Dan Brown dan Propaganda Isu Depopulasi Manusia

13897596461521047067
Prakata
Para penggemar teori konspirasi pastinya sudah cukup akrab dengan nama Robert Langdon, seorang tokoh rekaan dalm novel karya Dan Brown. Kepiawaian Dan Brown menulis intrik dalam novel-novel konspirasinya mengundang ketertarikan banyak pihak. Terbukti setelah terbitnya “Da Vinci Code”, semangat “meneliti” konspirasi cukup menjamur di negeri ini.
Sepak terjang Robert Langdon sebagai tokoh rekaan cukup menarik mengingat isu-yang diangkat adalah isu-isu yang bagi sebagian orang dianggap sensitive. Dalam “Da Vinci Code”, Langdon berkutat dengan isu dinasti Merovingian yang diklaim sebagai keturunan ‘resmi’ dari Yesus, sekaligus pewaris sah dunia kekristenan. Dalam novel ini kita dikenalkan dengan Opus Dei dan secret society bernama Biarawan Sion.
Sementara dalam novel “Angel and Demon”, dengan lokasi langsung dari Vatikan, Langdon membawa kita kepada konflik tua antara ilmu dan iman dalam tradisi Kirsten. Di novel ini secret society yang dikupas adalah Illuminati dan Hassyassyin.
“Solomon Key”, novel ketiga dari petualangan Langdon berkutat pada isu mistisisme dan tempatnya dalam ranah sains. Novel ini membahas secret society bernama Freemasonry yang cukup popular dikalangan politisi terutama anggota senat Amerika Serikat.
Novel Baru, Isu Baru
Pada September 2013 kemarin, Dan Brown kembali menghadirkan petualangan Robert Langdon lewat novel terbarunya berjudul “Inferno”. Novel yang sempat diminta Andi Malarangeng untuk mengisi waktunya dalam tahanan KPK ini agak berbeda dari tiga novel sebelumnya, “Inferno” hadir tanpa melibatkan secret society yang cukup terkenal. Alih-alih menampilkan secret society lainnya, Dan Brown di novel ini mengangkat sebuah lembaga swasta yang biasa bekerja di wilayah abu-abu dalam hukum.
Bagi anda yang pernah memainkan game “Hitman: Absolution”, setidaknya akan mendapat gambaran seperti apa sepak terjang lembaga swasta yang dinamai Dan Brown dengan sebutan “Konsorsium” ini. Mungkin karena sifat dari “Konsorsium” yang bekerja atas dasar non ideologis dan murni bisnis, para penggemar teori konspirasi akan merasa bahwa Dan Brown sedikit kehilangan tajinya.
Sama seperti nove-novel sebelumnya dimana Langdon beraksi, informasi tentang sejarah, literature, dan situs-situs penting dunia juga cukup banyak muncul dalam “Inferno”. Tetapi ada perbedaan yang cukup mencolok antara “Inferno” dengan novel-novel sebelumnya. Yang paling utama, karena hilangnya basis ideology, referensi sejarah, literature, serta situs-situs yang ada terasa kehilangan koneksi dengan isu utama dalam novel ini.
Lalu apa isu utamanya?
Manusia Dipandang Sebagai Kanker Dunia
Dalam novel “Inferno” segala macam permasalah dunia disimpulkan menjadi satu, yakni overpopulation atau populasi berlebih. Pertumbuhan dan persebaran manusia yang begitu cepat seolah menjelma menjadi kanker ganas yang perlahan tapi pasti menggerogoti keseimbangan ekosistem dunia.
Selain membahayakan ekosistem dunia, kasus overpopulasi juga membahayakan eksistensi manusia itu sendiri. Lewat tokoh antagonis utamanya, Dan Brown memaparkan bagaimana sumber daya alam yang terbatas dihabiskan oleh populasi manusia yang bisa jadi kelak tidak terbatas. Keadaan demikian, menurut Dan Brown pantas disebut kiamat.
Semudah menyimpulkan permasalahan maka solusi yang ditawarkan pun cukup mudah, yakni depopulasi. Ide melakukan depopulasi manusia inilah yang kemudian menjadi pusat utama dalam novel “Inferno”.
Banyak cara untuk mewujudkan depopulasi manusia. Tapi perlu diingat, karena jumlah manusia begitu massif, maka perlu metode yang juga massif efektifitasnya. Perang dan wabah penyakit adalah dua metode yang paling relevan dan efisien. Akan tetapi Dan Brown cukup berhati-hati untuk tidak membuat jutaan jiwa melayang dalam novelnya, karena ide depopulasi manusia itu sendiri sudah cukup kontroversial.
Maka Dan Brown pun memunculkan ide kreatifnya, ia memunculkan virus yang sangat menular tapi tidak memiliki efek mematikan. Walau tidak membunuh inangnya, virus ini membunuh potensi manusia untuk berkembang biak, alias menjadikan manusia mandul.
Menjawab Kontroversi Depopulasi Manusia
Ada hal unik yang perlu disadari bagi para pembaca novel-novel Dan Brown. Walau dalam pemaparan fakta tampak tidak terasa adanya tendensi tertentu, tapi secara keseluruhan novel-novel Dan Brown sebenarnya menyelipkan trik psikologis bagi para pembacanya.
Di “Da Vinci Code” Dan Brown berusaha menguatkan propaganda gender lewat pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena. Di “Angel and Demon”, dia dengan “indahnya” menuliskan kekalahan gereja atas sains dan menganggap bahwa Illuminati hanya sebuah kecelakaan sejarah. Di “Solomon Key”, citra Freemason tereduksi menjadi sekedar lembaga filantropi yang gemar mengkaji pseudosains (mistik dan kebatinan).
Pun dalam “Inferno”, walau jelas dan gamblang bahwa depopulasi manusia secaram umum “menyakiti” rasa kemanusiaan itu sendiri, Dan Brown dengan cerdasnya mengajak kita untuk sepakat bahwa manusia memang patut dimusnahkan.
Dengan menggunakan kata-kata penyair Itali tahun 1265, Dante Alighieri. Dan Brown membuat kredo:
“The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis”
- Dante Alighieri
Karena populasi manusia sudah mencapai krisis, maka barang siapa yang diam atau acuh, neraka sudah menantinya. Dan Brown berusaha menjustifikasi ide depopulasi versinya dengan statement Dante. Padahal bisa jadi konteks krisis yang disebut Dante berbeda dengan krisis populasi manusianya Dan Brown.
Jika kita kembali ke akar permasalahan, maka sesungguhnya pembengkakan populasi manusia bukanlah menjadi soal utama dari rusaknya alam dan menipisnya sumber daya yang ada. Kalau kita mau jujur dan tidak tergesa-gesa dalam melihat masalah, maka akan kita dapati bahwa eksploitasi alam raya ini dilakukan hanya oleh segelintir orang. Sekali lagi, hanya segelintir orang.
Jika kita lihat lebih dalam lagi, apa sebenarnya yang ada dalam kepala para eksploitator ini?.
Sejak era Industrtialisasi meledak di barat, ilmu pengetahuan didaulat sebagai alat penakluk alam dan manusia sebagai tuannya. Tuhan sebagai pencipta dunia dan seisinya disingkirkan lewat empirisme dan rasionalisme. Karena merasa menjadi tuan atas alam raya ini, maka manusia modern itu merasa memiliki hak penuh atas alam dan dengan sendirinya mulai melakukan eksploitasi.
Ketika krisis yang diakibatkan oleh ketamakan sebagian pihak ini mulai tampak ke permukaan, kegelisahaan merebak. Sekali lagi, karena merasa sebagai penguasa alam yang terbukti destruktif, mudah saja bagi mereka untuk memunculkan isu depopulasi manusia. Setelah alam mereka rusak, ras nya sendiri hendak mereka musnahkan.
Maka menarik jika kita mengutip pendapat Syed Naquib Al Attas, bahwa kerusakan di muka bumi ini sesungguhnya terjadi karena rusaknya ilmu yang tertanam dalam kepala manusia.
“The greatest challenge that has surreptitiously arisen in our age is the challenge of knowledge, indeed, not as against ignorance; but knowledge as conceived and disseminated throughout the world by Western civilization; knowledge whose nature has become problematic because it has lost its true purpose due to being unjustly conceived, and has thus brought about chaos in man’s life instead of, and rather than, peace and justice; knowledge which pretends to be real but which is productive of confusion and scepticism, which has elevated doubt and conjecture to the ‘scientific’ rank in methodology; knowledge which has, for the first time in history, brought chaos to the Three Kingdom of Nature; the animal, vegetal and mineral.”
- Syed Naquib Al Attas
Memangkas jumlah populasi manusia secara massif adalah tindakan keji, ditambah lagi dengan tuduhan bahwa melimpahnya populasi manusia adalah sumber bencana sungguh merupakan tuduhan bodoh dan tergesa-gesa. Kita memang hidup di era informasi, tapi waspadalah selalu, karena tidak semua infromasi layak untuk dikonsumsi. [eza/Islampos]

No comments: