Jejak Sejarah di Bengkulu antara Raffles, Sentot dan Bung Karno

Bengkulu memiliki alam yang khas karena berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia dan dilewati Bukit Barisan. Bengkulu memiliki bunga sekedai yang diberi nama Rafflesia Arnoldi, bunga khas Bengkulu yang merupakan bunga dengan kelopak terbesar dan paling spektakuler di dunia—nama Raflesia diambil dari nama Thomas Stamford Raffles, Gubernur Inggris yang pernah bertugas di Bengkulu tahun 1818.

Jejak Raffles di Bengkulu bukan hanya diabadikan dalam Rafflesia Arnoldi, tapi juga nampak jelas pada peninggalannya yaitu Benteng Fort Marlborough, benteng Inggris terbesar kedua di Asia Pasifik, setelah benteng di India. Selain membangun benteng untuk kepentingan pejajahan Inggris, Raffles melakukan penelitian flora dan fauna dengan menyusuri hutan di pedalaman Sumatra. Sebagai catatan, sebelum diajajah Inggris tahun 1685-1824, Bengkulu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Banten.

Jejak sejarah di Bengkulu tidak melulu berkaitan dengan Raffles, tapi juga berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda. Salah seorang pengikutnya bernama Sentot Alibasya Prawirodirjo dibuang ke Bengkulu hingga wafat dan dimakamkan di sana. Bukan hanya Kiai Sentot, belakangan Ir Sukarno juga diasingkan Belanda ke Bengkulu pada tahun 1938-1942 setelah sebelumnya diasingkan di Ende.

Ketika berada dalam pembuangan di Bengkulu Ir Sukarno yang lebih dikenal dengan Bung Karno melakukan pelbagai kegiatan yang masih bisa ditelusuri hingga kini. Di rumah pengasingan Bung Karno masih tersimpan banyak buku naskah drama yang ditulisnya untuk bahan pentas kelompok sandiwara yang disutradarainya, di mana Bung Karno sendiri juga berperan sebagai aktor. Selain itu Bung Karno juga merancang sebuah masjid yang hingga kini masih berdiri megah di pusat kota Bengkulu. Bung Karno juga tercatat sebagai salah seorang ketua Muhammadiyah Bengkulu. Di Bengkulu pula Bung Karno menikah dengan Fatmawati, setelah sebelumnya menikah dengan Utari anak Cokroaminoto dan Inggit Garnasih. Rumah Bung Karno dan Rumah Fatmawati kini dijadikan museum

Harjoko S

No comments: