Pesugihan Kethek (Monyet) di Ngujang Tulungagung Jawa Timur, Jelmaan 2 Santri Yang Dikutuk
Assalamualaikum Wr. Wb. Salam hangat semua para pembaca blog saya.
Sahabatku yang beriman dan berbudi luhur. Maaf sebelumnya apabila saya menyanggah pendapat khalayak sekalian. Karena beberapa waktu lalu saya browsing tentang Pesugihan Kethek Ngujang Tulungagung, dan saya ingin klarifikasi agar kita lebih istiqomah di jalan Allah ta’ala.
Mohon jangan percaya dengan tahayul yang berkembang di masyarakat seperti ini. Di Jawa, apapun dan dimanapun tempatnya apa-apa selalu dianggap mitos. Hal ini sangat berlawanan dengan ajaran Islam yang selalu mengutamakan kebijaksanaan dalam berfikir dan melogika.
Mitos yang berkembang pada masyarakat terhadap kuburan ngujang yang menjadi tempat habitat monyet yang katanya adalah kutukan dari Kyai adalah tahayul. Karena yang bisa merubah manusia menjadi hewan, hewan menjadi manusia atau apapun di muka bumi ini adalah Allah SWT. Bahkan manusia yang berilmu sekalipun tidak akan mampu dari masa kemasa merubah hal yang sangat ajaib seperti ini. Mari kita berkaca, apakah cerita Syeh Siti Jenar yang pernah dikatakan jelmaan cacing tanah dibenarkan para kaum ulama? Hal itu tidak benar sama sekali.
Pada masa peralihan Budaya Hindu-Budha yang bertransisi ke Budaya Islam, masyarakat sekitar menganggap monyet adalah makhluk yang paling disucikan dan dianggap jelmaan dewa. Para ulama pada waktu itu tentunya resah dengan budaya ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Karena Islam hanya mengenal Allah satu-satunya Dzat Yang Maha Agung untuk di sembah. Maka dari itu para ulama pada zaman itu menyebarkan isu yang berkembang di masyarakat pada zaman tersebut bahwa monyet ngujang adalah jelmaan dari santri yang dikutuk menjadi monyet, agar masyarakat menjadi takut dan menjauhi daerah tersebut hingga dianggap wingit. Sehingga daerah kuburan ngujang yang merupakan tempat habitat monyet-monyet dilindungi oleh masyarakat sekitar. Para ulama pun menyebarkan isu yang tidak jauh dari kata-kata Kyai dan Pesantren agar masyarakat berbondong-bondong ke pesantren untuk belajar agama islam lebih dalam dan menjauhi segala hal yang bersifat musyrik.
Dan pada masa penjajahan Belanda-Jepang, monyet adalah salah satu hewan yang sangat popular dan dicari untuk diburu dan dibunuh untuk di ambil otaknya. Karena otak monyet sangat berkualitas perannya dalam pengobatan. Apalagi Negara China pada waktu itu sangat membutuhkan pengobatan masal yang diakibatkan dampak dari perang dunia ke-2. Maka dari itu perkembangan isu semakin merebak dan berdampak tidak ada yang berani menjamah populasi monyet yang ada di kuburan ngujang.
Setelah itu pada masa orde baru masyarakat banyak menyalahgunakan status kuburan ini menjadi tempat mencari pesugihan yang jelas jelas adalah perilaku musyrik. Inilah yang dinamakan peralihan fungsi keyakinan, ketika kepercayaan hakiki diselewengkan demi hal yang instan, lebih memilih kenikmatan dunia yang hanya sementara daripada kenikmatan akherat yang hakiki.
Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kuburan ngujang, tentunya pada siang hari. Saya pernah mendengar isu yang mengatakan bahwa monyet-monyet tersebut pada hari tertentu menghilang dari peredaran. Hal ini saya tanyakan kepada orang yang saya temui yang mengaku warga yang berjualan di area pemakaman. Beliau mengatakan bahwa hal tersebut kebohongan umum yang masih dipercayai masyarakat awam. Saya benarkan disini bahwa beliau menyatakan ketika monyet-monyet tersebut tidak ada dari peredaran sebenarnya mereka mandi dipinggiran sungai berantas agak kearah barat. Jadi orang-orang yang melintas di area itu tentunya tidak akan bisa melihat dengan mata telanjang dari arah timur. Inilah kebiasaan manusia pada umumnya, hanya memandang dan menilai dari luarnya saja, tidak meninjau lebih jauh kedalam agar menemukan jawaban pasti.
Dalam Al-Qur’an sebenarnya telah tertulis dengan jelas bahawa Islam sangat melarang umat muslim mempercayai hal-hal yang berbau tahayul. Dan hal tersebut saya temukan pada ayat berikut ini :
“Sesungguhnya kesyirikan adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman: 13)
“Sesungguhnya Allah tak akan mengampuni dosa syirik, & Dia mengampuni segala dosa di bawah dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”
(QS. An-Nisa`: 48)
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”
(QS.Luqman:13)
“Dan sebagian besar dari mereka tidak benar-benar beriman kepada Allah karena masih mempersekutukanNya (dengan yang lain).”
(QS.Yusuf: 106)
Dan beberapa Hadist sebagai berikut :
“Barangsiapa menggantungkan tamimah (jimat) ia telah berbuat syirik.“
(HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan Abu Ya’la)
” Barangsiapa menggantungkan (memakai) jimat Allah tidak akan menyempurkannya (yakni tidak akan menjauhkannya dari musibah) dan barangsiapa menggantungkan tumbal (sejenis jimat untuk menenteramkan perasaan) Allah tidak akan membiarkannya hidup tenteram.“
(HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan Thabraniy)
Syirik merupakan kezhaliman yang paling besar. Karena kezhaliman adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, maka tatkala manusia mengangkat hamba menjadi sembahan yang mana itu bukanlah tempat seorang hamba, maka jadilah manusia tersebut dikatakan kezhaliman.
Nah semoga informasi ini bisa memberikan pertimbangan kepada kita untuk tidak berfikiran tahayul terhadap mitos yang berkembang merajalela di masyarakat terhadap pesugihan monyet kuburan ngujang.
Written by Andre Soewito
Sahabatku yang beriman dan berbudi luhur. Maaf sebelumnya apabila saya menyanggah pendapat khalayak sekalian. Karena beberapa waktu lalu saya browsing tentang Pesugihan Kethek Ngujang Tulungagung, dan saya ingin klarifikasi agar kita lebih istiqomah di jalan Allah ta’ala.
Mohon jangan percaya dengan tahayul yang berkembang di masyarakat seperti ini. Di Jawa, apapun dan dimanapun tempatnya apa-apa selalu dianggap mitos. Hal ini sangat berlawanan dengan ajaran Islam yang selalu mengutamakan kebijaksanaan dalam berfikir dan melogika.
Mitos yang berkembang pada masyarakat terhadap kuburan ngujang yang menjadi tempat habitat monyet yang katanya adalah kutukan dari Kyai adalah tahayul. Karena yang bisa merubah manusia menjadi hewan, hewan menjadi manusia atau apapun di muka bumi ini adalah Allah SWT. Bahkan manusia yang berilmu sekalipun tidak akan mampu dari masa kemasa merubah hal yang sangat ajaib seperti ini. Mari kita berkaca, apakah cerita Syeh Siti Jenar yang pernah dikatakan jelmaan cacing tanah dibenarkan para kaum ulama? Hal itu tidak benar sama sekali.
Pada masa peralihan Budaya Hindu-Budha yang bertransisi ke Budaya Islam, masyarakat sekitar menganggap monyet adalah makhluk yang paling disucikan dan dianggap jelmaan dewa. Para ulama pada waktu itu tentunya resah dengan budaya ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Karena Islam hanya mengenal Allah satu-satunya Dzat Yang Maha Agung untuk di sembah. Maka dari itu para ulama pada zaman itu menyebarkan isu yang berkembang di masyarakat pada zaman tersebut bahwa monyet ngujang adalah jelmaan dari santri yang dikutuk menjadi monyet, agar masyarakat menjadi takut dan menjauhi daerah tersebut hingga dianggap wingit. Sehingga daerah kuburan ngujang yang merupakan tempat habitat monyet-monyet dilindungi oleh masyarakat sekitar. Para ulama pun menyebarkan isu yang tidak jauh dari kata-kata Kyai dan Pesantren agar masyarakat berbondong-bondong ke pesantren untuk belajar agama islam lebih dalam dan menjauhi segala hal yang bersifat musyrik.
Dan pada masa penjajahan Belanda-Jepang, monyet adalah salah satu hewan yang sangat popular dan dicari untuk diburu dan dibunuh untuk di ambil otaknya. Karena otak monyet sangat berkualitas perannya dalam pengobatan. Apalagi Negara China pada waktu itu sangat membutuhkan pengobatan masal yang diakibatkan dampak dari perang dunia ke-2. Maka dari itu perkembangan isu semakin merebak dan berdampak tidak ada yang berani menjamah populasi monyet yang ada di kuburan ngujang.
Setelah itu pada masa orde baru masyarakat banyak menyalahgunakan status kuburan ini menjadi tempat mencari pesugihan yang jelas jelas adalah perilaku musyrik. Inilah yang dinamakan peralihan fungsi keyakinan, ketika kepercayaan hakiki diselewengkan demi hal yang instan, lebih memilih kenikmatan dunia yang hanya sementara daripada kenikmatan akherat yang hakiki.
Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kuburan ngujang, tentunya pada siang hari. Saya pernah mendengar isu yang mengatakan bahwa monyet-monyet tersebut pada hari tertentu menghilang dari peredaran. Hal ini saya tanyakan kepada orang yang saya temui yang mengaku warga yang berjualan di area pemakaman. Beliau mengatakan bahwa hal tersebut kebohongan umum yang masih dipercayai masyarakat awam. Saya benarkan disini bahwa beliau menyatakan ketika monyet-monyet tersebut tidak ada dari peredaran sebenarnya mereka mandi dipinggiran sungai berantas agak kearah barat. Jadi orang-orang yang melintas di area itu tentunya tidak akan bisa melihat dengan mata telanjang dari arah timur. Inilah kebiasaan manusia pada umumnya, hanya memandang dan menilai dari luarnya saja, tidak meninjau lebih jauh kedalam agar menemukan jawaban pasti.
Dalam Al-Qur’an sebenarnya telah tertulis dengan jelas bahawa Islam sangat melarang umat muslim mempercayai hal-hal yang berbau tahayul. Dan hal tersebut saya temukan pada ayat berikut ini :
“Sesungguhnya kesyirikan adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman: 13)
“Sesungguhnya Allah tak akan mengampuni dosa syirik, & Dia mengampuni segala dosa di bawah dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”
(QS. An-Nisa`: 48)
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”
(QS.Luqman:13)
“Dan sebagian besar dari mereka tidak benar-benar beriman kepada Allah karena masih mempersekutukanNya (dengan yang lain).”
(QS.Yusuf: 106)
Dan beberapa Hadist sebagai berikut :
“Barangsiapa menggantungkan tamimah (jimat) ia telah berbuat syirik.“
(HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan Abu Ya’la)
” Barangsiapa menggantungkan (memakai) jimat Allah tidak akan menyempurkannya (yakni tidak akan menjauhkannya dari musibah) dan barangsiapa menggantungkan tumbal (sejenis jimat untuk menenteramkan perasaan) Allah tidak akan membiarkannya hidup tenteram.“
(HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan Thabraniy)
Syirik merupakan kezhaliman yang paling besar. Karena kezhaliman adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, maka tatkala manusia mengangkat hamba menjadi sembahan yang mana itu bukanlah tempat seorang hamba, maka jadilah manusia tersebut dikatakan kezhaliman.
Nah semoga informasi ini bisa memberikan pertimbangan kepada kita untuk tidak berfikiran tahayul terhadap mitos yang berkembang merajalela di masyarakat terhadap pesugihan monyet kuburan ngujang.
Written by Andre Soewito




No comments:
Post a Comment