepaskan dari ideologi Zionisme politik yang didelegasikan oleh seorang Theodore Herzl, seseorang yang tidak perduli spiritualitas Yahudi sendiri sebetulnya, beberapa menyebut agnostic. Namun perlu dicatat, Israel adalah satu-satunya negara Yahudi di dunia. Negara agama. Banyak kontradiksi dan paradoksial atas entitas Israel ini. Terlalu banyak pertanyaan untuk menyangkal klaim pendirian negara ini pada periode awal. Tidak jelas ‘kelaminnya’.
Bukankah Yahudi sama halnya dengan agama lain yang tersebar di seluruh dunia dan mengikat secara kultural dalam komunitasnya sehingga berbangsa dan telah bernegara secara realita sosial dalam peradaban yang berkembang, mengapa harus di buat negara baru untuk menyatukan orang-orang yang tercerai-berai ini? urgensinya apa? Ketika negara-negara ‘arab’ lain memerdekakan diri selepas naungan otonomi Utsmaniyah yang kalah dalam Perang Dunia 1, mengapa hanya Palestina yang dibuat ‘mengambang’ dan ‘tidak berhak’ merdeka? bukankah kita secara konsensus berbangsa sudah sepakat membentuk republik dan menolak konsep ‘Khilafah’ atau ‘NII’ namun masih menerima logika primitif tentang kolonialisme di jaman modern ini? apakah Zionisme itu murni berlandaskan agama atau hanya politik pragmatis saja? Apakah benar Palestina adalah negeri tanpa bangsa? Mengapa Eropa begitu getol melakukan anti-semit? Apakah Hitler itu memang benci Yahudi dan melakukan metode sadis pembantaian etnis (Holocaust)? Mengapa begitu banyak film-film karya zionis yang memanfaatkan praktek keji Eropa terhadap bangsa Yahudi? Apa hubungan antara Fasis dan Zionisme? Kalau eropa memang bersalah, kenapa Palestina jadi korban?
Begitu banyak hal yang aneh dan ditutup-tutupi, meski sebetulnya cukup vulgar jika memang menelisik hal ini lebih detil. Bahkan Bung Karno, yang sering ‘berseberangan’ dengan kelompok Islamis Indonesia tegas menolak entitas Israel selama Palestina belum merdeka, dibuktikan dengan tidak diikutsertakannya Israel dalam Asian Games 1962.
Tahun 1994, Badan Sensor Film (BSF) pernah melarang peredaran film ‘Schindler List’ karya Spelberg di Indonesia. Tapi, di tahun 2001, penggantinya Lembaga Sensor Film (LSF) meloloskan film ini. Tapi sayangnya film ini dan banyak film Hollywood ’sejenis’ lainnya seolah menyembunyikan sejarah lain yang seharusnya juga diketahui oleh orang-orang Yahudi sendiri. Bahwa Zionisme, yang menciptakan negara Israel, adalah buah politik tokoh-tokoh Zionis dengan Nazi jerman. Konspirasi paling berhasil dalam sejarah.
Jika propaganda kita mengakui adanya sedikit saja kebenaran di pihak lawan, akan ada alasan untuk mempertanyakan kebenaran kita. Massa tidak berada dalam posisi untuk membedakan dimana kebenaran lawan berakhir dan kebenaran kita bermula…siapa saja yang ingin menguasai massa, harus mengetahui kunci untuk membuka pintu hati mereka…Dalam serangan telak tak kenal ampun terhadap lawan, rakyat melihat bukti kebenaran kita. Dari sudut pandang ini, keraguan berujung pada ketidakpastian, kelemahan, dan akhirnya kegagalan. – Adolf Hitler, Mein Kampf.
Propaganda berisi positif atau negatif, didasarkan cinta atau benci. Hanya boleh ada benar atau salah, karena itu kemampuan untuk melihat dua sisi dari suatu persoalan adalah antitesa propaganda. Fasisme Hitler dan lainnya membuat Yahudi adalah kelompok yang sangat teraniaya. Penampakan pencitraan ini begitu mencolok di eropa, hingga muncul pemikiran-pemikiran untuk mencari tempat tertentu bagi ‘korban-korban’ ini. Penyangkalan terhadap Hollocaust, seperti kalimat Ahmadinejad yang kontroversial sangat bergaung keras di eropa atau barat. Ketika ‘kebebasan berekspresi’ Barat terhadap pembuatan kartun Rasulullah, misalnya apakah dapat di samakan perlakuannya dengan isu anti-semit dan holocaust?
Ada beberapa sepak terjang Zionis dalam pergerakannya
Klaim Teologi historis.
Saya menyampingkan aspek teologi secara teks literal dalam tulisan ini untuk alasan menjaga respek agama lain. Ketika ada pilihan antara Argentina, Uganda, atau Palestina dan para zonis sepakat memilih Palestina tentunya berdasarkan klaim teo-historis dalam kepercayaan mereka.
Deklarasi Israel tahun 1948 menyebutkan: “By virtue of our natural and historical right…..(we) do hereby proclaim the establishment of a Jewish State in the Land of Israel – The state of Israel”.
Sesuatu yang menurut Golda Meir, perdana menteri wanita pertama Israel “Negeri ini sebagai buah janji Tuhan. Adalah menggelikan apabila masih dipertanyakan keabsahan legitimasinya”. Menurut Herzl wilayah ’Israel raya’ membentang dari ‘hulu Mesir sampai ke Eufrat’. Bahkan pendapat tokohnya yang lain meliputi Syria, Lebanon.
Namun menurut senator Amerika Serikat Paul Findley dan ilmuwan Prancis Garaudy memiliki pendapat berbeda. Dalam catatan sejarah yang independen, bangsa Yahudi bukanlah penduduk pertama di Palestina. Mereka juga tidak memerintah di sana selama masa pemerintahan bangsa-bangsa lain. Para ahli arkeologi modern secara umum sepakat bahwa Mesir dan bangsa Kanaan telah mendiami Palestina sejak masa kuno sekitar 3000 SM hingga 1700 SM. Selanjutnya datang penguasa lain, seperti bangsa Hyokos, Hittite, dan Filistin. Mengutip pendapat Charles Foster Kent dalam A history of the Hebrew People, sejarawan Mesir Ahmad Syalaby mencatat bahwa bangsa Phoenix yang pertama kali mendatangi kawasan Palestina, sekitar 3000 SM, disusul Kanaan (2500 SM), dan kemudian datang kabilah Palestin dari Pulau Creta (1200 SM). Hasil pencampuran antara kabilah palestina dengan kabilah Kanaan itu kemudian melahirkan generasi baru yang berketurunan darah arab dengan dialek bahasa semit, kawasannya dikenal dengan nama Palestina.
Benarkah klaim teo-historikal ini?
Yahudi Ortodoks menyerang gagasan pendirian negara Yahudi (The Jewish State) itu. Menurut mereka, gagasan itu merupakan pelecehan terhadap misi kenabian dan doktrin messianisme. Oleh mereka, Zionisme merusak nilai-nilai tradisi Yahudi. Orang Yahudi yang taat dan mengerti spiritualitas agamanya seharusnya menunggu kedatangan ‘Sang Messiah’ untuk membawa mereka kembali ke tanah suci (Holy Land). Upaya manusia untuk mempercepat, dianggap dosa. Hingga kini, sekte-sekte ortodoks Yahudi seperti ‘Satmar Hasidim’ di New York dan ‘Naturei Karta’ di jerusalem justru mengharapkan kehancuran ‘negara Israel’ yang dianggap ‘Zionisme tak Bertuhan’.
Pada 1930 Albert Einstein menulis:
“Saya lebih dapat menerima adanya kesepakatan yang adil dengan orang-orang Arab, atas dasar hidup bersama dalam kedamaian, daripada harus membentuk sebuah negara Yahudi. Terlepas dari pertimbangan-pertimbangan praktis, kesadaran saya akan esensi Yudaisme menolak gagasan sebuah negara Yahudi, dengan garis perbatasan, angkatan bersenjata, dan sebuah tindakan temporal yang berlandaskan kekuatan, bukan kerendahhatian. Saya takut akan terjadi kehancuran Yudaisme dari dalam, terutama akibat tumbuhnya nasionalisme sempit di kalangan kita sendiri…kita bukan lagi Yahudi di zaman Maccabean. Kembali menjadi sebuah bangsa, dalam artian politis, berarti melepaskan diri dari spiritualisasi masyarakat kita-dimana kita berhutang budi pada kejeniusan nabi-nabi kita”.
Slogan ‘Negeri tanpa bangsa adalah untuk bangsa tanpa negeri (negara)’ bagi wilayah Palestina.
Jazirah Arab, tempat kelahiran Muhammad SAW berada pada posisi geografis dan masa kekuasaan Romawi dan Persia, namun diluar otoritas langsung keduanya. Para pedagang yang berdagang melalui jalur Sutera (Eropa-India-Cina) memilih semenanjung Arab sebagai jalur penghubung. Beberapa tahun sempat dikuasai Persia di abad ke-7, namun setelahnya Romawi berhasil merebut kembali wilayah Palestina sebagaimana diramalkan Allah dalam Ar-rum (30) ayat 1-6.
Sampai nanti ditaklukkan Islam, Palestina tetap berada di bawah kekuasaan Byzantium (Romawi Timur) yang notabene beragama Kristen . Orang-orang Roma Kristen membangun gereja-gereja di Yerussalem dan menjadikannya kota Nasrani sampai paruh awal abad ke-7 saat Umar Bin Khattab berhasil menguasai kawasan ini.
Karen Armstrong, seorang orientalis barat menggambarkan hal berikut dalam tulisannya Perang Suci: Dari Perang Salib hingga Perang Teluk;
Khalifah Umar memasuki Yerussalem dengan mengendarai seekor kuda putih, dikawal oleh pemuka kota tersebut, Uskup Yunani Sofronius. Sang khalifah meminta agar segera dibawa ke Haram Asy-Syarif. Disana, tempat Muhammad SAW melakukan Mi’raj, ia berlutut dan berdoa. Sang Uskup melihatnya dengan ketakutan: hal ini, ia pikir pastilah akan menjadi penaklukkan penuh kengerian sebagaimana yang pernah diramalkan oleh Nabi Daniel bahwa ia yang memasuki rumah ibadat itu pastilah sang Anti-Kristus yang akan menandai hari kiamat. Kemudian Umar minta melihat-lihat tempat-tempat suci Nasrani. Ketika tiba di gereja Holy Sepulchre, waktunya shalat tiba. Dengan sopan, sang Uskup mempersilahkannya shalat di tempat ia berada. Namun, Umar sopan pula menolaknya. Jika ia berdoa di gereja, jelasnya, umat Islam akan mengenang kejadian ini dengan mendirikan sebuah mesjid disana. Hal ini berarti mereka akan memusnahkan Holy sepulchre. Umar lalu pergi shalat di tempat yang agak jauh dari gereja itu yaitu tempat yang langsung berhadapan dengan Holy Sepulchre. Kini, di tempat itu masih ada sebuah mesjid kecil yang dipersembahkan untuk Khalifah umar.
Berbicara Palestina berarti berbicara tentang peradaban tiga agama besar Islam, Kristen, Yahudi. Setelah kekuasaan Romawi yang kristen lalu Perang Salib yang hanya 88 tahun lalu Islam yang hampir 800 tahun lamanya dengan stabilitas kehidupan antar agama yang cenderung stabil. Justru pertikaian lebih banyak di internal bani-bani arab islam sendiri. Kehidupan ini berjalan sampai Turki Usmani jatuh. Sejak itulah isu antar agama mulai terganggu.
Maurice Motamed, seorang anggota parlemen Iran yang Yahudi mengatakan ketika mengritiknya perihal ucapan holocaust Ahmadinejad, “pertama-tama saya orang Iran, baru Yahudi.”
Dia mengatakan bahwa di Iran relatif toleran, “tidak ada tekanan terhadap Sinagog, tidak ada persoalan penodaan tempat suci, saya rasa problem di eropa lebih buruk daripada disini.”
Banyak kaum Yahudi yang sudah menetap di Iran sejak Cyrus agung yang membebaskan mereka dari perbudakan ketika dia menaklukkan Babilonia tahun 539 SM. Mereka ini tidak tampil menyolok. Ada sekitar 14.000 orang Yahudi di Taheran yang memiliki 20 sinagog aktif.
Palestina sendiri, apakah sebuah tanah kosong? Tentu tidak. Di dalamnya terdapat warga penduduk dari beberapa generasi suku dan agama. Maka dari itu pendudukan Israel terhadap seluruh wilayah Palestina sebetulnya diakui sendiri oleh tokoh Zionis Revisionis Vladimir Jabotinsky sebagai konsep kolonialisme. Ia menentang nilai-nilai keagamaan ortodoks Yahudi. Tulisannya yang berjudul ‘The Iron Wall’ pada 4 november 1923, Jabotinsky mengajukan gagasan realistis pragmatis untuk mewujudkan negara Israel di Palestina. Menurutnya dalam catatan sejarah, tidak ada satupun bentuk kolonialisasi sebuah negeri dengan persetujuan penduduk asli. Maka jalan utama mewujudkannya, yaitu dengan kekuatan senjata. Paham ini kemudian diikuti dengan sangat baik oleh partai Likud seperti Menachem Begin dan Yitzak Shamir. Menurut Shamir, spirit Jabotinsky tetap hidup pada sebagian besar tokoh Likud.
Dengan semangat Zionis herzl, untuk mendukung dan merekayasa slogan ‘tanah kosong’ maka gelombang perpindahan bangsa Yahudi ke Palestina adalah gerakan sistemik yang gradual. Imigrasi Yahudi ke Palestina pertama tahun 1881, lalu 1904-1914 sekitar 40 ribu orang, lalu pada 1919-1923 dan tahun 1924-1929. Mulai munculnya Nazi tahun 1933 terjadi gelombang imigrasi selanjutnya yang secara signifikan naik 33% jumlah penduduk Yahudi di Palestina. Sampai akhir Perang Dunia II jumlah penduduk Yahudi di Palestina mencapai sekitar 600.000 jiwa. Sangat besar perubahannya mengingat saat itu jumlah penduduk Palestina seluruhnya hanya 1,3 juta jiwa.
Eksploitasi isu anti-semitisme dan Holocaust.
Jika berkaca pada pendapat M. Bucaille, orientalis barat, ketika di sekitar abad ke-7 sebagian besar orang Yahudi-Kristen di Arab masuk memeluk Islam boleh jadi orang-orang Palestina itu lebih punya hubungan darah Yahudi selama beberapa abad lamanya daripada imigran eropa yang mengaku keturunan Ishak.
Sikap bermusuhan terhadap golongan Yahudi di eropa Barat dan Amerika Serikat sebetulnya menurun setelah revolusi Prancis yang disusul perkembangan sistem demokrasi. Perkembangan ini justru mengkhawatirkan pihak Zionis yang menghendaki berdirinya khusus untuk orang Yahudi yang ‘dikejar dimana-mana itu’. Beberapa kesimpulan Herzl menyatakan bahwa orang-orang Yahudi itu sebagai ‘bangsa’ tunggal di negeri manapun mereka tinggal. Tidak dapat diasimilasikan dengan bangsa lain dan selalu menjadi sasaran penganiayaan. Sekalipun tidak perduli dengan nilai spiritualitas agama Yahudi, dia menganggap ‘kerinduan religius’ mayoritas pemeluknya akan sebuah kredo ‘tanah yang dijanjikan’ sah dimanfaatkan. Yahudi Religius melahirkan tradisi ziarah ke tanah suci mereka, sedangkan kaum Muslimin Palestina tidak mempersoalkan kedatangan orang-orang yang mereka anggap sebagai sesama keturunan Ibrahim, Bapak tiga agama langit.
Bernard Lazare mengatakan orang Yahudi sendiri berperan menumbuhkan sentimen Anti-Semit dengan keengganan mereka bergaul . “Pengucilan diri, diperburuk oleh keyakinan orang Yahudi bahwa keadaan itu adalah sesuatu yang eksklusif dan istimewa. Bani Israel membanggakan diri dengan kehebatan Tauratnya dan merasa diri berada di atas melebihi semua bangsa lainnya.”
Ghetto-ghetto adalah tempat alternatif solusi bagi anti-semit di eropa, sedangkan ‘Ghetto Internasional’ adalah solusi bagi Zionis. Ada benang merah. Ada ‘solusi’ sadis.
Maka Herzl mendekati negara-negara eropa dengan memanfaatkan isu anti-semit ini dengan bahasa yang mudah dimengerti. Dia mendatangi menteri dalam negeri Rusia Plehve yang bertanggungjawab atas berbagai ‘pogrom’ di Kishinev pada April 1903. Lalu Menlu Jerman Von Bulow, lalu kaiser Wilhelm II. Jangan lupakan Arthur Balfour yang anti-semit. Balfour adalah politisi yang di tahun 1905 melancarkan suatu kampanye dalam kaitannya dengan Undang-Undang Orang Asing (Alien Act), yang bertujuan agar orang-orang Yahudi yang terusir dari Rusia, keluar juga dari Inggris. Deklarasi Balfour 1917 merupakan salah satu cara untuk menyalurkan orang-orang Yahudi ke Palestina, tidak menetap di Inggris, dimana hal ini sempat ditentang oleh seorang Yahudi anggota kabinet Inggris, Edwin Montagu. Selain itu terdapat juga bukti-bukti kuat kerjasama kelompok Mussolini di Italia dengan Menachem Begin, lalu Jabotinsky dengan Simon Petilura, seorang Fasis Ukraina yang secara personal mengatur pembunuhan berencana terhadap 28.000 orang Yahudi.
Mengutip Brenner dalam Zionism dan Faris Yahya dalam Zionist Relations with Nazi Germany, Ralph Schoenman mengungkap data kerjasama gerakan Zionis dengan Nazi jerman. Federasi Zionis Jerman mengirimkan sebuah memorandum dukungan kepada Partai Nazi pada 21 Juni 1933. Selama Kongres Zionis Dunia berlangsung, Hitler mengumumkan perjanjian perdagangan dengan Bank Anglo-palestina milik World Zionist Organization (WZO).
Perjanjian ini mengakhiri boikot Yahudi terhadap Nazi saat ekonomi Jerman secara ekstrim sangat rentan. Saat itu depresi hebat, masyarakat beramai-ramai menjual Mark Jerman yang tidak ada harganya. Kemudian menjadi distributor utama barang-barang utama Nazi di seluruh Timur Tengah dan Eropa Utara. Kemudian mendirikan Ha’avara, sebuah Bank di Palestina yang dimaksudkan untuk menerima uang dari hasil barang-barang Nazi yang dibeli dalam jumlah besar. Petinggi-petinggi Nazi seperti Von Mildenstein keluar-masuk Palestina dalam beberapa kunjungan kerja. Mei 1935, Reinhardt Heydrich, kepala ‘SS’ menulis sebuah artikel yang isinya memisahkan Yahudi kedalam dua kelompok, dimana yang dia sukai adalah Zionis. “Doa dan niatan baik resmi kita sejalan dengan mereka,” tulisnya.
Bukti lain kolaborasi mesra Zionis dengan Nazi pada Tahun 1930-an dapat dilihat pada tindakan kaum Zionis yang aktif mengorganisir penghentian perubahan UU Imigrasi Amerika serikat dan eropa Barat yang tengah digodok untuk menyediakan perlindungan bagi orang-orang Yahudi eropa yang tersiksa. Pada kurun waktu 1933-1935, WZO tercatat menolak dua pertiga dari seluruh orang Yahudi Jerman yang mengajukan sertifikat imigrasi. Tahun 1943, Rabbi Stehen Wise, Jubir utama Zionis AS juga berupaya menggagalkan RUU Penyelamatan untuk melindungi Orang Yahudi.
Tujuan ‘pembiaran’ Zionis terhadap pembantaian dan pengusiran jutaan orang Yahudi Jerman (Holocaust) terpahami dari tulisan terakhir Jabotinsky, Front Perang Yahudi:
“Karena kita memiliki wewenang moral yang besar bagi penggambaran pengusiran orang Arab secara tenang, kita tidak perlu memandang pemindahan 900.000 orang Arab dengan perasaan malu. Yang Mulia Hitler akhir-akhir ini telah memperkuat popularitas pemindahan populasi (Yahudi).”
Holocaust dalam kamus Oxford berarti ‘Large-scale destruction’, biasanya dimaksudkan sebagai persembahan satu atau beberapa orang yang ditujukan kepada Tuhan. Graudy mencatat, bahwa cara-cara teror untuk memaksa orang Yahudi agar bersedia pindah ke Palestina tetap dilakukan setelah berdirinya negara Israel. Karena, terbukti meskipun berbagai upaya dilakukan, jumlah Yahudi yang mau bermigrasi ke Palestina/Israel tetap kecil.
Holocaust digunakan sebagai pembenaran untuk menindas bangsa lain. Kalimat ini bukan meluncur dari mulut Fasis anti-Yahudi, atau dedengkot Skinhead, tapi dari Nahum Goldman, Presiden Organisasi Zionis Dunia, tokoh pendiri Israel, negarawan kawakan sebelum meninggal dunia.
Organisasi teror
Kata ‘Teroris’ tentu belum seterkenal sekarang setelah Peristiwa 11 september. Bernard Lewis dalam ‘Clash of Civilizations’ di awal ‘90an sudah ‘meramalkan’ tentang siapakah calon ‘musuh selanjutnya’ AS dan sekutunya Israel setelah era Perang Dingin, setelah era Komunis. Ketika kelompok ‘Hamas’ mulai dikenal dalam daftar teroris, tidak ada stempel yang sama dulu terhadap Haganah, Irgun, dan Stern. Aksi teror juga tak segan-segan dilakukan terhadap warga Yahudi sendiri.
Di dalam konferensi Yahudi AS, 2 Mei 1948, Klausner, seorang pengarang Yahudi mengatakan, “Saya berkeyakinan bahwa orang-orang ini harus dihalau agar pindah ke Palestina, tidak ada salahnya msyarakat Yahudi mengubah kebijakannya, yakni selain memberikan kenyamanan bagi mereka yang pindah, ataupun para pengungsi, juga perlu langkah-langkah lain agar mereka merasa tidak kerasan. Dan langkah lebih jauh lagi akan dapat dilaksanakan oleh Haganah, yaitu menakut-nakuti orang-orang Yahudi sendiri.”
Ketika kaum Yahudi Irak enggan berimigrasi ke Israel, maka Sinagog Masauda Shem-Tov dibom oleh Israel sendiri (1951). Tiga orang tewas dan 24 orang luka-luka dalam aksi teror itu. Aksi-aksi ini juga berlangsung di berbagai dunia.
Prof. Ben Zion Dinur, Menteri Pendidikan Israel I mencatat dalam pendahuluan buku ‘The History of the Haganah’, “Di negeri kita, ruang yang tersedia hanya untuk orang Yahudi. Dan kepada orang Arab akan kita katakan: keluar! Apabila mereka bertahan, tidak setuju, kita akan memaksanya dengan sepenuh kekuatan”
Ternyata segala teror tidak lantas masyarakat Yahudi mau pindah ke Palestina. Sebagai gambaran, selama 12 tahun, 1920-1932, sekitar 118.378 orang Yahudi masuk ke Palestina-ini hanya kurang dari 1 persen saja populasi Yahudi di seluruh dunia. Bahkan setelah kekejaman Hitlerpun sebetulnya hanya 8,5 persen saja yang mau pindah ke Palestina, sedangkan mayoritas sekitar 75 persen atau 1.930.000 jiwa memilih Uni Soviet. Ben Gurion kecewa, Dr. Israel Goldstein marah. Maka selain teror dilakukan di Irak, hal yang sama juga terjadi di Yaman dengan menggunakan suatu operasi tipuan ‘Operasi karpet Ajaib’ yang memakan biaya lima setengah juta dolar AS. Namun mengapa di tahun 1943, populasi Yahudi AS sudah mencapai 5 juta jiwa. Mengapa sampai sekarang di AS jumlah Yahudinya tetap banyak, tidak berpindah ke Israel? Sistem kontrol jarak jauh, ekonomi bung, Minyak. Hegemoni teritori di tanah Arab. Dan perang itu bisnis. Ingat film ‘Ironman‘ I?
Tanyakan itu pada sempalan-sempalan Taliban. Atau Saddam. Politik luar negeri AS seperti sangat patuh pada adagium politik, ‘tak ada kawan dan lawan abadi’. Di satu periode diciptakan diktator-diktator, di waktu lain mereka ditumbangkan. Dan itu sudah dilakukan di banyak negara, termasuk Indonesia saat perpindahan Orla-Orba. Tangan politisi AS tidak mau kotor, meski rakyat AS mayoritas sebenarnya sudah muak dengan praktek politik luar negeri mereka.
Dalam era skandal Fasis-Zionis inilah Ariel Sharon muda, 17 tahunan, kariernya berawal mula. Terlahir dengan nama Ariel Shinerman, dari keluarga pendukung Zionis, bergabung dengan kelompok teror Haganah. Ketika perang tahun 1948 dalam usia 20 telah menjadi komandan infanteri Israel. Makin dikenal pada tahun 1967 di Perang Enam Hari, komandan di sebuah divisi dengan pangkat Brigadir Jenderal. Yang paling terkenal tentu saja di tahun 1982, pada peristiwa pengungsi Palestina di Sabra-Shatila. Logika kekerasan Likud memang berakar dari Jabotinsky.
Di tahun 2003, Sharon memenangi pemilu dan Likud meraih 39 kursi di Knesset, sedang rivalnya partai Buruh hanya 19 kursi. Padahal, dalam pemilu 1999, Likud hanya meraih 19 kursi, sebaliknya Buruh 28 kursi.
Tampaknya keadaan Palestina-Israel sekarang memang dalam kondisi ‘nasi telah menjadi bubur’. Sudah dipenuhi dengan distorsi kekerasan bergantian, dan bumbu perang agama yang kuat. Tampaknya kemenangan Sharon ketika itu merupakan efek dari ‘jaminan keamanan’ warga Yahudi setelah kunjungan provokasi Sharon ke Mesjid Al-Aqsa pada 28 September 2000, sebagai simbol penolakan Yahudi pada negosiasi penyerahan Tepi Barat kepada Palestina. Sejak itu aksi Intifada II yang hingga April 2004, sudah memakan korban 4000 warga Palestina.
Edward Said, seorang ilmuwan Kristen asal Palestina menulis,
“Begitu rendahnya Zionisme busuk ini terbenam sampai-sampai ia tidak sanggup membela dirinya dengan debat terbuka dan dialog yang sejati. Ia pakai taktik-taktik gelap mafia (ancaman dan kekerasan) untuk memperoleh kebungkaman dan kepatuhan. Begitu putus asanya ia merebut dukungan sampai-sampai ia nyatakan dirinya di Israel dan lewat pendukungnya dimana-mana agar, aih! Setuju menghapus suara rakyat Palestina sepenuhnya, entah dengan mencekik desa-desa Palestina seperti Bir Zeit, atau dengan memberangus diskusi dan kritik dimana pun dia bisa menemukan kolaborator dan para pengecut untuk menjalankan tuntutan-tuntutan tercelanya ini. tidak heran bila dalam iklim macam ini ariel Sharonlah yang memimpin Israel.
Tak heran ketika pemakamannya lantas tidak dihadiri oleh delegasi-delegasi dari Timur-Tengah, Afrika, atau Amerika Latin. Sangat berbeda dengan sosok Nelson Mandela. Mungkin, untuk negaranya, Israel, sosok Sharon adalah Pahlawan.
Maka terlihat tentara-tentara Israel itu hormat dengan takzim, ‘Salut’
Heil Sharon!
Fasis yang baik adalah Fasis yang mati.
Den hard
Beberapa waktu lalu Ariel Sharon tokoh militer Israel yang paling militan meninggal dunia. Menjadikan ‘K’ yang memang selalu update menanggapi isu dunia ini selalu dinamis terlibat dalam pergumulan pendapat. Membahas konflik Palestina-Israel tak bisa dilepaskan dari ideologi Zionisme politik yang didelegasikan oleh seorang Theodore Herzl, seseorang yang tidak perduli spiritualitas Yahudi sendiri sebetulnya, beberapa menyebut agnostic. Namun perlu dicatat, Israel adalah satu-satunya negara Yahudi di dunia. Negara agama. Banyak kontradiksi dan paradoksial atas entitas Israel ini. Terlalu banyak pertanyaan untuk menyangkal klaim pendirian negara ini pada periode awal. Tidak jelas ‘kelaminnya’.
Bukankah Yahudi sama halnya dengan agama lain yang tersebar di seluruh dunia dan mengikat secara kultural dalam komunitasnya sehingga berbangsa dan telah bernegara secara realita sosial dalam peradaban yang berkembang, mengapa harus di buat negara baru untuk menyatukan orang-orang yang tercerai-berai ini? urgensinya apa? Ketika negara-negara ‘arab’ lain memerdekakan diri selepas naungan otonomi Utsmaniyah yang kalah dalam Perang Dunia 1, mengapa hanya Palestina yang dibuat ‘mengambang’ dan ‘tidak berhak’ merdeka? bukankah kita secara konsensus berbangsa sudah sepakat membentuk republik dan menolak konsep ‘Khilafah’ atau ‘NII’ namun masih menerima logika primitif tentang kolonialisme di jaman modern ini? apakah Zionisme itu murni berlandaskan agama atau hanya politik pragmatis saja? Apakah benar Palestina adalah negeri tanpa bangsa? Mengapa Eropa begitu getol melakukan anti-semit? Apakah Hitler itu memang benci Yahudi dan melakukan metode sadis pembantaian etnis (Holocaust)? Mengapa begitu banyak film-film karya zionis yang memanfaatkan praktek keji Eropa terhadap bangsa Yahudi? Apa hubungan antara Fasis dan Zionisme? Kalau eropa memang bersalah, kenapa Palestina jadi korban?
Begitu banyak hal yang aneh dan ditutup-tutupi, meski sebetulnya cukup vulgar jika memang menelisik hal ini lebih detil. Bahkan Bung Karno, yang sering ‘berseberangan’ dengan kelompok Islamis Indonesia tegas menolak entitas Israel selama Palestina belum merdeka, dibuktikan dengan tidak diikutsertakannya Israel dalam Asian Games 1962.
Tahun 1994, Badan Sensor Film (BSF) pernah melarang peredaran film ‘Schindler List’ karya Spelberg di Indonesia. Tapi, di tahun 2001, penggantinya Lembaga Sensor Film (LSF) meloloskan film ini. Tapi sayangnya film ini dan banyak film Hollywood ’sejenis’ lainnya seolah menyembunyikan sejarah lain yang seharusnya juga diketahui oleh orang-orang Yahudi sendiri. Bahwa Zionisme, yang menciptakan negara Israel, adalah buah politik tokoh-tokoh Zionis dengan Nazi jerman. Konspirasi paling berhasil dalam sejarah.
Jika propaganda kita mengakui adanya sedikit saja kebenaran di pihak lawan, akan ada alasan untuk mempertanyakan kebenaran kita. Massa tidak berada dalam posisi untuk membedakan dimana kebenaran lawan berakhir dan kebenaran kita bermula…siapa saja yang ingin menguasai massa, harus mengetahui kunci untuk membuka pintu hati mereka…Dalam serangan telak tak kenal ampun terhadap lawan, rakyat melihat bukti kebenaran kita. Dari sudut pandang ini, keraguan berujung pada ketidakpastian, kelemahan, dan akhirnya kegagalan. – Adolf Hitler, Mein Kampf.
Propaganda berisi positif atau negatif, didasarkan cinta atau benci. Hanya boleh ada benar atau salah, karena itu kemampuan untuk melihat dua sisi dari suatu persoalan adalah antitesa propaganda. Fasisme Hitler dan lainnya membuat Yahudi adalah kelompok yang sangat teraniaya. Penampakan pencitraan ini begitu mencolok di eropa, hingga muncul pemikiran-pemikiran untuk mencari tempat tertentu bagi ‘korban-korban’ ini. Penyangkalan terhadap Hollocaust, seperti kalimat Ahmadinejad yang kontroversial sangat bergaung keras di eropa atau barat. Ketika ‘kebebasan berekspresi’ Barat terhadap pembuatan kartun Rasulullah, misalnya apakah dapat di samakan perlakuannya dengan isu anti-semit dan holocaust?
Ada beberapa sepak terjang Zionis dalam pergerakannya
Klaim Teologi historis.
Saya menyampingkan aspek teologi secara teks literal dalam tulisan ini untuk alasan menjaga respek agama lain. Ketika ada pilihan antara Argentina, Uganda, atau Palestina dan para zonis sepakat memilih Palestina tentunya berdasarkan klaim teo-historis dalam kepercayaan mereka.
Deklarasi Israel tahun 1948 menyebutkan: “By virtue of our natural and historical right…..(we) do hereby proclaim the establishment of a Jewish State in the Land of Israel – The state of Israel”.
Sesuatu yang menurut Golda Meir, perdana menteri wanita pertama Israel “Negeri ini sebagai buah janji Tuhan. Adalah menggelikan apabila masih dipertanyakan keabsahan legitimasinya”. Menurut Herzl wilayah ’Israel raya’ membentang dari ‘hulu Mesir sampai ke Eufrat’. Bahkan pendapat tokohnya yang lain meliputi Syria, Lebanon.
Namun menurut senator Amerika Serikat Paul Findley dan ilmuwan Prancis Garaudy memiliki pendapat berbeda. Dalam catatan sejarah yang independen, bangsa Yahudi bukanlah penduduk pertama di Palestina. Mereka juga tidak memerintah di sana selama masa pemerintahan bangsa-bangsa lain. Para ahli arkeologi modern secara umum sepakat bahwa Mesir dan bangsa Kanaan telah mendiami Palestina sejak masa kuno sekitar 3000 SM hingga 1700 SM. Selanjutnya datang penguasa lain, seperti bangsa Hyokos, Hittite, dan Filistin. Mengutip pendapat Charles Foster Kent dalam A history of the Hebrew People, sejarawan Mesir Ahmad Syalaby mencatat bahwa bangsa Phoenix yang pertama kali mendatangi kawasan Palestina, sekitar 3000 SM, disusul Kanaan (2500 SM), dan kemudian datang kabilah Palestin dari Pulau Creta (1200 SM). Hasil pencampuran antara kabilah palestina dengan kabilah Kanaan itu kemudian melahirkan generasi baru yang berketurunan darah arab dengan dialek bahasa semit, kawasannya dikenal dengan nama Palestina.
Benarkah klaim teo-historikal ini?
Yahudi Ortodoks menyerang gagasan pendirian negara Yahudi (The Jewish State) itu. Menurut mereka, gagasan itu merupakan pelecehan terhadap misi kenabian dan doktrin messianisme. Oleh mereka, Zionisme merusak nilai-nilai tradisi Yahudi. Orang Yahudi yang taat dan mengerti spiritualitas agamanya seharusnya menunggu kedatangan ‘Sang Messiah’ untuk membawa mereka kembali ke tanah suci (Holy Land). Upaya manusia untuk mempercepat, dianggap dosa. Hingga kini, sekte-sekte ortodoks Yahudi seperti ‘Satmar Hasidim’ di New York dan ‘Naturei Karta’ di jerusalem justru mengharapkan kehancuran ‘negara Israel’ yang dianggap ‘Zionisme tak Bertuhan’.
Pada 1930 Albert Einstein menulis:
“Saya lebih dapat menerima adanya kesepakatan yang adil dengan orang-orang Arab, atas dasar hidup bersama dalam kedamaian, daripada harus membentuk sebuah negara Yahudi. Terlepas dari pertimbangan-pertimbangan praktis, kesadaran saya akan esensi Yudaisme menolak gagasan sebuah negara Yahudi, dengan garis perbatasan, angkatan bersenjata, dan sebuah tindakan temporal yang berlandaskan kekuatan, bukan kerendahhatian. Saya takut akan terjadi kehancuran Yudaisme dari dalam, terutama akibat tumbuhnya nasionalisme sempit di kalangan kita sendiri…kita bukan lagi Yahudi di zaman Maccabean. Kembali menjadi sebuah bangsa, dalam artian politis, berarti melepaskan diri dari spiritualisasi masyarakat kita-dimana kita berhutang budi pada kejeniusan nabi-nabi kita”.
Slogan ‘Negeri tanpa bangsa adalah untuk bangsa tanpa negeri (negara)’ bagi wilayah Palestina.
Jazirah Arab, tempat kelahiran Muhammad SAW berada pada posisi geografis dan masa kekuasaan Romawi dan Persia, namun diluar otoritas langsung keduanya. Para pedagang yang berdagang melalui jalur Sutera (Eropa-India-Cina) memilih semenanjung Arab sebagai jalur penghubung. Beberapa tahun sempat dikuasai Persia di abad ke-7, namun setelahnya Romawi berhasil merebut kembali wilayah Palestina sebagaimana diramalkan Allah dalam Ar-rum (30) ayat 1-6.
Sampai nanti ditaklukkan Islam, Palestina tetap berada di bawah kekuasaan Byzantium (Romawi Timur) yang notabene beragama Kristen . Orang-orang Roma Kristen membangun gereja-gereja di Yerussalem dan menjadikannya kota Nasrani sampai paruh awal abad ke-7 saat Umar Bin Khattab berhasil menguasai kawasan ini.
Karen Armstrong, seorang orientalis barat menggambarkan hal berikut dalam tulisannya Perang Suci: Dari Perang Salib hingga Perang Teluk;
Khalifah Umar memasuki Yerussalem dengan mengendarai seekor kuda putih, dikawal oleh pemuka kota tersebut, Uskup Yunani Sofronius. Sang khalifah meminta agar segera dibawa ke Haram Asy-Syarif. Disana, tempat Muhammad SAW melakukan Mi’raj, ia berlutut dan berdoa. Sang Uskup melihatnya dengan ketakutan: hal ini, ia pikir pastilah akan menjadi penaklukkan penuh kengerian sebagaimana yang pernah diramalkan oleh Nabi Daniel bahwa ia yang memasuki rumah ibadat itu pastilah sang Anti-Kristus yang akan menandai hari kiamat. Kemudian Umar minta melihat-lihat tempat-tempat suci Nasrani. Ketika tiba di gereja Holy Sepulchre, waktunya shalat tiba. Dengan sopan, sang Uskup mempersilahkannya shalat di tempat ia berada. Namun, Umar sopan pula menolaknya. Jika ia berdoa di gereja, jelasnya, umat Islam akan mengenang kejadian ini dengan mendirikan sebuah mesjid disana. Hal ini berarti mereka akan memusnahkan Holy sepulchre. Umar lalu pergi shalat di tempat yang agak jauh dari gereja itu yaitu tempat yang langsung berhadapan dengan Holy Sepulchre. Kini, di tempat itu masih ada sebuah mesjid kecil yang dipersembahkan untuk Khalifah umar.
Berbicara Palestina berarti berbicara tentang peradaban tiga agama besar Islam, Kristen, Yahudi. Setelah kekuasaan Romawi yang kristen lalu Perang Salib yang hanya 88 tahun lalu Islam yang hampir 800 tahun lamanya dengan stabilitas kehidupan antar agama yang cenderung stabil. Justru pertikaian lebih banyak di internal bani-bani arab islam sendiri. Kehidupan ini berjalan sampai Turki Usmani jatuh. Sejak itulah isu antar agama mulai terganggu.
Maurice Motamed, seorang anggota parlemen Iran yang Yahudi mengatakan ketika mengritiknya perihal ucapan holocaust Ahmadinejad, “pertama-tama saya orang Iran, baru Yahudi.”
Dia mengatakan bahwa di Iran relatif toleran, “tidak ada tekanan terhadap Sinagog, tidak ada persoalan penodaan tempat suci, saya rasa problem di eropa lebih buruk daripada disini.”
Banyak kaum Yahudi yang sudah menetap di Iran sejak Cyrus agung yang membebaskan mereka dari perbudakan ketika dia menaklukkan Babilonia tahun 539 SM. Mereka ini tidak tampil menyolok. Ada sekitar 14.000 orang Yahudi di Taheran yang memiliki 20 sinagog aktif.
Palestina sendiri, apakah sebuah tanah kosong? Tentu tidak. Di dalamnya terdapat warga penduduk dari beberapa generasi suku dan agama. Maka dari itu pendudukan Israel terhadap seluruh wilayah Palestina sebetulnya diakui sendiri oleh tokoh Zionis Revisionis Vladimir Jabotinsky sebagai konsep kolonialisme. Ia menentang nilai-nilai keagamaan ortodoks Yahudi. Tulisannya yang berjudul ‘The Iron Wall’ pada 4 november 1923, Jabotinsky mengajukan gagasan realistis pragmatis untuk mewujudkan negara Israel di Palestina. Menurutnya dalam catatan sejarah, tidak ada satupun bentuk kolonialisasi sebuah negeri dengan persetujuan penduduk asli. Maka jalan utama mewujudkannya, yaitu dengan kekuatan senjata. Paham ini kemudian diikuti dengan sangat baik oleh partai Likud seperti Menachem Begin dan Yitzak Shamir. Menurut Shamir, spirit Jabotinsky tetap hidup pada sebagian besar tokoh Likud.
Dengan semangat Zionis herzl, untuk mendukung dan merekayasa slogan ‘tanah kosong’ maka gelombang perpindahan bangsa Yahudi ke Palestina adalah gerakan sistemik yang gradual. Imigrasi Yahudi ke Palestina pertama tahun 1881, lalu 1904-1914 sekitar 40 ribu orang, lalu pada 1919-1923 dan tahun 1924-1929. Mulai munculnya Nazi tahun 1933 terjadi gelombang imigrasi selanjutnya yang secara signifikan naik 33% jumlah penduduk Yahudi di Palestina. Sampai akhir Perang Dunia II jumlah penduduk Yahudi di Palestina mencapai sekitar 600.000 jiwa. Sangat besar perubahannya mengingat saat itu jumlah penduduk Palestina seluruhnya hanya 1,3 juta jiwa.
Eksploitasi isu anti-semitisme dan Holocaust.
Jika berkaca pada pendapat M. Bucaille, orientalis barat, ketika di sekitar abad ke-7 sebagian besar orang Yahudi-Kristen di Arab masuk memeluk Islam boleh jadi orang-orang Palestina itu lebih punya hubungan darah Yahudi selama beberapa abad lamanya daripada imigran eropa yang mengaku keturunan Ishak.
Sikap bermusuhan terhadap golongan Yahudi di eropa Barat dan Amerika Serikat sebetulnya menurun setelah revolusi Prancis yang disusul perkembangan sistem demokrasi. Perkembangan ini justru mengkhawatirkan pihak Zionis yang menghendaki berdirinya khusus untuk orang Yahudi yang ‘dikejar dimana-mana itu’. Beberapa kesimpulan Herzl menyatakan bahwa orang-orang Yahudi itu sebagai ‘bangsa’ tunggal di negeri manapun mereka tinggal. Tidak dapat diasimilasikan dengan bangsa lain dan selalu menjadi sasaran penganiayaan. Sekalipun tidak perduli dengan nilai spiritualitas agama Yahudi, dia menganggap ‘kerinduan religius’ mayoritas pemeluknya akan sebuah kredo ‘tanah yang dijanjikan’ sah dimanfaatkan. Yahudi Religius melahirkan tradisi ziarah ke tanah suci mereka, sedangkan kaum Muslimin Palestina tidak mempersoalkan kedatangan orang-orang yang mereka anggap sebagai sesama keturunan Ibrahim, Bapak tiga agama langit.
Bernard Lazare mengatakan orang Yahudi sendiri berperan menumbuhkan sentimen Anti-Semit dengan keengganan mereka bergaul . “Pengucilan diri, diperburuk oleh keyakinan orang Yahudi bahwa keadaan itu adalah sesuatu yang eksklusif dan istimewa. Bani Israel membanggakan diri dengan kehebatan Tauratnya dan merasa diri berada di atas melebihi semua bangsa lainnya.”
Ghetto-ghetto adalah tempat alternatif solusi bagi anti-semit di eropa, sedangkan ‘Ghetto Internasional’ adalah solusi bagi Zionis. Ada benang merah. Ada ‘solusi’ sadis.
Maka Herzl mendekati negara-negara eropa dengan memanfaatkan isu anti-semit ini dengan bahasa yang mudah dimengerti. Dia mendatangi menteri dalam negeri Rusia Plehve yang bertanggungjawab atas berbagai ‘pogrom’ di Kishinev pada April 1903. Lalu Menlu Jerman Von Bulow, lalu kaiser Wilhelm II. Jangan lupakan Arthur Balfour yang anti-semit. Balfour adalah politisi yang di tahun 1905 melancarkan suatu kampanye dalam kaitannya dengan Undang-Undang Orang Asing (Alien Act), yang bertujuan agar orang-orang Yahudi yang terusir dari Rusia, keluar juga dari Inggris. Deklarasi Balfour 1917 merupakan salah satu cara untuk menyalurkan orang-orang Yahudi ke Palestina, tidak menetap di Inggris, dimana hal ini sempat ditentang oleh seorang Yahudi anggota kabinet Inggris, Edwin Montagu. Selain itu terdapat juga bukti-bukti kuat kerjasama kelompok Mussolini di Italia dengan Menachem Begin, lalu Jabotinsky dengan Simon Petilura, seorang Fasis Ukraina yang secara personal mengatur pembunuhan berencana terhadap 28.000 orang Yahudi.
Mengutip Brenner dalam Zionism dan Faris Yahya dalam Zionist Relations with Nazi Germany, Ralph Schoenman mengungkap data kerjasama gerakan Zionis dengan Nazi jerman. Federasi Zionis Jerman mengirimkan sebuah memorandum dukungan kepada Partai Nazi pada 21 Juni 1933. Selama Kongres Zionis Dunia berlangsung, Hitler mengumumkan perjanjian perdagangan dengan Bank Anglo-palestina milik World Zionist Organization (WZO).
Perjanjian ini mengakhiri boikot Yahudi terhadap Nazi saat ekonomi Jerman secara ekstrim sangat rentan. Saat itu depresi hebat, masyarakat beramai-ramai menjual Mark Jerman yang tidak ada harganya. Kemudian menjadi distributor utama barang-barang utama Nazi di seluruh Timur Tengah dan Eropa Utara. Kemudian mendirikan Ha’avara, sebuah Bank di Palestina yang dimaksudkan untuk menerima uang dari hasil barang-barang Nazi yang dibeli dalam jumlah besar. Petinggi-petinggi Nazi seperti Von Mildenstein keluar-masuk Palestina dalam beberapa kunjungan kerja. Mei 1935, Reinhardt Heydrich, kepala ‘SS’ menulis sebuah artikel yang isinya memisahkan Yahudi kedalam dua kelompok, dimana yang dia sukai adalah Zionis. “Doa dan niatan baik resmi kita sejalan dengan mereka,” tulisnya.
Bukti lain kolaborasi mesra Zionis dengan Nazi pada Tahun 1930-an dapat dilihat pada tindakan kaum Zionis yang aktif mengorganisir penghentian perubahan UU Imigrasi Amerika serikat dan eropa Barat yang tengah digodok untuk menyediakan perlindungan bagi orang-orang Yahudi eropa yang tersiksa. Pada kurun waktu 1933-1935, WZO tercatat menolak dua pertiga dari seluruh orang Yahudi Jerman yang mengajukan sertifikat imigrasi. Tahun 1943, Rabbi Stehen Wise, Jubir utama Zionis AS juga berupaya menggagalkan RUU Penyelamatan untuk melindungi Orang Yahudi.
Tujuan ‘pembiaran’ Zionis terhadap pembantaian dan pengusiran jutaan orang Yahudi Jerman (Holocaust) terpahami dari tulisan terakhir Jabotinsky, Front Perang Yahudi:
“Karena kita memiliki wewenang moral yang besar bagi penggambaran pengusiran orang Arab secara tenang, kita tidak perlu memandang pemindahan 900.000 orang Arab dengan perasaan malu. Yang Mulia Hitler akhir-akhir ini telah memperkuat popularitas pemindahan populasi (Yahudi).”
Holocaust dalam kamus Oxford berarti ‘Large-scale destruction’, biasanya dimaksudkan sebagai persembahan satu atau beberapa orang yang ditujukan kepada Tuhan. Graudy mencatat, bahwa cara-cara teror untuk memaksa orang Yahudi agar bersedia pindah ke Palestina tetap dilakukan setelah berdirinya negara Israel. Karena, terbukti meskipun berbagai upaya dilakukan, jumlah Yahudi yang mau bermigrasi ke Palestina/Israel tetap kecil.
Holocaust digunakan sebagai pembenaran untuk menindas bangsa lain. Kalimat ini bukan meluncur dari mulut Fasis anti-Yahudi, atau dedengkot Skinhead, tapi dari Nahum Goldman, Presiden Organisasi Zionis Dunia, tokoh pendiri Israel, negarawan kawakan sebelum meninggal dunia.
Organisasi teror
Kata ‘Teroris’ tentu belum seterkenal sekarang setelah Peristiwa 11 september. Bernard Lewis dalam ‘Clash of Civilizations’ di awal ‘90an sudah ‘meramalkan’ tentang siapakah calon ‘musuh selanjutnya’ AS dan sekutunya Israel setelah era Perang Dingin, setelah era Komunis. Ketika kelompok ‘Hamas’ mulai dikenal dalam daftar teroris, tidak ada stempel yang sama dulu terhadap Haganah, Irgun, dan Stern. Aksi teror juga tak segan-segan dilakukan terhadap warga Yahudi sendiri.
Di dalam konferensi Yahudi AS, 2 Mei 1948, Klausner, seorang pengarang Yahudi mengatakan, “Saya berkeyakinan bahwa orang-orang ini harus dihalau agar pindah ke Palestina, tidak ada salahnya msyarakat Yahudi mengubah kebijakannya, yakni selain memberikan kenyamanan bagi mereka yang pindah, ataupun para pengungsi, juga perlu langkah-langkah lain agar mereka merasa tidak kerasan. Dan langkah lebih jauh lagi akan dapat dilaksanakan oleh Haganah, yaitu menakut-nakuti orang-orang Yahudi sendiri.”
Ketika kaum Yahudi Irak enggan berimigrasi ke Israel, maka Sinagog Masauda Shem-Tov dibom oleh Israel sendiri (1951). Tiga orang tewas dan 24 orang luka-luka dalam aksi teror itu. Aksi-aksi ini juga berlangsung di berbagai dunia.
Prof. Ben Zion Dinur, Menteri Pendidikan Israel I mencatat dalam pendahuluan buku ‘The History of the Haganah’, “Di negeri kita, ruang yang tersedia hanya untuk orang Yahudi. Dan kepada orang Arab akan kita katakan: keluar! Apabila mereka bertahan, tidak setuju, kita akan memaksanya dengan sepenuh kekuatan”
Ternyata segala teror tidak lantas masyarakat Yahudi mau pindah ke Palestina. Sebagai gambaran, selama 12 tahun, 1920-1932, sekitar 118.378 orang Yahudi masuk ke Palestina-ini hanya kurang dari 1 persen saja populasi Yahudi di seluruh dunia. Bahkan setelah kekejaman Hitlerpun sebetulnya hanya 8,5 persen saja yang mau pindah ke Palestina, sedangkan mayoritas sekitar 75 persen atau 1.930.000 jiwa memilih Uni Soviet. Ben Gurion kecewa, Dr. Israel Goldstein marah. Maka selain teror dilakukan di Irak, hal yang sama juga terjadi di Yaman dengan menggunakan suatu operasi tipuan ‘Operasi karpet Ajaib’ yang memakan biaya lima setengah juta dolar AS. Namun mengapa di tahun 1943, populasi Yahudi AS sudah mencapai 5 juta jiwa. Mengapa sampai sekarang di AS jumlah Yahudinya tetap banyak, tidak berpindah ke Israel? Sistem kontrol jarak jauh, ekonomi bung, Minyak. Hegemoni teritori di tanah Arab. Dan perang itu bisnis. Ingat film ‘Ironman‘ I?
Tanyakan itu pada sempalan-sempalan Taliban. Atau Saddam. Politik luar negeri AS seperti sangat patuh pada adagium politik, ‘tak ada kawan dan lawan abadi’. Di satu periode diciptakan diktator-diktator, di waktu lain mereka ditumbangkan. Dan itu sudah dilakukan di banyak negara, termasuk Indonesia saat perpindahan Orla-Orba. Tangan politisi AS tidak mau kotor, meski rakyat AS mayoritas sebenarnya sudah muak dengan praktek politik luar negeri mereka.
Dalam era skandal Fasis-Zionis inilah Ariel Sharon muda, 17 tahunan, kariernya berawal mula. Terlahir dengan nama Ariel Shinerman, dari keluarga pendukung Zionis, bergabung dengan kelompok teror Haganah. Ketika perang tahun 1948 dalam usia 20 telah menjadi komandan infanteri Israel. Makin dikenal pada tahun 1967 di Perang Enam Hari, komandan di sebuah divisi dengan pangkat Brigadir Jenderal. Yang paling terkenal tentu saja di tahun 1982, pada peristiwa pengungsi Palestina di Sabra-Shatila. Logika kekerasan Likud memang berakar dari Jabotinsky.
Di tahun 2003, Sharon memenangi pemilu dan Likud meraih 39 kursi di Knesset, sedang rivalnya partai Buruh hanya 19 kursi. Padahal, dalam pemilu 1999, Likud hanya meraih 19 kursi, sebaliknya Buruh 28 kursi.
Tampaknya keadaan Palestina-Israel sekarang memang dalam kondisi ‘nasi telah menjadi bubur’. Sudah dipenuhi dengan distorsi kekerasan bergantian, dan bumbu perang agama yang kuat. Tampaknya kemenangan Sharon ketika itu merupakan efek dari ‘jaminan keamanan’ warga Yahudi setelah kunjungan provokasi Sharon ke Mesjid Al-Aqsa pada 28 September 2000, sebagai simbol penolakan Yahudi pada negosiasi penyerahan Tepi Barat kepada Palestina. Sejak itu aksi Intifada II yang hingga April 2004, sudah memakan korban 4000 warga Palestina.
Edward Said, seorang ilmuwan Kristen asal Palestina menulis,
“Begitu rendahnya Zionisme busuk ini terbenam sampai-sampai ia tidak sanggup membela dirinya dengan debat terbuka dan dialog yang sejati. Ia pakai taktik-taktik gelap mafia (ancaman dan kekerasan) untuk memperoleh kebungkaman dan kepatuhan. Begitu putus asanya ia merebut dukungan sampai-sampai ia nyatakan dirinya di Israel dan lewat pendukungnya dimana-mana agar, aih! Setuju menghapus suara rakyat Palestina sepenuhnya, entah dengan mencekik desa-desa Palestina seperti Bir Zeit, atau dengan memberangus diskusi dan kritik dimana pun dia bisa menemukan kolaborator dan para pengecut untuk menjalankan tuntutan-tuntutan tercelanya ini. tidak heran bila dalam iklim macam ini ariel Sharonlah yang memimpin Israel.
Tak heran ketika pemakamannya lantas tidak dihadiri oleh delegasi-delegasi dari Timur-Tengah, Afrika, atau Amerika Latin. Sangat berbeda dengan sosok Nelson Mandela. Mungkin, untuk negaranya, Israel, sosok Sharon adalah Pahlawan.
Maka terlihat tentara-tentara Israel itu hormat dengan takzim, ‘Salut’
Heil Sharon!
Fasis yang baik adalah Fasis yang mati.
Den hard




No comments:
Post a Comment