Rahasia Sukses Ken Arok ada di Girindra
Nama Bunda Zaki dan Siwi Sang seperti sendok dan piring yang saling melengkapi satu sama lain. Hidup dalam keluarga kecil yang diam diam saya pelajari karena unik dan penuh inspirasi. Sepasang suami istri yang mengawali petualangan di dunia kepenulisan dan literasi dari nol. Dan itu teramat menarik untuk di simak, bagi saya yang juga tengah mempersiapkan perjalanan seperti itu, walaupun itu belum tentu bisa menyamai.
Hal yang paling menantang adalah ketika bunda menjelaskan dasar berpijak sebuah keluarga penulis, bahwa Siwi Sang ibaratnya menanam pohon jati yang akan menuai beberapa puluh tahun kemudian , sedangkan Bunda Zaki menanam padi yang menuai dan dipanen setiap musim. Itu bagi saya bukan hal yang remeh. Tapi sebuah pilihan hidup yang harus di putuskan dengan sebuah keyakina dan komitmen.Beruntung saya dipertemukan dalam sebuah forum yang sangat inspiratif yaitu Jurnalis Warga.
Akhir akhir ini, saya pun untuk kesekian kalinya harus angkat topi tinggi tinggi untuk kekompakan pasangan Bunda Zaki dan Siwi Sang, dimana pohon jati yang di tanam sang suami itu kini mulai menjulang tinggi dan kayunya sepertinya siap membuahkan hasil. Siwi Sang ibarat kepompong yang mulai bermetamorfosis menjadi kupu kupu bersama bukunya “GIRINDRA”. Sebuah mahakarya dari seorang pengembara yang menghabiskan hampir seluruh tugas pokoknya sebagai seorang suami dan ayah buat anak anaknya untuk mengelus ratusan prasasti dari satu tempat ketempat lainnya, demi memburu jejak sejarah yang telah tersirat dalam lempeng batu bertuliskan aksara aksara sansekerta. Kini, bisikan para raja yang tertulis lewat bongkahan batu itu ia terjemahkan dan tersaji dalam “GIRINDRA”.
Kebiasaan membaca buku saya memang tak runut, tapi lebih menyukai gaya membaca yang random dan memilih judul yang menurut insting saya menarik. Jadi tak heran, jika pertama kali membuka GIRINDRA , saya langsung tertuju pada bab pembahasan KEN AROK. Saya mengidolakan tokoh yang satu ini sejak kelas empat sekolah dasar. Menurut saya, KEN AROK itu seksi, bengal dan inspiratif. Membaca jalan fikiran Ken Arok membuat saya tak merasa bosan untuk mengikuti sepak terjangnya dari buku yang satu
dengan versi buku yang lain.
Namun kali ini saya di sodorkan beberapa rahasia sukses Ken Arok menumbangkan singgasana Tunggul Ametung. Saya terkesan dengan istilah GIRINDRA yang menyebut strategi KEN AROK adalah strategi perkawinan. Semakin membuat saya sepakat jika mengatakan betapa KEN AROK itu masih muda tapi cerdas dan sukses. Ambisinya mampu menerjang batas kehendaknya sendiri. Memang sangat disayangkan jika titisan Dewa Wisnu adalah ujian terberat kodrat kemanusiaannya, yang tak lepas dari khilaf dan nafsu angkara murka. Apalagi ketika perempuan bernama Ken Dedes adalah penyebab utama naluri lelaki seorang pemuda desa bernama Ken Arok, akhirnya mampu melenggang bebas di lingkungan kerajaan, dan menghunus Senjata tajam penuh kutukan dari Mpu Gandring.
Ken Arok memang ambisius,cerdas dan menjadi tumbal untuk lahirnya raja raja besar tanah Jawa.
Hmmm… malam sudah larut, saya pamitan dulu ya pada yang empunya rumah, dan Bunda Zaki mengantarkan saya sampai di halaman depan sembari menyelipkan buku berwarna coklat GIRINDRA.
GIRINDRA mengatakan pada saya, bahwa tanah kelahiran saya Tulungagung ternyata pada zaman dahulu menjadi tempat tujuan para raja raja. Dan untuk yang satu ini , saya sungguh tak menemukan pada tulisan tulisan di buku sejarah yang pernah ada, apalagi dengan mendetail.
Manda R



No comments:
Post a Comment