Esensi Hasil Keputusan Rapat BPUPKI Sidang Ke-2 Menurut Buku Pelajaran PPKN Untuk SMP/Mts
Buku Pelajaran PPKN Untuk SMP/MTS Kelas VII (Sidoarjo: Penerbit Masmedia Buana Pustaka, Tahun 2013), halaman 33, menulis tentang esensi hasil keputusan rapat BPUPKI sidang kedua pada tanggal 10 dan 11 Juli 1945. Buku Pelajaran PPKN Untuk SMP Kelas VII itu disusun oleh team Penulis yang terdiri dari Eko Widodo, S.Pd, M.Pd dan Nur Sri Retnowati, S.Pd, M.Pd.
Sayangnya masih banyak foto-foto yang merupakan hasil upload para penulis dari Internet. Dalam buku pelajaran itu ikut dituliskan fakta sangat menarik dan bersejarah bahwa pada tanggal 11 Juli 1945 itu BPUPKI telah hasilkan keputusan penting tentang wilayah negara Indonesia yang antara lain meliputi:
a). Hindia Belanda yang dahulu
b). Hindia Belanda ditambahkan dengan Malaysia, Borneo Utara (Borneo Inggris), Irian Timur, Timor Portugis dan pulau sekitarnya
c). Hindia Belanda ditambah Malaya, tetapi dikurangi Irian Barat
Boleh dikatakan substansi keputusan ini tergolong baru sebab bertahun-tahun sebelumnya teks berisi esensi hasil rapat BPUPKI kedua itu tidak ikut disebutkan dalam buku PPKN. Ini patut disambut dengan gembira. Meskipun sayangnya bahwa para penulis tidak menyinggung apakah kemudian PPKI menyetujui keputusan BPUPKI ini?
Namun rupa-rupanya keputusan rapat BPUPKI ini menunjukkan kesadaran dan tanggung jawab moral bangsa Indonesia bagi kebebasan dan kemerdekaan saudara-saudari kita serumpun. Kita yakin bahwa kita menjadi bagian dari bangsa yang tertindas dari antara saudara-saudari serumpun untuk menyatakan kemerdekaan dalam bingkai negara RI sebagai pernyataan untuk menentang kolonialisme dan imperialisme dan selanjutnya menuntut agar penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, sebuah rumusan hasil keputusan sidang BPUPKI yang sangat mengesankan dan sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia!
Kalau kita melihat penetapan keputusan BPUPKI menurut buku pelajaran PPKN ini maka wilayah yang selain Hindia Belanda wilayah yang menyatakan merdeka ialah Malaysia, Borneo Inggris dan Timor Portugis. Sayangnya kemudian wilayah Irian Timur memilih merdeka, juga Malaysia. Wilayah Irian Barat yang kemudian kembali ke pangkuan RI setelah melalui pertikaian dan diplomasi gawat bahkan melalui Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat). Wilayah Indonesia sesungguhnya seperti saat ini terlihat ialah wilayah bekas kekuasaan kolonial Belanda atau Hindia Belanda saja, tanpa Timor-Portugis, Malaya, Borneo Inggris dan Irian Timur.
Namun wilayah RI hasil sidang kedua BPUPKI itu rupanya tetap bertenaga hingga saat ini ketika dalam kerangka ASEAN, RI menjadi negara terbesar di kawasan ASEAN yang memperjuangkan pasar bersama ASEAN menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN bersama. Kalau kita membandingkan dengan Jerman dan Eropa tampaknya arah perkembangan ke arah sebagaimana terjadi di kawasan Eropa bisa terwujud di masa depan, di mana kawasan di ASEAN bisa bersekutu dalam satu mata uang, misalnya.
Status Timor Portugis ketika BPUPKI membuat keputusan sangat penting bagi masa depan Indonesia itu ikut diputuskan. Jika memang benar terjadi kesepakan demikian maka rakyat wilayah Timor-Portugis sesungguhnya sudah masuk wilayah RI sejak Proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Sayangnya bahwa akibat revolusi yang berlalu cepat, ketika Timor-Timur masuk wilayah Indonesia, oleh buku sejarah Indonesia, wilayah ini disebut berintegrasi dengan RI. Bahkan Piagam Integrasi Balibopun ditandatangani untuk menandingi Proklamasi Kemerdekaan sepihak oleh Fransico Xavier do Amaral pada 28 September 1975. Melalui Referendum tahun 1999 yang dikeluarkan Presiden RI BJ Habibie, Timorleste akhirnya menjadi negara merdeka sendiri.
Kemerdekaan Indonesia berdiri atas dasar perjuangan menentang kolonialisme dan imperialisme. Sementara saat yang bersamaan Indonesia tidak terima bahwa saudara-saudari kita serumpun di Malaysia, Borneo Inggris, Brunei Inggris dan Timor Portugis meringkuk di bawah penjajahan. Maka wilayah-wilayah Selain tentunya yang utama wilayah Hindia Belanda yang terletak di kawasan sekitar kepulauan Nusantarapun ikut ditentukan dalam sidang kedua BPUPKI tanggal 11 Juli 1945.
Secara historis wilayah-wilayah itu sudah begitu erat menyatu dalam bingkai RI sejak masa keemasan Sriwijaya dan Majapahit yang menguasai hampir semua kepulauan dan negara-negara di sekitar Nusantara.
Dari antara foto-foto yang diupload para penulis Buku Pelajaran PPKN Untuk SMP/MTs terbitan PT Masmedia dari internet, tercatat dalam Daftar Pusaka buku Pelajaran PPKN itu ada sebuah foto yang diposting dalam Artikel tulisan Kompasianer Choirul Huda berjudul: Ramadhan, Sepinya Mushola Menjelang Lebaran. Tulisan Choirul Huda sendiri diposting di Kompasiana pada 27 Agustus 2011. Ini menunjukan bahwa para penulis buku Pelajaran PPKN itu telah tertarik dengan foto-foto para penulis Internet sesaui dengan tema yang dibahas para penulis.
Semoga banyak hal-hal baru menyangkut fakta-fakta sejarah masih bisa ditemukan dan dipublikasikan dalam buku Pelajaran PPKN lagi untuk menyingkapkan tabir sejarah yang mendukung kesamaan nasib untuk komitment terhadap perjuangan kemedekaan rakyat Indonesia dan demi menghapus penjajahan di atas dunia karena penjajahan jelas-jelas tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan.
Blasius Mengkaka
Sayangnya masih banyak foto-foto yang merupakan hasil upload para penulis dari Internet. Dalam buku pelajaran itu ikut dituliskan fakta sangat menarik dan bersejarah bahwa pada tanggal 11 Juli 1945 itu BPUPKI telah hasilkan keputusan penting tentang wilayah negara Indonesia yang antara lain meliputi:
a). Hindia Belanda yang dahulu
b). Hindia Belanda ditambahkan dengan Malaysia, Borneo Utara (Borneo Inggris), Irian Timur, Timor Portugis dan pulau sekitarnya
c). Hindia Belanda ditambah Malaya, tetapi dikurangi Irian Barat
Boleh dikatakan substansi keputusan ini tergolong baru sebab bertahun-tahun sebelumnya teks berisi esensi hasil rapat BPUPKI kedua itu tidak ikut disebutkan dalam buku PPKN. Ini patut disambut dengan gembira. Meskipun sayangnya bahwa para penulis tidak menyinggung apakah kemudian PPKI menyetujui keputusan BPUPKI ini?
Namun rupa-rupanya keputusan rapat BPUPKI ini menunjukkan kesadaran dan tanggung jawab moral bangsa Indonesia bagi kebebasan dan kemerdekaan saudara-saudari kita serumpun. Kita yakin bahwa kita menjadi bagian dari bangsa yang tertindas dari antara saudara-saudari serumpun untuk menyatakan kemerdekaan dalam bingkai negara RI sebagai pernyataan untuk menentang kolonialisme dan imperialisme dan selanjutnya menuntut agar penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, sebuah rumusan hasil keputusan sidang BPUPKI yang sangat mengesankan dan sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia!
Kalau kita melihat penetapan keputusan BPUPKI menurut buku pelajaran PPKN ini maka wilayah yang selain Hindia Belanda wilayah yang menyatakan merdeka ialah Malaysia, Borneo Inggris dan Timor Portugis. Sayangnya kemudian wilayah Irian Timur memilih merdeka, juga Malaysia. Wilayah Irian Barat yang kemudian kembali ke pangkuan RI setelah melalui pertikaian dan diplomasi gawat bahkan melalui Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat). Wilayah Indonesia sesungguhnya seperti saat ini terlihat ialah wilayah bekas kekuasaan kolonial Belanda atau Hindia Belanda saja, tanpa Timor-Portugis, Malaya, Borneo Inggris dan Irian Timur.
Namun wilayah RI hasil sidang kedua BPUPKI itu rupanya tetap bertenaga hingga saat ini ketika dalam kerangka ASEAN, RI menjadi negara terbesar di kawasan ASEAN yang memperjuangkan pasar bersama ASEAN menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN bersama. Kalau kita membandingkan dengan Jerman dan Eropa tampaknya arah perkembangan ke arah sebagaimana terjadi di kawasan Eropa bisa terwujud di masa depan, di mana kawasan di ASEAN bisa bersekutu dalam satu mata uang, misalnya.
Status Timor Portugis ketika BPUPKI membuat keputusan sangat penting bagi masa depan Indonesia itu ikut diputuskan. Jika memang benar terjadi kesepakan demikian maka rakyat wilayah Timor-Portugis sesungguhnya sudah masuk wilayah RI sejak Proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Sayangnya bahwa akibat revolusi yang berlalu cepat, ketika Timor-Timur masuk wilayah Indonesia, oleh buku sejarah Indonesia, wilayah ini disebut berintegrasi dengan RI. Bahkan Piagam Integrasi Balibopun ditandatangani untuk menandingi Proklamasi Kemerdekaan sepihak oleh Fransico Xavier do Amaral pada 28 September 1975. Melalui Referendum tahun 1999 yang dikeluarkan Presiden RI BJ Habibie, Timorleste akhirnya menjadi negara merdeka sendiri.
Kemerdekaan Indonesia berdiri atas dasar perjuangan menentang kolonialisme dan imperialisme. Sementara saat yang bersamaan Indonesia tidak terima bahwa saudara-saudari kita serumpun di Malaysia, Borneo Inggris, Brunei Inggris dan Timor Portugis meringkuk di bawah penjajahan. Maka wilayah-wilayah Selain tentunya yang utama wilayah Hindia Belanda yang terletak di kawasan sekitar kepulauan Nusantarapun ikut ditentukan dalam sidang kedua BPUPKI tanggal 11 Juli 1945.
Secara historis wilayah-wilayah itu sudah begitu erat menyatu dalam bingkai RI sejak masa keemasan Sriwijaya dan Majapahit yang menguasai hampir semua kepulauan dan negara-negara di sekitar Nusantara.
Dari antara foto-foto yang diupload para penulis Buku Pelajaran PPKN Untuk SMP/MTs terbitan PT Masmedia dari internet, tercatat dalam Daftar Pusaka buku Pelajaran PPKN itu ada sebuah foto yang diposting dalam Artikel tulisan Kompasianer Choirul Huda berjudul: Ramadhan, Sepinya Mushola Menjelang Lebaran. Tulisan Choirul Huda sendiri diposting di Kompasiana pada 27 Agustus 2011. Ini menunjukan bahwa para penulis buku Pelajaran PPKN itu telah tertarik dengan foto-foto para penulis Internet sesaui dengan tema yang dibahas para penulis.
Semoga banyak hal-hal baru menyangkut fakta-fakta sejarah masih bisa ditemukan dan dipublikasikan dalam buku Pelajaran PPKN lagi untuk menyingkapkan tabir sejarah yang mendukung kesamaan nasib untuk komitment terhadap perjuangan kemedekaan rakyat Indonesia dan demi menghapus penjajahan di atas dunia karena penjajahan jelas-jelas tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan.
Blasius Mengkaka




No comments:
Post a Comment