Kehalusan Bahasa Tulis Sukarno


Ketika berkunjung ke Taman Pintar di Jogja, saya melihat ada 3 lembar surat Presiden Sukarno yang ditujukan kepada Panglima Besar Sudirman. Surat itu bertarikh 27 Desember 1949. Kalau melihat dari isi surat dan catatan sejarah, maka surat itu ditulis pada tanggal ketika Perjanjian Meja Bundar ditandatangani yang mana Sukarno harus kembali ke Jakarta sebagai Presiden RI Serikat. Di dalam catatan sejarah, Sukarno sampai di Jakarta tanggal 29 Desember 1949.
Yang sangat menarik perhatian saya adalah sapaan Sukarno kepada Sudirman: “Dinda”
Sapaan itu terasa begitu erat, dekat, seolah antara Sukarno (sang Presiden) dan Sudirman (sang Panglima/bawahan) terikat secara emosional, secara batin. Seperti dua orang bersaudara yang saling berkasih-kasihan.
Sebenarnya saya tadinya bermaksud pamitan kepada Dinda secara direct ini hari, tetapi sekonyong-konyong datang hal-hal penting yang harus saya selesaikan sebelum saya meninggalkan Jogja, sehingga terpaksalah saya pamitan kepada Dinda dengan surat ini saja–dengan hati yang berat.”
Jelas sekali Sukarno ingin menemui Panglimanya secara langsung karena ia tahu Sudirman sedang sakit selama gerilya karena agresi Belanda. Selain itu, keinginan Sukarno untuk bertemu dengan Sudirman itu menunjukkan bahwa Sukarno begitu menghormati panglimanya itu, begitu menyayanginya.
1403321629677640466
Koleksi pribadi

Dinda, Dinda tahu perasaan Kanda terhadap Dinda. Ibaratnya hatiku ini adalah kitab yang terbuka di hadapan Dinda.”
Kalimat di atas menunjukkan betapa Sukarno sangat terbuka kepada Sudirman dan mengibaratkan dirinya adalah sebuah buku yang bisa dibaca oleh Sudirman, bukan buku yang tertutup rapat.
Penggunaan metafora “buku yang terbuka” agaknya (pendapat penulis sendiri, tanpa memeriksa sumber lain) berhubungan dengan kekecewaan Sudirman dengan hasil KMB. Padahal, sebagai Panglima Besar, Sudirman adalah seorang pemegang komando perang yang dihormati oleh seluruh laskar dan tentara di Indonesia. Sukarno seperti paham dengan kekecewaan Sudirman dengan hasil KMB yang memecah-belah Indonesia menjadi negara-negara bagian. Oleh sebab itu Sukarno harus bisa meyakinkan saudara seperjuangannya ini.
Sukarno, kemudian melanjutkan,
Politikpun Kanda satu buku yang terbuka bagi Dinda. RIS yang kita capai sekarang ini bukanlah tujuan kita yang terakhir. RIS kita pakai sebagai alat untuk meneruskan usaha dan cita-cita kita. Dalam usaha dan perjuangan yang masih di hadapan kita itu, Kanda masih membutuhkan tenaga dan pikiran Dinda. Oleh karena itu Kanda mengharap supaya Dinda tetap memberi bantuan itu kepada Kanda.”
Kedekatan–dan penghormatan serta penghargaan–Sukarno terhadap Sudirman juga terbaca dari paragraf berikutnya,
Banyak kekhilafan Kanda sebagai manusia,–juga terhadap Dinda. Karena itu, pada saat saya akan meninggalkan Jogja ini, saya minta supaya Dinda suka memaafkan segalah kekhilafan atau kesalahan Kanda. Maafkanlah dengan ikhlas.”


14033219331039269375
Koleksi pribadi

Sukarno tidak lupa mendoakan kesembuhan Sudirman dari penyakit pada paru-parunya dan juga minta didoakan agar ia, Sukarno, bisa mengemban tugas sebagai Presiden RIS–jabatan yang tidak diinginkan oleh seluruh pejuang kala itu.
“Kanda doakan kepada Tuhan, moga Dinda segera sembuh. Dan mohonkanlah juga supaya Kanda di dalam jabatan baru ini selalu dipimpin dan diberi kekuatan oleh Tuhan. Manusia ta’ berkuasa suatu apa, hanya Dia-lah yang menentukan segala-gala.”
Di akhir surat Sukarno tidak lupa menitipkan salam kepada istri Sudirman, yang ia panggil “Zus Dirman” dan menyampaikan salam istrinya sendiri kepada keluarga Sudirman.
“Sampaikanlah juga salam ta’zim kepada Zus Dirman. Istriku pun minta diberi banyak maaf dan doa ke hadirat Tuhan.”
Dan ditutup dengan salam pembangkit semangat perjuangan.
“Sekian, saudaraku!”
“Merdeka!”
1403322161355878899
Koleksi pribadi
—————
Saya cukup tersentuh dengan kehalusan, keakraban, dan rasa hormat yang ditunjukkan Sukarno kepada Sudirman di dalam surat tersebut. Surat tersebut semestinya berklasifikasi “Rahasia” karena dari seorang Presiden kepada Panglima Besar angkatan perang. Di kiri atas surat itu sendiri ada tulisan “Presiden Republik Indonesia” yang menegaskan dugaan saya tentang klasifikasi surat itu.
Namun, bahasa yang dituturkan oleh Sukarno di dalamnya bukanlah bahasa dinas. Bahkan sebaliknya, surat itu layaknya surat antara dua orang sahabat!
Namun, dari penelusuran singkat saya di internet, saya menemukan surat Sukarno lain kepada Husein Mutahar (does it ring a bell to you?) yang mendapat perintah darinya untuk menyelamatkan Bendera Pusaka kala Belanda menggelar agresi militernya, saya mendapatkan kesan bahwa beliau memang penutur bahasa yang halus–namun menggelorakan semangat!
“Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya.”
Allahummaghfirlahum…
Nusantara, 21 Juni 2014
P.S.
Berkali-kali saya mengirim sesuatu kepada orangtua saya dengan membubuhi singkatan “Ayd” di depan nama beliau dan “And” di depan nama saya, namun berkali-kali pula petugas jasa kurir bertanya apakah “ayd” adalah gelar ayah saya dan “and” adalah singkatan nama saya. Hmm.

Rahmat M

No comments: