Penaklukkan Konstantinopel yang Diungkap Rasulullah SAW dan Dampaknya Terhadap Dunia

Jatuhnya Konstantinopel pintu masuknya Islam di Eropa.

Red: Nashih Nashrullah
Sultan Muhammad Al Fatih kala memimpin pasukannya membebaskan Konstantinopel (Istanbul).
Foto: google.com
Kaum Muslimin menanti selama lebih dari delapan abad hingga kabar gembira Nabi tentang penaklukan Konstantinopel akhirnya terwujud.

Penaklukan tersebut merupakan impian yang sangat berharga dan harapan yang begitu didambakan oleh para khalifah, pemimpin, dan penakluk sepanjang sejarah Islam yang gemilang.

Impian itu tidak pernah padam oleh berlalunya hari dan pergantian tahun. Ia tetap menjadi tujuan yang membara, membangkitkan keinginan besar dalam jiwa untuk mewujudkannya, agar orang yang berhasil menaklukkannya menjadi sosok yang mendapatkan pujian Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:

“Sungguh, Konstantinopel pasti akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut.”

Penaklukan Konstantinopel terjadi pada 21 Jumadal Ula 857 H / 29 Mei 1453 M. Barangkali hal yang menjadi ciri khusus pada tahun tersebut adalah pemilihan presiden Turki yang tahapan-tahapannya bertepatan dengan peringatan penaklukan besar tersebut.

Kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan, menurut penulis, akan menjadi—dengan izin Allah Ta‘ala—kemenangan baru bagi umat ini dalam sejarah modernnya.

Sebelum ditaklukkan, Konstantinopel merupakan penghalang besar bagi penyebaran Islam di Eropa.

Oleh karena itu, jatuhnya Konstantinopel berarti terbukanya jalan bagi Islam untuk memasuki Eropa dengan lebih kuat dan memberikan ruang yang lebih luas bagi orang-orang yang ingin memeluknya.

Penaklukan Konstantinopel dianggap sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah dunia, khususnya dalam sejarah Eropa dan hubungannya dengan Islam. 

Bahkan, para sejarawan Eropa dan orang-orang yang mengikuti pandangan mereka menjadikan peristiwa tersebut sebagai akhir Abad Pertengahan dan awal zaman modern (Tarikh ad-Dawlah al-‘Utsmaniyyah, Yilmaz Ozentona, 1988, hlm 384). Setelah penaklukan tersebut, Sultan kemudian mengatur berbagai urusan kota, membangun kembali dan memperkuat pertahanannya, serta menjadikannya sebagai ibu kota Kesultanan Utsmaniyah. Kota itu kemudian diberi nama Islam Bol, yang berarti “Kota Islam” (Farid Bek, Tarikh ad-Dawlah al-‘Aliyyah al-‘Utsmaniyyah, 1988, hlm 164).


Kabar mengenai penaklukan tersebut memberikan pengaruh besar di Barat. Kaum Nasrani diliputi perasaan takut, sedih, dan malu. Mereka membayangkan bahaya yang datang dari pasukan Islam yang berpusat di Istanbul.

Para penyair dan sastrawan mengerahkan segala kemampuan mereka untuk menyulut kebencian dan kemarahan dalam diri kaum Nasrani terhadap kaum Muslimin.

Para pangeran dan raja mengadakan pertemuan-pertemuan yang panjang dan berulang. Kaum Nasrani menyerukan agar berbagai perselisihan dan permusuhan di antara mereka dikesampingkan.

Paus Nikolas V merupakan salah satu orang yang paling terpukul oleh berita jatuhnya Konstantinopel.

Ia mengerahkan seluruh kemampuannya dan menghabiskan waktunya untuk menyatukan negara-negara Italia serta mendorong mereka memerangi kaum Muslimin.

Ia memimpin sebuah konferensi yang diselenggarakan di Roma. Dalam konferensi tersebut, negara-negara yang berpartisipasi menyatakan tekad mereka untuk bekerja sama dan mengerahkan seluruh usaha serta kekuatan mereka menghadapi musuh bersama.

Aliansi tersebut hampir berhasil diwujudkan. Namun, kematian lebih dahulu menjemput sang paus akibat guncangan hebat yang ditimbulkan oleh jatuhnya Konstantinopel ke tangan Ottoman.

Peristiwa tersebut menyebabkan kesedihan dan duka yang mendalam dalam dirinya hingga akhirnya ia meninggal dunia dalam keadaan sangat berduka pada 25 Maret 1455 M (Fahmi, as-Sulthan Muhammad al-Fatih, Fatih al-Qustanthiniyyah wa Qahir ar-Rum 1987, hlm 137).

Tiga menu sehat untuk pengobatan di era Ottoman - (republika)
Pangeran Philippe yang Baik, Adipati Bourgogne, juga bersemangat dan mengobarkan tekad untuk mengajak para raja Nasrani memerangi kaum Muslimin.

Para baron, kesatria, orang-orang yang bersemangat, serta kelompok-kelompok fanatik terhadap agama Nasrani mengikuti langkahnya.

Gagasan memerangi kaum Muslimin kemudian berubah menjadi semacam keyakinan suci yang mendorong mereka untuk menyerang negeri-negeri Muslim. Kepausan di Roma mengambil peran utama dalam perang kaum Nasrani melawan kaum Muslimin.

Sementara itu, Sultan Muhammad al-Fatih senantiasa mengawasi setiap gerakan kaum Nasrani. Ia menyusun berbagai strategi dan melaksanakan apa yang dipandangnya tepat untuk memperkuat negaranya dan menghancurkan musuh-musuhnya.

Kaum Nasrani yang bertetangga dengan Sultan Muhammad atau yang berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaannya di Amasya, Morea, Trabzon, dan wilayah lainnya terpaksa menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya.

Mereka bahkan berpura-pura bergembira dan mengirim delegasi kepada Sultan di Edirne untuk mengucapkan selamat atas kemenangan besarnya (Fahmi, 1987, hlm 140).

Paus Pius II kemudian mengerahkan seluruh kemampuan retorika dan kecakapan politiknya untuk mengobarkan semangat perang salib dalam diri masyarakat, raja-raja, para pemimpin, dan tentara Nasrani.

Sejumlah negara bersiap mewujudkan gagasan sang paus yang bertujuan menghancurkan Kesultanan Ottoman.

Namun, ketika tiba waktunya untuk melakukan mobilisasi, negara-negara Eropa memberikan berbagai alasan karena menghadapi persoalan internal. Perang Seratus Tahun telah melemahkan Inggris dan Prancis.

Inggris juga sedang sibuk dengan persoalan konstitusional dan perang saudara. Sementara itu, Spanyol tengah disibukkan dengan upayanya mengalahkan kaum Muslimin di Andalusia.

Adapun republik-republik Italia, karena kepentingan mereka sendiri, justru berusaha mempertahankan hubungan dengan Kesultanan Ottoman.

Mereka terpaksa menjalin hubungan tersebut karena kepentingan ekonomi dan kecintaan mereka terhadap keuntungan. Oleh sebab itu, mereka memberikan perhatian besar terhadap hubungan mereka dengan Kesultanan Ottoman.

Proyek ekspedisi Perang Salib tersebut akhirnya berakhir setelah pemimpinnya, sang paus, meninggal dunia. Setelah itu, hanya Hungaria dan Venesia yang menghadapi Kesultanan Ottoman.

Venesia kemudian membuat perjanjian persahabatan dan hidup berdampingan secara baik dengan Ottoman demi menjaga kepentingan mereka. Sementara itu, Hungaria mengalami kekalahan di hadapan pasukan Utsmaniyah.

Pasukan Ottoman berhasil memasukkan Serbia, Yunani, Wallachia, Krimea, serta pulau-pulau utama di Kepulauan Aegea ke dalam wilayah kekuasaannya.

Istana Topkapi, Turki. - ()
Semua itu terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Sultan al-Fatih menyerbu mereka, memecah kekuatan mereka, dan memberikan kekalahan besar kepada mereka.

Paus Pius II kemudian berusaha dengan segala kecakapan dan kemampuan politiknya memusatkan upayanya pada dua hal. Pertama, ia berusaha meyakinkan bangsa Turki agar memeluk agama Nasrani.

Untuk tujuan tersebut, ia tidak mengirim misi-misi penginjilan, tetapi hanya mengirim surat kepada Sultan Muhammad al-Fatih.

Dalam surat tersebut, ia meminta Sultan untuk mendukung agama Nasrani sebagaimana dahulu Konstantinus dan Clovis mendukungnya.

Ia bahkan menjanjikan kepada Sultan bahwa dosa-dosanya akan diampuni jika ia memeluk agama Nasrani dengan tulus. Ia juga menjanjikan akan memberikan berkat, perlindungan, dan sebuah surat yang menjamin masuk surga.

Ketika rencana tersebut gagal, sang paus beralih kepada rencana kedua, yaitu ancaman, intimidasi, dan penggunaan kekuatan.

Namun, hasil dari rencana kedua tersebut telah mulai menunjukkan kegagalannya sejak kekalahan pasukan Salib dan berakhirnya ekspedisi yang dipimpin oleh Hunyadi dari Hungaria (Fahmi, as-Sulthan Muhammad al-Fatih, Fatih al-Qustanthiniyyah wa Qahir ar-Rum, 1987, hlm 141).

Dunia Islam

Adapun mengenai dampak penaklukan besar ini terhadap dunia Islam di Timur, dapat dikatakan bahwa kegembiraan dan suka cita meliputi kaum Muslimin di berbagai penjuru Asia dan Afrika.

Penaklukan tersebut merupakan impian para leluhur dan harapan berbagai generasi. Mereka telah lama menantikannya, dan kini impian tersebut akhirnya terwujud.

konstantinopel - (gatesofiana)
Sultan Muhammad al-Fatih mengirim surat kepada para penguasa negeri-negeri Islam di Mesir, Hijaz, Persia, India, dan wilayah lainnya untuk memberitahukan kepada mereka tentang kemenangan besar Islam tersebut.

Berita kemenangan juga diumumkan dari atas mimbar-mimbar. Salat syukur dilaksanakan.

Rumah-rumah dan toko-toko dihias, sementara bendera dan kain-kain berwarna-warni digantung di dinding dan tembok sebagai ungkapan kegembiraan.

Ibnu Iyas, penulis kitab Bada’i‘ az-Zuhur, menggambarkan peristiwa tersebut sebagai berikut:

“Ketika berita itu sampai dan utusan al-Fatih tiba, tanda-tanda kegembiraan diumumkan dari benteng. Di Kairo kemudian diumumkan agar kota dihiasi. Setelah itu, Sultan menunjuk Barsbay, Amir Akhur Tsani, sebagai utusan kepada Ibn Utsman untuk mengucapkan selamat kepadanya atas penaklukan tersebut.”(Fahmi, as-Sulthan Muhammad al-Fatih, Fatih al-Qustanthiniyyah wa Qahir ar-Rum, 1987, hlm 142).

Sejarawan Abu al-Mahasin Ibn Taghri Bardi menggambarkan perasaan masyarakat dan keadaan mereka di Kairo ketika utusan al-Fatih tiba membawa hadiah serta dua orang tawanan dari kalangan pembesar Romawi. Ia berkata:

“Aku berkata: Segala puji dan syukur bagi Allah atas penaklukan yang agung ini. Utusan tersebut datang dengan membawa dua orang tawanan dari kalangan pembesar Istanbul. Keduanya kemudian dibawa menghadap Sultan (Sultan Mesir Inal).

Mereka berasal dari Konstantinopel, kota yang memiliki gereja besar di Istanbul. Sultan dan seluruh masyarakat bergembira atas penaklukan besar ini. Tanda-tanda kegembiraan dibunyikan, dan Kairo dihiasi selama beberapa hari karena peristiwa tersebut.

Kemudian utusan itu datang kembali dengan dua tawanan tersebut di hadapannya menuju benteng pada hari Senin, tanggal 25 Syawal, setelah ia dan rombongannya melewati jalan-jalan Kairo. Masyarakat menghiasi toko-toko dan berbagai tempat dengan sangat meriah. Sultan kemudian mengadakan perjamuan di halaman istana Kesultanan di Benteng Jabal ...” (Ibn Taghri Bardi, an-Nujum az-Zahirah, 1971, 16/71).

Apa yang digambarkan oleh Ibn Taghri Bardi mengenai perayaan dan kegembiraan masyarakat Kairo atas penaklukan Konstantinopel hanyalah salah satu gambaran dari berbagai perayaan serupa yang berlangsung di negeri-negeri Islam lainnya.

Sultan Muhammad al-Fatih mengirim surat-surat tentang penaklukan tersebut kepada Sultan Mesir, Syah Persia, Syarif Makkah, dan Amir Karaman.

Ia juga mengirim surat serupa kepada para penguasa Kristen yang bertetangga dengannya di Morea, Wallachia, Hungaria, Bosnia, Serbia, dan Albania, serta kepada seluruh penjuru wilayah kerajaannya.

Perayaan besar atas penaklukan Konstantinopel tersebut—meskipun terpaut waktu yang sangat jauh—menurut penulis memiliki kemiripan yang cukup besar dengan perayaan kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan dalam berbagai pemilu di Turki.

Barangkali hal tersebut pada dasarnya bersumber dari solidaritas yang meliputi setiap negeri Muslim, baik dalam keadaan suka maupun duka.rol

No comments: