Hikayat Perang Sabil, Naskah Sakti yang Menghipnotis Orang Aceh Berani Mati Melawan Penjajah
Dalam catatan sejarah, Keberhasilan Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman dalam memimpin peperangan melawan Belanda di Aceh, selain dari keahliannya sendiri, juga didukung oleh peranan Hikayat Perang Sabil yang dikarang oleh Teungku Chik Pante Kulu. Nama lengkapnya adalah Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu.
Seorang sastrawan Aceh, Anzib Lamnyong, dalam kata pengantarnya ketika menyalin Hikayat Perang Sabil ke dalam huruf Latin, menulis tentang pengaruh hikayat tersebut sebagai berikut:
"Apabila Belanda mengetahui ada orang yang menyimpan Hikayat Prang Sabi, terus dirampas, dan penyimpannya dihukum, demikian pula terhadap siapa saja yang membacanya (dihukum)."
"Penyalin naskah ini pernah mengetahui ada seorang yang bernama Leem Abah, penduduk Kampung Peurada, kemukiman Kayee Adang, daerah XXVI Mukim (sekarang Kecamatan Ingin Jaya). Pada suatu malam ia mendengar orang membaca Hikayat Perang Sabil. Besoknya, tanpa diketahui siapa pun, pada pagi-pagi buta ia telah berada di Peukan Aceh, di depan Societeit Atjeh Club (Balai Teuku Umar sekarang), tempat ia menjumpai seorang Belanda yang sedang berjalan-jalan."
"Dengan mendadak, Leem Abah menghunus rencongnya yang disembunyikan dalam lipatan kain, lalu menikam orang Belanda itu tepat pada dadanya, hingga jatuh terlentang dan mati seketika di situ juga."
"Sesaat kemudian, Leem Abah ditangkap dan akhirnya diinternir ke Pulau Jawa yang mungkin telah dibunuh di sana, sebab ia tidak pernah pulang lagi ke Aceh."
"Peristiwa ini terjadi pada tahun 1907, pada waktu pertama kali Belanda menetapkan wajib bayar pajak bagi orang Aceh."
Selain dari peristiwa tersebut, banyak peristiwa lain dengan kejadian serupa sebagai akibat dari pengaruh Hikayat Perang Sabil. Para pejuang Aceh secara individu masuk ke kota dan langsung membunuh Belanda yang dijumpainya. Belanda pun terpaksa mengadakan penjagaan yang ketat, dan siapa saja yang dicurigainya langsung ditangkap dan diberikan hukuman, dilansir dari buku Tokoh Agama Dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950 di Aceh karya Rusdi Sufi, Muhammad Nasir, dan Zulfan terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.
Mengenal Penulis Hikayat Perang Sabil
Semenjak kecil, Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu sudah mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan. Ia belajar di Dayah Tiro yang pada waktu itu dipimpin oleh Teungku Chik Dayah Cut Muhammad Amin. Sesudah menguasai berbagai bidang ilmu yang diajarkan di dayah tersebut, Teungku Pante Kulu kemudian pergi naik haji untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Setelah tiba di Tanah Suci, ia juga memperdalam ilmu pengetahuannya di Makkah.
Selain belajar memperdalam ilmu pengetahuan agamanya di Makkah, Teungku Chik Pante Kulu juga bergaul dengan ahli-ahli pergerakan yang berkunjung ke Kota Suci tersebut pada waktu itu. Ketika pecahnya perang Belanda di Aceh, ia masih berada di Mekkah. Sesudah berdiam di sana selama empat tahun, Teungku Chik Pante Kulu kemudian pulang kembali ke Aceh dengan maksud untuk membantu peperangan.
Mengenai keadaan peperangan yang sedang berlangsung di Aceh Besar, Teungku Chik Pante Kulu mengetahui dari bekas gurunya, Teungku Chik Muhammad Amin Dayah Cut. Gurunya itu menjelaskan bahwa Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman telah diangkat sebagai panglima perang dan sedang berjuang melawan kafir Belanda di Aceh Besar. Teungku Chik Pante Kulu juga mendapat perintah dari gurunya itu untuk menyusul ke Aceh Besar dan membantu perjuangan bersama Teungku Chik Di Tiro.
Teungku Chik Pante Kulu mempunyai bakat yang besar mengenai sastra, terutama kesusastraan Aceh. Ia tidak hanya pandai mengarang sajak-sajak Aceh, tetapi juga mahir dalam membacanya dengan suara yang merdu dan lagu yang indah. Ia telah menyusun sebuah hikayat yang diberi nama Hikayat Perang Sabil.
Hikayat ini disusun dalam bahasa Aceh bersajak, sebagaimana lazimnya karangan-karangan dalam bahasa Aceh lainnya pada waktu itu. Hikayat tersebut berisi anjuran untuk berperang melawan kafir yang ingin menghapuskan agama Allah, yang disebut dengan "Perang Fi Sabilillah".
Kalah dan menang serta hidup atau mati dalam peperangan tersebut akan mendapatkan pahala dari Tuhan. Kalau mati dalam perang itu disebut syahid dan akan mendapatkan kebahagiaan di hari akhirat nantinya. Oleh karena itu, orang akan berlomba-lomba untuk berperang melawan kafir dengan harapan akan mendapat jaminan masuk surga dari Tuhan.
Pengaruh Hikayat Perang Sabil
Pengaruh Hikayat Perang Sabil terhadap mentalitas para pejuang sangat besar. Dari segi isinya, hikayat ini dapat dibagi atas dua bagian. Pertama, yang berisi anjuran berperang sabil secara umum dengan menunjukkan pahala, keuntungan, dan kebahagiaan.
Kedua, yang berisi berita mengenai tokoh atau keadaan peperangan di suatu tempat yang patut disampaikan kepada masyarakat untuk mendorong semangat orang berjihad. Adapun faedah yang akan diterima oleh orang yang mati dalam perang sabil itu diampunkan semua dosanya oleh Allah Ta'ala, mendapat tempat di dalam surga dengan berbagai kenikmatan, kuburnya akan menjadi luas dan ia akan sentosa di dalamnya, luput dari bahaya kiamat, mendapat pakaian dan permata yang indah di dalam surga, mendapatkan istri bidadari berjumlah 72 orang dalam satu mahligai, dan diampunkan oleh Tuhan dosa 70 kerabat dari orang yang mati syahid itu.
Oleh karena itu, setiap orang Aceh yang mendengar bacaan hikayat tersebut dengan suka rela mendaftarkan diri menjadi anggota laskar muslimin untuk mencari mati syahid. Pengaruh itu tidak hanya berlangsung selama masa peperangan, tetapi juga terus berlanjut sampai perang itu usai.
Akibatnya, pemerintah Hindia Belanda melarang keras orang membaca, menulis, memiliki, mendengar, dan menyimpan Hikayat Perang Sabil tersebut. Bila ada yang melanggar larangan itu, dikenakan hukuman yang berat.
Sebab kolonial Belanda tahu, Hikayat Perang Sabil bisa mempengaruhi seperti menghipnotis pembacanya, dan membuat pembacanya berani mati melawan penjajah.




No comments:
Post a Comment