Indonesia Menjadi Bagian Khilafah?
Medali Dari Khalifah Ustmani Untuk Sultan Jambi
Sumber photo: http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/09/medali-khalifah-1-450.jpg
Sumber photo: http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/09/medali-khalifah-1-450.jpg
Apakah Indonesia atau dahulu dikenal dengan Nusantara pernah menjadi bagian Negara Khilafah?
Atas pertanyaan tersebut Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar memberikan jawaban bahwa ada empat lapis negara di seputar Khilafah waktu itu (Saat Khilafah masih berdiri tegak hingga tahun 1924).
Lapis pertama adalah negara inti, yaitu yang wilayahnya dibuka (ditaklukkan) dengan futuhat (jihad), lalu para gubernurnya langsung ditunjuk oleh Khalifah, termasuk pertahanan dan keuangannya langsung dibawah perintah Khalifah. Ini mirip provinsi di UK (Inggris), atau negara bagian USA saat ini.
Lapis kedua adalah negara “territories“, yaitu yang penguasanya atas kemauan sendiri tunduk dan menjadi Negara bagian Khilafah (integrasi), tanpa futuhat jihad. Biasanya, para Sultan ini baru merasa puas jika kedudukan mereka diakui Khalifah, misalnya dengan pengukuhan gelar “Sultan” oleh wakil Khalifah di Makkah, sewaktu mereka menunaikan ibadah haji. Ini yang dialami sultan-sultan di nusantara. Kondisi ini mirip Bahamas dengan UK atau Puerto Rico dengan USA pada saat ini.
Lapis ketiga adalah negara “vassal“, artinya Negara boneka (Daarul Musta’minin). Ini adalah negara- negara yang karena takut atau ada kepentingan, kemudian minta perlindungan di bawah Khilafah. Khilafah kemudian datang ke sana beserta tentara, perundangan dan peradilannya. Dulu negara-negara seperti Hungaria atau Yunani pernah berstatus seperti ini. Situasinya mirip dengan Irak atau Aghanistan terhadap USA saat ini.
Lapis keempat adalah negara “alliance“, artinya negara sekutu (Daarul Mu’ahidiin). Ini adalah negara-negara merdeka, namun bersekutu dengan Khilafah untuk tujuan yang lebih besar. Negara sekutu ini ada yang muslim maupun tidak.
Khilafah dulu tidak selamanya utuh satu negara. Kadang ada provinsi yang lepas, merdeka, tetapi kemudian menjadi sekutu” ketika Islam berhadapan dengan negara kafir harbi. Situasinya seperti negara-negara di dalam Uni Eropa saat ini, atau seperti Singapura terhadap USA.
Analisis bahwa kesultanan Islam di Nusantara sebenarnya sudah memiliki hubungan erat dengan Khilafah, semakin terbukti dengan tersimpannya benda-benda peninggalan di Museum Negeri Jambi diantaranya yaitu sebuah medali emas yang dipersembahkan oleh Khalifah Ustmani di Turki kepada utusan Sultan Thaha Syaifuddin yang datang meminta pertolongan Khalifah untuk melawan penjajahan Belanda di Jambi.
Medali berbentuk segi enam, menyerupai matahari terbit, terdapat tulisan dalam bahasa arab, tahun 1298 (H) dan ungkapan tanda pertukaran, cinta dan pujian.
Menurut keterangan Staf Museum, medali tersebut sebelumnya disimpan oleh keturunan Sultan yang berdiam di Malaysia dan kini menjadi koleksi Museum Negeri Jambi.
Selain medali, masih terdapat banyak lagi peninggalan sejarah baik berupa dokumen tertulis maupun benda-benda yang menunjukkan bahwa Nusantara sesungguhnya memiliki hubungan erat dengan Khilafah. Karenanya, perjuangan penegakan Syariah dan Khilafah, bukanlah sekedar romantisme belaka.
(@RA/hizbut-tahrir.or.id)




No comments:
Post a Comment