Deretan Bukti Situs Bongal Dekat dengan Masa Kenabian: Koin Abbasiyah Hingga Keramik dari China

Terdapat juga arca yang ditemukan sekitar desa Jago-Jago. Red: A.Syalaby Ichsan
Temuan Situs Bongal
Foto: Dok BRIN
— Daerah Bongal mulai terdengar akrab dalam beberapa tahun belakangan. Hal tersebut setelah ditemukannya sejumlah artefak dan data arkeologis di Bongal, Tapanuli Tengah Sumatra Utara, sejak 2001. 

Berbagai temuan menunjukkan bahwa daerah di pantai barat Sumatera tersebut ternyata tidak hanya berusia tua yaitu abad ke-7 hingga ke-10 M. Situs tersebut juga terbukti memiliki nilai penting dalam sejarah Nusantara.

Selain temuan berupa koin-koin emas dari era Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, serta pecahan keramik dari masa Dinasti Tang di China, apa saja lagi fakta-fakta arkeologis hasil ekskavasi di situs Bongal sejauh ini? 

Arkeolog senior Dr. Ery Soedewo, dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan BRIN, menguraikan berbagai hasil penelitiannya. 

“Pada 2001 itu kami melakukan survei arkeologis di wilayah administrasi Kotamadya Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Waktu melakukan survei itu kami dapat informasi dari masyarakat di Desa Jago-jago bahwa di suatu perbukitan di wilayah Desa Jago Jago itu mereka pernah melihat secara langsung ada arca,” jelas Ery di Youtube KEMENBUD dan Kanal Indonesiana TV, yang dilansir dari laman BRIN, Kamis(13/8/2026).

Dalam bayangan Ery, jika arca atau patung patung kawasan budaya Batak di Tapanuli itu biasanya patung-patung pangulu balang. Sementara itu, dia dipandu masyarakat dan menjumpai sendiri memang ada arca Ganesa. 

“Sayang sekali waktu kami temukan pada 2001 memang sudah tidak utuh, ada bagian kepala yang hilang. Pada bagian sandarannya sebagian juga sudah hilang, tapi kami bisa mengidentifikasi sebagai Arca Ganesa, karena ada atribut-atribut ikonografisnya yang mencirikan bahwa ini adalah Arca Dewa Ganesa,”kata dia.

photo
Temuan Situs Bongal - (Dok BRIN)



Arca tersebut ditemukan di bukit Bongal, diperkiran dari abad 9 sampai 10 Masehi, dan informasinya sebenarnya ada dua. Sayangnya, arca tersebut ternyata cuma satu dan disimpan di Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah. Kondisinya  sudah pecah menjadi kepingan lebih kecil. Arca sengaja disimpan mengingat ada isu mengandung emas dan berlian. 

Ery membeberkan, setelah 2001 memang belum ada aktivitas yang intensif di situs tersebut. Pada 2019 pihaknya diminta oleh bidang kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah untuk mengecek barang-barang artefak-artefak kuno yang ditemukan oleh masyarakat.

“Masyarakat bisa menemukan itu karena mereka lagi menambang emas di sana. Mereka menemukan pecahan-pecahan keramik, gerabah, manik-manik, ada koin-koin juga. Di antara beragam artefak itu saya terpaku pada dua jenis koin. Salah satu jenis koinnya seperti koin masa Dinasti Abbasiah, berarti sekitar abad 9,” jelasnya. 

Ada juga koin dari masa Dinasti Umayyah yang bermakna situs ini sudah terbilang tua. Hal tersebut dikonfirmasi kembali oleh temuan artefak-artefak, keramik berbentuk bunga-bunga Dinasti Tang dari Cina abad 7-10 Masehi. 

“Hal yang menarik juga dari temuan masyarakat itu mereka menemukan papan-papan, setelah kami cek adalah papan perahu kuno. Salah satu di antara papan itu ternyata ada tulisannya, dan setelah saya baca itu karakter aksara Palawa Granta. Kalau tinjauan paleografisnya itu dari abad ke 7 juga, ada juga keramik warna hijau dari Persia abad 7 sampai 10,”kata dia. 

Untuk mengecek situs tersebut, dia pun mencuplik papan kayu dengan digores dan dikirimkan sampelnya ke peta analitik di Amerika. Setelah keluar hasil pertanggalannya yaitu abad ke 7 sampai ke-8 Masehi. Artinya, usia tersebut masih cocok dengan data artefak-artefaknya. 
 

Ery juga memperlihatkan gambar sebagai contoh kemudi kapal utuh yang cukup panjang berukuran 4,5 meter. Ada juga yang lebih kecil sekitar 2,5 meter dan ditemukan pada 2021. Setelah semakin tinggi intensitas penelitian kajian arkeologis makin banyak yang ditemukan termasuk yang terbaru ini pada 2021. 

“Di sekitar lokasi Bongal ditemukan juga ada semacam sisa makanan selain artefaktual juga ecofaktual seperti gading, kami temukan juga hanjeli berupa biji-bijian. Kalau ada yang ingat mungkin kalau zaman kecil kita itu yang dibikin kalung itu kecil putih kelabu. Di samping itu juga kami menemukan biji pala,” urainya. 

Pala yang identik dengan produk dari Kepulauan Maluku juga  ditemukan juga di Bongal. Kawasan yang jauh sekali dari Maluku tapi ditemukan di pantai barat Sumatera tepatnya di Bongal. Artinya, ada jalur perniagaan yang menghubungkan antara kawasan timur Nusantara dengan kawasan barat Nusantara di abad 7 sampai 10 M. 

“Keunikan Situl Bongal, adalah tanahnya mengandung emas dijuluki sebagai Pulau Emas atau dalam Bahasa Sansekerta disebut Suarna Dwipa. Di samping itu juga keberadaan aneka pohon penghasil getak resin. Dari hasil identifikasi jenis-jenis getah resin yang ditemukan dari hasil galian ekskavasi, Bongal memiliki komoditas utama antara lain kafur, kemenyan, dan getah damar,” kata Ery.rol

No comments: