Apakah Yahudi Sudah Mengetahui Kenabian Rasulullah Saw Sebelum Beliau Hijrah Ke Madinah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kita uraikan terlebih dahulu berberapa hal yang menunjukkan bahwa antara Yahudi dan Arab Quraisy sudah terjalin komunikasi, diantaranya:
Pertama: Interaksi antara Quraish dan Yahudi Madinah sudah terjalin sejak sebelum hijrah, dimana antara keduanya terjalin hubungan khususnya dibidang perdagangan.

Kedua: Quraish pernah mengutus An Nadr bin Al Harits dan Uqbah bin Abi Mu’ith untuk menanyakan kepada pendeta-pendeta Yahudi Madinah perihal Nabi Muhammad Saw. Pendeta Yahudi Madinah kemudian menyarankan mereka berdua agar menanyakan tiga perkara kepada Rasulullah, yang jika ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut maka beliau adalah Nabi yang ditunggu-tunggu, namun jika tidak mampu, maka dia adalah pendusta. Tiga pertanyaan tersebut adalah: (1) Kisah unik sekelompok anak muda di zaman dahulu, (2) kisah seorang pengembara yang sudah menembus timur da barat, dan (3) pengertian Ruh. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Allah swt menurunkan surat Al Kahfi.

Ketiga: Jika terjadi konflik antara Arab Madinah dengan Yahudi Madinah, orang-orang Yahudi sering mengatakan:” Saat ini seorang nabi telah diutus, karena telah tiba masanya. Kami akan mengikutinya dan akan membinasakan kamu semua seperti pembinasaan kamu Aad dan Irm”. Inilah yang di ungkapkan oleh Alqur’an di dalam surat Al Baqarah ayat 89 yang artinya:

”Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka [Maksudnya kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya], Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.”

Itu artinya: jika sedang terjadi konflik dengan orang-orang kafir, mereka memohon bantuan kepada Allah dengan berkata:” Ya Allah, kirimkanlah kepada kami nabi Akhir yang kami temukan sifat-sifatnya di dalam Tuarat”. Namun tatkala nabi yang mereka minta itu datang, mereka menolak untuk mengikutinya bahkan mereka mendustakannya. Karena itu, laknat Allah tercurah bagi orang-orang kafir.

Keempat: Pada musim haji, Rasulullah saw mengajak penduduk Madinah kepada Islam. Penduduk Madinah yang sedang menunaikan haji tersebut, saling berpandangan dan berkata:” Demi Allah, inilah nabi yang disebut-sebut oleh Yahudi, maka jangan sampai mereka mendahului kamu”. Sebagian penduduk Madinah kemudian beriman, hingga terjadilah perjanjian Aqabah 1 dan 2, Pada perjanjian Aqbah ke-2, pemimpin Khozraj (Abu Al Haitsam bin At Taihan) berkata:” Wahai Rasulullah! Antara kami dan Yahudi terdapat tali (perjanjian), dan kami akan memutusnya. Jika itu kami lakukan, dan Allah memenangkanmu, apakah kamu akan kembali kepada kaummu dan meninggalkan kami?”.

Rasulullah saw tersenyum dan menjawab: Darah, darah, penghalalan darah, penghalalan darah (artinya- jika mereka ingin membunuhmu, itu artinya mereka ingin membunuhku, dan jika mereka menghalalkan darahmu, berarti mereka telah menghalalkan darahku), kalian adalah golonganku. Saya akan memerangi siapapun yang memerangimu dan berdamai dengan siapapun yang berdamai denganmu”.

Kelima: Penyebaran islam di Madinah tidak dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Rasulullah bahkan mengirim seorang dai bernama Mus’ab bin Umair setelah perjanjian Aqabah pertama. Sehingga, sebelum Rasulullah hijrah, hampir disemua rumah di Madinah sudah terdapat pemeluk agama islam. Jadi Islam bukan hal aneh bagi penduduk Madinah, baik itu Arab maupun Yahudi.

Jadi jawaban pertanyaan diatas adalah: Yahudi bukan hanya tahu bahwa Rasulullah saw adalah nabi terakhir yang mereka tunggu-tunggu saja, namun mereka secara tidak langsung merupakan faktor penyembab cepatnya penyebaran Islam di kota Madinah.


Kozam

No comments: