Catatan Kuno Ungkap Islam Telah Dikenal di Sriwijaya Sejak Abad Ke-7

Sriwijaya juga dikenal sebagai kerajaan yang terbuka. Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil Petugas memotong rumput di Kawasan Candi Bahal, Portibi, Padang Lawas Utara (Paluta), Sumatera Utara, Kamis (13/10/2022). Candi Bahal yang dibangun sekitar abad ke-11 Masehi tersebut menjadi salah satu cagar budaya di Sumatera Utara dan merupakan peninggalan zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya.
Foto: ANTARA/Fransisco Carolio
Sebagai pusat keilmuan Buddha di Asia Tenggara, Sriwijaya juga dikenal sebagai kerajaan yang terbuka terhadap berbagai bangsa. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pelabuhan Sriwijaya telah ramai disinggahi kapal-kapal Arab dan Persia, sehingga terjadi interaksi awal antara masyarakat setempat dengan Islam.

Melalui kedatangan pedagang dan pelaut Arab serta Persia, penduduk kerajaan maritim itu mulai mengenal ajaran Islam, bahkan beberapa catatan mengisyaratkan adanya Muslim pribumi di lingkungan Sriwijaya.

Buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menyebutkan, meski Sriwijaya terkenal sebagai pusat terkemuka keilmuan Buddha, kerajaan ini merupakan kerajaan yang kosmopolitan. Agamawan dan pengembara terkenal dari Cina, I-Tsing memberikan informasi bahwa ia menumpang kapal Arab dan Persia menuju Pelabuhan Sriwijaya. Yuantchao dalam Tcheng-yuan-sin-ting-che-kiao-mou-lou yang ditulis pada awal abad ke-9, menyatakan bahwa pada tahun 99 H/ 717 M sekitar 35 kapal Persia sampai di Palembang. Seusai kerusuhan di Kanton, banyak Muslim Arab dan Persia yang diusir dari Kanton menuju Palembang untuk menemukan wilayah perlindungan yang aman.

Berdasarkan catatan-catatan I-Tsing, Prof. Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menjelaskan ada isyarat penduduk Sriwijaya telah berinteraksi dengan kaum Muslim yang datang dari Timur Tengah. Dalam batas tertentu, mereka juga telah mengenal sebagian ajaran Islam. > Bahkan, al-Ramhurmuzi dalam Aja'ib al-Hind mengisyaratkan adanya sejumlah Muslim pribumi di kalangan penduduk Sriwijaya sendiri. Riwayat al-Ramhurmuzi ini tampaknya diperkuat oleh Chau Ju-Kua yang menyatakan, "Sejumlah besar penduduk negeri ini (San-fo-chi) memiliki nama awal P'u." Sebagaimana dijelaskan Hirth dan Rockhill, istilah "P'u" berasal dari "Bu" singkatan dari "Abu" (bapak), yang terdapat dalam begitu banyak nama pribadi orang Muslim.

photo
Infografis Lima Wasiat Nabi Yahya - (Republika)

  
  Kenyataan bahwa penduduk Sriwijaya memiliki kunya "Abu" juga dibenarkan oleh kronik Cina lain berjudul Sung Shih. Menurut Sung Shih, penguasa Sriwijaya pada tahun 293 H/ 904 M mengirim utusan bernama P'u Ho-li (atau P'u Ho-su-Abu Ali, Abu Fadhl, atau Abu Husayn) ke istana Tang. Ia dilukiskan sebagai kepala orang asing di Sriwijaya. Karena itu, ia sangat mungkin merupakan seorang Muslim asal Timur Tengah, bukan Muslim pribumi Sriwijaya.

Kehadiran Muslim Timur Tengah yang kebanyakan dari Arab dan Persia di Nusantara pada masa-masa awal ini pertama kali disebutkan oleh agamawan dan pengembara terkenal dari Cina bernama I-Tsing. Pada tahun 51 H/ 671 M, dengan menumpang kapal Arab dan Persia dari Kanton, ia berlabuh di pelabuhan di muara Sungai Bhoga (atau Sribhoga, atau Sribuza, sekarang Sungai Musi). Sribuza, sebagaimana diketahui, telah diidentifikasi oleh banyak sarjana modern sebagai Palembang, ibu kota Kerajaan Buddha Sriwijaya.

Menurut sumber-sumber Cina, Sriwijaya juga merupakan pusat terkemuka keilmuan Buddha di Nusantara. Banyak penuntut ilmu dan peziarah Buddha bermukim di Sriwijaya selama bertahun-tahun untuk mempelajari dan menerjemahkan teks-teks keagamaan sebelum keberangkatan mereka ke pusat-pusat keilmuan dan keagamaan Buddha di India. I-Tsing, yang menghabiskan beberapa tahun di Palembang dalam perjalanannya menuju dan kembali dari India, merekomendasikan Sriwijaya sebagai pusat keilmuan Buddha yang sangat baik bagi para penuntut ilmu agama sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke India untuk memperdalam pelajaran mereka.

No comments: