Sumbangsih Bangsa Iran di Masa Keemasan Islam

Di berbagai bidang ilmu pengetahuan, ada sosok-sosok Persia-Muslim yang brilian. Red: Hasanul Rizqa ILUSTRASI Aktivitas intelektual di Bait al-Hikmah era Abbasiyah. Bangsa Persia atau Iran memberikan sumbangsih signifikan bagi kemajuan peradaban Islam, termasuk di era keemasan.
Foto: dok wiki
 Pada zaman dahulu, wilayah yang kini menjadi negara Republik Islam Iran lebih masyhur dengan nama Persia. Banyak tokoh Persia yang berperan penting dalam masa keemasan peradaban Islam, khususnya sejak dimulainya Kekhalifahan Bani Abbasiyah hingga jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol pada 1258 M.

Orang-orang Persia menggoreskan prestasi dalam banyak bidang, baik di dunia ilmu agama maupun sains pada umumnya. Bahkan sebagai alim ulama, mereka tidak kalah hebat daripada rekan-rekannya para alim berbangsa Arab.

Di antara nama-nama yang masyhur ialah Syekh Hasan al-Bashri (wafat 728 M), Ibnu Juraij (wafat 767 M), Imam Abu Hanifah (wafat 767 M), at-Thabari (wafat 923 M), Ibnu Katsir (wafat 1373 M), dan Imam al-Ghazali (wafat 1111). Sumbangsih mereka bagi peradaban Islam bahkan diakui luas hingga saat ini.

Dalam bidang ilmu bahasa, peran bangsa Persia tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka memunculkan banyak pakar gramatika dan sastra, baik bahasa Persia maupun Arab. Beberapa yang termasyhur di antaranya ialah Sibawaihi dan al-Farra.

Sosok yang pertama itu bernama asli Amr bin Utsman al-Bashri. Cendekiawan yang mengajar di Basrah pada zaman Abbasiyah itu menulis lima jilid buku Al-Kitab. Isinya membahas seluk-beluk bahasa Arab.

Sementara, al-Farra bernama asli Yahya bin Ziyad. Ia lahir di Iran utara, tepatnya daerah pegunungan Daylam. Sultan Harun al-Rasyid sangat menghormatinya lantaran keahliannya dalam penguasaan bahasa Arab murni.

Selain itu, ada pula Abu Hasan Ali bin Hamzah. Lelaki Persia yang akrab disapa al-Kisa’i ini merupakan salah satu tokoh mazhab Kuffah untuk studi bahasa Arab. Di samping gramatika, kepakarannya juga meliputi ilmu membaca Alquran atau qira’at.

Pada abad ke-10, terdapat sosok Abu al-Faraj al-Ashfihani. Saintis Persia yang juga penulis Kitab al-Aghani (Buku Nyanyian) itu adalah seorang ahli sastra Arab-Persia. Ia juga berjasa dalam mengembangkan teori musik.

Besarnya peran para sarjana Persia di era Abbasiyah juga berarti eratnya persentuhan kultural antara Arab dan Persia. Bahkan, lebih dari itu.

Yang terjadi ialah perjumpaan multikultural. Sebab, Persia memiliki sejarah yang sangat panjang dalam mempertemukan banyak budaya, baik dari kawasan daratan Asia maupun pesisir Mediterania Timur.

Untuk bidang sastra, contoh terpenting dalam hal ini barangkali adalah Alf Laylah wa-Laylah alias Seribu Satu Malam atau The Arabian Nights. Kisah-kisah di dalamnya disusun sedemikian rupa sehingga menjadi cerita berbingkai. Karena mengagumi khazanah kesusastraan ini, sultan Abbasiyah memerintahkan sejumlah ilmuwan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Hasil terjemahan itu kemudian ditambahi pula dengan “bumbu-bumbu” cerita yang intinya mengapresiasi pemimpin Abbasiyah, utamanya Harun al-Rasyid sendiri. Bagaimanapun, porsi terbesar cerita berbingkai ini berasal dari hikayat Persia, Hezar Afsan (Seribu Kisah), yang juga mengadopsi banyak elemen budaya India.

Kontribusi kaum Persia dalam bidang sains sangatlah nyata. Nama-nama berikut ini adalah sebagian dari banyak contohnya.

Dalam lingkup ilmu kedokteran, tersebutlah sosok Muhammad bin Zakariya al-Razi dan Fakhruddin al-Razi. Kedua “al-Razi” ini sama-sama berkebangsaan Persia walaupun berasal dari masa yang berbeda. Yang satu dari ke-10, sedangkan yang lain hidup pada abad ke-12 M.

Ibnu Zakaria menulis sebuah kitab fenomenal, Al-Hawi, yang menelaah dan mengkritik ilmu kedokteran pada masa Yunani Kuno. Hanya karena buku ini, orang-orang Eropa di abad pertengahan menggelarinya sebagai “dokter terbesar” pada masanya.

Adapun Fakruddin al-Razi tidak hanya berkiprah pada ilmu medis, tetapi juga sejarah, filsafat, dan fisika. Sang polymath merupakan yang mula-mula mengembangkan teori alam semesta majemuk (multiverse) dan menghubungkannya dengan petunjuk Alquran.

Tokoh Persia berikutnya ialah Ibnu Sina (wafat 1037 M). Para sarjana Eropa menyebutnya Avicenna. Ia merupakan seorang cendekiawan genius yang merintis jalan bagi ilmu kedokteran modern.

Karya monumentalnya, Al-Qanun fii al-Thibb, menjadi pegangan bagi kaum pembelajar Eropa sejak abad pertengahan. Adapun karya lain darinya, Kitab asy-Syifaa, merupakan sebuah ensiklopedi tentang obat-obatan dan gejala-gejala penyakit.

Selain mereka, beberapa dari begitu banyak nama tokoh-tokoh Persia yang patut dikenang ialah Jabir bin Hayyan (wafat 803 M), Nashir al-Din al-Thusi (wafat 1274 M), al-Biruni (wafat 1050 M), dan Umar Khayyam (wafat 1131 M). Itulah sebagian cerdik cendekia Muslimin Persia pada masa kejayaan Islam.

No comments: