Serat Centini [3]
2. Sunan Giri
Nyai Samboja yang di Gresik
dikenal dengan nama Nyai Randha Sugih, sejak merawat bayi yang ditemukan
di tengah laut Banyuwangi itu, usahanya menjadi lancar dan semakin
meningkat. Nyai Randha Sugih orangnya
suka bersodaqoh, sehingga penduduk Gresik sangat hormat pada Nyai
Samboja, dan selalu membantu jika tenaganya dibutuhkan.
Jaka Samodra, kini sudah berusia
12 tahun, kemudian untuk menambah pengetahuan tentang agama Islam,
ibunya menyuruh belajar ke pondok pesantren Sunan Ampel di Surabaya.
Karena Jaka Samodra sangat cerdas, maka seluruh ilmu yang diberikan
oleh Sunan Ampel dapat diterima dengan baik.
Disana Jaka Samodra berteman
dengan putra Sunan Ampèl yang sering dipanggil dengan Santri Bonang.
Usia kedua anak itu tidak selisih jauh. Setelah beranjak dewasa Jaka
Samodra diganti namanya oleh Sunan Ampel dengan sebutan Santri Giri.
Kedua pemuda Santri Giri dan
Santri Bonang bertekad untuk mencari ilmu syari’at rasul, dan ilmu
hadist dan tafsir Qur’an. Kedua Santri itu meninggalkan Ngampèlgadhing
dengan tujuan Mekah, dengan naik perahu.
Perjalanan kedua santri itu
tidak diceritakan, tetapi terdampar di kerajaan Pasai [ Malaka], dan
bertemu dengan Sèkh Wali Lanang [ Maulana Ishaq]. Sudah satu tahun
lebih, keduanya berguru pada Sèkh Wali Sidik, kemudian Santri Giri lan
Santri Bonang akan melanjutkan perjalanannya ke Mekah, tetapi oleh
Maulana Ishaq dicegah, agar kembali saja ke Jawa.
***
Sunan Ngampèl merasa gembira
karena kedua santri Giri dan Bonang mendapatkan bimbingan langsung dari
Sekh Maulana Ishaq. Kemudian santri Giri setelah menerima wejangan dari
Sunan Ampèlgadhing diijinkan pulang ke Gresik dan mendirikan pesantren
di desa Giri. Dan berpesan pada santri Giri, kelak jika sunan Ampel
meninggal, agar dimakamkan dekat dengan Ki Samboja. Disamping itu santri
Giri berhak menyandang gelar dengan sebutan Prabu Setmata.
Pada mulanya santri Giri tidk
mau menerima sebutan gelar tersebut, karena menggunakan istilah Prabu,
nanti dikira menyamai kedudukan Raja Majapahit Prabu Brawijaya.
Kemudian sunan Ampel menjelaskan bahwa meskipun menggunakan nama gelar
Prabu, tetapi tidak menguasai wilayah atau memerintah rakyat, itu hanya
nama gelar di pesantren saja. Dan akhirnya santri Giri mau menerima
gelar tersebut. Setelah memberikan penghormatan, santri Giri minta diri
dan meninggalkan Surabaya.
Syahdan, pada saat itu Nyai
Randha Sugih atau Nyai Samboja, sedang menderita sakit yang cukup parah,
para tetangga dan sahabat-sahabatnya datang ziarah. Beberapa orang
diutus untuk menjemput santri Giri di Surabaya. Di tengah perjalanan
bertemu dengan santri Giri, kemudian segera bergegas pulang, setelah
diberitahu tentang keberadaan nyai Samboja.
Nyai Samboja terkejut dan juga
merasa senang ketika putranya telah datang, santri Giri dirangkul
diciumi, dan nyai Samboja menangis karena gembira melihat putranya
asuhnya.
“ anakku Jaka Samodra, ibu sangat merindukanmu nak, kenapa lama sekali tidak memberi kabar pada ibu?”
“ maaf ibu, Samodra, setelah
berguru pada kanjeng Sunan Ampel, terus berkelana sampai ke negeri
Pasai, dan setelah mendapatkan wejangan dari Sekh Maulana Ishaq dan
Sunan Ampel, saya disuruh pulang ke Giri dan agar mendirikan Pondok
Pesantren di Giri!”
Nyai Samboja menatap wajah
anaknya, nampak kilatan aura yang tidak dimiliki oleh manuisa awam, dan
nyai Samboja tersenyum bangga, dalam hatinya berkata’ anak ini akan
menjadi orang terkenal nantinya.”
Santri Giri kemudian
menceritakan kisah pengalamannya selama berguru pada Sunan Ampel dan
bertemu dengan Sekh Maulana Ishaq, dan wejangan terakhir dari Sunan
Ampel.
Kemudian pesannya Nyai Samboja
pada santri Giri “ anakku kalau kehendakmu akan mendirikan pondok
pesantren, ya ibu mendukung niatmu, panggillah para sudagar sahabatku, ,
nak!”
Para sudagar dan sahabat nyai
Samboja telah berkumpul, dengan suara lirih nyai Samboja berkata”
Anakku, talqinlah aku membaca dua kalimah syahadat!”
Santri Giri kemudian membaca dua
kalimah syahadat dan ditirukan oleh nyai Samboja, kini hati nyai
Samboja menjadi terang, dan semakin tenteram.
“anakku, gunakanlah seluruh
hartaku ini untuk mendirikan pondok pesantrenmu, juga para sahabatku,
tolong bantu ankkaku untuk menyelesaikan hajatnya !”
Semua yang mendengarkan wasiyat nyai Samboja, terdiam sambil menundukkan kepala, tanda mengiyakan perintahnya.
‘ pesan terakhirku, anakku, hajikanlah ibumu ke Mekah!”
Santtri Giri menganggukkan
kepalanya, dan nyai Samboja telah kembali ke pangkuan sang Khaliq.
Kemudian setelah jenazahnya dirawat dengan baik, dimakamkan di sebelah
Kyai Samboja.
Warga desa Giri sejak saat itu
berikrar melakukan syari’at rasul melaksanakan ibadah menurut sarak,
mengaji al qur’an, dan bergotong royong mendirikan masjid. Di halaman
belakang masjid kemudian dibangun sebuah panggrok sebagai tempat
pesantren.
Santri Giri dinikahkan dengan
nyi Ageng Ratu, putrinya Sunan Ampeldenta. Beberapa tahun kemudian Sunan
Ampel meningggal dunia, dan sesuai wasiyatnya dimakamkan di Gresik
dekat dedkan ki Samboja.
Setelah pernikahan itu santri
Giri yang kemudian bergelar Prabu Setmata, pesantrennya menjadi semakin
ramai, para santrinya datang dari berbagai daerah. Nama Sunan Giri
semakin dikenal di tanah Jawa.
Sunan berputra delapan orang dari Nyai Ageng Ratu, masing-masing bernama:
1] Ratu Gedhé ing kukusan
2] Sunan Dalem
3] Sunan Tegalwangi
4] Nyai Ageng Saluluhur
5] Sunan Kidul
6] Ratu Gedhé Saworasa,
7] Sunan Kulon
8] Sunan Waruju.
Dan dua orang dari selir yaitu;
1] Pangéran Pasirbata
2] Siti Rohayah. Sastra Diguna




No comments:
Post a Comment