Dakwah bil Lisan
“Awal mula menyebar Islam di Indonesia melalui dakwah dari mulut ke mulut. Dakwah secara tertulis mulai mempengaruhi wajah Islam pada abad 19-an” kata ustad itu
“Masalahnya apa, ustad?” kata santri itu
“Karena dakwah dilakukan mulut ke mulut itu menjadikan kebenaran informasi tergantung siapa yang menyampaikan. Bahkan pemegang informasi dipengaruhi oleh kondisi tempat tinggal, budaya, pengetahuan, umur dan lain2 sehingga informasi yang diberikan tergantung suasana batin yang menyampaikan. Maka muncul interprestasi/ penafsiran yang beragam tentang Islam karena didasar pada sumber informasi dari lisan bukan tulisan” kata ustad itu
“Hubungan dakwah lisan dan tulisan” kata santri itu
“Kalau lisan rujukannya pada ingatan seseorang yang mungkin bisa berubah karena daya ingat seseorang tidak selamanya baik. Tetapi kalau rujukannya adalah tulisan maka apa yang ditulis hari ini akan sama di esok hari, apa yang ditulis tahun lalu akan sama di tahun ini, apa yang ditulis abad lalu akan sama pada abad ini. Seperti apa yang ditulis oleh al Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiyah dan lainnya pada abad 8-11 M sama saja yang tertulis (di buku) jaman lalu dengan jaman ini” kata ustad itu
“Ehmmm” kata santri itu
“Walisongo mengunakan tradisi lisan dalam berdakwah oleh karena terkesan sampai sekarang Islam Walisongo adalah Islam kejawen. Karena murid-muridnya rata-rata orang Jawa maka menyampaikan dakwahnya kepada murid-muridnya lagi terkesan dengan Islam Jawa-nya. Karena Walisongo tidak memiliki karya tertulis yang menjadu rujukan awal, semua murid-murid sampai sekarang mengatakan dari Walisongo. Oleh karena itu muncul mitosisasi kejawaan terhadap Walisonggo, seperti tongkat Sunan Bonang bisa menjadi ular dll…Akhirnya Islam di Jawa terkesan identik dengan banyak mitos” kata ustad itu
“Iya….”kata santri itu
“Kalau al Qhazali, ibnu Khladun, ibnu Taimiyah dll ada karya tetulisnya. Maka orisinilitas islam dalam pemikiran ulama klasik bisa kita baca langsung untuk menghindari penafsiran yang berbeda” kata ustad itu
“Ehmmm” kata santri itu
“Maka islam sejak awal sangat peduli dengan sumber rujukan: seperti al quran, hadist, ijtihad dll. Maka sumber dokumentasi seperti tulisan itu penting. Maka ikatlah ilmu dengan menuliskannya” kata ustad itu
Heri S
“Masalahnya apa, ustad?” kata santri itu
“Karena dakwah dilakukan mulut ke mulut itu menjadikan kebenaran informasi tergantung siapa yang menyampaikan. Bahkan pemegang informasi dipengaruhi oleh kondisi tempat tinggal, budaya, pengetahuan, umur dan lain2 sehingga informasi yang diberikan tergantung suasana batin yang menyampaikan. Maka muncul interprestasi/ penafsiran yang beragam tentang Islam karena didasar pada sumber informasi dari lisan bukan tulisan” kata ustad itu
“Hubungan dakwah lisan dan tulisan” kata santri itu
“Kalau lisan rujukannya pada ingatan seseorang yang mungkin bisa berubah karena daya ingat seseorang tidak selamanya baik. Tetapi kalau rujukannya adalah tulisan maka apa yang ditulis hari ini akan sama di esok hari, apa yang ditulis tahun lalu akan sama di tahun ini, apa yang ditulis abad lalu akan sama pada abad ini. Seperti apa yang ditulis oleh al Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiyah dan lainnya pada abad 8-11 M sama saja yang tertulis (di buku) jaman lalu dengan jaman ini” kata ustad itu
“Ehmmm” kata santri itu
“Walisongo mengunakan tradisi lisan dalam berdakwah oleh karena terkesan sampai sekarang Islam Walisongo adalah Islam kejawen. Karena murid-muridnya rata-rata orang Jawa maka menyampaikan dakwahnya kepada murid-muridnya lagi terkesan dengan Islam Jawa-nya. Karena Walisongo tidak memiliki karya tertulis yang menjadu rujukan awal, semua murid-murid sampai sekarang mengatakan dari Walisongo. Oleh karena itu muncul mitosisasi kejawaan terhadap Walisonggo, seperti tongkat Sunan Bonang bisa menjadi ular dll…Akhirnya Islam di Jawa terkesan identik dengan banyak mitos” kata ustad itu
“Iya….”kata santri itu
“Kalau al Qhazali, ibnu Khladun, ibnu Taimiyah dll ada karya tetulisnya. Maka orisinilitas islam dalam pemikiran ulama klasik bisa kita baca langsung untuk menghindari penafsiran yang berbeda” kata ustad itu
“Ehmmm” kata santri itu
“Maka islam sejak awal sangat peduli dengan sumber rujukan: seperti al quran, hadist, ijtihad dll. Maka sumber dokumentasi seperti tulisan itu penting. Maka ikatlah ilmu dengan menuliskannya” kata ustad itu
Heri S




No comments:
Post a Comment