Warga Madinah sendiri yang mencari Rasulullah SAW.
Rep: Fuji Eka Permana/ Red: A.Syalaby Ichsan
Foto: google.com
Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan langkah strategis dalam membangun peradaban Islam. Kota itu dipilih karena warganya lebih siap menerima dakwah, bahkan lebih dulu mencari Rasulullah SAW untuk beriman.
Jika muncul pertanyaan dengan alasan apa kota Madinah menjadi pilihan hijrahnya Nabi Muhammad SAW? Jawabanya, faktor utama di balik alasan tersebut adalah kesiapan warga Madinah dalam menerima dakwah Islam.
Warga Madinah sendiri mencari Rasulullah SAW, bukan seperti warga Makkah yang harus didatangi Rasulullah SAW saat memperkenalkan Islam.
"Justru warga Madinah ini dalam kesempatan haji dan banyak kesempatan lain berusaha ingin berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW untuk masuk Islam," tulis KH Ahmad Sarwat Lc dalam buku Madinah Era Kenabian terbitan Rumah Fiqih Publishing.
Rupanya, warga Madinah sudah dikenalkan sebelumnya tentang kenabian Nabi Muhammad oleh orang-orang Yahudi. Alih-alih menentang dakwah Islam, yang warga Madinah lakukan justru ingin segera bertemu dengan Rasulullah SAW untuk masuk Islam.
Warga Madinah pun meminta agar ada sahabat Rasulullah SAW yang diutus ke Madinah untuk mengajarkan ilmu-ilmu keislaman. Maka Rasulullah SAW mengutus Mush'ab bin Umair ke Madinah.
Dalam dua tahun musim haji secara berturut-turut, telah terjadi dua kali baiat di Aqabah yang dilakukan oleh 12 kepala kabilah Madinah kepada Rasulullah SAW. Intinya mereka bersumpah untuk menjadi pilar pembela Islam di Madinah, dan segera meminta Rasulullah SAW untuk memindahkan basis dakwahnya ke Madinah yang dinilai lebih kondusif dan lebih punya potensi besar dalam membangun peradaban baru.
Di Madinah, Rasulullah SAW mendapatkan semua hal yang tidak bisa didapatnya di Makkah. Dakwah di Makkah tidak ada basis dukungan dari pusat kekuasaan. Di Makkah, justru Rasulullah SAW dimusuhi oleh penguasa.
Sedangkan di Madinah, secara aklamasi Nabi Muhammad SAW malah diangkat menjadi pemimpin. Artinya, bukan lagi dukungan penguasa, malah Rasulullah SAW sendiri yang jadi penguasanya.
Basis massa di Makkah amat terbatas, kebanyakan orang lemah, budak, miskin dan terintimidasi. Mereka inilah yang memeluk Islam. Sementara itu, basis massa di Madinah teramat luas, bahkan dalam waktu singkat Islam telah menjadi agama mayoritas paling banyak dianut di Madinah.
Di Makkah, keselamatan Nabi Muhammad SAW selalu menjadi taruhan. Sementara di Madinah, justru Rasulullah SAW yang menjadi penguasa dan menjamin keselamatan non-Muslim.
No comments:
Post a Comment