Raja Persia Ini Begitu Dipuja Yahudi, Penguasa Agung dalam Kisah Alquran

 Cyrus telah membebaskan orang-orang Yahudi di Babylonia. Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan Cyrus The Great

Foto: Britannica
Sosok Zulkarnain yang diabadikan dalam Alquran hingga kini masih menyimpan misteri panjang. Figur pemimpin agung yang disebut dalam Alquran itu digambarkan sebagai raja yang kuat, bijak, dan bertauhid, namun identitas historisnya terus menjadi bahan perdebatan lintas zaman.

 Allah SWT berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُ إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا فَأَتْبَعَ سَبَبًا

Artinya: "Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah: 'Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya.' Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Maka dia pun menempuh suatu jalan." (QS Al-Kahfi [18]: 83–85).

Dalam buku "Zulkarnain Agung: Antara Cyrus dan Alexander Jejak Cerita dalam al-Quran dan Riwayat Sejarah", Wisnu Tanggap Prabowo mengungkapkan bahwa kisah Zulkarnain terdapat dalam 13 ayat Alquran. Diskusi mengenai sosoknya terus bergulir selama berabad-abad.

Dialah penakluk Yajuj dan Ma'juj dengan megastruktur tersohornya berupa tembok dari campuran besi-tembaga yang tingginya setara dua puncak bukit. Tauhid, keikhlasan, kekuatan, kekuasaan, kearifan, dan keilmuan terkumpul pada sosok Zulkarnain.

Siapa sebenarnya Zulkarnain? 

Sejumlah sejarawan dan ulama mencoba mengaitkan sosok ini dengan tokoh-tokoh besar dunia kuno. Dua nama yang paling sering disebut adalah Cyrus the Great dari Persia dan Alexander the Great dari Yunani. Selain itu, ada pula tokoh lain seperti Melchizedek yang dianggap memiliki kemiripan karakter. 

Pandangan yang mengidentifikasi Zulkarnain dengan Cyrus menguat dalam beberapa dekade terakhir. Ulama dan tokoh kemerdekaan India, Abul Kalam Azad, menjadi salah satu pengusung utama teori ini dalam tafsirnya. Pemikir Islam kontemporer, Abul A'la Maududi, juga memperkuat pandangan tersebut. 

Dilansir dari laman study, Cyrus Agung lahir sekitar tahun 590–580 SM dan dikenal sebagai pendiri Kekaisaran Achaemenid—kekaisaran besar pertama Persia yang kini wilayahnya mencakup Iran. Ia memerintah pada 559–529 SM dan dikenal sebagai pemimpin yang berpengaruh dalam membentuk peradaban Persia kuno. 

Menariknya, nama Cyrus memiliki tempat istimewa dalam tradisi Yahudi. Wisnu Tanggap Prabowo menjelaskan, ada dua sebab mengapa Cyrus begitu dipuja oleh kaum Yahudi. Pertama, namanya ada dalam Taurat dan dalam Injil Nasrani. Sebab, Taurat mencakup lima kitab pertama yang ada pada Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, menurut Wisnu, nama Cyrus muncul sekitar 23 kali.

photo
Seorang Yahudi Ortodoks Membaca Taurat diapit dua Muslim membaca Alquran di Yerusalem pada 1895. - (Jewish Encyclopedia/Public Domains)

Kedua, selain terdapat dalam Taurat, sepak terjang Cyrus dalam memulangkan kaum Yahudi dan menolong kebangkitan kaum Yahudi setelah penghancuran Kuil Sulaiman oleh Nebuchadnezzar menimbulkan kesan mendalam bagi kaum Yahudi selama-lamanya.

Wisnu menuturkan, orang-orang saleh dari kalangan Bani Israil yang berpegang pada Taurat dan sunah Nabi Musa sebelum diutusnya Nabi Isa adalah golongan yang lurus dan di atas petunjuk Allah sebagaimana orang-orang saleh dari kalangan Muslimin hari ini. 

Pada hakikatnya, menurut Wisnu, ajaran Yahudi adalah ajaran tauhid sebagaimana Nabi Musa dakwahkan. Taurat pun termasuk salah satu dari Kitab-Kitab Allah di mana seorang muslim wajib mengimaninya dalam keimanan yang global, yang jika menolak untuk mengimaninya maka batal keimanan seorang muslim. 

Oleh karena itu, kaum Yahudi antipati sekali dengan para penyembah berhala dan cenderung selektif dalam menyikapi orang-orang di luar golongan Yahudi. Meski demikian, hal itu tidak berlaku pada Cyrus. Sebab, Cyrus telah membebaskan orang-orang Yahudi di Babylonia dan mengembalikan mereka ke Judah.  

Selain itu, Cyrus mendorong pembangunan kembali Kuil Sulaiman setelah Nebuchadnezzar menghancurkannya. Cyrus menaklukkan Babylonia pada masa pemerintahan Raja Babylonia bernama Belshazar, cucu dari Nebuchadnezzar.  

Peristiwa ini meninggalkan kesan mendalam dalam sejarah Yahudi. "Di atas semua itu, Cyrus diyakini oleh Yahudi sebagai orang yang Tuhan kirimkan sebagai penyelamat kaum Yahudi meski bukan dari golongan Yahudi,"jelas Wisnu.

photo
Reruntuhan kota kuno Babylonia dengan latar belakang salah satu istana mantan Presiden Iraq Saddam Husein di Irak. - (Blogspot.com)
 

Halaman 3 / 3
Karena itu, sebagian kalangan menilai karakter Cyrus—seorang penguasa besar yang adil, monoteis, dan pelindung kaum tertindas—memiliki kemiripan dengan gambaran Zulkarnain dalam Alquran.

Meski demikian, identifikasi ini belum mencapai kesepakatan final. Perdebatan tentang siapa sebenarnya Zulkarnain tetap terbuka, menjadi ruang dialog antara tafsir keagamaan dan kajian sejarah.

Yang jelas, kisah Zulkarnain menghadirkan teladan kepemimpinan yang kuat sekaligus berlandaskan iman—sebuah figur yang tak hanya menaklukkan wilayah, tetapi juga menegakkan keadilan dan nilai tauhid di tengah umat manusia.rol

No comments: