Teladan Pahlawan Ningrat Membela Bumi Banjar

Ketika kehidupan damai diusik kedatangan tamu-tamu yang tak dikehendaki, ketika rasa aman dirampas oleh musuh bernama penjajah, ketika hak milik rakyat diganyang oleh manusia licik, culas, dan bernafsu binatang, ketika  pribumi sebagai pemilik sah nusantara dibelenggu dan dipersulit kehidupannya, maka melawan adalah jalan  mulia untuk mengindahkan keadaan. Keegoisan dan kebrutalan Belanda telah membuat nusantara babak belur, termasuk kesultanan Banjar yang kala itu semakin terpuruk oleh ulah Bengal sang penjajah. Seorang pahlawan dari Kalimantan Selatan bernama Pangeran Antasari (1767-1862 H) terpanggil untuk membela Bumi Banjar dari belenggu penjajahan. Kala itu beliau menjabat sebagai Sultan Banjar ke-21 yang diberi gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, beliau diberi wewenang sebagai kepala pemerintahan, panglima perang, dan pemuka agama tertinggi.  Beliau merupakan salah satu pahlawan nasional yang tidak berhasil di tangkap apalagi dibunuh oleh Belanda.  Sebagai sosok ningrat di Kesultanan Banjar, beliau mewariskan banyak teladan-teladan berharga yang telah beliau buktikan untuk membela bumi Banjar.  Teladan tersebut diantaranya :
Pertama.  Merakyat dan Rela Berkorban. Sebagai pemimpin dari kalangan istana, beliau justru lebih memilih hidup sederhana di luar istana dan bergaul langsung dengan rakyatnya, dibandingkan hidup serba glamor dan berleha-leha di dalam istana seperti kebanyakan keluarga kerajaan maupun pejabat-pejabat saat ini pada umumnya.  Hal tersebut menjadikan beliau mengerti keadaan rakyatnya dan tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong mereka, kondisi ini membuat sosok beliau sangat dicintai dan disegani rakyatnya.  Beliau menafkahkan harta,mendahulukan kepentingan rakyat, termasuk meninggalkan kehidupan nyaman istana, semata-mata untuk hidup dan memimpin rakyatnya melawan Agresor Belanda, jiwa rela berkorban yang beliau pertontonkan begitu mempesona dan membuat sosok beliau istimewa baik di mata kawan maupun lawan.
Kedua. Ta’at beragama. Sebagai pemimpin beliau menganggap penting perkara agama baik dalam aspek individu, keluarga, maupun hubungan sosial kemasyarakatan, beliau memahami bahwa perkara agama bukan sebatas symbol maupun ritual-ritual sempit yang tidak memberikan solusi pada permasalahan rakyat.  Ketika Belanda menjajah, beliau menyemangati dan menyatukan rakyat Banjar untuk berjuang melawan Belanda dengan seruan yang terkenal “Hidup Untuk Allah, Mati Untuk Allah”, seruan tersebut merupakan cerminan betapa motivasi perlawanan Pangeran Antasari dan rakyat Banjar terhadap penjajah Belanda adalah motivasi yang tidak semata-mata sekedar mengusir penjajah saja atau meraih kemenangan saja, tapi lebih dari itu, motivasi utama perjuangan beliau adalah meraih ridho Allah SWT.  Sebuah cita-cita mulia bagi seorang muslim yang ta’at.
Ketiga. Pantang Menyerah. Hal tersebut tercermin dari begitu dahsyatnya perlawanan yang ditunjukan oleh beliau dan rakyat Banjar, walaupun secara kemampuan perang dan kecanggihan senjata kalah jauh dibanding Belanda, namun semangat untuk melawan penjajah, persatuan yang solid, dan sikap pantang menyerah  membuat Belanda ketar-ketir meladeni perlawanan tersebut.  Bahkan ketika sakit paru-paru dan cacar menyerang beliau, beliau tetap tak sudi bumi Kalimantan di jajah dan di jarah Belanda, beliau tetap berusaha memimpin pasukan melawan Belanda hingga titik darah penghabisan.
Keempat.  Berpendirian Tegas Dan Tidak Mempan Bujuk Rayu.  Untuk melemahkan perlawanan Pangeran Antasari dan pasukannya, Belanda menawarkan perjanjian damai, namun perjanjian tersebut ditolak mentah-mentah oleh beliau.  Pangeran Antasari sangat memahami bagaimana karakter dan watak penjajah Belanda sebagai penipu culas kelas wahid, beliau memahami bahwa perjanjian damai itu adalah jebakan, beliau meyakini bahwa bahasa yang pantas untuk menghadapi penjajah Belanda adalah bahasa perang bukan perundingan damai.  Tak hanya itu,  Belanda juga meminta Pangeran Antasari untuk menyerah, namun hal tersebut tidak beliau gubris. Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun beliau tetap pada pendirinnya bahwa Belanda harus pergi dan kemerdekaan bumi Banjar adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar.  Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861.
“…dengan tegas kami terangkan kepada tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut hak pusaka (kemerdekaan)…”
Kelima.  Berani, Cerdik dan Ahli Strategi. Sebagai pemimpin sekaligus panglima perang, keberanian dan kecerdikan sangat diperlukan untuk melawan penjajah, dalam jumlah, peralatan dan kemampuan militer yang tidak berimbang Pangeran Antasari mampu menggentarkan Belanda dengan strategi perang  gerilya, bahkan dalam perang Banjar pada tanggal 25 April 1859 dengan 300 orang pasukan beliau berani menyerang Markas Belanda di Desa Pengaron, hal itu membuat Belanda cukup kewalahan.  Setelah peristiwa itu beliau mengomandoi rakyat Banjar untuk menyerang pos-pos Belanda di beberapa tempat seperti Hulu Sungai, Riam Kanan, Tabalong, Tanah Laut, dan Puruk Cahu.  Keadaan alam Kalimantan berupa hutan belantara, aliran sungai besar dan berliku betul-betul dimanfa’atkan Pangeran Antasari untuk menggungguli Belanda dalam strategi perang, hal itu menyebabkan Belanda kesulitan menangkap apalagi membunuh beliau.
Pada usia 75 tahun akibat penyakit paru-paru dan cacar yang dideritanya beliau menghembuskan nafas terakhir.  Rakyat Banjar berduka, sosok pejuang mereka gugur sebagai syuhada.  Namun teladan yang dicontohkan beliau menjadi warisan berharga bagi rakyat Banjar dan bangsa ini dalam rangka membela nusantara yang mulai carut-marut oleh ulah penjajah yang kini  hadir dalam wujud baru (penjajahan ekonomi, politik, budaya, dll).  Untuk mengenang  jasa beliau rakyat Banjar menyebut bumi Kalimantan selatan sebagai Bumi Antasari dan oleh Pemerintah Indonesia beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional dengan surat keputusan Presiden RI.  No. 06/TK/1968.  Sebagai bentuk penghargaan pula, Pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia mencetak uang lembaran Rp 2.000 dengan menampilkan gambar pangeran Antasari yang terlihat gagah dan berwibawa di salah satu sisinya.  Semoga dengan mengenak sosok Pangeran Antasari bisa menumbuhkan semangat kuat untuk melakukan sikap teladan yang telah beliau contohkan.  Semoga kelak lahir Antasari-Antasari lain yang tak kalah hebatnya membela bumi Banjar pada khusunya, membela Nusantara pada umumnya. Terima Kasih Pahlawanku

No comments: