Satu per Satu Syahid, Kisah Ulama Aceh Pemimpin Perlawanan terhadap Penjajah

Para ulama Aceh tampil sebagai motor utama perlawanan lewat perang sabil. Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil

 Kekejaman Penjajah, Bunuh Perempuan dan Anak-anak Aceh Umat Islam melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Foto: ANTARA FOTO/Akramul Muslim
Di tengah gempuran militer Belanda pada awal abad ke-20, para ulama Aceh tampil sebagai motor utama perlawanan lewat perang sabil. Satu demi satu mereka gugur syahid dalam pertempuran, namun semangat jihad melawan penjajah itu tidak pernah padam hingga lebih dari satu dekade kemudian.

Dalam periode awal abad ke-20, rakyat Aceh masih berperang melawan penjajahan yakni kolonial Belanda. Namun rakyat Aceh juga telah mulai berkenalan dengan unsur-unsur kebudayaan Barat, yaitu pendidikan modern yang mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Pada awal tahun 1900 perlawanan terhadap Belanda masih terus berlangsung, antara lain dipimpin oleh Sultan Muhammad Daud Syah, Teuku Panglima Polem Raja Daud, Teungku Di Matale, Teungku Di Barat (Pasai Aceh Utara), Tengku Cot Plieng, Teungku Alue Keutapang, Teungku Di Reubee, Tengku Di Beureueh, Teungku Di Lam Gut (Pidie), Teuku Ben Peukan Meureudu, Teungku Di Krueng Sinagen, Teuku Ben Blang Pidie, Habib Meulaboh, dan teungku-teungku dari Tiro seperti Teungku Chik Mayet dan Teungku Di Buket.

Walaupun Sultan Aceh Muhammad Daud Syah terpaksa menyerah pada bulan Januari 1903, namun peperangan melawan Belanda masih terus berlangsung. Teungku Cot Plieng beserta pengikutnya melakukan penyerangan secara terus-menerus terhadap Belanda.

Pun demikian di Aceh Utara, perang sabil terus berlanjut yang dipimpin oleh Teungku Di Barat dan Teungku Di Matale bersama-sama dengan pemimpin adat lainnya, yaitu Teungku Chik Di Tunong, Pang Nanggroe, dan Cut Meutia, dilansir dari buku Tokoh Agama Dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950 di Aceh karya Rusdi Sufi, Muhammad Nasir, dan Zulfan terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.

Perang melawan penjajah alias kolonial Belanda juga terjadi di Gayo Alas. Untuk menundukkan daerah tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengirimkan Letnan Kolonel Van Daalen untuk mengadakan hubungan politik dengan raja-raja di sana. Di daerah Gayo, Van Daalen mendapat perlawanan yang sengit.

Rakyat Gayo, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan anak-anak sekalipun, dengan gagah berani mempertahankan setiap jengkal tanah pusaka mereka dari gempuran serdadu Belanda.

Sementara, Van Daalen melaksanakan tugasnya dengan sangat kejam dan biadab. Ia tidak segan-segan membantai lawan-lawannya dalam setiap pertempuran. Hal ini dapat dilihat dari korban pembantaian yang dilakukannya pada pertempuran di Desa Kuto Reh, Likat, dan Kuto Lengat (di tanah Gayo). Dalam pertempuran ini, Van Daalen telah membunuh secara massal pejuang Aceh yang tidak hanya laki-laki, tetapi juga kaum perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa.

Dalam periode ini banyak ulama dan pejuang yang syahid. Para ulama terkemuka itu antara lain adalah Teungku Di Alue Keutapang, Teungku Kadli, Teungku Di Cot Cicem, Tengku Leman, dan para ulama lainnya.

Korban keganasan Belanda juga dialami oleh Sultan Aceh Muhammad Daud Syah. Ia dianggap telah melanggar janji kesetiaannya kepada Belanda karena turut membantu para ulama dalam melakukan perang sabil. Akibatnya, pada Desember 1907, Sultan Muhammad Daud Syah dibuang oleh Belanda ke Ambon.

Belanda memperkirakan bahwa dengan dibuangnya sultan, perlawanan para ulama dan pejuang lainnya secara berangsur-angsur akan reda dan takluk kepada Belanda. Namun perkiraan ini meleset. Bahkan rakyat Aceh masih melancarkan penyerangan secara sistematis, seperti yang terjadi di Lhokseumawe, Lhoksukon, Idi, dan Tapaktuan.

Menghadapi situasi seperti ini, gubernur militer Belanda Letnan Kolonel H.N.A. Swart, sejak ditugaskan di Aceh pada 10 Juni 1908, melakukan pengejaran secara besar-besaran terhadap para ulama yang memimpin peperangan. Pada September 1909, syahid Teungku Di Buket dan Teungku Chik Mayet, keduanya putra Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman.

Beberapa kekalahan lainnya di pihak Aceh adalah menyerahnya Teuku Banta dengan 106 pengikutnya (Juli 1908) dan Teuku Ben Blang Pidie dengan 160 pengikutnya (Juli 1908).

Selain itu, setahun kemudian banyak pula alim ulama yang gugur, antara lain Teungku Di Kunat (November 1909), Teungku Di Reubee (Desember 1909), Habib Ahmad (Mei 1910), Teungku Saleh, Teungku Kalipah, Teungku Ma'at (Maret 1911), dan Teungku Di Barat (Februari 1912). Selain itu, karena tekanan-tekanan yang dilakukan Belanda, menyerah pula Teungku Leman dari keluarga ulama Tiro (September 1910), Teungku Di Pidie di Aceh Barat, Keujruen Pameue (Maret 1911), Habib Musa, dan Teungku Mat Aceh (1913).

No comments: