Jejak Abbasiyah di Tapanuli: Temuan Koin Dirham dan Korespondensi Sriwijaya dengan Khalifah
Ekskavasi di Situs Bongal mengungkap bukti hubungan maritim Internasional Nusantara
Red: A.Syalaby Ichsan

Ery Soedewo dan Nur Ahmad dalam artikel ilmiahnya bertajuk Abbasid Coins in North Sumatra: Evidence of Interactions With Islamic Civilization in The 8th-9th Century AD yang dimuat di Amerta (Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi) Volume 40, Nomor 1, 2022, mengungkapkan, sejumlah sarjana Barat seperti Pijnapel, Snouck Hurgronje, hingga J.P. Moquette mengungkap teori bahwa Islam di Nusantara berasal dari Gujarat dan Malabar, India.
Pendapat tersebut didasarkan pada penanggalan batu nisan kuno di Pasai dan Gresik dari abad ke-15 Masehi. Meski demikian, teori tersebut mengabaikan catatan-catatan awal interaksi langsung antara wilayah Asia Barat (Timur Tengah) dan Nusantara.
Guru Besar Sejarah Islam, Prof Azyumardi Azra (almarhum), dalam karya-karyanya pernah mengulas dokumen kuno yang mencatat hubungan diplomatik awal tersebut. Salah satunya adalah catatan Kitab al-Hayawan karya al-Jahizh (783–869 M) dan al-‘Iqd al-Farid karya Ibn ‘Abd al-Rabbih (860–940 M).

Dokumen tersebut merekam adanya surat-menyurat antara Maharaja Hind—yang menguasai wilayah kaya kapur barus dan rempah-rempah—dengan Khalifah Mu'awiyah bin Abu Sufyan serta Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz (717–720 M). Pada rentang abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, satu-satunya penguasa Nusantara yang menyandang gelar Maharaja tidak lain adalah Penguasa Kerajaan Sriwijaya.
Hubungan diplomatik dan perdagangan pada era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah ini dikuatkan oleh catatan petualang Buzurg ibn Syahriar al-Ramhurmuzi dalam 'Ajaib al-Hind (sekitar 1000 M), yang melaporkan keberadaan komunitas Muslim di wilayah kekuasaan Kerajaan Zabaj/Zabag (Sriwijaya). Catatan Yijing (I-Tsing) pada abad ke-7 Masehi juga merekam keberadaan kapal-kapal pedagang Ta-shi (Arab/Parsi) yang melayari rute Guangzhou hingga Sumatra.
Bukti kearsipan dan literatur klasik tersebut kini menemukan pembuktian lapangannya melalui penemuan mata uang dirham Abbasiyah dan artefak Timur Tengah di Situs Bongal, Tapanuli Tengah. Penemuan ini memperjelas peta historiografi Islam Nusantara: bahwa hubungan dan kontak kebudayaan dengan pusat peradaban Islam di Timur Tengah telah terjalin erat sejak masa-masa awal Hijriyah.
Temuan Koin Di Situs Bongal
Ekskavasi arkeologi di Situs Bongal, Desa Jagojago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, dinilai berhasil menyingkap bukti konkret hubungan perdagangan maritim internasional antara Nusantara dan dunia Islam pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.
Penelitian yang melibatkan Balai Arkeologi Sumatra Utara dan PT Media Literasinesia menemukan deretan artefak bernilai tinggi, di antaranya koin-koin perak (dirham) beraksara Arab Kufik dari era Kekhalifahan Abbasiyah.
Hasil penanggalan radiokarbon (AMS) oleh Radiocarbon Dating Laboratory, Universitas Waikato, Selandia Baru, terhadap sampel organik seperti damar dan buah kemiri menunjukkan bahwa Situs Bongal telah aktif sebagai pusat pemukiman dan perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-10 Masehi.
Penelitian terhadap koin-koin dirham koleksi warga lokal dan Museum Uang Sumatra mengungkapkan informasi detail mengenai penanggalan dan tempat pencetakannya (minting city):
• Era Khalifah Abu Ja'far al-Mansur: Dirham tercetak di Kota Kufah tahun 143 H (760–761 M) dan Madinat al-Salam (Baghdad) tahun 154 H (770–771 M).
• Era Putera Mahkota/Khalifah al-Mahdi: Dirham tercetak di al-Rayy dan al-Muhammadiyyah (Persia) pada tahun 147 H, 149 H, dan 166 H.
• Era Khalifah al-Amin dan al-Ma'mun: Dirham masing-masing tertanggal tahun 195 H (810–811 M) dan 204 H (819–820 M).
Gerbang utara Kota Resafa, situs bekas istana Khalifah Hisyam, salah satu khalifah Dinasti Umayyah. - (Wikipedia.org)
Hampir seluruh koin perak tersebut memuat inskripsi kalimat tauhid (Lā ilāha illallāh waḥdahū lā sharīkalah) pada bagian muka, serta ayat Alquran dan pemuliaan kepada Nabi Muhammad SAW pada bagian lingkar luar.
Selain koin dirham, di lokasi permukiman lahan gambut dekat Sungai Lumut ini juga ditemukan pecahan keramik berglasir biru pirus (turquoise) asal Mesopotamia-Persia serta pecahan wadah kaca berwarna-warni yang diidentifikasi berasal dari Nishapur, Iran.
Komoditas ini diimpor melalui Pelabuhan Siraf di Teluk Persia dan ditukarkan dengan komoditas unggulan pesisir barat Sumatra, seperti kapur barus (camphor), kemenyan, dan kayu damar.
Temuan di Tapanuli Tengah ini sejajar dengan temuan koin-koin Abbasiyah di kawasan Samudra Hindia lainnya, seperti di Bangladesh, Thailand (Situs Laem Pho), hingga Vietnam. Penemuan ini menegaskan posisi penting kawasan pesisir Sumatra dalam jaringan pelayaran dan perdagangan maritim Islam global pada era kejayaan Abbasiyah.rol




No comments:
Post a Comment