Situs Bongal Bikin Rontok Teori Orientalis Belanda, Islam Masuk Nusantara dari Arab Bukan India

Situs Bongal memberikan data artefak yang lebih tua dari yang diperkirakan. 

Red: Stevy Maradona


Temuan-temuan dari Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Foto: BRIN
 Temuan sejumlah artefak mata uang kuno beraksara Arab dan Persia dari Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, berpotensi menulis ulang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Karena untuk pertama kalinya, ada bukti artefaktual yang mengindikasikan hubungan langsung antara jazirah Arab dengan Nusantara di sekitar abad ke-7 masehi.

Artefak ini sudah sangat ditunggu-tunggu oleh para arkeolog dan sejarawan yang meneliti perkembangan Islam di Indonesia. Karena sampai saat ini, mengacu pada bukti arkeologis yang ada, yaitu nisan kuno di Pasai, Aceh, dan di Gresik, maka indikasi Islam sudah ada di Nusantara menjadi jauh lebih muda, yakni di abad ke-12 dan ke-13.

Yang lebih mendalam lagi, para peneliti asing di abad ke 19 dan abad ke-20, dari temuan arkeologis yang terbatas itu, mematok bahwa Islam hadir di Nusantara tidak dari sumbernya langsung, Arab Saudi, tapi pantai barat India maupun pantai timur India. Ini bagi sebagian ulama Indonesia, dianggap 'merendahkan', mengacu apa yang Buya Hamka sampaikan di satu seminar.

Genealogi teori masuknya Islam ke Indonesia via jalur India dibahas secara mendalam oleh GWJ Drewes dalam makalahnya 'New Light on the Coming of Islam to Indonesia?' dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 124 (1968), No. 4, Leiden, hlm. 433–459. Naskah ini merupakan terjemahan makalah yang dibacakan Drewes pada pertemuan Oosters Genootschap di Leiden, 27 Maret 1968.

Bicara soal teori, ada baiknya menyadari satu hal sederhana yang jarang disebut: Sejarawan Asia Tenggara bekerja nyaris tanpa temuan fisik.

Drewes mengutip Paul Wheatley, yang dalam bukunya tentang Semenanjung Melayu menyesalkan daya rusak iklim tropis — curah hujan, serangga, jamur, dan laju pengendapan aluvial yang begitu cepat. Gabungan semuanya melenyapkan jejak aktivitas manusia begitu manusia pergi. Karena itu Wheatley terpaksa menyusun bukunya dari sumber tertulis: Yunani, India, Arab-Persia, dan Cina.

Kondisi yang sama menghantui kajian Islamisasi. "Persediaan data faktual kita mengenai periode paling awal Islam di Hindia Timur amat miskin," tulis Snouck Hurgronje membuka bagian pidato pengukuhannya di Leiden, 23 Januari 1907. Enam dekade kemudian Drewes mengakui data baru memang bertambah, tetapi kelangkaannya belum teratasi.

Yang tersisa adalah benda-benda yang tidak mudah lapuk — terutama batu nisan. Menurut Drewes, nisan memberi keterangan yang terbatas tetapi dapat dipercaya, dan lebih dapat dipercaya ketimbang historiografi lokal, di mana ingatan tentang kedatangan Islam telah dikaburkan legenda sedemikian rupa sehingga sifatnya lebih membangun jiwa daripada merekam peristiwa.

Namun nisan pun bukan jaminan. Drewes menunjuk laporan Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17–20 Maret 1963, sebagai contoh betapa rapuhnya "data baru" bila tidak ditangani secara kritis. Pada satu nisan di Pase, Cowan sudah membaca angka tahun 823 H (1420 M) pada 1940, sementara H M Zainuddin membacanya 622 H (1225 M). Pada nisan Putri Siti Hawa di Kuala Daya, Ismail Jakub membaca 11 Muharam 460 H (1067 M), Veltman membaca 11 Muharam 962 H (1554 M). Selisihnya berabad-abad, dan reproduksi inskripsinya tidak disertakan.


Sebaliknya, sumber naskah soal Islam di Nusantara, atau di Sumatra dan Semenanjung Malaysia, bertebaran. Paling tidak ada dua naskah utama yang kerap dijadikan rujukan, yaitu Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu. Mana yang lebih tua belum dipastikan; pendapat umum lama menempatkan Hikayat sebagai bahan bagi Sejarah Melayu, tetapi pakar naskah kuno A Teeuw berargumen sebaliknya — dan Drewes menilai argumen itu berdasar. Yang jelas, keduanya memuat kisah legendaris tentang awal Islam di Sumatra Utara sebagaimana beredar di dunia Melayu pada abad ke-16.

Alur kisahnya kurang lebih begini. Merah Silu, yang mendirikan Samudra Pasai setelah menjadi kaya secara ajaib, hidup di lingkungan yang orang tua angkat leluhurnya sudah bernama Ahmad dan Muhammad. Nabi Muhammad disebut pernah menubuatkan berdirinya kota Pasai itu. Maka penguasa Mekah mengirim kapal di bawah pimpinan Syekh Ismail — dengan perintah tidak langsung ke Samudra, melainkan singgah dulu ke Ma'bar, yaitu Pesisir Coromandel, untuk menjemput Sultan Muhammad, keturunan Khalifah Abu Bakar.

Drewes tidak membaca kisah ini sebagai laporan peristiwa. Yang ia anggap sebagai inti historisnya justru satu hal: Di lingkungan tempat cerita ini tumbuh, orang yakin bahwa Islam datang melalui Pesisir Coromandel, India.

Ada lagi yang beranggapan Islam Nusantara masuk via Mesir. Karena Muslim di kawasan ini bermazhab Syafi'i, Profesor Keyzer mencari kaitannya dengan Mesir, tempat mazhab Syafi'i sejak lama penting. Drewes menyebut penjelasan itu mengherankan: Keyzer tampaknya tidak tahu bahwa hampir semua orang Arab di Indonesia berasal dari Yaman, Hadramaut, dan di sana pun Syafi'i dominan. Sekalipun begitu, Hadramaut juga akan keliru — sebab masuknya kelompok ini ke Indonesia justru jauh lebih belakangan daripada kedatangan Islam itu sendiri.

Langkah ke arah yang benar, menurut Drewes, dibuat Pijnappel, guru besar Melayu pertama di Leiden. Dalam artikelnya tahun 1872, Pijnappel mengalihkan perhatian ke jalur dagang dari Teluk Persia menyusuri pantai barat India — Broach, Surat, Quilon. Ia menisbatkan penyebaran Islam di Nusantara kepada orang-orang Arab bermazhab Syafi'i di Gujarat dan Malabar. Pesisir timur India (Coromandel/Ma'bar), India Utara, dan Bengal ia keluarkan dari perhitungan.

Snouck Hurgronje melangkah lebih jauh. Dalam ceramahnya pada pameran kolonial di Amsterdam tahun 1883 — saat itu ia berusia 26 tahun — Snouck untuk pertama kalinya mengembangkan proposisi asal-usul Islam Indonesia dari India Selatan. Penduduk Deccan yang bermukim dalam jumlah besar di kota-kota pelabuhan Nusantara sebagai perantara dagang, katanya, seolah-olah ditakdirkan menyebar benih pertama agama baru itu.

Amat perlu dicatat, teori India ini kelak dipersoalkan secara politis. Dalam risalah Seminar Medan 1963 tercantum sikap tegas ulama Buya Hamka yang mengatakan klaim Snouck — bahwa Islam tidak diterima langsung dari Makkah melainkan dari India — adalah "jarum halus" yang kelompok orientalis sisipkan untuk melawan pengaruh Arab yang Snouck temui saat Perang Aceh.

Kemudian datang pada tahun 1912. Van Ronkel mencatat kemiripan mencolok antara tiga nisan dari Sumatra Utara dan nisan Malik Ibrahim di Gresik (wafat 1418). Pada 1910 ia sudah menduga nisan tua Gresik itu berasal dari India. Dua tahun kemudian Moquette datang dengan temuan penting: Banyak nisan di daerah Pase dan nisan-nisan kompleks makam Malik Ibrahim di Gresik memang berasal dari Cambay di Gujarat — didatangkan jadi, tanpa nama dan tanggal wafat, untuk kemudian ditulis di tempat kubur berada.

Drewes menekankan satu batasan yang sering hilang dari kutipan: Hubungan dengan Gujarat memang terbukti tak terbantahkan, "Tetapi untuk periode tertentu saja" — Dalam hal ini, nisan-nisan yang dimaksud seluruhnya berasal dari abad ke-15 dan sesudahnya. Bukan berarti masuknya Islam ke Indonesia secara keseluruhan.

Lalu bagaimana dengan nisan Malik al-Salih yang bertarikh 1297? Di sinilah letak persoalannya. Menurut Moquette sendiri, nisan itu bertipe 'agak laen' dari nisan-nisan impor Cambay. Moquette tetap mengasumsikan asal India, tetapi ia menambahkan syarat: Nisan itu pasti baru dipasang beberapa waktu setelah sang penguasa wafat.

"Lalu datanglah kekacauan itu," tulis Drewes. Publik mengabaikan keraguan Moquette dan langsung menyimpulkan: Nisan tertua Islam di Nusantara berasal dari Gujarat, maka Islam pun berasal dari Gujarat. Rumusan itu bisa dibaca, antara lain, dalam tulisan R. A. Kern di dalam sejarah Hindia Belanda susunan Stapel, dan dalam buku kecil 'De Islam in Indonesië' — bahwa di Cambay-lah kita harus mencari sumber pertautan spiritual dan material yang menghubungkan Samudera Pasai dengan dunia Islam.

Dari sanalah "teori Gujarat" — yang lama-lama dianggap sebagai teori khas Belanda, seolah dipegang semua sarjana Belanda tanpa kecuali — memperoleh statusnya.

 

Halaman 3 / 4
Pada 1951 GE Marrison mencoba membongkar teori ini. Argumennya berlapis: Marco Polo menggambarkan Cambay pada 1293 masih sebagai kota Hindu, dan Gujarat baru jatuh ke tangan Muslim pada 1297; mazhab Syafi'i bukan mazhab dominan di Gujarat, melainkan di India Selatan; latar 'Hikayat Raja-raja Pasai' kental berwarna India Selatan — orang Tamil disebut berulang kali, baik pedagang maupun pemain sulap dan pegulat; dan pengaruh spiritual Gujarat baru tampak pada paruh pertama abad ke-17, ketika Nuruddin al-Raniri datang ke Aceh. Bagi Marrison, kajian atas Islam di India Selatan menjadi mutlak untuk menelusuri sejarah Islam Nusantara.

Lalu ada satu kandidat lain sumber penyebaran Islam di Nusantara: Bengal. Sumbernya adalah Tomé Pires, apoteker Lisabon yang dikirim ke India pada 1511 dan merampungkan karya besarnya 'Suma Oriental' di Cochin pada 1515.

Pires melukiskan Pasai sebagai kota kaya yang dihuni banyak pedagang Moor dan India — dan di antara mereka orang Bengali paling penting. Ia merinci kehadiran orang Rumi, Turki, Arab, Persia, Gujarati, Kling, Melayu, Jawa, dan Siam. Penduduknya, katanya, terutama orang Bengali atau keturunan Bengali; setelah raja setempat yang masih "kafir" takluk oleh kelihaian para pedagang Moor, merekalah yang disebut mengangkat "raja Moor dari kasta Bengali". Pedesaan masih belum Islam, meski Islam maju setiap hari.

Dari keterangan inilah Profesor SQ Fatimi, sarjana Pakistan, membangun argumen dalam bukunya tahun 1963 bahwa Islam di Indonesia diimpor dari Bengal.

Tapi kemudian Drewes mengkritisi teori Bengal ini. Pertama, keandalan Pires. Untuk apa yang ia lihat sendiri, tidak ada alasan meragukannya. Tetapi untuk data historis, Pires bergantung pada informan pribumi — sehingga yang ia berikan paling jauh hanyalah cerminan gambaran masa lalu yang dimiliki informannya. Dan Pires kadang keliru secara terbukti: Ia menyebut Cambay direbut kaum Muslim sekitar 300 tahun sebelumnya, padahal Cambay baru berada di bawah kekuasaan Muslim pada 1297; ia juga melaporkan Pasai masih dipimpin raja kafir sampai sekitar 160 tahun sebelum masanya — berarti sekitar 1355 — padahal nisan Malik al-Salih menunjukkan raja Pasai sudah Muslim pada 1297. Drewes bahkan menduga informan Pires mungkin seorang Bengali dari Malaka yang mengklaim asal-usul Bengali bagi Islam di Nusantara demi kemuliaan negeri asalnya.

Kedua, kualitas argumen Fatimi. Fatimi menyandarkan sebagian tesisnya pada laporan Cina tahun 1282 tentang pertemuan di Quilon dengan pejabat dari Su-mu-ta (Samudra), yang utusannya kemudian bernama Hasan dan Sulaiman; dan pada gelar raja Su-mu-ta, ta-kur, yang ia hubungkan dengan thakur — kata yang dalam bentuk Inggrisnya kita kenal pada nama penyair Bengali Rabindranath Tagore. Dari situ ia menyimpulkan dinasti Pasai berasal dari Bengal.

Namun pada satu hal Drewes menyatakan Fatimi benar: sejak masa purba, jauh sebelum Islam, hubungan Bengal–Nusantara memang sudah ada. Ada lalu lintas laut dari pelabuhan Tamralipta; dari Bengal pula kerajaan Sailendra menerima bentuk Buddhisme Mahayana yang berabad-abad dominan di Nusantara. Sekitar pertengahan abad ke-9, raja Sailendra Sumatra, Balaputra Dewa, mendirikan wihara di Nalanda dan menyisihkan lima desa pemberian penguasa Bengal untuk pemeliharaannya.

 

Halaman 4 / 4
Petunjuk yang paling menarik dalam ulasan Drewes datang dari Jawa.Ada tiga batu yang biasa disebut. Batu Léran di Jawa Timur, inskripsi Muslim tertua di Jawa dalam aksara Kufi akhir: Moquette membacanya 496 H (1102 M), Ravaisse membacanya 7 Rajab 475 (1082 M). Tetapi Moquette sendiri — yang sangat ahli soal nisan — merasa tidak masuk akal bahwa inskripsi setipis itu, terpahat dangkal pada batu lunak, sanggup bertahan berabad-abad di iklim tropis yang lembap. Ia condong menduga batu itu dibawa ke Jawa dari kawasan kering, misalnya Arab.

'Batu Trengganu' di pesisir timur Semenanjung, bukan nisan melainkan maklumat seorang penguasa Muslim yang mengundangkan aturan-aturan Islam dalam bahasa Melayu — teks Melayu tertua dalam aksara Arab. Sayangnya batu itu rusak tepat di bagian tarikh. Blagden, yang menyunting dan menerjemahkannya, menilai kata 'tujoh ratus dua' sangat mungkin hanyalah penggalan angka tahun, sehingga tidak menjamin batu itu didirikan pada 702; kata bilangan lain bisa saja mengikuti "dua" itu. Blagden memilih kemungkinan terjauh, 788/789 H (1386–87 M). Fatimi memilih 702 H (1303 M) dan memakainya untuk membangun jalur penetrasi kedua — dari Cina lewat Champa dan pesisir timur Semenanjung ke Jawa Timur. Drewes menyebutnya hipotesis yang terlalu banyak memperlakukan ketidakpastian sebagai fakta.

'Nisan Malik Ibrahim di Gresik', bertarikh 1419, oleh Drewes dinilai kemungkinan besar milik seorang pedagang Muslim asing. Alasannya: orang Gujarat masih singgah di Gresik sampai awal abad ke-15, sementara pada masa yang kurang lebih sama Ma Huan mencatat penduduk Jawa Timur belum Muslim. Artinya, ada Muslim yang tinggal atau datang ke Gresik, tetapi Islam belum banyak maju di kalangan orang Jawa sendiri.

Lalu muncul Troloyo. Makam-makam Islam bertarikh yang berlokasi di jantung kraton Majapahit. Batu-batunya sudah lama dikenal — Veth menyebutnya dalam edisi pertama Java (1878). LWC van den Berg membaca inskripsinya dan menyimpulkan aksara Arabnya "tidak indah", bahkan jauh lebih buruk dari yang di Gresik, karenanya pasti berasal dari masa lebih kemudian. Kesimpulannya: batu-batu itu dibuat relatif belakangan di atas pecahan candi tua yang kebetulan bertarikh.

Hasil pembacaan LC Damais — seorang epigraf berpengalaman — menempatkan tarikh nisan-nisan Troloyo pada kisaran 1298 sampai 1397 Śaka, yakni 1376 sampai 1475 M. Satu batu lebih muda (1533 Ś = 1611 M). Satu batu memakai tahun Hijriah, 874 H (1469/70 M), dan hanya batu inilah yang memuat nama diri: Zainuddin — nama Arab, tetapi sangat mungkin disandang orang Jawa. Batu-batu bertarikh Śaka seluruhnya hanya memuat ayat Alquran dan formula-formula saleh.

Menurut tafsiran Damais, dengan demikian sudah ada orang-orang Muslim berdarah Jawa di ibu kota kerajaan pada masa kejayaan Majapahit di bawah Hayam Wuruk. Pengaruh Islam di pedalaman, yang selama ini tidak dapat dipastikan lebih awal dari tahun 1370 Ś pada makam yang dinisbatkan kepada Putri Cempa — istri Muslim salah seorang raja Majapahit — kini terbukti lebih dari 70 tahun lebih awal.

Dalam bagian akhir ulasannya Drewes menegaskan, peneliti amat memerlukan data baru. Tanpa data baru, maka asal usul Islam di Nusantara akan sama saja. Perdebatan Gujarat–Bengal–India Selatan menurut Drewes tetap mengacu pada data yang minim, yang amat bisa meleset.

Kembali ke penemuan beragam artefak di Situs Bongal, Kabupaten Tapteng, maka inilah bukti yang ditunggu-tunggu Drewes dan kawan-kawan itu. Yang sudah diprediksi oleh Buya Hamka dan para penganut teori Islam Nusantara berasal langsung dari Arab Saudi.

Dalam salah satu seminarnya tahun lalu, arkeolog Pusat Riset Arkeologi Lingkungan Maritim dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ery Soedewo mengatakan, koin Arab-Sasaniyah, dirham Umayyah dan Abbasiyah, keramik Changsha dari Dinasti Tang, pecahan kaca dari Persia, manik-manik Romawi, perhiasan batu pirus, hingga papan kapal beraksara Palawa adalah bukti nyata nya.

Uji karbon pada sejumlah artefak penting bahkan menandakan bahwa sejumlah artefak itu sudah digunakan pada abad ke-7-8 masehi, dan ada beberapa artefak kecil yang bisa dirunut sampai abad ke-4 masehi, yang sudah sampai ke Nusantara.

Disclaimer: Sebagian dari artikel ini disusun dengan bantuan akal imitas (artificial intelligence) dan sudah melewati proses penyuntingan redaksi. 

No comments: