Kisah Linur Batukarang Tahun 1936
Letak geografis Tanah Karo yang berada di dua patahan gempa yakni patahan Renun dan Patahan Bahorok menjadikan daerah ini termasuk dalam pemetaan kawasan rawan bencana gempa bumi. Setidaknya dari catatan sejarah, Taneh Karo pernah mengalami gempa bumi dahsyat tepatnya pada 9 September 1936 yang dikenal dengan istilah Linur Batukarang oleh orang Karo.
Linur Batukarang atau gempa bumi pada tahun 1936 tersebut tercatat sebagai bencana alam terburuk yang pernah melanda Tanah Karo dengan kekuatan gempa 7.2 pada skala ricther (SR) dan mengakibatkan 17 orang tewas. Selain mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, gempa juga mengakibatkan dampak longsoran tanah yang terjadi secara meluas diberbagai wilayah Tanah Karo.
Menurut catatan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG), gempa tersebut telah mengakibatkan kerusakan berat di Berastagi dan Parapat. Adapun tingkat kerusakan yang tercatat mencapai tingkat VIII pada skala Mercalli atau 2 (dua) tingkat lebih rendah jika dibandingkan skala kerusakan pada gempa Aceh 26 Desember 2004.
Dari kesaksiaan dari para tetua orang Karo, menyebutkan bahwa gempa tersebut telah mengakibatkan pantar (dangau) dipersawahan Batukarang Kecamatan Payung mengalami pergeseran puluhan meter, hal ini tentu memberi petunjuk betapa kuatnya goncangan pada bumi Karo pada saat itu. Selain itu beberapa pengakuan lain dari warga Singgamanik, Kecamatan Munte menuturkan bahwa kawasan persawahan Juma Pedalong dengan luas kurang lebih 10 Ha di daerah itu telah mengalami pergeseran serta amblas dan tertimbun tanah longsor. DVMBG juga mencatat, akibat gempa tersebut telah menyebabkan terjadinya retakan tanah dari Kabanjahe hingga ke Kutacane.
Selain itu Pakar Geologi juga memperkirakan gempa bumi tahun 1936 itu telah turut menggoncang kawasan di jalur patahan Renun-Toru yaitu mulai dari Dairi, Phakpak Barat, Humbahas, Samosir, Toba dan Tarutung (Taput).
Adapun menurut catatan DVMBG-Bandung pusat, gempa Karo (1936) itu terletak sekitar 30 kilometer di barat Kutacane (Aceh Tenggara) dan berada diantara atau diapit oleh 2 (dua) jalur patahan yaitu patahan Batee (Aceh) dan patahan Alas (Aceh). Sebagaimana telah umum diketahui patahan dipermukaan atau didalam bumi terbentuk oleh proses gempa bumi dan selanjutnya patahan akan bertindak sebagai sumber gempa bumi berikutnya.
Meski pusat gempa di Kutacane (Aceh Tenggara), tetapi goncangan gempa itu sangat dirasakan demikian kuat di Tanah Karo dibandingkan dengan kawasan lain pada jalur patahan Renun, hal ini diakibatkan karena faktor tofografi dataran tinggi plato Karo yang dikelilingi oleh rangkaian perbukitan. Kawasan perbukitan bergelombang dengan ketinggian yang rendah seperti : Kabanjahe, Munte dan Tigabinanga dikelilingi secara melingkar (circle) oleh kawasan berbukit-bukit (hilly terrain) yang lebih tinggi dari kecamatan-kecamatan : Simpang Empat, Berastagi, Payung, Kutabuluh, Mardinding, Lau Baleng dan Juhar.
'
Bill W
Linur Batukarang atau gempa bumi pada tahun 1936 tersebut tercatat sebagai bencana alam terburuk yang pernah melanda Tanah Karo dengan kekuatan gempa 7.2 pada skala ricther (SR) dan mengakibatkan 17 orang tewas. Selain mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, gempa juga mengakibatkan dampak longsoran tanah yang terjadi secara meluas diberbagai wilayah Tanah Karo.
Menurut catatan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG), gempa tersebut telah mengakibatkan kerusakan berat di Berastagi dan Parapat. Adapun tingkat kerusakan yang tercatat mencapai tingkat VIII pada skala Mercalli atau 2 (dua) tingkat lebih rendah jika dibandingkan skala kerusakan pada gempa Aceh 26 Desember 2004.
Dari kesaksiaan dari para tetua orang Karo, menyebutkan bahwa gempa tersebut telah mengakibatkan pantar (dangau) dipersawahan Batukarang Kecamatan Payung mengalami pergeseran puluhan meter, hal ini tentu memberi petunjuk betapa kuatnya goncangan pada bumi Karo pada saat itu. Selain itu beberapa pengakuan lain dari warga Singgamanik, Kecamatan Munte menuturkan bahwa kawasan persawahan Juma Pedalong dengan luas kurang lebih 10 Ha di daerah itu telah mengalami pergeseran serta amblas dan tertimbun tanah longsor. DVMBG juga mencatat, akibat gempa tersebut telah menyebabkan terjadinya retakan tanah dari Kabanjahe hingga ke Kutacane.
Selain itu Pakar Geologi juga memperkirakan gempa bumi tahun 1936 itu telah turut menggoncang kawasan di jalur patahan Renun-Toru yaitu mulai dari Dairi, Phakpak Barat, Humbahas, Samosir, Toba dan Tarutung (Taput).
Adapun menurut catatan DVMBG-Bandung pusat, gempa Karo (1936) itu terletak sekitar 30 kilometer di barat Kutacane (Aceh Tenggara) dan berada diantara atau diapit oleh 2 (dua) jalur patahan yaitu patahan Batee (Aceh) dan patahan Alas (Aceh). Sebagaimana telah umum diketahui patahan dipermukaan atau didalam bumi terbentuk oleh proses gempa bumi dan selanjutnya patahan akan bertindak sebagai sumber gempa bumi berikutnya.
Meski pusat gempa di Kutacane (Aceh Tenggara), tetapi goncangan gempa itu sangat dirasakan demikian kuat di Tanah Karo dibandingkan dengan kawasan lain pada jalur patahan Renun, hal ini diakibatkan karena faktor tofografi dataran tinggi plato Karo yang dikelilingi oleh rangkaian perbukitan. Kawasan perbukitan bergelombang dengan ketinggian yang rendah seperti : Kabanjahe, Munte dan Tigabinanga dikelilingi secara melingkar (circle) oleh kawasan berbukit-bukit (hilly terrain) yang lebih tinggi dari kecamatan-kecamatan : Simpang Empat, Berastagi, Payung, Kutabuluh, Mardinding, Lau Baleng dan Juhar.
'
Bill W




No comments:
Post a Comment