Sejarah Suku Jambak di Minangkabau (2)
Kebiasaan orang Tiongkok yang melakukan
pengembaraan dengan sistem ekspansi itu terjadi di Koto Tuo, kelompok
yang mengembara tersebut dikenal dengan turunan suku Campa, mereka
datang dengan seorang pimpinan raja perempuan yang bernama Hera Mong
Campa. Satu riwayat mengatakan Hera Mong Campa datang dari Mongolia,
pendapat lain mengatakan dari Siam (Thailand) atau Champa
(Kamboja&Vietnam). Mereka datang dengan berpakaian serba merah
dengan umbul-umbul yang berlambang harimau dan ini juga cikal bakal
lambang Kabupaten Agam dengan harimaunya serta sirah benderanya.
Hera Mong Campa adalah sosok yang sangat
kejam dan sangat konsisten dengan aturan, bahkan dia pernah membunuh
sendiri anak laki-lakinya karena melanggar aturan dalam suku mereka.
Kekejaman suku Hera Mong Campa ini akhirnya melegenda sampai saat ini,
hal tersebut dapat kita dengar ketika orang-orang tua memarahi anaknya
dengan lost control sering melontarkan kata-kata “dicabiak Harimau Campo
lah ang baa”. Artinya keganasan Hera Mong Campa akhirnya menjelma
dengan sebutan Harimau Campo.
Orang Tiongkok pada waktu itu mempunyai
kebiasaan berperang, kedatangan mereka di ranah Koto Tuo pun dilakukan
dengan peperangan. Dari perjalanan panjang suku Campa di tanah Agam
akhirnya membuahkan hasil dengan menyingkirnya penduduk yang mendiami
Koto Tuo sebelumnya dan mereka hidup berkembang diwilayah tersebut
sampai menyebar kebeberapa daerah diMinangkabau.
Sebahagian pendapat mengatakan penduduk yang
mendiami Koto Tuo sebelum bangsa Tiongkok datang diperbolehkan tinggal
didaerah asal mereka dengan sarat mengikuti aturan-aturan orang Campa
dan sebahagian pindah ke daerah Kayu Tanam Pariaman dan kelompok ini
yang berkembang menjadi Suku Sikumbang di Pariaman sampai ke wilayah
Pesisir Selatan. Artinya Suku Sikumbang bukan bahagian dari Suku Bodi
Caniago Maupun Koto Piliang hanya saja sama-sama kaum yang datang dari
daerah yang sama yaitu Turkestan.
Jauh sebelum dikenalnya nama Minangkabau,
kehadiran suku Campa sudah menyebar diwilayah Agam setelah mereka
mengalahkan para pengembara Turkestan, menurut satu cerita keberadaan
suku Campa di Tanah Agam terjadi sebelum pindahnya kaum Koto Piliang ke
Luhak Limo Puluah Koto, itu makanya tanah Agam dikenal sebagai Luak Nan
Tangah.
Karena proses panjang eksistensi pengikut
Hera Mong Campa di tanah Agam, terjadilah perubahan sebutan dari suku
campa menjadi suku Jambak, sama halnya dengan kisah Payokumbuah yang
konon berasal dari kata Payau Kumuah.
Pemekaran wilayah pertama oleh suku Jambak
adalah ke daerah Panampuang (salah satu nagari di Kecamatan Ampek
Angkek) dan setelah itu menyebar sampai keseluruh wilayah lainnya. Saya
pernah menemui ada sekelompok masyarakat dengan mayoritas suku jambak di
Pasaman dan di Lubuak Aluang Pariaman, bahkan sampai ke daerah
Bangkinang serta Taluak Kuantan.
Kebiasaan suku jambak diantaranya adalah:
1. Mereka suka hidup berkelompok sesama orang Jambak.
2. Apabila melakukan kegiatan manaruko atau membuka lahan baru, maka wilyah tersebut diberi nama sesuai dengan nama suku mereka, tidak heran kalau disetiap wilayah yang ada di Sumatera Barat ada kampuang dengan sebutan Kampuang Jambak.
3. Secara genetic mereka pada saat usia lanjut mengidap penyakit tuli.
4. Dalam masyarakat suku ini lebih banyak menurut dan lebih banyak diam artinya tidak suka neko-neko.
5. Hal yang diluar nalar kita adalah apabila melakukan pesta sering datang hujan, konon cerita ini adalah persumpahan Hera Mong Campa ketika kemarau panjang yang melanda daerah mereka. Sehingga memohon pada Tuhan agar diturunkan hujan pada saat butuh hujan dan kebetulan waktu itu mereka sangat butuh hujan karena akan melaksanakan pesta.
2. Apabila melakukan kegiatan manaruko atau membuka lahan baru, maka wilyah tersebut diberi nama sesuai dengan nama suku mereka, tidak heran kalau disetiap wilayah yang ada di Sumatera Barat ada kampuang dengan sebutan Kampuang Jambak.
3. Secara genetic mereka pada saat usia lanjut mengidap penyakit tuli.
4. Dalam masyarakat suku ini lebih banyak menurut dan lebih banyak diam artinya tidak suka neko-neko.
5. Hal yang diluar nalar kita adalah apabila melakukan pesta sering datang hujan, konon cerita ini adalah persumpahan Hera Mong Campa ketika kemarau panjang yang melanda daerah mereka. Sehingga memohon pada Tuhan agar diturunkan hujan pada saat butuh hujan dan kebetulan waktu itu mereka sangat butuh hujan karena akan melaksanakan pesta.
Berkembangnya suku Jambak juga sama sepeti
suku-suku yang berkembang di Luhak Tanah Data, suku Jambak juga
berkembang menjadi beberapa bahagian. Menurut pendapat yang paling kuat
adalah suku Jambak berkembang menjadi empat suku sekalipun ada yang
berpendapat suku Jambak berkembang menjadi tujuh suku, ini juga
disitilahkan dengan Jambak Tujuah Janjang, akan tetapi yang baru saya
temui turunan suku Jambak baru empat nama lain. Salah satu suku Jambak
yang berkembang adalah: Suku Salo, Suku Kutianyia, Suku Harau, Suku
Patopang. (Habis)
Arya S




No comments:
Post a Comment