China pada Era Kehidupan Nabi Muhammad?

Peradaban China adalah salah satu yang tertua di dunia. Red: Hasanul Rizqa
Masjid Jin Jue di Nanjing, China
Foto: dok wikipedia
 "Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri China." Demikian ungkapan yang sering kali dikira sebagai sabda Nabi Muhammad SAW. Meskipun bukan sebuah hadis, perkataan itu mengisyaratkan bahwa sejak zaman Rasulullah SAW, Tiongkok sudah masyhur sebagai negeri yang berperadaban tinggi.

Seperti apakah keadaan China pada zaman Nabi SAW masih hidup?

Dalam masa hayat Rasulullah SAW, Negeri China sedang dikuasai Dinasti Tang (618-906). Penguasa Tang gemar membangun relasi bisnis dengan ribuan utusan dari wilayah barat kerajaannya, termasuk Arab dan Persia.

Mi Shoujiang dan You Jia dalam risalahnya, Islam in China menulis, selama 148 tahun sebanyak 37 orang utusan Arab mengunjungi pusat pemerintahan Dinasti Tang. Sejak kepemimpinan Kaisar Gaozong (meninggal 683) hingga Kaisar Dezong (meninggal 805), Dinasti Tang mengalami masa keemasan. Namun, pecahnya pemberontakan An-Shi (755-763) mulai melemahkan wangsa tersebut. Kudeta ini dipimpin Jenderal An Lushan yang mendaulat dirinya sebagai kaisar baru di China utara.

Pada masa itu, peradaban Islam direpresentasikan Dinasti Abbasiyah. Atas permintaan Kaisar Zongyun, Dinasti Abbasiyah membantu memadamkan pemberontakan An-Shi hingga tuntas. Sejumlah barak militer Abbasiyah berdiri sebagai hunian bagi tentara Muslim selama bertugas di wilayah Tang. Mereka kemudian banyak berinteraksi dengan penduduk lokal.

Akhirnya, orang-orang China, khususnya di wilayah barat laut, mulai mengenal Islam. Orang tempatan menyebut kaum Muslim sebagai Zhu Tang, yang berarti literal 'orang asing yang tinggal.' Kebanyakan mereka berkebangsaan Arab atau Persia serta berprofesi sebagai pedagang, diplomat, atau tentara. Mayoritasnya menetap di kota-kota. Cukup banyak pula di antara mereka yang belakangan menikah dengan orang China setempat. Keturunannya lalu disebut Fan Ke.

Namun, dakwah Islam lebih banyak tersebar melalui diplomasi maritim. Jauh sebelum Rasulullah SAW lahir, para pelaut Arab telah memiliki kontak bisnis dengan orang China.

Mereka berlayar mengarungi Samudra Hindia, Selat Malaka, dan akhirnya sampai di pesisir Laut China Selatan, antara lain kota pelabuhan Guangzhou. Satu contoh signifikansi jalur laut adalah keberadaan masjid tertua di Tiongkok, Masjid Huaisheng, di Guangzhou.

Asal kata China

China memiliki suatu peradaban tua, tetapi lestari dalam sejarah umat manusia. Lembah Sungai Kuning (Yangtze) merupakan tempat lahirnya kebudayaan China mula-mula. Dinamakan demikian karena sungai terbesar di China utara itu kerap berwarna kuning keruh akibat longsor di tepiannya. Penduduk memanfaatkan kesuburan tanah di sekitar Sungai Kuning untuk bercocok tanam sehingga mampu membina komunitas besar.

Daratan China terbagi menjadi tiga daerah, yakni utara, tengah, dan selatan. China utara memiliki Peking (kini Beijing) sebagai kota pentingnya. Adapun China tengah berpusat di Nanjing. Antara China utara dan China tengah terpisahkan deret pegunungan yang sukar dilalui.

Wilayah China selatan memiliki kontur berbukit-bukit sampai ke pesisirnya di sebelah tenggara. Kota terpentingnya adalah Kanton dengan pelabuhan dagangnya yang selalu ramai, menghadap ke Laut China Selatan. Ketiganya sampai hari ini masih menjadi kota-kota besar di Republik Rakyat China (RRC).

Asal nama china atau china berasal dari nama dinasti Ch'in yang berkuasa sepanjang tahun 221-206 sebelum Masehi (SM). Shi Huang Ti merupakan pendiri dinasti tersebut sekaligus kaisar pertama yang mampu menyatukan China secara politik. Nama lain China adalah Tiongkok, yang berasal dari istilah Chung-kuo. Kata chung berarti 'tengah', sedangkan kuo artinya 'negeri'. Para penguasa China senang menganggap negerinya berada di tengah-tengah atau sebagai pusat dunia.

China juga terkenal dengan Jalur Sutra yang besar pengaruhnya dalam menghubungkan kebudayaan Timur dan Barat. Mungkin, sutra China merupakan komoditas yang sering diperdagangkan melaluinya sehingga menjadi nama jalur tersebut.

Peter Frankopan, penulis buku The Silk Roads: A New History of the World (2015), menjelaskan, pada 119 SM Dinasti Han (206 SM-220 M) merebut koridor Gansu, sebuah wilayah strategis di China tengah. Dari sana, penguasa Han kala itu terus berekspansi ke barat hingga Pegunungan Pamir di Asia Tengah. Sejak saat itulah, kata Frankopan, Jalur Sutra lahir sebagai penghubung lintas benua.

Itulah yang antara lain menjembatani kebudayaan China dengan negeri-negeri di sebelah barat, termasuk Arab dan Eropa. Dalam abad pertama Masehi, dunia menyaksikan dua imperium besar, yakni Han di timur dan Romawi di barat. Jalur Sutra menghubungkan keduanya di rute darat, sedangkan di rute laut kapal-kapal dapat berlayar dari Kanton kemudian mengarah ke Selat Malaka, Samudra Hindia, Laut Merah, hingga Laut Mediterania.

Barang-barang mewah dari China merupakan kegemaran para elite Romawi yang sedang mengalami masa-masa makmur. Sementara itu, orang-orang Arab kerap menjadi pedagang perantara dalam jalur perniagaan antara China dan Romawi.

No comments: