Konflik Generasi Islam Awal Dipicu Yahudi?

Tidak sedikit memang penjelasan Allah SWT dalam Al-Qur’an mengenai permusuhan tidak henti-hentinya umat Yahudi terhadap umat Islam. Mereka bukan hanya membangkang terhadap dakwah Nabi-nabi Allah, namun juga berkhianat, menebar fitnah dan membuat makar, agar dakwah tauhid redup dan api Islam yang membakar kezaliman dan kebodohan menjadi padam.

Namun menuduh Yahudi sebagai dalang dibalik semua kebobrokan dan catatan kelam sejarah Islam, adalah juga tidak adil. Setiap umat Islam ditimpa kesulitan, kita begitu mudah berkoar, pasti ulah Yahudi. Setiap umat Islam terjatuh dalam kubangan kemelaratan dan penderitaan, kita sebut itu rekayasa Yahudi. Begitu pemerintah Islam runtuh dan berantakan kita tuding Yahudi sebagai pembuat makar. Jika sesama muslim gontok-gontokkan dan saling bunuh kita tuduh Yahudi provokatornya. Begitu mudah kita menunjuk dan menempatkan Yahudi sebagai tertuduh. Padahal bisa jadi faktor utamanya karena kelemahan kita sendiri. Kita lepaskan tanggungjawab. Dengan menuding semua penyebab dan dalangnya adalah Yahudi. Selesailah tugas umat Islam dan tidak patut disalahkan sebab hanya sebagai korban.

Begitu juga dengan konflik dan perpecahan yang menimpa generasi pertama umat Islam, tertuduhnya adalah Yahudi. Terbunuhnya khalifah kedua sampai keempat disebut karena makar Yahudi. Syahdan tersebutlah Abdullah bin Saba yang katanya seorang Yahudi yang kemudian berpura-pura masuk Islam dan kemudian memporakporandakan tatanan Islam. Dia menyelewengkan keyakinan dan aqidah sebagian umat Islam, dengan mengagung-agungkan Imam Ali. Dia membuat sekte sesat yang kemudian dikenal dengan nama SYIAH. Sayang sosok dan keberadaan Abdullah bin Saba simpang siur. Tidak jelas.

Kalau memang dia ada dan propagandanya banyak mempengaruhi orang, sampai mampu membuat dua sahabat besar bertikai, Imam Ali dan Muawiyah, dan terlibat dalam peristiwa terbunuhnya Khalifah Utsman serta mampu mengibuli Ummul Muknimin, mengapa Imam Bukhari tidak satupun meriwayatkan kisah mengenai Abdullah bin Saba dalam semua jilid kitab haditsnya?. Tidak juga dalam shahih Muslim. Semua kisah mengenai Abdullah bin Saba merujuk pada Tarikh Tabari yang diriwayatkan oleh Saif bin Umar. Dan semua ahli hadits melemahkan riwayat Saif bin Umar itu. Tidak disebut-sebutnya nama Abdullah bin Saba oleh Bukhari, sudah menunjukkan kecacatan versi sejarah itu. Kalau memang ia pendiri dan pencetus mazhab Syiah, mengapa orang-orang Syiah sendiri tidak mengagung-agungkannya? Orang Syiah malah mengelu-elukan Imam Ali. Mengapa orang syiah malah lebih memilih menukil-nukil ucapan Ahlul Bait dari pendiri mazhabnya sendiri?. Kan aneh, yang harusnya kuburan Ibnu Saba yang dimuliakan orang Syiah, yang ada malah makam-makam Imam dari kalangan Ahlul Bait yang dibuat megah dan indah.

Kerancuannya, bukan hanya itu.

Pertama. Bukan main-main ketika Allah SWT berfirman, “Pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku..” (Qs. Al-Maidah: 3). Ayat ini turun pada saat haji wada, haji penghabisan yang dilakukan Nabi. Semua ahli tafsir menyepakati demikian. Ayat ini turun bersamaan dengan persaksian Allah SWT bahwa Islam menjadi agama yang sempurna.

Tidak sedikit memang penjelasan Allah SWT dalam Al-Qur’an mengenai permusuhan tidak henti-hentinya umat Yahudi terhadap umat Islam. Mereka bukan hanya membangkang terhadap dakwah Nabi-nabi Allah, namun juga berkhianat, menebar fitnah dan membuat makar, agar dakwah tauhid redup dan api Islam yang membakar kezaliman dan kebodohan menjadi padam.

Namun menuduh Yahudi sebagai dalang dibalik semua kebobrokan dan catatan kelam sejarah Islam, adalah juga tidak adil. Setiap umat Islam ditimpa kesulitan, kita begitu mudah berkoar, pasti ulah Yahudi. Setiap umat Islam terjatuh dalam kubangan kemelaratan dan penderitaan, kita sebut itu rekayasa Yahudi. Begitu pemerintah Islam runtuh dan berantakan kita tuding Yahudi sebagai pembuat makar. Jika sesama muslim gontok-gontokkan dan saling bunuh kita tuduh Yahudi provokatornya. Begitu mudah kita menunjuk dan menempatkan Yahudi sebagai tertuduh. Padahal bisa jadi faktor utamanya karena kelemahan kita sendiri. Kita lepaskan tanggungjawab. Dengan menuding semua penyebab dan dalangnya adalah Yahudi. Selesailah tugas umat Islam dan tidak patut disalahkan sebab hanya sebagai korban.

Begitu juga dengan konflik dan perpecahan yang menimpa generasi pertama umat Islam, tertuduhnya adalah Yahudi. Terbunuhnya khalifah kedua sampai keempat disebut karena makar Yahudi. Syahdan tersebutlah Abdullah bin Saba yang katanya seorang Yahudi yang kemudian berpura-pura masuk Islam dan kemudian memporakporandakan tatanan Islam. Dia menyelewengkan keyakinan dan aqidah sebagian umat Islam, dengan mengagung-agungkan Imam Ali. Dia membuat sekte sesat yang kemudian dikenal dengan nama SYIAH. Sayang sosok dan keberadaan Abdullah bin Saba simpang siur. Tidak jelas.

Kalau memang dia ada dan propagandanya banyak mempengaruhi orang, sampai mampu membuat dua sahabat besar bertikai, Imam Ali dan Muawiyah, dan terlibat dalam peristiwa terbunuhnya Khalifah Utsman serta mampu mengibuli Ummul Muknimin, mengapa Imam Bukhari tidak satupun meriwayatkan kisah mengenai Abdullah bin Saba dalam semua jilid kitab haditsnya?. Tidak juga dalam shahih Muslim. Semua kisah mengenai Abdullah bin Saba merujuk pada Tarikh Tabari yang diriwayatkan oleh Saif bin Umar. Dan semua ahli hadits melemahkan riwayat Saif bin Umar itu. Tidak disebut-sebutnya nama Abdullah bin Saba oleh Bukhari, sudah menunjukkan kecacatan versi sejarah itu. Kalau memang ia pendiri dan pencetus mazhab Syiah, mengapa orang-orang Syiah sendiri tidak mengagung-agungkannya? Orang Syiah malah mengelu-elukan Imam Ali. Mengapa orang syiah malah lebih memilih menukil-nukil ucapan Ahlul Bait dari pendiri mazhabnya sendiri?. Kan aneh, yang harusnya kuburan Ibnu Saba yang dimuliakan orang Syiah, yang ada malah makam-makam Imam dari kalangan Ahlul Bait yang dibuat megah dan indah.

Kerancuannya, bukan hanya itu.

Pertama. Bukan main-main ketika Allah SWT berfirman, “Pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku..” (Qs. Al-Maidah: 3). Ayat ini turun pada saat haji wada, haji penghabisan yang dilakukan Nabi. Semua ahli tafsir menyepakati demikian. Ayat ini turun bersamaan dengan persaksian Allah SWT bahwa Islam menjadi agama yang sempurna.

Nah, meyakini keberadaan Abdullah bin Saba yang agen Yahudi dengan sepak terjangnya membuat berantakan Daulah Islam sampai membuat tiga khalifah dari generasi awal bersimbah darah karena konspirasinya, maka sama saja menuding Allah hanya bercanda dalam menurunkan ayat 3 Al-Maidah itu. Allah kasih informasi, orang kafir sudah putus asa dalam menghadapi kalian, eh tiba-tiba ada orang kafir yang malah dengan semangat seorang diri menghadapi umat Islam sampai meraih kesuksesan yang gilang gemilang. Logiskah itu?

Kedua. Meyakini Abdullah bin Saba mampu mengadu domba sahabat-sahabat sampai saling bunuh dan menumpahkan darah, sama halnya menyebut sahabat-sahabat itu orang yang lemah akalnya. Mana bukti ketinggian iman mereka pada Islam sampai bisa begitu mudah terpedaya oleh tipudaya seorang Yahudi? Mana bukti kedewasaan dan kebijakan mereka, kalau hanya usaha seorang Yahudi mereka malah saling menebas satu sama lain? Mana tentara terlatih Khalifah Umar yang merebut Palestina dan meruntuhkan kedigdayaan Persia, sampai tidak bisa menjaga khalifahnya dari upaya pembunuhan seorang Yahudi atau Majusi yang membuat Umat bersimbah darah di masjid?. Dimana para tentara terlatih itu di masa Khalifah Utsman sampai khalifah Islam itu lebih tragis kematiannya? Apa bisa dibanggakan mampu membuat kekuasaan Islam terbentang disemenanjung Arab namun gagal melindungi keselamatan khalifah sendiri dari tebasan pedang? Mana bukti persaudaraan yang erat dari para sahabat, kalau hanya dengan bisikan seorang Yahudi mereka mengangkat senjata dan mengobarkan perang?. Dan sekali lagi mana bukti keilmuan dan penguasaan sahabat-sahabat akan Al-Qur’an, kalau Al-Qur’an memerintahkan untuk bertabayyun untuk setiap informasi yang diberikan orang fasik, namun ketika yang membeberkan informasi adalah agen Yahudi malah ditelan mentah-mentah? Dan yang pamungkas, apa iya sahabat-sahabat tidak sadar bahwa mereka semua itu adil? Apa iya Muawiyah tidak tahu Imam Ali itu adil sampai membangkang dan mempimpin pasukan pemberontakan? Apa iya Imam Ali tidak tahu Muawiyah itu adil sampai mengirim pasukan besar untuk menghentikan aksi pemberontakannya? Apa iya kelompok khawarij tidak tahu Imam Ali itu adil sampai membuatnya bersimbah darah dalam sujudnya?. Padahal generasi sekarang saja semuanya tahu, bahwa semua sahabat itu adil tanpa terkecuali? Kok mereka sendiri  tidak tahu? Atau tidak sadar diri?.

Sekali lagi, meyakini Abdullah bin Saba sebagai pemicu dan dalang dibalik konflik yang terjadi di tubuh umat Islam generasi awal, sama saja menafikan semua keagungan dan kecemerlangan yang mereka punyai. Apalagi yang bisa dibanggakan dari mereka? Untuk apa disebut berani, kalau mereka tidak hanya berani menghadapi musuh Islam namun juga berani mengajukan pedang didepan wajah khalifah. Untuk apa disebut tawadhu, kalau toh juga ujung-ujungnya merendahkan diri dengan mempercayai apapun yang dia dengar dari seorang Yahudi? Untuk apa disebut mengagungkan Al-Qur’an kalau ternyata sejarah mencatat mereka memasang Al-Qur’an pada sebuah tombak sebagai tanda perdamaian karena mereka sebelumnya berperang dengan sesama muslim juga? Untuk apa disebut merekalah orang-orang yang paling mencintai keluarga Nabi kalau pada akhirnya, Imam Ali ditebas di masjid, Imam Hasan diracun, Imam Husain dipenggal kepalanya, dan mereka hanya menjadi penonton dan berdiam diri saja. Dan mewariskan pada kita kenyataan lebih memilih mendaulat Abu Hurairah sebagai perawi hadits terbanyak dibanding orang-orang terdekat Nabi sendiri.

Karenanya, satu-satunya cara adalah menolak mengakui keberadaan Ibnu Saba itu. Getol mempertahankannya, sama saja melecehkan dan menganggap enteng keagamaan sahabat-sahabat Nabi.

Kalau bukan orang-orang kafir (baca: Yahudi) yang membuat umat Islam generasi awal tidak hanya menorehkan kegemilangan namun juga catatan tentang pertikaian dan pertumpahan darah, lantas siapa?. Mereka mewariskan bukan hanya kebesaran namun juga konflik yang tidak pernah tuntas sampai hari ini. Allah SWT telah menjamin, orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan umat Islam. Dan itu pasti benar. So, bukan orang kafir dong dalangnya?

Terus siapa? Mari kita melakukan pengkajian sama-sama. Saya juga orang yang masih cetek pengetahuannya. Kita tidak harus selalu berpikir sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

Semoga tidak ada yang berpikir dalangnya adalah Allah. Itu pikiran sesat.

Selamat berselancar dalam sejarah…

ISmail Amin
Nah, meyakini keberadaan Abdullah bin Saba yang agen Yahudi dengan sepak terjangnya membuat berantakan Daulah Islam sampai membuat tiga khalifah dari generasi awal bersimbah darah karena konspirasinya, maka sama saja menuding Allah hanya bercanda dalam menurunkan ayat 3 Al-Maidah itu. Allah kasih informasi, orang kafir sudah putus asa dalam menghadapi kalian, eh tiba-tiba ada orang kafir yang malah dengan semangat seorang diri menghadapi umat Islam sampai meraih kesuksesan yang gilang gemilang. Logiskah itu?

Kedua. Meyakini Abdullah bin Saba mampu mengadu domba sahabat-sahabat sampai saling bunuh dan menumpahkan darah, sama halnya menyebut sahabat-sahabat itu orang yang lemah akalnya. Mana bukti ketinggian iman mereka pada Islam sampai bisa begitu mudah terpedaya oleh tipudaya seorang Yahudi? Mana bukti kedewasaan dan kebijakan mereka, kalau hanya usaha seorang Yahudi mereka malah saling menebas satu sama lain? Mana tentara terlatih Khalifah Umar yang merebut Palestina dan meruntuhkan kedigdayaan Persia, sampai tidak bisa menjaga khalifahnya dari upaya pembunuhan seorang Yahudi atau Majusi yang membuat Umat bersimbah darah di masjid?. Dimana para tentara terlatih itu di masa Khalifah Utsman sampai khalifah Islam itu lebih tragis kematiannya? Apa bisa dibanggakan mampu membuat kekuasaan Islam terbentang disemenanjung Arab namun gagal melindungi keselamatan khalifah sendiri dari tebasan pedang? Mana bukti persaudaraan yang erat dari para sahabat, kalau hanya dengan bisikan seorang Yahudi mereka mengangkat senjata dan mengobarkan perang?. Dan sekali lagi mana bukti keilmuan dan penguasaan sahabat-sahabat akan Al-Qur’an, kalau Al-Qur’an memerintahkan untuk bertabayyun untuk setiap informasi yang diberikan orang fasik, namun ketika yang membeberkan informasi adalah agen Yahudi malah ditelan mentah-mentah? Dan yang pamungkas, apa iya sahabat-sahabat tidak sadar bahwa mereka semua itu adil? Apa iya Muawiyah tidak tahu Imam Ali itu adil sampai membangkang dan mempimpin pasukan pemberontakan? Apa iya Imam Ali tidak tahu Muawiyah itu adil sampai mengirim pasukan besar untuk menghentikan aksi pemberontakannya? Apa iya kelompok khawarij tidak tahu Imam Ali itu adil sampai membuatnya bersimbah darah dalam sujudnya?. Padahal generasi sekarang saja semuanya tahu, bahwa semua sahabat itu adil tanpa terkecuali? Kok mereka sendiri  tidak tahu? Atau tidak sadar diri?.

Sekali lagi, meyakini Abdullah bin Saba sebagai pemicu dan dalang dibalik konflik yang terjadi di tubuh umat Islam generasi awal, sama saja menafikan semua keagungan dan kecemerlangan yang mereka punyai. Apalagi yang bisa dibanggakan dari mereka? Untuk apa disebut berani, kalau mereka tidak hanya berani menghadapi musuh Islam namun juga berani mengajukan pedang didepan wajah khalifah. Untuk apa disebut tawadhu, kalau toh juga ujung-ujungnya merendahkan diri dengan mempercayai apapun yang dia dengar dari seorang Yahudi? Untuk apa disebut mengagungkan Al-Qur’an kalau ternyata sejarah mencatat mereka memasang Al-Qur’an pada sebuah tombak sebagai tanda perdamaian karena mereka sebelumnya berperang dengan sesama muslim juga? Untuk apa disebut merekalah orang-orang yang paling mencintai keluarga Nabi kalau pada akhirnya, Imam Ali ditebas di masjid, Imam Hasan diracun, Imam Husain dipenggal kepalanya, dan mereka hanya menjadi penonton dan berdiam diri saja. Dan mewariskan pada kita kenyataan lebih memilih mendaulat Abu Hurairah sebagai perawi hadits terbanyak dibanding orang-orang terdekat Nabi sendiri.

Karenanya, satu-satunya cara adalah menolak mengakui keberadaan Ibnu Saba itu. Getol mempertahankannya, sama saja melecehkan dan menganggap enteng keagamaan sahabat-sahabat Nabi.

Kalau bukan orang-orang kafir (baca: Yahudi) yang membuat umat Islam generasi awal tidak hanya menorehkan kegemilangan namun juga catatan tentang pertikaian dan pertumpahan darah, lantas siapa?. Mereka mewariskan bukan hanya kebesaran namun juga konflik yang tidak pernah tuntas sampai hari ini. Allah SWT telah menjamin, orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan umat Islam. Dan itu pasti benar. So, bukan orang kafir dong dalangnya?

Terus siapa? Mari kita melakukan pengkajian sama-sama. Saya juga orang yang masih cetek pengetahuannya. Kita tidak harus selalu berpikir sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

Semoga tidak ada yang berpikir dalangnya adalah Allah. Itu pikiran sesat.

Selamat berselancar dalam sejarah…

ISmail Amin

No comments: