Mereka yang Tidak Mati Ketika Sangkakala Kiamat Ditiup

Tiupan sangkakala menandai peristiwa besar yang mengakhiri kehidupan. Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil ILUSTRASI Tanda kiamat

Foto: pxhere
Tiupan sangkakala menandai peristiwa besar yang mengakhiri kehidupan seluruh makhluk pada hari kiamat. Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai apakah semua makhluk benar-benar mati saat itu, atau ada makhluk tertentu yang dikecualikan oleh Allah SWT dari kematian. Perbedaan ini muncul karena tidak adanya keterangan detail dalam Alquran maupun hadis sahih tentang siapa saja yang mendapat pengecualian tersebut.

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ

Wa nufikha fiṣ-ṣūri faṣa‘iqa man fis-samāwāti wa man fil-arḍi illā man syā'allāh(u), ṡumma nufikha fīhi ukhrā fa'iżā hum qiyāmuy yanẓurūn(a).

Sangkakala pun ditiup sehingga matilah semua (makhluk) yang (ada) di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian, ia ditiup sekali lagi. Seketika itu, mereka bangun (dari kuburnya dan) menunggu (keputusan Allah). (QS Az-Zumar Ayat 68)

Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa saja yang dikecualikan oleh Allah SWT dari kematian ketika sangkakala ditiup. Pendapat mereka beragam dan tidak satu suara. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dikecualikan adalah para bidadari bermata jeli dan anak-anak. Pendapat lain menyebutkan seluruh malaikat, sementara sebagian ulama lainnya membatasi hanya pada malaikat-malaikat terdekat.

Berikut beberapa pendapat ulama yang masyhur, sebagaimana dijelaskan Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi dalam bukunya Asyratus sa'ah al-hasyru wa qiyamus sa'ah.

Imam Ahmad bin Hanbal

Berpendapat bahwa yang dikecualikan dari kematian adalah makhluk-makhluk yang berada di surga, yaitu para bidadari bermata jeli dan anak-anak. Sebagian murid beliau menambahkan Malaikat Ridwan penjaga surga, dan Malaikat Malik penjaga neraka.

Ibnu Taimiyah

Menyatakan bahwa pengecualian tersebut mencakup siapa saja yang berada di surga dari golongan bidadari bermata jeli, karena sesungguhnya di dalam surga tidak ada kematian.

Muqatil dan sejumlah ulama lainnya

Berpendapat bahwa mereka adalah Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Malik, dan Malaikat Maut. Sebagian dari mereka juga menambahkan para malaikat pengemban Arsy.

Abu Al-Abbas Al-Qurthubi

Berpendapat berbeda. Menurutnya, yang dikecualikan adalah seluruh orang-orang yang telah mati sebelumnya, karena mereka tidak lagi memiliki perasaan sehingga tidak mengalami kematian lagi.

Ibnul Qayyim dalam kitab Ar-Ruh mengkhususkan satu pembahasan tersendiri tentang perbedaan pendapat para ahli ilmu mengenai kematian jiwa dan siapa saja yang dikecualikan dari kematian ketika sangkakala ditiup.

Allah SWT tidak menjelaskan secara tegas dalam Alquran siapa saja yang dikecualikan dari kematian pada saat sangkakala ditiup. Rasulullah SAW pun tidak menyampaikan secara pasti siapa mereka. Hal ini menunjukkan bahwa perkara tersebut termasuk perkara gaib yang tidak diwahyukan secara rinci.

Dalil yang sering dikemukakan dalam hal ini adalah hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mengutamakanku atas Musa. Sesungguhnya manusia akan mati dan aku adalah orang yang pertama dibangkitkan. Tiba-tiba Musa telah duduk di samping Arsy, dan aku tidak mengetahui apakah ia termasuk orang yang mati lalu dibangkitkan sebelumku, atau termasuk orang-orang yang dikecualikan oleh Allah.” (HR Imam Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri tidak diberi pengetahuan pasti mengenai siapa yang dikecualikan dari kematian tersebut. Seandainya beliau mengetahuinya, tentu akan disampaikan kepada umat. Karena itu, para ulama dan fuqaha berbeda pendapat dalam persoalan ini.

Pendapat ulama lainnya

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dikecualikan adalah para Nabi dan syuhada. Menurut mereka, pada saat itu mereka hanya pingsan, bukan mati dalam arti yang sebenarnya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Al-Baihaqi, yang mengatakan bahwa para Nabi tetap hidup di sisi Rabb mereka sebagaimana para syuhada. Ketika sangkakala pertama ditiup, yang terjadi pada mereka akan mati, tetapi bukan kematian dalam arti keseluruhan melainkan perginya perasaan.

Pendapat yang dinilai kuat dan rasional dikemukakan oleh Al-Hulaimi, sebagaimana dinukil oleh Al-Qurthubi. Merujuk kepada firman Allah SWT:

"Sangkakala pun ditiup sehingga matilah semua (makhluk) yang (ada) di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah . . . . . (QS Az-Zumar Ayat 68)

Menurutnya, kematian yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kematian bagi para penghuni langit dan bumi. Adapun para pengemban Arsy, malaikat-malaikat terdekat, serta makhluk-makhluk yang berada di surga bukan termasuk penghuni langit dan bumi. Arsy berada di atas langit, demikian pula surga, sehingga mereka berada di luar cakupan makhluk yang ditetapkan mengalami kematian tersebut.

Dalam bukunya, Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi berpesan, sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa sikap paling utama bagi seorang Muslim adalah menahan diri dari memastikan siapa saja yang dikecualikan Allah SWT dari kematian ketika sangkakala ditiup. Hal ini karena tidak terdapat satu pun nash yang shahih dan tegas yang menjelaskan secara pasti tentang hal tersebut.

Al-Qurthubi menukil pernyataan Abu Al-Abbas mengatakan, “Yang benar adalah tidak ada satu berita (hadis) sahih pun yang menetapkan siapa mereka, dan seluruh pendapat itu mengandung kemungkinan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa jika Nabi Muhammad SAW tidak diberi pengetahuan tentang siapa yang dikecualikan tersebut, maka manusia tidak mungkin memastikan hal itu. Perkara ini serupa dengan pengetahuan tentang waktu terjadinya kiamat, sosok-sosok Nabi dan hal-hal gaib lain. Hal-hal seperti itu tidak diberitahukan oleh Allah dan untuk mengetahuinya harus didasarkan ilmu yang diberitakan. Wallahu a‘lam.rol

No comments: