Pertengkaran Para Penghuni Neraka

beach 1008 FILEminimizer Allahu Akbar, Inilah Pertengkaran Para Penghuni Neraka (4)
ORANG-orang lemah banyak, sedangkan tuhan-tuhan palsu sedikit. Lalu, siapakah yang membuat yang banyak itu tunduk kepada yang sedikit? Apakah yang menundukkan yang banyak itu? Yang menundukkan mereka, tiada lain, adalah lemahnya jiwa, hilangnya kemauan, kurangnya kebenarian, dan kurangnya penghargaan atas kemuliaan yang Allah anugerahkan bagi manusia!
Orang-orang lalim tidak dapat menundukkan rakyat banyak kecuali dengan keinginan rakyat banyak itu. Jika ingin, rakyat banyak selalu dapat menyingkirkan orang-orang lalim. Keinginan itulah yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang tuli ini!
Sesungguhnya kehinaan tidak tumbuh kecuali dari kesediaan menerima kehinaan. Kesediaan menerima inilah yang dijadikan pegangan oleh orang-orang lalim. Kehinaan orang-orang lemah ini pun tampak dari perkataan mereka di akhirat: “Kami dahulu adalah pegikut kalian. Dapatkah kalian meringankan kami dari siksaan Allah sedikit saja?” Kami sungguh telah mengikuti kalian, sehingga kami berakhir di tempat yang menyakitkan ini!
Ataukah mungkin mereka, setelah melihat azab, ingin menyalahkan dan memperlihatkan azab itu kepada orang-orang congkak? Perkataan mereka itu dalam segala hal itu menunjukkan kesan kehinaan!
Orang-orang congkak menjawab: “Mereka berkata, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, tentu kami tunjuki kalian. Bagi kita sama saja, apakah kita gelisah atau kita sabar, kita tetap tidak dapat melepaskan diri’.”
Itu merupakan penolakan yang mencerminkan kegalauan dan kesusahan: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, tentu kami tunjuki kalian.”
“Mengapa kalian mengecam kami padahal kami dan kalian satu nasib? Kami dahulu tidak mendapat hidayah dan telah menyesatkan kalian. Seandainya Allah memberi kami hidayah, tentu kami akan pandu kalian menuju hidayah bersama kami, sebagaimana kami telah pandu kalian kepada kesesatan!” Mereka menyandarkan hidayah dan kesesatan mereka kepada Allah. Mereka saat itu mengakui kekuasaan Allah, padahal dahulu mereka mengingkari Allah dan kekuasan-Nya serta bertindak sewenang-wenang kepada oran-orang lemah dengan tidak memandang kekuasaan Sang Mahagagah dan Mahakuasa. Mereka malah berusaha melepaskan diri dari para pengikut kesesatan dengan mengembalikan masalah kepada Allah, padahal Allah tidak memerintahkan kesesatan, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah itu tidak memerintahkan perbuatan keji,” kemudian mereka mencela orang-orang lemah dengan cara yang halus. Mereka mengemukakan kepada orang-orang lemah itu bahwa tidak ada gunanya merasa gelisah, tak ada gunanya pula bersabar. Azab telah pasti. Sabar atau gelisah tidak dapat mencegah azab. Saat ketika rasa takut akan azab itu berguna, sehingga orang-orang sesat dikembalikan ke jalan hidayah, dan saat ketika kesabaran yang tinggi berguna, sehingga mereka memperoleh rahmat Allah, telah lewat. Semuanya telah berakhir, dan di sana tidak ada lagi tempat untuk lari dan meloloskan diri: “Bagi kita sama saja, apakah kita gelisah atau kita sabar, kita tetap tidak dapat meloloskan diri.”

KEPUTUSAN telah ditetapkan, tidak ada lagi perdebatan dan dialog. Di sini, dalam drama itu, kita melihat sesuatu yang mengherankan. Kita lihat setan, si pembisik kesesatan dan pemimpin para penggoda, saat itu melakukan kebusukan dan tipu daya! Ia memperdaya orang-orang lemah dan orang-orang congkak secara bersamaan, dengan ucapannya yang mungkin bagi mereka terasa lebih keras daripada siksaan:
Dan tatkala keputusan telah ditetapkan, setan berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar dan aku menjanjikan kepada kalian janji yang lalu aku pungkiri. Aku tidaklah dapat memaksa kalian kecuali hanya merayu kalian, lantas kalian mengikuti rayuanku. Karena itu, janganlah kalian mencela aku, tetapi celalah diri kalian sendiri! Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Aku mengingkari penyekutuan kalian terhadap aku dahulu. Sesungguhnya orang-orang lalim itu mendapat siksaan yang menyakitkan’.”
Allah! Allah! Setan memang benar-benar setan! Di sini tampak kepribadian setan yang sebenarnya. Tampak pula kepribadian orang-orang lemah dan orang-orang congkak.
Itulah setan yang membisik di dada, menggoda dengan kemaksiatan, menghiasi kekafiran, dan membuat orang-orang lemah dan orang-orang congkak berpaling dari dakwah. Itulah setan yang berkata kepada mereka seraya mencela dengan celaan yang menyakitkan dan mengena, yang tidak dapat mereka balas karena keputusan telah ditetapkan. Itulah setan yang sekarang, dan setelah semuanya terlanjur, mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar dan aku menjanjikan kepada kalian janji yang aku pungkiri.”
Ia (setan) kemudian menusuk mereka kembali dengan mencela mereka bahwa mereka mengikuti ajakannya, padahal ia tidak memaksa mereka, melainkan merekalah yang meninggalkan kepribadian mereka dan melupakan permusuhan lama antara manusia dan setan, lalu mengikuti ajakan setan yang sesat dan meninggalkan ajakan yang benar dari Allah, “Aku tidaklah dapat memaksa kalian kecuali hanya merayu kalian, lantas kalian mengikuti rayuanku!
Ia kemudian mengecam dan menyeru orang-orang lemah dan orang-orang congkak itu untuk mengecam diri mereka sendiri. Ia mencela mereka atas ketaatan mereka kepadanya, “Karena itu, janganlah kalian mencela aku, tetapi celalah diri kalian sendiri!
Ia kemudian membiarkan mereka dalam kesusahan dan melepaskan diri dari mereka, padahal dahulu ia memberi janji serta harapan kepada mereka dan membisikkan bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan mereka. Ia tidak menjawab permintaan tolong mereka, sebagaimana mereka pun tidak akan menolongnya bila ia minta tolong, “Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Tidak ada pertalian dan persahabatan di antara kita!
Ia kemudian mengingkari penyekutuan mereka terhadapnya, “Aku mengingkari penyekutuan kalian terhadapku dahulu.” Ia kemudian mengakhiri ucapan jahatnya dengan kutukan kepada para pengikutnya, “Sesungguhnya orang-orang lalim itu mendapat siksaan yang menyakitkan.
Alangkah celakanya setan dan alangkah celakanya mereka yang menaati bisikan setan kepada kesesatan, padahal para rasul menyeru mereka kepada Allah, tetapi mereka menyangkal dan mendustakan para rasul itu.

beach 1008 FILEminimizer Allahu Akbar, Inilah Pertengkaran Para Penghuni Neraka (6)
ALLAH juga menyebutkan pertengkaran orang-orang lemah dengan para pemimpin yang congkak pada ayat lainnya. Allah berfirman, “Dan ketika itu mereka saling berhujah di dalam neraka. Orang-orang lemah berkata kepada orang-orang congkak, ‘Sesungguhnya kami dahulu pengikut-pengikut kalian. Dapatkah kalian menghindarkan kami dari sebagian siksaan api neraka?’ Orang-rang congkak itu menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua di dalam neraka. Allah sungguh telah menghukum hamba-hamba-Nya’.”
Ayat yang mulia ini muncul sesudah kabar tentang kecongkakan Fir’aun membunuh bayi-bayi, usahanya membunuh Nabi Musa as., dan bantahannya terhadap orang mukmin yang menyanggah argumentasi dan kebatilannya, serta tentang sikap suatu kaum yang mengikuti keinginan penguasa lalim dengan melakukan pembunuhan, penyiksaan dan pengusiran. Orang yang di dunia menjad penolong orang-orang lalim pelaku kejahatan, di hari kiamat akan dihimpit oleh kejahatan yang telah dilakukannya dan akan mengatakan kepada para pemimpin seperti Fir’aun, “Sesungguhnya kami dahulu pengikut-pengikut kalian. Dapatkah kalian menolong kami lepas dari sebagian siksa api neraka?” Namun, para pemimpin itu tidak mampu berbuat apapun dan tidak dapat menolong mereka. Para pemimpin itu berkata, “Sesungguhnya kita semua di dalam neraka. Allah sungguh telah memberi hukuman kepada hamba-hamba-Nya.” Situasi ini menunjukkan jawaban yang dapat kita gunakan untuk menyanggah perkataan bohong yang sering diucapkan oleh sebagian orang lalim ketika berbicara kepada para pengikutnya, “Ikutilah aku! Jika kalian punya dosa, aku tanggung dosa kalian.” Tanggungan mereka akan dosa orang-orang yang mereka sesatkan tidaklah dapat menghindarkan orang-orang yang mengikuti mereka itu dari azab. “Dan orang-orang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Ikutilah jalan kami, dan kami akan tanggung dosa-dosa kalian,’ padahal mereka tidak menanggung sedikit pun dosa orang-orang beriman itu. Mereka sungguh berdusta. Mereka sungguh akan memikul beban mereka dan beban orang lain (yang mereka sesatkan) dan pada hari kiamat mereka sungguh akan ditanya tentang apa yang mereka ada-adakan.
Allah menceritakan pertengkaran orang-orang lemah dengan orang-orang congkak pada ayat lain pula, “Jika kamu lihat ketika orang-orang lalim dihadapkan kepada Tuhan mereka, satu sama lain saling membantah. Orang-orang lemah berkata kepada orang-orang congkak, ‘Seandainya tidak ada kalian, tentu kami jadi orang-orang yang beriman.’ Orang-orang congkak berkata kepada orang-orang lemah itu, ‘Apakah kami menghalangimu dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadamu? Kamulah yang berbuat dosa!’ Orang-orang lemah berkata (lagi) kepada orang-orang congkak, ‘Tipu daya kalian memerintahkan kami untuk kafir kepada Allah dan membuat sekutu-sekutu bagi-Nya.’ Mereka menyesal tatkala melihat azab, dan Kami jadikan belenggu di leher orang-orang kafir. Mereka tidak dibalas kecuali apa yang mereka perbuat.”
Para pengikut dan orang-orang lemah menuduh para pemimpin dan tokoh mereka dengan mengatakan, “Kalianlah yang telah menghalangi kami dari keimanan. Kalau bukan kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang mengikuti apa yang diturunkan dari Tuhan kami kepada kami.” Namun, orang-orang congkak itu menolak tuduhan mereka dan menjawab, “Kalianlah yang berbuat dosa. Yang kami lakukan tidak lebih dari mengajak kalian, lalu kalian menerima, padahal kami tidak memaksa kalian.” Orang-orang lemah yang sesat itu lalu berkata, “Tipu daya kalian terhadap kami di waktu malam dan siang itulah yang telah menyesatkan dan menyimpangkan kami dari jalan kebenaran. Pertemuan-pertemuan, konferensi dan media-media publikasi di berbagai zaman yang menggambarkan yang benar itu salah dan yang salah itu benar, serta argument yang tampak bagus dan penyataan sesat yang disampaikan oleh para pemuka, semua itu telah menyesatkan dan membuat kami kafir kepada Allah dan menyekutukan-Nya.” Yang benar mereka semua bersalah, dan kesesatan serta kekafiran mereka tidak dapat dibenarkan.
Allah juga menggambarkan pertengkaran para penghuni neraka ini ketika mereka msuk ke neraka. Allah berfirman, “Begitulah (ganjaran orang-orang beriman). Dan bagi orang-orang yang durhaka disediakan tempat yang amat buruk. (Yaitu) neraka jahanam yang mereka masuki. Itu adalah tempat tiggal yang paling buruk. Ini! Biarlah mereka merasakannya. Airnya sangat panas dan sangat dingin. Dan bermacam-macam azab lain yang serupa itu. (Dikatakan kepada mereka), ‘inilah rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desakkan bersamamu.’ (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka), ‘Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka. Sesungguhnya mereka masuk neraka.’ Para pengikut mereka menjawab, ‘Kamulah (yang menyesatkan kami). Tidak ada penyambutan hangat bagimu. Kamu telah menjerumuskan kami ke dalam azab ini.’ Alangkah buruknya tempat tinggal itu. Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, tambahkanlah azab yang berlipat ganda kepada orang yang telah menjerumuskan kami.’ Dan mereka berkata, ‘Mengapakah kami tidak melihat orang-orang yang dahulu kami anggap orang-orang jahat?’ Apakah kami telah memperolok-olok mereka ataukah mata kami yang tidak melihat?’ Sesungguhnya itu benar-benar terjadi, pertengkaran para penghuni neraka.”
Mereka yang dahulu saling ramah satu sama lain dan saling menghormati di kehidupan dunia, pada hari itu keadaan mereka berubah. Sebagian mereka mengatakan kepada sebagian lainnya, “Kamulah (yang menyesatkan kami). Tidak ada penyambutan hangat bagimu.” Setiap pihak berharap kepada Allah agar Dia menambah azab dan siksaan kepada orang yang dahulu di dunia menjadi kekasih mereka. Pertengkaran antar penghuni neraka ini benar-benar terjadi, tidak diragukan lagi. Demikian firman Allah SWT.

4. PERTENGKARAN pada hari akhir juga terjadi antara orang kafir dan temannya, setan. Allah SWT berfirman, “Dan malaikat yang mendampinginya berkata, ‘Ini yang di sisiku sudah siap.’ Lemparkanlah ke dalam neraka jahannam setiap orang kafir pembangkang, yang menghalangi kebaikan, lalim dan ragu, yang membuat Tuhan lain di samping Allah. Lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang berat! Temannya (setan) berkata, ‘Wahai Tuhan kami, aku tidaklah menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.’ Allah berkata, ‘Jangan bertengkar di hadapan-Ku! Aku sungguh telah menyampaikan ancaman kepdamu. Keputusan-Ku tidak dapat diubah, dan Aku tidak melalimi hamba-Ku’.”
5. Pertengkaran itu mencapai puncaknya ketika seseorang menggugat anggota badannya sendiri. Allah SWT berfirman, “Dan pada hari musuh-musuh Allah digiring ke neraka, mereka dikumpulkan. Hingga apabila mereka telah sampai ke sana, pendengaran, mata dan kulit mereka memberi kesaksian atas mereka tentang apa yang dahulu mereka lakukan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ‘Mengapa kalian memberi kesaksian yang memberatkan kami?’ Kulit-kulit itu menjawab, ‘Kami dibuat bicara oleh Allah yang (kuasa) membuat segala sesuatu berbicara. Dialah yang telah menciptakan kamu pertama kali dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan’.”
Hal ini terjadi pada orang-orang kafir ketika mereka meihat siksaan berat yang telah Allah siapkan bagi mereka. Mereka mencari jalan dengan berbohong dan membantah. Mereka mengaku bahwa mereka dahulu orang-orang saleh atas mereka itu bohong. Ketika itu Allah lalu mengunci mulut mereka serta membuat tangan dan kaki mereka berbicara tentang perbuatan mereka dahulu. Pada saat itu mereka lalu berkata kepada anggota-anggota tubuh mereka, “Masa bodoh dengan kalian, enyahlah! Dahulu aku membela kalian.”
Muslim, at-Tirmidzi, Ibn Mardawih dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., keduanya mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Seorang hamba menemui Tuhannya. Allah berkata, “Bukankah aku telah memuliakanmu, memberi kamu kekuasaan dan pasangan, menundukkan kuda dan unta untukmu, serta membiarkanmu mengelola dan hidup senang?” Orang itu menjawab, “Benar, wahai Tuhanku.” Allah bertanya, “Apakah dahulu kamu percaya bahwa kamu akan bertemu dengan Aku?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya Aku melupakanmu sebagaimana kamu telah melupakan-Ku.” Kemudian orang yang kedua datang menemui, lalu Allah bertanya kepadanya dan mengatakan hal yang seperti itu. Kemudian orang ketiga datang menemui, lalu Allah mengatakan hal seperti itu kepadanya. Orang itu menjawab, “Aku beriman kepada-Mu, kitab-Mu, dan Rasul-Mu. Aku shalat, berpuasa, dan bersedekah,” dan memuji-muji sebaik mungkin. Allah lalu berkata kepadanya, “Kami akan tampilkan saksi Kami atas kamu.” Orang itu berpikir, “Siapakah yang akan memberikan kesaksian atas saya?” Allah lalu mengunci mulutnya dan mengatakan kepada paha orang itu, “Bicaralah!” Maka paha orang itu, mulutnya dan tulang-tulangnya berbicara tentang perbuatan yang telah lalu. Orang itu hanya membuat-buat alasan untuk membela dirinya. Itulah orang munafik. Itulah orang yang Allah murkai.
Percekcokan yang terjadi antara manusia dan anggota badannya ini merupakan hal yang ajaib dan aneh. Adegan ini telah membuat Rasul tertawa. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Anas ibn Malik:
Kami sedang bersama Rasulullah, dan tiba-tiba beliau tertawa. Rasulullah SAW bertanya, “Tahukan kalian apa yang menyebabkan aku tertawa?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau SAW berkata, “(Yang menyebakan aku tertawa adalah) percakapan seorang hamba dengan Tuhannya. Hamba itu berkata, ‘Ya Tuhanku, tidakkah Engkau menghukumku karena berbuat lalim?’ Allah menjawab, ‘Ya, aku akan menghukummu.’ Orang itu lalu berkata, ‘Saya hanya menyetujui saksi dari saya.’ Allah lalu berkata, ‘Hari ini cukup diri kamu sendiri dan para malaikat pencatat yang menjadi saksi atas kamu.’ Kemudian Allah mengunci mulut orang itu, lau kepada anggota tubuhnya dikatakan, Bicaralah!’ Maka anggota-anggota badannya bicara tentang perbuatannya. Anggota-anggota badannya berbicara dengan bebas. Orang itu lalu berkata, ‘Masa bodoh dengan kalian, enyahlah! Dahulu aku menjaga dan membela kalian!’”

Redaktur: Rika Rahmawati

No comments: