Keadaan semakin memburuk setelah bangsa Tatar menguasai sejumlah kerajaan Islam, memecah belah umat, serta berupaya menghapus berbagai peninggalan peradaban, agama, dan ilmu pengetahuan Islam.
Namun, kehendak Allah yang berlaku atas segala sesuatu menghendaki agar umat ini mendapatkan pertolongan. Allah kemudian memberikan kekuatan dan kesempatan kepada bangsa Turki Ottoman untuk bangkit.
Puncak kejayaan tersebut terjadi pada masa Sultan Muhammad Al-Fatih, yang melalui tangannya Allah memberikan kemenangan dengan ditaklukkannya Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium, pada tahun 857 H/1453 M.
Penaklukan itu mengembalikan kewibawaan, kekuatan, kejayaan, dan kemuliaan umat Islam. Dinasti Ottoman kemudian tampil sebagai pemimpin dunia Islam.
Masyarakat Ottoman dikenal memiliki semangat yang tinggi, kecintaan terhadap jihad, kerinduan terhadap syahid di jalan Allah, fitrah yang masih terjaga, serta relatif jauh dari berbagai penyakit sosial yang telah menjangkiti sebagian bangsa lainnya.
Ditambah lagi dengan kepemimpinan yang memiliki orientasi keagamaan yang kuat. Para pemimpinnya mengarahkan rakyat menuju medan peperangan, menyebarkan Islam, serta berusaha menyingkirkan berbagai hambatan dari masyarakat yang wilayahnya berhasil ditaklukkan.
Dengan demikian, Islam dapat diperkenalkan kepada mereka dalam bentuk yang dianggap murni dan terbebas dari berbagai penyimpangan.
Islam kembali tampil sebagai kekuatan utama dalam kepemimpinan dunia. Negara Utsmani bahkan menguasai wilayah di tiga benua: Eropa, Afrika, dan Asia. Pasukan Utsmani terus bergerak jauh ke Eropa hingga mencapai tembok Kota Wina. Mereka juga menjadi penguasa Laut Mediterania tanpa tandingan yang berarti.
Dengan demikian, Dinasti Ottomann berhasil memadukan dua kekuatan sekaligus: kekuatan darat dan laut, serta dua bentuk kekuasaan: spiritual dan politik.
Namun, menurut catatan Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Sedunia, Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi, mengutip Abu Al-Hasan An-Nadwi dalam Mādzā Khasira al-‘Ālam bi Inhithāth al-Muslimīn, sayangnya, umat Islam Turki mulai mengalami kemunduran.
Penyakit yang sebelumnya menimpa bangsa-bangsa lain mulai menjangkiti mereka: kedengkian dan kebencian, kesewenang-wenangan serta kezaliman para penguasa, pengkhianatan para pejabat dan penipuan mereka terhadap umat, serta kecenderungan masyarakat untuk hidup dalam kenyamanan dan kemalasan.
“Yang paling buruk dari semua itu adalah stagnasi dalam ilmu pengetahuan, stagnasi dalam teknologi perang, dan kemunduran dalam pengorganisasian tentara.” (An-Nadwi, hlm 148)
Munculnya nasionalisme dan gerakan separatis
Seiring berjalannya waktu, identitas dan sentimen nasionalisme berbasis etnis mulai muncul dalam kehidupan politik negara Ottoman.
Pemberontakan pun meletus di wilayah Balkan. Berbagai organisasi nasionalis mulai dibentuk, baik secara rahasia maupun terbuka.
Pada saat yang sama, kecenderungan sekularisme mulai berkembang di tengah masyarakat. Menurut penulis, kelompok Yahudi dan Kristen turut berupaya memperkuat kecenderungan tersebut.
Kaum Yahudi, menurutnya, ingin melakukan pembalasan karena pemerintahan Utsmani melarang mereka menguasai Palestina.
Sementara kalangan Kristen disebut ingin membalas kegagalan Perang Salib dalam mencapai tujuannya ketika menghadapi perjuangan Imaduddin Zanki, Nuruddin Zanki, dan Salahuddin Al-Ayyubi.
Partai-partai sekuler, organisasi-organisasi rahasia, dan fanatisme nasionalisme perlahan menggerogoti tubuh negara Utsmani. Muncul kelompok-kelompok yang menyerukan nasionalisme Turki, Arab, Kurdi, dan berbagai identitas lainnya.
Pemberontakan mulai bermunculan di berbagai wilayah. Gerakan-gerakan separatis semakin banyak, sementara negara-negara Eropa memberikan dukungan kepada gerakan tersebut dan mulai menyusun berbagai rencana untuk membagi-bagi wilayah kekuasaan Ottoman yang saat itu mulai dijuluki sebagai “orang sakit” atau the sick man of Europe.
Pada masa itu, sebagian besar dunia Islam berada di bawah kekuasaan Dinasti Utsmani. Namun, negara tersebut telah kehilangan berbagai faktor yang sebelumnya mendorong kebangkitan.
Syarat-syarat yang diperlukan untuk mempertahankan kekuasaan dan kemajuan semakin diabaikan, sementara berbagai faktor pendukung kejayaan semakin ditinggalkan.
Dunia Islam pun semakin tertinggal dari perkembangan peradaban. Berbagai wilayah Muslim masuk ke dalam pusaran kemunduran, kegelapan, krisis yang menyeluruh, kebodohan, ketidakadilan, dan kemiskinan yang parah.
Pemberontakan kemudian muncul dengan berbagai latar belakang. Ada yang didorong oleh faktor ras dan nasionalisme, ada yang merupakan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan ketidakadilan, sementara sebagian lainnya dipicu oleh kebencian dan fanatisme.
Menurut penulis, kekuatan Yahudi dan gerakan Perang Salib berada di balik berbagai upaya untuk memecah belah dan melemahkan Kesultanan Utsmani. Akibatnya, persoalan yang dihadapi semakin banyak dan medan konflik semakin luas.
Pusat kekhalifahan pun menjadi semakin terpecah, lemah, mengalami kemunduran, dan kehilangan kekuatannya. Berbagai wilayah seperti Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Syam, dan Hijaz mengalami kemunduran yang sangat parah akibat kezaliman dan pemerintahan yang sewenang-wenang, meluasnya kebodohan, stagnasi ilmu pengetahuan, serta ketiadaan kepemimpinan yang kuat.
Pendudukan dan campur tangan negara-negara Eropa
Keruntuhan struktur negara Utsmani tersebut disertai berbagai peristiwa penting yang memberikan dampak besar terhadap umat Islam dalam hampir seluruh aspek kehidupan, baik pemikiran, agama, ilmu pengetahuan maupun politik.
A. Pendudukan Prancis atas Mesir
Pada 1798, Prancis menduduki Mesir dan bertahan hingga 1801. Setelah Prancis keluar, Muhammad Ali Pasha kemudian berhasil mengonsolidasikan kekuasaan dan memerintah Mesir pada periode 1805–1848.
Menurut penulis, Muhammad Ali Pasha menjadi salah satu persoalan besar bagi umat Islam. Negara-negara Eropa dan jaringan Freemasonry disebut berhasil mencapai sejumlah tujuan melalui kebijakan yang dijalankannya.
Di antara kebijakan tersebut adalah:
1. Menghancurkan negara Saudi pertama
Menurut penulis, negara Saudi pertama dipandang sebagai penghalang terhadap ambisi Inggris di kawasan Teluk Arab khususnya dan kawasan Timur Tengah secara umum
2. Membuka Mesir bagi berbagai lembaga yang dianggap berseberangan dengan Islam
Menurut penulis, berbagai lembaga dan institusi seperti organisasi Freemasonry, misi-misi misionaris, biara, gereja, serta sekolah-sekolah yang membawa pemikiran anti-Islam mulai memperoleh ruang untuk berkembang.
3. Memberikan kesempatan kepada perusahaan-perusahaan Eropa untuk menguasai perekonomian Mesir
4. Memberikan berbagai hak istimewa kepada orang-orang Eropa, sementara umat Islam tidak mendapatkan kesempatan yang sama
5. Membatasi gerakan Islam dan mempersempit ruang gerak ulama serta ahli fikih
Menurut penulis, umat Islam juga tidak diberikan ruang yang cukup untuk bersatu dan membangun kekuatan demi mencapai tujuan-tujuan mereka.
B. Pendudukan Prancis atas Aljazair
Pada 1830, Prancis menduduki Aljazair. Pemerintahan Utsmani gagal mencegah pendudukan tersebut.
Prancis kemudian berupaya menjadikan Aljazair sebagai bagian dari wilayahnya. Pengaruh Prancis selanjutnya meluas ke Tunisia pada 1881, kemudian merambah wilayah Sudan Barat.
C. Pendudukan Inggris di Aden
Pada 1839, Inggris menduduki Aden dan mulai memperluas pengaruh serta kekuasaannya ke berbagai negara di kawasan Teluk Arab dan sebagian wilayah Syam.
Pemerintah Ottoman berusaha menghentikan apa yang disebut penulis sebagai “kanker Perang Salib” yang telah menggerogoti tubuh umat Islam. Namun, upaya tersebut gagal.
Akibatnya, umat Islam menghadapi berbagai dampak yang menurut penulis muncul karena semakin jauhnya mereka dari syariat Allah.
Kemunduran sosial dan moral
Dari sisi sosial, kebodohan menyebar luas dan hampir merata di berbagai negeri Muslim. Keimanan melemah, semangat masyarakat merosot, dan perselisihan antarpenguasa terus berlangsung demi memperebutkan kenikmatan dunia.
Setiap kelompok sibuk dengan kepentingannya sendiri. Para gubernur dan pejabat pemerintahan Ottoman, kecuali mereka yang mendapat rahmat Allah, disebut lebih banyak berorientasi pada pengumpulan harta dan memperluas kepemilikan.
Ketidakadilan yang semakin meluas akhirnya turut mempercepat kemunduran negara Ottoman.
Stagnasi ilmu pengetahuan
Dari sisi ilmu pengetahuan, dunia Islam seolah memasuki malam yang panjang dan gelap.
Kebodohan menyebar di berbagai lapisan masyarakat, termasuk dalam bidang kebudayaan seperti sastra, ilmu pengetahuan, dan industri.
Dunia Islam, dari timur hingga barat, mengalami kekeringan intelektual dan semacam kelumpuhan pemikiran. Aktivitas intelektual, kreativitas, inovasi, dan ijtihad dalam bidang ilmu, agama, sastra, puisi, serta kebijaksanaan semakin melemah.
Umat Islam kemudian masuk ke dalam lorong taklid buta, sebuah lorong yang menurut penulis sangat gelap.
Universitas-universitas besar seperti Al-Azhar dan Az-Zaitunah lebih banyak memberikan perhatian kepada teks-teks klasik (matan) dan mengembangkan berbagai kitab syarah atas teks tersebut.
Seseorang yang dianggap telah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu pengetahuan adalah mereka yang mampu memahami isi kitab-kitab hasyiyah atau catatan penjelasan atas kitab-kitab sebelumnya.
Dunia Islam juga hidup dalam isolasi politik dan intelektual yang sangat kuat. Hubungannya dengan masyarakat dunia lainnya lebih sering berlangsung melalui konflik politik dan benturan militer.
Kehidupan intelektual pun mengalami stagnasi. Aktivitas ilmiah semakin terbatas pada pengulangan isi kitab dan ungkapan para ulama terdahulu. Bahkan, seseorang yang mampu memahami kitab-kitab tersebut sudah dianggap sebagai seorang ulama yang memiliki kemampuan tinggi.
Dalam Zu‘amā’ al-Ishlāh fi al-‘Ashr al-Hadīts, Ahmad Amin menggambarkan kondisi tersebut dengan mengatakan seiring berjalannya waktu, ilmu pengetahuan menjadi monopoli keluarga-keluarga tertentu. Para ulama berubah menjadi sebuah lapisan sosial dengan berbagai keistimewaan khusus. Mereka mengambil sikap keras terhadap setiap pembaruan dalam dunia pemikiran.
“Mereka bahkan menentang masuknya mesin cetak ke negara tersebut dan pencetakan buku-buku keagamaan Islam.” (Amin, hlm 6)
Problematika pendidikan
Para ulama pada masa itu merupakan pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran di negara tersebut.
Namun, menurut penulis, mereka tidak berhasil membangun sistem pendidikan di sekolah dan lembaga pendidikan yang mampu berkembang mengikuti tuntutan zaman.
Sejumlah pemikir kemudian mengkritik berbagai kelemahan sistem pendidikan. Muhammad Khalil Al-Muradi, misalnya, dalam Al-Ittijāhāt al-Fikriyyah ‘inda al-‘Arab fi ‘Ashr an-Nahdhah, menjadikan Al-Azhar sebagai salah satu contoh dan mengemukakan beberapa persoalan dalam sistem pendidikannya.
Di antaranya:
1. Penerimaan anak-anak dari keluarga terpandang dan kaya ke Al-Azhar, meskipun sebagian dari mereka tidak memiliki tingkat pendidikan atau kemampuan akademik yang memadai
2. Rendahnya kualitas sebagian tenaga pengajar
3. Penguasaan sejumlah mata pelajaran oleh beberapa pengajar tertentu. Mereka bahkan menunjuk orang lain untuk menggantikan tugas mengajar mereka dengan imbalan yang rendah
4. Terbatasnya materi pelajaran dan sempitnya ruang berpikir dalam proses pendidikan.
Tujuan pendidikan saat itu lebih banyak diarahkan pada penerimaan sejumlah pengetahuan yang terbatas. Sementara itu, upaya untuk melampaui pengetahuan tersebut atau bahkan sekadar mempertanyakan kebenarannya dapat menimbulkan kecurigaan dan perlawanan dari sebagian ulama.
Dalam kondisi tertentu, tindakan tersebut bahkan dapat berujung pada hukuman, dikeluarkan dari lembaga pendidikan, kehilangan sumber penghidupan, bahkan menghadapi pencemaran nama baik. (Muhammad Khalil Al-Muradi, dikutip dalam Al-Muhafazhah, hlm 14–15).
Itulah beberapa gambaran penting mengenai kehidupan intelektual dan ilmiah dunia Islam pada masa kemunduran Ottoman.rol
No comments:
Post a Comment