Sungai Menghidupi Peradaban

putri-dua-sungaiAsal muasal, pertumbuhan dan perkembangan suatu peradaban tidak ada yang terlepas dari aliran sungai. Semua peradaban kuno yang ada bersumber dari aliran sungai.
Peradaban dua sungai
Sungai Euphrates dan Ti­gris adalah dua sungai yang telah menelurkan dan mem­besarkan peradaban paling kuno. Kedua aliran sungai ini selalu meluap setiap tahun­nya, dan meninggalkan zat organik dan mineral dalam jumlah besar, sehingga men­jadikan tanah di bagian hilir sangat subur.
Tahun 6000 SM, di tempat ini mulai dike­nal teknologi pengairan, dan peradaban pertanian berhasil dikembangkan. Di tempat ini pula peradaban orang Sume­ria dan Babilonia berkem­bang.
10 Februari 1935, para arkeolog berhasil menggali situs kota tertua saat mereka melakukan galian di bukit di sebelah utara Mesotopamia. Situs tersebut sudah berusia sekitar 5.700 tahun. Saat ini, Kode Hammurabi yang telah dikenal dunia sebagai kode paling lengkap dan tersistematis juga ditemukan disini, berbagai kitab tertua seperti sastra kuno, cerita legenda, kitab pengobatan, kalender pertanian dan lain-lain juga dihasilkan dari tempat ini.
Peradaban yang terlahir dari Sungai Nil
Sungai Nil setiap tahun meluap pada periode yang sama, menumpuk materi membusuk yang sangat me­nyuburkan dataran di kedua sisi sungai. Luapan tahunan Sungai Nil pada periode yang sama telah menimbulkan dampak tak terbayangkan bagi pertanian Mesir.
Orang Mesir kuno mena­nam gandum, kapas, padi, kurma, dan biji-bijian, semua hasil pertanian ini tidak hanya menyediakan bahan pangan yang cukup bagi warga se­tempat, juga memakmurkan pasar perdagangan Mesir, dan menstabilkan perekonomian Mesir. Orang Mesir meman­faatkan makanan dan kekayaan dari Sungai Nil itu untuk merekrut pasukan, membentuk pertahanan, dan melakukan se­rangan terhadap negara lain.
dua sungai 2Sungai Nil sendiri bahkan meningkat dengan memiliki makna spiritual tersendiri bagi Mesir kuno. Dalam legenda Mesir kuno, ada satu Dewa yang bertanggung jawab un­tuk menciptakan luapan ban­jir pada Sungai Nil setiap ta­hunnya, yang disebut Dewa Habib, yang mengendalikan banjir Sungai Nil bersama dengan Firaun. Sungai Nil juga dianggap sebagai suatu jalan bagi kehidupan dan ke­hidupan setelah kematian.
Orang Mesir percaya jika ingin mendapatkan kehidupan kembali setelah kematian, mereka harus dimakamkan di tempat yang mewakili ke­matian, oleh karena itu semua kuburan pun bertempat di tepi Sungai Nil. Seorang sejarawan Yunani kuno yang ber­nama Herodotus pernah ber-anggapan bahwa Sungai Nil telah menciptakan peradaban Mesir. Jika tidak ada pengairan dari Sungai Nil, peradaban Mesir kuno mungkin tidak akan bisa bertahan lama. Sungai Nil telah menyediakan energi yang melimpah serta persyaratan yang memadai bagi peradaban bangsa Mesir dan sejarah Mesir yang ber­langsung selama lebih dari 3.000 tahun.
Sungai Gangga dan kebu­dayaan India kuno
Peradaban India yang ter­lahir dari Sungai Gangga se­tara dengan Babilonia kuno, Mesir kuno dan Tiongkok, merupakan salah satu dari empat peradaban tertua du­nia. Dalam legenda India, Sungai Gangga adalah Dewi yang merupakan putri dari Dewa Simma (artinya Raja Salju), yang turun ke dunia untuk membersihkan dosa dunia fana dan membasahi bumi.
Menurut legenda, Sungai Gangga juga disebut sebagai "Sungai Suci" kare­na bersumber dari "Kailash Mansarovar" (danau suci gunung Dewa). Hulu Sungai Gangga yang terletak di Gu­nung Gangdise daerah Ngari, Tibet, RRT, pada lereng sebe­lah tenggara Gunung Gang­dise terdapat sebuah danau air tawar yang besar dan tenang, yang disebut Danau Ma-pham g.yu-mtsho (danau permata yang abadi), air da­nau itu bersumber dari salju yang mencair di pegunungan yang tinggi itu, airnya jernih hingga ke dasar danau, dan tenang ibarat cermin.
