Syariat Islam di Brunei Darussalam

PADA 22 Oktober 2013 Raja Brunei Darussalam telah mengesahkan serta mengumumkan hukum Jinayah Syariah 2013 sebagai hukum materil dan hukum formil pelaksanaan syariat Islam di Brunei Darussalam. Hukum tersebut resmi diamalkan dalam Negara enam bulan setelah disahkan dan diumumkan kepada publik, yaitu tepat pada 22 April 2014 lalu. PBB bereaksi keras dan melarang perberlakuan hukum tersebut. Juru bicara PBB untuk hak asasi manusia (HAM) Rupert Colville mengatakan, hukuman mati bagi semua kesalahan adalah bertentangan dengan hukum internasional. Ia meminta agar Brunei Darussalam menangguhkan pelaksanaan hukum Islam sehingga peraturan tersebut tidak bertentangan dengan HAM.

Hukum jinayah syariah 2013 yang menjadi dasar Implementasi syariat Islam di Brunei Darussalam yang sangat ditakuti oleh dunia barat, Amerika Serikat dan juga organisasi PBB mengandung poin-poin jinayah yang diatur dalam Alquran dan Al-Sunnah, di antaranya: Hirabah (perampokan), perampok akan dikenakan hukuman qishash kalau yang dirampok mati atau potong tangan kalau hanya mengambil harta saja dan tidak membunuh korban. Bagi pelaku zina yang muhshan (sudah menikah) akan dirajam sampai mati dan pezina ghairu muhshan (belum menikah) disebat 100 kali. Hukuman bagi pelaku liwath (homoseksual) yang sudah menikah adalah denda tidak lebih dari 14,000 dolar Brunei, penjara tidak lebih tiga tahun atau kedua-duanya sekaligus dan disebat tidak melebihi 20 sebatan. Kalau ia belum menikah didenda tidak lebih dari 8,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi dua tahun atau kedua-duanya sekaligus dan disebat tidak melebihi 10 sebatan.

Bagi yang hamil di luar nikah hukumannya adalah: yang statusnya sudah menikah denda tidak melebihi 8,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi dua tahun atau kedua-duanya sekaligus. Kalau dia belum menikah denda tidak melebihi 4,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi satu tahun atau keduanya sekaligus. Bagi yang menggugurkan janin didenda tidak melebihi 20,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi lima tahun atau keduanya sekaligus. Bagi penduduk Brunei Darussalam yang menjejaskan imej Islam seperti berpakaian yang tidak Islami akan didenda tidak melebihi 2,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi enam bulan atau keduanya sekaligus.

Bagi lelaki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai lelaki akan didenda tidak melebihi 1,000 dolar Brunei, hukuman penjara tidak melebihi tiga bulan atau keduanya sekaligus. Bagi yang tidak menunaikan shalat Jumat akan didenda tidak melebihi 200 dolar Brunei untuk kesalahan pertama dan 300 dolar Brunei untuk kesalahan kedua dan denda tidak melebihi 1,000 dolar Brunei bagi kesalahan ketiga dan kesalahan seterusnya. Yang menghalangi petugas pelaksanaan syariat Islam akan didenda tidak melebihi 2,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi enam bulan atau duanya sekaligus.

Dalam Bab 197 diatur tentang peringatan untuk para pemuda dan orang tua yang tidak ada hubungan sah di sisi agama (perbuatan tidak senonoh yang menjejaskan imej Islam) didenda tidak melebihi 2,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi dari enam bulan atau kedua-duanya sekaligus. Perlu diketahui bahwa implementasi syariat Islam di negara kaya sumber daya alam berpenduduk 408.786 jiwa itu, sudah berlaku sebelum Inggris menjajah negara tersebut. Demikian ditulis oleh Allahyarham Prof Mahmud Saedon Awang Othman, mantan Menteri Agama Brunei Darussalam dalam bukunya A Review on: The Implementation and Administration of Islamic law in Brunei Darussalam.

 Kimitmen raja
Ketika PBB mengganggu pelaksanaan syariat Islam di Brunei Darussalam yang ditetapkan pada 22 April 2014 lalu, Sultan Hasanal Bolkiah sedang dalam lawatan kenegaraan ke Malaysia, Singapura dan Australia. Para pembesar Negara Brunei tidak dapat mengambil langkah apa-apa kecuali menunggu kepulangan raja. Ketika raja kembali ke Brunei, beliau langsung bertitah: “Pada 22 Oktober 2013 lalu, beta telah mengumumkan perintah pelaksanaan hukum Jinayah Syariah 2013, maka setelah berlangsung enam bulan beta dengan bertawakkal kepada Allah Swt serta bersyukur mengistiharkan bahwa pada Kamis 1 Rajab 1435 H/1 Mei 2014 M adalah awal berlakunya perintah berlaku hukum Jinayah Syariah 2013 fasa pertama yang kemudian akan diikuti oleh fasa-fasa selanjutnya.”

Tidak mengapa pergeseran dan penangguhan sebagaimana disiarkan media dari 22 April ke 1 Mei 2014, sebab ia masih dalam masa enam bulan yang kita tetapkan 22 Oktober 2013 lalu. Alhamdulillah kita dapat mengulangi kembali pelaksanaan syariat Islam yang sudah pernah berlaku dahulu di Negara ini, semua itu adalah berkat keazaman kita menolong agama Allah di bumi yang bertuah ini. “Allah telah berjanji akan menolong kita kalau kita menolong agamaNya.” (QS. Muhammad: 7). Tugas beta dan tugas kita semua sudah kita laksanakan, tinggal sekarang semua pihak harus komit melaksanakan hukum Allah yang mulia ini.

Ingatlah, fokus kita hanya kepada Allah semata untuk mencari ridhaNya, bukan melihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari siapa yang suka atau tidak suka. Kita tidak pernah melihat orang lain dengan kaca mata buruk, karena itu hak dan pilihan mereka. Kita juga tidak mengharap mereka untuk menerima dan menyetujui rencana kita, tetapi cukuplah dengan menghormati kita saja sebagaimana kita menghormati mereka. Adapun teori-teori yang dikemukakan mereka hanyalah sebatas teori, tidak berbanding dengan hukum Allah yang maha pasti. Dengan tegas kita katakan bahwa melaksanakan hukum Islam bukanlah suka-suka kita melainkan untuk menjalankan perintah Allah yang Maha kaya, Maha Kuasa, Maha Mulya, dan Maha Arif lagi bijaksana.

Ketika raja Brunei bersikap tegas kepada protes PBB terhadap pelaksanaan syariat Islam di negaranya, hotel-hotel mewah beliau yang beroperasi di New Jersey, Milan, Roma, Italia didemo, dan para pekerja dan pegawainya ikut mogok kerja sebagai protes. Namun beliau tidak pernah surut melainkan menantang mereka dengan menaati Allah Swt, beliau berucap: “Dalam Negara kamu, kamu mengamalkan kehendak kamu seperti kebebasan media, kebebasan berbicara, gay, homoseksual, free sex dan seumpmanya. Itu adalah hak kamu, tetapi di Negara saya, kami mengamalkan sistem Kemelayuan Islami, sistem monarkhi dan kami menjalankan hukum Islam karena itu termaktub dalam perlembagaan kami, identitas negara kami, hak kami, dan aturan cara hidup kami. Kamu mengamalkan kebebasan-kebebasan itu hanya untuk dunia kamu, tetapi kami melaksanakan hukum Islam itu untuk dunia dan juga untuk akhirat kelak.”

“Mengapa kamu terlalu risaukan apa yang kami lakukan di Brunei Darussalam, sementara kamu tutup mata terhadap apa yang terjadi di Syria, di Rohingya, di Bosnia, di Palestina dan lain-lain tempat yang membunuh banyak anak manusia. Tiada seorang pun terbunuh di Brunei tetapi kamu sibuk, heboh, dan merepet tanpa alasan yang mendasar.” Demikianlah sikap, pendirian, komitmen dan istiqamah seorang raja Brunei Darussalam yang takut kepada Allah melebihi takutnya kepada musuh-musuh Allah yang coba menghambatnya untuk menjalankan hukum Allah. Karena raja takut kepada Allah maka Allah akan melindunginya bersama dengan rakyatnya yang juga menyatu dan bersatu bersama rajanya untuk menegakkan hukum Allah.

 Bagaimana Aceh?
Lalu, bagaimana dengan implementasi syariat Islam di Aceh? Bagaimana pendirian dan sikap “raja” Aceh terhadap larangan dan protes barat terhadap implementasi hukum Allah di bumi Aceh? Haruskah kita menjemput raja Brunei Darussalam untuk meneguhkan pendirian raja dan rakyat Aceh agar sama-sama takutkan Allah ketimbang takutkan manusia-manusia anti Allah? Bagaimana sikap dan pendirian “raja” Aceh hari ini, setelah mengetahui begitu tegasnya raja Brunei terhadap pelaksanaan syariat Islam di negaranya? Jawablah wahai “raja” Aceh yang sedang berkuasa dengan izin Allah, jawablah dengan aksi dan amalan nyata, bukan dengan angkat bicara untuk menambah sakit hati rakyatnya.

* Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, M.A., Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, dan Dosen Siyasah Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: diadanna@yahoo.com

No comments: