‘Muhasabah’
DARI Syadad bin Aus, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah-lemah yang dirinya mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan terhadap Allah.” (HR. Tirmidzi)
Tanpa terasa, fajar 2014 telah menyingsing. Tanpa kokok ayam jantan sekali pun, fajar itu tetap akan terbit dan akan terus begitu sampai sehari menjelang dunia kiamat kelak. Sang waktu tak pernah mau menunggu. Tapi biarlah, memang begitulah adat waktu. Manusia penghuni planet bumi ini beruntung karena setiap kali memiliki momentum untuk introspeksi dan memperbaiki langkah ke depan. Padahal, sebetulnya, untuk sebuah perbaikan tak perlulah mencari-cari instrumen, langsung saja lakukan kapan saja di mana saja. Bila kita menyadari sudah tersesat, misalnya, tak perlu menunggu pergantian tahun untuk kembali ke pangkal jalan, dan ber-muhasabah.
Muhasabah artinya menghisab, menghitung, atau disebut juga dengan introspeksi. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikkan dengan menilai diri sendiri. Dalam melakukan muhasabah, seorang Muslim menilai dirinya, apakah dirinya lebih banyak berbuat baik (beribadah) ataukah malah lebih banyak berbuat jahat (bermaksiat) dalam kehidupan sehari-hari. Dia mesti objektif melakukan penilaian, dengan menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai landasan utama untuk melakukan penilaian, bukan berdasar keinginan hawa nafsunya.
Tak henti ber-muhasabah
Orang pandai seperti disebutkan dalam hadis di atas adalah setiap orang yang mampu memenej hidupnya dengan visi dan misi yang jelas dan bisa diukur. Waktu-waktu berlalu digunakan untuk ber-tawajjuh kepada Tuhan, memikirkan kebesaran ciptaan Allah, dan mencari rezeki yang halal untuk memenuhi kebutuhannya sembari tak pernah henti ber-muhasabah. Namun, muhasabah sebelum beramal dalam satu kaidah disebutkan: “Barang siapa yang tergesa-gesa untuk memperoleh sesuatu sebelum waktunya, maka dia dihukum dengan tidak mendapatkan hal tersebut.”
Muhasabah sebelum beramal, juga berkaitan dengan apa yang telah disebutkan oleh Imam al-Bukhari dalam Kitab Shahihnya, bab Al ‘Ilmu Qablal Qauli wal ‘Amal (berilmu sebelum berkata-kata dan beramal). Oleh karena itu, seyogyanya setiap orang mengetahui ilmunya terlebih dulu kemudian beramal dengannya. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Seorang hamba berpikir di saat pertama ia ingin melakuan sesuatu. Jika itu karena Allah, ia lanjutkan, dan jika bukan karenaNya, ia menangguhkannya.” Perkataan Hasan al-Bashri ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah ra Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam.”
Imam An-Nawawi memaknai maksud hadis tersebut: “Jika seseorang ingin berbicara dan pembicaraannya adalah sesuatu yang baik, benar, berpahala, baik wajib maupun sunnah, maka silahkan ia bicara. Tetapi jika belum jelas baginya bahwa pembicaraan itu baik dan berpahala, maka hendaknya ia diam, baik itu pembicaraan yang haram, makruh, atau pun mubah.” Imam As-Syafi’i juga memahami makna hadis di atas: “Jika seseorang ingin berbicara hendaknya ia merenungkannya. Bila jelas tidak ada mudharatnya, berbicaralah ia. Namun sebaliknya, bila jelas baginya mudharat hendaknya ia tidak berbicara.”
Setidaknya ada tiga golongan manusia dalam hidup ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah saw, yaitu: Pertama, golongan beruntung, jika hari ini lebih baik dari hari kemarin. Maksudnya, berkaitan dengan amal; Kedua, golongan merugi, jika hari ini sama dengan hari kemarin. Dengan demikian, amal perbuatannya hari ini sama dengan hari kemarin, dan; Ketiga, golongan celaka, jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Ini berarti, amal perbuatannya hari ini lebih sedikit atau dosa yang diperbuatnya lebih banyak dari hari kemarin.
Lalu, di manakah posisi kita sekarang, termasuk kelompok beruntung, merugi atau celaka? Metode yang bagus untuk mengatasi kekuasaan nafsu amarah atas hati seorang mukmin adalah dengan selalu mengintrospeksi dirinya. Hasan al-Bashri berkata: “Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia mengintrospeksi dirinya sendiri karena Allah. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah mengadakannya di dunia. Sebaliknya hisab akan berat bagi kaum yang menempuh urusan ini tanpa pernah berintrospeksi.”
Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhud dan at-Tirmidzi dalam Sunannya meriwayatkan secara mauquf dari Umar bin Khaththab ra, ia berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab! Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang! Sesungguhnya berinstropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab kemudian hari.”
Begitu juga dengan hari ‘aradh (diperlihatkanya amalan seseorang) yang agung. Allah Swt berfirman: “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh.” (QS. Ali Imran: 30). Dalam ayat lain Allah berfirman: “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari padaNya).” (QS. Al-Anbiya’: 1).
Hanya sementara
Alangkah beruntungnya siapa pun yang saat ini semakin tersentakkan kesadarannya bahwa satu hal yang paling mahal dalam hidup ini ialah ketika mengetahui kehidupan di dunia hanya sementara. Ya, hidup ini hanya satu kali. Adapun ujung dari perjalanan hidup ini hanyalah salah satu surga atau neraka. Tidak ada yang lain. Orang tua, istri, anak-anak, dan siapa pun orang-orang yang kita cintai, pun akan menghuni salah satu dari dua, surga atau neraka.
Surga hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang ketika hidup di dunia benar-benar menjaga dirinya dengan baik. Dia amat menjaga apa pun yang Allah inginkan. Dia amat memelihara apa pun yang Allah perintahkan. Dia merasa senang kepada orang tersebut. Sehingga ketika hidup di dunia hatinya selalu dibahagiakan. Kebutuhannya dicukupi. Kesulitannya dimudahkan. Bahkan Allah akan mendatangkan rezeki untuknya dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah membelanya setiap kali orang itu membutuhkan pembelaan. Dia pun mengangkat derajat kemuliaannya, sehingga tidak dapat diruntuhkan oleh siapa pun jua. Allah akan membuat dunia ini bertekuk lutut kepadanya dan menghamba meladeninya.
Bila saat ajal tiba, maka Allah akan mencabut nyawa orang yang taat penuh dengan keindahan dan kelezatan husnul khatimah. Ketika jasadnya dimasukkan ke lubang kubur, maka kubur itu akan menyambutnya bagaikan seorang ibu yang amat merindukan anaknya yang telah lama tak bersua. Kubur akan mendekapnya penuh dengan kehangatan dan kemesraan. Tidak ada siksa kubur baginya. Tidak ada padang mahsyar yang menyakitkan. Tidak pula siksa neraka jahanam. Semua itu diberikan khusus kepada siapa pun yang ketika hidup di dunia ini, ia menjaganya dengan sebaik-baiknya.
Akan tetapi, Allah pun menyediakan neraka jahanam, yang nyalanya berkobar-kobar. Kalau manusia berdiri di atas bara api dunia, maka api itu hanya akan membakar telapak kaki. Lain lagi api neraka. Bila seorang manusia berdiri di atas bara api neraka, atau bahkan hanya mengenakan sandal penghuni neraka, maka telapak kaki yang menempel itu akan membuat kepalanya mendidih. Neraka disediakan bagi orang-orang yang tidak menyadari kedudukan mereka di hadapan Allah, bahwa dirinya adalah ciptaan Allah, milik Allah, dan pasti kembali kepada Allah. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.
* Dr. H. Abd. Gani Isa, SH, M.Ag, Dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id
Tanpa terasa, fajar 2014 telah menyingsing. Tanpa kokok ayam jantan sekali pun, fajar itu tetap akan terbit dan akan terus begitu sampai sehari menjelang dunia kiamat kelak. Sang waktu tak pernah mau menunggu. Tapi biarlah, memang begitulah adat waktu. Manusia penghuni planet bumi ini beruntung karena setiap kali memiliki momentum untuk introspeksi dan memperbaiki langkah ke depan. Padahal, sebetulnya, untuk sebuah perbaikan tak perlulah mencari-cari instrumen, langsung saja lakukan kapan saja di mana saja. Bila kita menyadari sudah tersesat, misalnya, tak perlu menunggu pergantian tahun untuk kembali ke pangkal jalan, dan ber-muhasabah.
Muhasabah artinya menghisab, menghitung, atau disebut juga dengan introspeksi. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikkan dengan menilai diri sendiri. Dalam melakukan muhasabah, seorang Muslim menilai dirinya, apakah dirinya lebih banyak berbuat baik (beribadah) ataukah malah lebih banyak berbuat jahat (bermaksiat) dalam kehidupan sehari-hari. Dia mesti objektif melakukan penilaian, dengan menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai landasan utama untuk melakukan penilaian, bukan berdasar keinginan hawa nafsunya.
Tak henti ber-muhasabah
Orang pandai seperti disebutkan dalam hadis di atas adalah setiap orang yang mampu memenej hidupnya dengan visi dan misi yang jelas dan bisa diukur. Waktu-waktu berlalu digunakan untuk ber-tawajjuh kepada Tuhan, memikirkan kebesaran ciptaan Allah, dan mencari rezeki yang halal untuk memenuhi kebutuhannya sembari tak pernah henti ber-muhasabah. Namun, muhasabah sebelum beramal dalam satu kaidah disebutkan: “Barang siapa yang tergesa-gesa untuk memperoleh sesuatu sebelum waktunya, maka dia dihukum dengan tidak mendapatkan hal tersebut.”
Muhasabah sebelum beramal, juga berkaitan dengan apa yang telah disebutkan oleh Imam al-Bukhari dalam Kitab Shahihnya, bab Al ‘Ilmu Qablal Qauli wal ‘Amal (berilmu sebelum berkata-kata dan beramal). Oleh karena itu, seyogyanya setiap orang mengetahui ilmunya terlebih dulu kemudian beramal dengannya. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Seorang hamba berpikir di saat pertama ia ingin melakuan sesuatu. Jika itu karena Allah, ia lanjutkan, dan jika bukan karenaNya, ia menangguhkannya.” Perkataan Hasan al-Bashri ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah ra Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam.”
Imam An-Nawawi memaknai maksud hadis tersebut: “Jika seseorang ingin berbicara dan pembicaraannya adalah sesuatu yang baik, benar, berpahala, baik wajib maupun sunnah, maka silahkan ia bicara. Tetapi jika belum jelas baginya bahwa pembicaraan itu baik dan berpahala, maka hendaknya ia diam, baik itu pembicaraan yang haram, makruh, atau pun mubah.” Imam As-Syafi’i juga memahami makna hadis di atas: “Jika seseorang ingin berbicara hendaknya ia merenungkannya. Bila jelas tidak ada mudharatnya, berbicaralah ia. Namun sebaliknya, bila jelas baginya mudharat hendaknya ia tidak berbicara.”
Setidaknya ada tiga golongan manusia dalam hidup ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah saw, yaitu: Pertama, golongan beruntung, jika hari ini lebih baik dari hari kemarin. Maksudnya, berkaitan dengan amal; Kedua, golongan merugi, jika hari ini sama dengan hari kemarin. Dengan demikian, amal perbuatannya hari ini sama dengan hari kemarin, dan; Ketiga, golongan celaka, jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Ini berarti, amal perbuatannya hari ini lebih sedikit atau dosa yang diperbuatnya lebih banyak dari hari kemarin.
Lalu, di manakah posisi kita sekarang, termasuk kelompok beruntung, merugi atau celaka? Metode yang bagus untuk mengatasi kekuasaan nafsu amarah atas hati seorang mukmin adalah dengan selalu mengintrospeksi dirinya. Hasan al-Bashri berkata: “Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia mengintrospeksi dirinya sendiri karena Allah. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah mengadakannya di dunia. Sebaliknya hisab akan berat bagi kaum yang menempuh urusan ini tanpa pernah berintrospeksi.”
Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhud dan at-Tirmidzi dalam Sunannya meriwayatkan secara mauquf dari Umar bin Khaththab ra, ia berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab! Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang! Sesungguhnya berinstropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab kemudian hari.”
Begitu juga dengan hari ‘aradh (diperlihatkanya amalan seseorang) yang agung. Allah Swt berfirman: “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh.” (QS. Ali Imran: 30). Dalam ayat lain Allah berfirman: “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari padaNya).” (QS. Al-Anbiya’: 1).
Hanya sementara
Alangkah beruntungnya siapa pun yang saat ini semakin tersentakkan kesadarannya bahwa satu hal yang paling mahal dalam hidup ini ialah ketika mengetahui kehidupan di dunia hanya sementara. Ya, hidup ini hanya satu kali. Adapun ujung dari perjalanan hidup ini hanyalah salah satu surga atau neraka. Tidak ada yang lain. Orang tua, istri, anak-anak, dan siapa pun orang-orang yang kita cintai, pun akan menghuni salah satu dari dua, surga atau neraka.
Surga hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang ketika hidup di dunia benar-benar menjaga dirinya dengan baik. Dia amat menjaga apa pun yang Allah inginkan. Dia amat memelihara apa pun yang Allah perintahkan. Dia merasa senang kepada orang tersebut. Sehingga ketika hidup di dunia hatinya selalu dibahagiakan. Kebutuhannya dicukupi. Kesulitannya dimudahkan. Bahkan Allah akan mendatangkan rezeki untuknya dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah membelanya setiap kali orang itu membutuhkan pembelaan. Dia pun mengangkat derajat kemuliaannya, sehingga tidak dapat diruntuhkan oleh siapa pun jua. Allah akan membuat dunia ini bertekuk lutut kepadanya dan menghamba meladeninya.
Bila saat ajal tiba, maka Allah akan mencabut nyawa orang yang taat penuh dengan keindahan dan kelezatan husnul khatimah. Ketika jasadnya dimasukkan ke lubang kubur, maka kubur itu akan menyambutnya bagaikan seorang ibu yang amat merindukan anaknya yang telah lama tak bersua. Kubur akan mendekapnya penuh dengan kehangatan dan kemesraan. Tidak ada siksa kubur baginya. Tidak ada padang mahsyar yang menyakitkan. Tidak pula siksa neraka jahanam. Semua itu diberikan khusus kepada siapa pun yang ketika hidup di dunia ini, ia menjaganya dengan sebaik-baiknya.
Akan tetapi, Allah pun menyediakan neraka jahanam, yang nyalanya berkobar-kobar. Kalau manusia berdiri di atas bara api dunia, maka api itu hanya akan membakar telapak kaki. Lain lagi api neraka. Bila seorang manusia berdiri di atas bara api neraka, atau bahkan hanya mengenakan sandal penghuni neraka, maka telapak kaki yang menempel itu akan membuat kepalanya mendidih. Neraka disediakan bagi orang-orang yang tidak menyadari kedudukan mereka di hadapan Allah, bahwa dirinya adalah ciptaan Allah, milik Allah, dan pasti kembali kepada Allah. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.
* Dr. H. Abd. Gani Isa, SH, M.Ag, Dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id




No comments:
Post a Comment