Menurut penuturan, salah seorang raja dalam sejarah In­dia memohon turunnya sang Dewi dari langit untuk mem­bersihkan dirinya dari dosa agar dapat terlahir kembali pada kehidupan mendatang. Saat Dewi turun ke dunia terjadi banjir besar sehingga bumi sulit menampungnya, Dewa Shiva pun berdiri di hulu Sungai Gangga yang terletak di dekat Gunung Himalaya, membiarkan air deras menerjang rambutnya untuk memperlambat arus air, yang kemudian member­sihkan dosa raja dan mem­bawa berkah bagi manusia.
Oleh karena itu orang India menganggap Sungai Gangga sebagai jelmaan sang Dewi, merupakan "sumber air pem­bersih dosa"
Da Yu menciptakan iri­gasi dan bangkitnya per­adaban pertanian Tionghoa
Sebuah karya sastra Xin Qiji mengatakan, "Berbagai jasa bagi dunia, adalah kerja keras pada suatu masa. Ikan menyelam bebas di laut dalam, manusia pilih menem­pati tanah dataran. Matahari terbit dan terbenam silih ber­ganti, banjir melanda dan mengalir pergi. Saya selalu mengenang Da Yu."
Da Yu (dibaca: ta yü, 2200 - 2100 SM) yang menciptakan sistem irigasi berhasil mensejahterakan rakyat Tiongkok, dampaknya sangat terasa sepanjang masa bagi bangsa Tionghoa, dan telah men­jadi fondasi bagi peradaban bercocok tanam Tiongkok. Manusia seyogyanya hidup di darat, dan ikan hidup di air, berbagai makhluk hidup memiliki habitatnya masing-masing, kehidupan ini baru dapat terus berlanjut ber­kesinambungan.
Dibandingkan dengan kebudayaan nomaden, per­adaban pertanian dapat mem­berikan sumber makanan yang lebih stabil, memudah­kan menumpuk kekayaan, dan menstabilkan populasi penduduk, sehingga akan ter­bentuk desa dan kota, selain dapat memakmurkan pereko­nomian, juga dapat menjadi dasar berkembangnya pola pikir, kebudayaan, seni, dan lain-lain. Oleh karena itu karya sastra Xin Qiji tersebut adalah ungkapan kekaguman­nya atas jasa-jasa Da Yu.
Kun, ayah Da Yu, mendapat perintah dari kaisar untuk mengatasi banjir, cara yang digunakannya adalah membendung air, dengan cara ini kerja keras Kun selama 9 tahun sama sekali tidak mem­buahkan hasil, akhirnya Kun pun dihukum mati.
Setelah Kun meninggal dunia, putranya Da Yu direko­mendasikan oleh para kepala suku berbagai daerah untuk terus melanjutkan mengatasi masalah banjir tersebut, Da Yu yang mengemban misi be­sar ini bekerja keras, mening­galkan rumahnya selama 13 tahun dan tidak pernah masuk ke rumahnya sendiri walau­pun melewatinya. Cara Da Yu mengatasi banjir adalah mengeruk saluran, mengarah­kan air, dan akhirnya membiarkan air mengalir kembali ke laut.
Berbagai uraian kitab se­jarah mencatat, setelah Da Yu berhasil menghubungkan berbagai aliran sungai be­sar dan menciptakan sistem pengairan bagi sawah para petani, sektor pertanian pun berkembang dengan sistem irigasi yang baik, ia sendiri memimpin warga untuk mem­buka lahan, dan membangun kampung halaman.
Tanah di daerah selatan mengandung lebih banyak air, Da Yu menyebarkan benih bagi warga disana untuk mengembangkan pertanian dengan menanam padi, men­girimkan bahan makanan dari daerah yang kaya ke daerah yang miskin, rakyat di berb­agai daerah pun terlepas dari bencana, Da Yu mendapat penghormatan dari berbagai kalangan. Keturunannya ke­mudian berhasil membangun kekaisaran pertama di Tiong­kok, hal ini tidak terlepas dari jasa Da Yu bagi rakyat dengan mengatasi banjir.
Peradaban Tionghoa berasal dari sungai
Akar kebudayaan Tiong­kok tertanam kuat dalam sungai. Kebudayaan Tiongkok zaman dahulu berasal dari sungai, dalam kitab Yijing Bab Xici dikatakan: "Sungai mengeluarkan lukisan, Luo mengeluarkan tulisan, orang suci melaksanakan kaidah tersebut."
Pada zaman dahulu, kata "sungai" khusus mengacu Huang He (Sungai Kuning), Luo adalah nama sebuah sungai di Provinsi Shanxi, disebut Luo Sui (Sungai Luo). "Sungai mengeluarkan lukisan, Luo mengeluarkan tulisan" merupakan saksi se­jarah sejak dahulu sekali ten­tang keberadaban sungai.
Pada zaman dahulu me­nyebut Fuxi sebagai kaisar langit, merupakan keturunan dari Suiren (sang penemu api), ketika diangkat kepala suku untuk melanjutkan tahta sebagai penguasa, ia baru berusia 32 tahun.
Fuxi ber­dasarkan prinsip Hetu serta mengamati astronomi dan topografi, telah melukis se­buah peta Bagua (sebutan dalam cersil: pat kwa / dela­pan trigram), generasi selan­jutnya menyebut peta Bagua tersebut sebagai Liansan Yi. Setelah dikembangkan oleh Raja Zhou Wen (Zhou Wen Wang, 1152 SM―1056 SM) dan disusun kembali oleh Konghucu, maka kitab Yi (I Ching) tersebut akhirnya menjadi satu diantara karya klasik aliran Konfusius Tiongkok, dan buku pertama terpenting dari 5 kitab Kon­fusius. Fuxi sebagai salah satu leluhur bangsa Tionghoa, mendapatkan Hetu (lukisan Sungai) dan menginterpreta­sikannya menjadi Bagua (8 Triagram), sehingga telah me­nyelesaikan perletakan fonda­si kebudayaan Tiongkok.
Da Yu yang agung meng-atasi banjir, membuat Tiongkok terbebas dari bencana banjir besar, mendatangkan harapan untuk dapat makmur kembali, oleh sebab itu pada zaman dahulu telah dikatakan bahwa Da Yu yang agung khusus diberkahi oleh sang Pencipta sebuah hukum untuk mengurus negara, ini meru­pakan sebuah pahala atas jasanya.
Catatan kuno tentang sungai kering negara binasa
Sungai mengering meru­pakan pertanda negara akan binasa. Kitab sejarah men­catat, Raja Xuan dari Di­nasti Zhou Barat (Xi Zhou Xuan Wang, ? – 782 SM) setelah mangkat, Raja You (Zhou You Wang) menerus­kan tahtanya. Zhou Youwang merupakan raja dungu dan hidup berfoya-foya yang ter­kenal dalam sejarah yakni: mempermainkan para adipati untuk datang menghadapi serangan musuh yang tujuannya hanya demi menyenangkan istrinya yang mahal senyum (Bao Si dibaca: pau se).
Pada waktu Zhou You­wang bertahta baru 2 tahun, terjadi peristiwa yang sangat tidak lazim, terjadi gempa be­sar di sekitar Sungai Jing, Sungai Wei dan Sungai Luo yang mengakibatkan tanah longsor dan gunung runtuh, sehingga aliran sungai terputus.
Pejabat administrasi Dinasti Zhou bernama Bo Yangfu berdasarkan fenom­ena ini pernah mengeluarkan sebuah komentar yang sangat ternama dalam sejarah, ia mengatakan, kelihatannya takdir Dinasti Zhou telah tiba wak­tunya, maka segera akan bi­nasa. Energi bumi dan langit senantiasa berotasi tiada hen­ti, urutan sirkulasinya sedikit­pun tidak boleh dikacaukan, ini merupakan fundamen bagi sebuah negara untuk tetap eksis. Ketika urutan sirku­lasi berbagai energi sejati bumi dan langit terusik, maka tatanan masyarakat akan mu­lai kacau.
Di zaman kini, 3 sun­gai mengalami gempa, ini menandakan energi positif (Yang) telah kehilangan po­sisi yang harus ditempatinya, posisi tersebut telah diisi dengan energi negatif (Yin). Energi Yang kehilangan po­sisinya, diduduki oleh energi Yin, maka aliran sungai bisa dipastikan akan terputus. Kekayaan negara, bersandar pada air sungai bumi mengairi bumi, sehingga beraneka jenis tanaman dapat tumbuh, rakyat pun baru dapat ke­nyang dan tidak galau.
Jika aliran sungai terpu­tus, sawah ladang tidak ke­bagian pengairan, sandang pangan yang dibutuhkan oleh kehidupan rakyat akan timbul masalah, negara seperti ini apakah tidak akan musnah? Dalam sejarah, Sungai Yi dan Sungai Luo mengalami kekeringan, sehingga Dinasti Xia musnah, Sungai Kuning mengalami kekeringan, se­lanjutnya Dinasti Shang juga musnah.
Fundamen sebuah negara adalah gunung dan sun­gai, jika gunung mengalami keruntuhan dan sungai mengalami kekeringan, itu meru­pakan pertanda negara akan binasa. (sud/rahmat)

No comments: