Kelahiran Muhammad dan Borjuasi Arab-Mekkah
Jauh sebelum lahirnya nabi Muhammd saw, kondisi sosial masyarakat Mekkah sudah terbangun dalam faksi-faksi suku yang kuat. Budaya kekerasan, perang antar suku, diskriminasi kelas sudah menjadi lazim dalam interaksi sosial masyarakat Arab-Mekkah. Terutama kaum perempuan.
Dimasa-masa jahiliyah Arab-Mekkah, perempuan sebatas difungsikan pada peran-peran genital. Pemuas dan pelanjut keturunan. Sumber aib dan penyebab malapetaka. Perempuan dalam konstruksi gender Arab-Mekah sebelum kehadiran Muhammad, adalah mitologi sosial yang serba rugi dan serba sial.
Tragis, kehadiran anak perempuan dianggap aib keluarga dan sosial. Tak sedikit kisah yang menguraikan, beberapa anak perempuan dikubur hidup-hidup oleh ayahnya karena soal aib. Struktur sosial masyarakat Arab-Mekkah, dipegang oleh dua suku besar, yaitu Bani Hasyim dan Bani Umayyah dan beberapa suku di bawahnya.
Muhammad lahir di tengah-tengah masa kelam itu. Dimana nilai humanisme ditakar menurut status sosial dan modal ekonomi. Kapitalisme Arab-Mekka ketika itu sangat nampak, karena suku-suku besar lah yang hegemoni dan memegang sirkulasi ekonomi. Mereka-merekalah bangsawan atau kepala suku. Struktur sosial terbangun dengan disparitas sosial yang menganga lebar.
Nabi Muhammad saw lahir dalam kultur sosial masyarakat Arab-Mekah yang keras. Sejak lahir ia sudah menjadi anak yatim. Tak berapa lama ibunya pun meninggal. Dengan demikian, Muhammad tumbuh besar secara mandiri meski di bawah asuhan kakek dan pamannya. Sejak kecil jiwa intrepreneur-nya sudah tumbuh, sebagaimana tradisi masyarakat Arab umumnya yang suka berdagang. Ia tumbuh besar dengan kepribadian yang mengangumkan. Sejak remaja ia sudah mendulang gelar Al amin, yang bermakna yang dipercayai.
Masa ketika Muhammad mentrasnformasikan wahyu sebagai misi kenabiannya, ia ditolak keras masyarakat Arab-Mekka. Lebih khusus paman-pamannya (saudara dari Ayah), teramat murka padanya. Kemurkaan mereka itu sesungguhnya beralas pada suatu hal, bahwa kehadiran Muhammad seakan mendekonstruksi kemapanan kelas borjuis Mekkah yang selama ini berkuasa.
Islam meletakkan egaliterisme sebagai konsepsi dasar keberagamaan. Derajat masing-masing individu ditentukan oleh kualitas keimanan. Di sinilah letak kegundahan paman-paman Muhammad. Islam hadir sebagai ancaman kelas yang serius.
Bukannya paman-paman Muhammad ini membenci dan tak mengenal ajaran Iman. Mereka tau dan memahami sejarahnya ketauhidan Ibrahim. Mereka tau bahwa Muhammad datang membawa ajaran yang telah diletakkan bapak moyang mereka nabiullah Ibrahim as. Penolakan keras mereka terhadap misi dakwah Muhammad, karena konsep egaliterianisme Islam akan menghancurkankan kemapanan struktur sosial yang selama ini dibangun.
Kenapa demikian? Karena ajaran tauhid melandaskan konsepsi pembebasan kelas secara fundamental. Konsepsi tauhid menggaransikan bahwa, landasan paling utama dari konsepsi ketuhanan adalah pembebasan manusia dari perbudakan dan bentuk dehumanisasi lainnya.
Jadi misi kenabian Muhammad merupakan konsepsi perlawanan terhadap perbudakan manusia semesta. Muhammad datang sebagai penebar rahmatan lil alamain.
Maka dalam inti ketauhidan, ditegaskan secara fulgar dan konkret, bahwa keislaman seseorang hanya terjadi bila ia mampu melepaskan tuhan-tuhan (t) yang salam ini mengikat kesombongan dan keserakahan. Lalu meletakkan Tuhan (T) yang maha Adil, maha cinta dan maha kasih sayang dalam palung batinnya sebagai kodrat Imani.
Inilah inti dasar keislaman yang dibawakan Muhammad. Semoga dengan maulid Nabi Muhammad saw ini, semakin memperkaya perspektif kemanusiaan kita, khususnya konsep kesamaan hak dan saling mencintai karena Allah swt. Amin. [
Abdul M S
Dimasa-masa jahiliyah Arab-Mekkah, perempuan sebatas difungsikan pada peran-peran genital. Pemuas dan pelanjut keturunan. Sumber aib dan penyebab malapetaka. Perempuan dalam konstruksi gender Arab-Mekah sebelum kehadiran Muhammad, adalah mitologi sosial yang serba rugi dan serba sial.
Tragis, kehadiran anak perempuan dianggap aib keluarga dan sosial. Tak sedikit kisah yang menguraikan, beberapa anak perempuan dikubur hidup-hidup oleh ayahnya karena soal aib. Struktur sosial masyarakat Arab-Mekkah, dipegang oleh dua suku besar, yaitu Bani Hasyim dan Bani Umayyah dan beberapa suku di bawahnya.
Muhammad lahir di tengah-tengah masa kelam itu. Dimana nilai humanisme ditakar menurut status sosial dan modal ekonomi. Kapitalisme Arab-Mekka ketika itu sangat nampak, karena suku-suku besar lah yang hegemoni dan memegang sirkulasi ekonomi. Mereka-merekalah bangsawan atau kepala suku. Struktur sosial terbangun dengan disparitas sosial yang menganga lebar.
Nabi Muhammad saw lahir dalam kultur sosial masyarakat Arab-Mekah yang keras. Sejak lahir ia sudah menjadi anak yatim. Tak berapa lama ibunya pun meninggal. Dengan demikian, Muhammad tumbuh besar secara mandiri meski di bawah asuhan kakek dan pamannya. Sejak kecil jiwa intrepreneur-nya sudah tumbuh, sebagaimana tradisi masyarakat Arab umumnya yang suka berdagang. Ia tumbuh besar dengan kepribadian yang mengangumkan. Sejak remaja ia sudah mendulang gelar Al amin, yang bermakna yang dipercayai.
Masa ketika Muhammad mentrasnformasikan wahyu sebagai misi kenabiannya, ia ditolak keras masyarakat Arab-Mekka. Lebih khusus paman-pamannya (saudara dari Ayah), teramat murka padanya. Kemurkaan mereka itu sesungguhnya beralas pada suatu hal, bahwa kehadiran Muhammad seakan mendekonstruksi kemapanan kelas borjuis Mekkah yang selama ini berkuasa.
Islam meletakkan egaliterisme sebagai konsepsi dasar keberagamaan. Derajat masing-masing individu ditentukan oleh kualitas keimanan. Di sinilah letak kegundahan paman-paman Muhammad. Islam hadir sebagai ancaman kelas yang serius.
Bukannya paman-paman Muhammad ini membenci dan tak mengenal ajaran Iman. Mereka tau dan memahami sejarahnya ketauhidan Ibrahim. Mereka tau bahwa Muhammad datang membawa ajaran yang telah diletakkan bapak moyang mereka nabiullah Ibrahim as. Penolakan keras mereka terhadap misi dakwah Muhammad, karena konsep egaliterianisme Islam akan menghancurkankan kemapanan struktur sosial yang selama ini dibangun.
Kenapa demikian? Karena ajaran tauhid melandaskan konsepsi pembebasan kelas secara fundamental. Konsepsi tauhid menggaransikan bahwa, landasan paling utama dari konsepsi ketuhanan adalah pembebasan manusia dari perbudakan dan bentuk dehumanisasi lainnya.
Jadi misi kenabian Muhammad merupakan konsepsi perlawanan terhadap perbudakan manusia semesta. Muhammad datang sebagai penebar rahmatan lil alamain.
Maka dalam inti ketauhidan, ditegaskan secara fulgar dan konkret, bahwa keislaman seseorang hanya terjadi bila ia mampu melepaskan tuhan-tuhan (t) yang salam ini mengikat kesombongan dan keserakahan. Lalu meletakkan Tuhan (T) yang maha Adil, maha cinta dan maha kasih sayang dalam palung batinnya sebagai kodrat Imani.
Inilah inti dasar keislaman yang dibawakan Muhammad. Semoga dengan maulid Nabi Muhammad saw ini, semakin memperkaya perspektif kemanusiaan kita, khususnya konsep kesamaan hak dan saling mencintai karena Allah swt. Amin. [
Abdul M S




No comments:
Post a Comment