Kisah Utusan Utsman bin Affan untuk China yang Mampir ke Tapanuli Tengah

Angka nisan seorang ulama Syekh Mukaiddin di Baros bertarikh 47 Hijriah. Red: A.Syalaby Ichsan Utsman bin Affan
Foto: dok wiki
Hubungan niaga Arab (Asia Barat), India, dan China serta Nusantara telah lama terjalin dari pra hingga setelah datangnya Islam. Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah bahkan mengungkapkan meski Rasulullah telah wafat, hubungan niaga tetap berlangsung antara Khulafaur Rasyidin dengan negara-negara Non Muslim di luar Jazirah Arabia atau dengan Nusantara Indonesia seperti yang disejarahkan pada masa khalifah ketiga, Utsman bin Affan mengirim utusan niaga ke China pada 24-36 H/644-656 M.

Kesempatan kunjungan utusan niaga ke China dimanfaatkan untuk mengadakan kontak dagang dengan pengusaha di Nusantara. Suryanegara mengutip Syekh Syamsuddin Abu Ubaidillsh Muhammad bin Thalib ad-Dimsyaqi yang dikenal dengan nama Syekh Ar-Rabwah dalam kitabnya Nukhbat ad-Dahr. Menurut dia, pengusaha Muslim memasuki kepulauan Nusantara ini terjadi pada masa khalifah Utsman bin Affan.

Dijelaskan, Khalifah Islam, menurut sejarah China, telah mengirim 32 utusan ke China. Apabila masa Khulafaur Rasyidin berlangsung selama 29 tahun (11-41 H/632-661) tidaklah mungkin hubungan dagang dengan 32 utusan tersebut hanya terjadi pada masa khalifah ketiga semata. 

Sebanyak 32 kali pengiriman utusan niaga dari seluruh khalifah itu singgah ke Indonesia. Sebab, satu-satunya jalan yang mudah untuk sampai di China Selatan adalah melalui kepulauan Nusantara. Mengutip sumber lain, J.C. van Leur dalam Indonesian Trade and Society mendasarkan sumber berita China dari Dinasti Tang menyatakan bahwa pada 674 M di pantai barat Sumatra telah terdapat settlement (hunian bangsa Arab Islam) yang menetap di sana.

Thomas W Arnold dalam The Preaching of Islam juga menuliskan dari sumber yang sama Dinasti Tang, adanya pengusaha Arab yang menetap di pantai barat Sumatera. 

Berita China dari Dinasti Tang 618-907, sekalipun dari China, tidak menuliskan bahwa pembawa ajaran Islam yang pertama masuk ke Nusantara Indonesia pada awal mulanya adalah pengusaha China, melainkan dituliskan pada abad ke-7 M adalah pengusaha Arab, bukan Gujarat dan bukan pula India. 

Berdasarkan keterangan Drs Ibrahim Buchari, angka tahun yang terdapat pada nisan seorang ulama, Syekh Mukaiddin di Baros, Tapanuli Tengah, bertuliskan 47 Hijriah atau 670 Masehi maka dapat dipastikan Islam masuk ke Nusantara terjadi pada abad ke-7 Masehi atau pada abad ke-1 Hijriah. 

 

photo
Temuan-temuan dari Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah. - (BRIN)


Dari kedua angka tahun nisan Syekh Mukaidin 670 dan berita China Dinasti Tang menyebutkan bahwa di pantai barat Sumatra telah terdapat pemukiman Arab Muslim pada 674 M maka yang dimaksud dengan pantai barat Sumatra dalam Berita China Dinasti Tang kemungkinan besar adalah Baros, Tapanuli Tengah.

Kedua angka tahun nisan 670 M Syekh Mukaidin dan angka tahun Berita China Dinasti Tang 674 M terjadi pada abad ke-7 M. Angka tersebut memberikan keterangan adanya hubungan niaga dengan Nusantara tetap berlangsung dari masa sebelum Rasulullah hingga masa Khalifah Umayyah.

 

Temuan Bongal
Daerah Bongal mulai terdengar akrab dalam beberapa tahun belakangan. Hal tersebut setelah ditemukannya sejumlah artefak dan data arkeologis di Bongal, Tapanuli Tengah Sumatra Utara, sejak 2001. 

Berbagai temuan menunjukkan bahwa daerah di pantai barat Sumatera tersebut ternyata tidak hanya berusia tua yaitu abad ke-7 hingga ke-10 M. Situs tersebut juga terbukti memiliki nilai penting dalam sejarah Nusantara.

Selain temuan berupa koin-koin emas dari era Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, serta pecahan keramik dari masa Dinasti Tang di China, apa saja lagi fakta-fakta arkeologis hasil ekskavasi di situs Bongal sejauh ini? 

Arkeolog senior Dr. Ery Soedewo, dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan BRIN, menguraikan berbagai hasil penelitiannya. 

“Pada 2001 itu kami melakukan survei arkeologis di wilayah administrasi Kotamadya Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Waktu melakukan survei itu kami dapat informasi dari masyarakat di Desa Jago-jago bahwa di suatu perbukitan di wilayah Desa Jago Jago itu mereka pernah melihat secara langsung ada arca,” jelas Ery di Youtube KEMENBUD dan Kanal Indonesiana TV, yang dilansir dari laman BRIN, Kamis(13/8/2026).

Dalam bayangan Ery, jika arca atau patung patung kawasan budaya Batak di Tapanuli itu biasanya patung-patung pangulu balang. Sementara itu, dia dipandu masyarakat dan menjumpai sendiri memang ada arca Ganesa. 

“Sayang sekali waktu kami temukan pada 2001 memang sudah tidak utuh, ada bagian kepala yang hilang. Pada bagian sandarannya sebagian juga sudah hilang, tapi kami bisa mengidentifikasi sebagai Arca Ganesa, karena ada atribut-atribut ikonografisnya yang mencirikan bahwa ini adalah Arca Dewa Ganesa,”kata dia.rol

No comments: