Masjid Nabawi Cermin Kehidupan Religi Keluarga Rasulullah
Rumah Rasulullah SAW bersama Aisyah ra menempel di Masjid Nabawi Madinah. Di dalam rumah itu tidak ada kekayaan yang berlimpah, tidak ada benda-benda mewah, tidak pula kehidupan gemerlap. Sebuah hadits qudsi menyebutkan, dari ummul mukminin Aisyah berkata, ‘Setiapkali hendak masuk ke dalam rumah, Rasulullah berhenti sejenak dan mengucapkan : “Jika seorang anak Adam memiliki dua lembah berisi harta, niscaya dia menghendaki lembah yang ketiga, padahal mulutnya akan penuh berisi tanah. Dan Kami tidak menciptakan harta benda kecuali untuk melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, Allah akan memberi taubat siapa saja yang bertaubat.”
Jika saja kita merenungkan tuntutan mulia dari Nabi Muhammad SAW, tentu tak akan tergiur dengan perbuatan hina dina semacam korupsi untuk menumpuk harta. Karena kelak mulut kita dan anggota tubuh kita ini bakal tersumpal dan tertimbun tanah tanpa secuilpun harta itu kita bawa ke liang lahat.
Saat aku, Dewi Laily Purnamasari menunaikan ibadah haji pada tahun 2006 begitu mendapat kesan mendalam dan sangat menyentuh saat berada selama sepuluh hari di Madinah. Shalat berjamaah diupayakan selalu di Masjid Nabawi yang penuh kenangan akan teladan kehidupan religi keluarga Rasulullah.
Sebagai kepala keluarga, Rasulullah selalu masuk ke biliknya usai shalat Isya, bersiwak, dan langsung tidur. Di tengah malam, beliau bangun untuk bertahajud. Di penghujung malam, beliau membangunkan Aisyah. Jika fajar menyingsing, beliau shalat fajar dua rakaat lalu berbaring menghadap kanan sambil berbincang-bincang dengan Aisyah sampai muazin mengumandangkan iqamah.
Teladan lain adalah ketika Nabi Muhammad SAW berdoa, ‘Ya Allah … Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang miskin pada hari kiamat kelak.’ Aisyah bertanya : ‘Mengapa engkau berdoa seperti itu, Rasulullah ?’ Beliau menjawab : ‘Karena mereka akan lebih dulu masuk surga sekitar 40 musim gugur sebelum orang-orang kaya wahai Aisyah! Janganlah engkau menolak orang miskin walaupun hanya dengan sebiji kurma, wahai Aisyah. Cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, niscaya Allah akan mendekatkan engkau kepada-Nya pada hari kiamat.’
Oya … Tahukan teman-teman kompasiana bagaimana rupa rumah atau bilik Rasulullah ? Luas bilik itu sekitar enam atau tujuh dzira atau 25 meter persegi. Ya … Di jaman sekarang ini serupa rumah tipe sangat sederhana atau apartemen tipe studio. Namun … Kala itu rumah beliau terbuat dari tanah dan atapnya dari pelepah kurma. Langit-langitnya rendah hingga orang yang berdiri di situ dapat menyentuhnya. Bagian luar bilik dilapisi dengan kain kasar yang tebal agar terlindung dari hujan. Pintunya terdiri dari satu daun pintu dan terbuat kayu jati. Dan pintu itu tak pernah menolak kedatangan siapa saja sepanjang hayat Rasulullah. Walaupun pernah selama satu bulan penuh dari rumah beliau tak tampak asap, karena Rasulullah hanya hidup dengan kurma dan air. Subhanallah …
Rasulullah wafat di rumah Aisyah di atas pangkuannya. Beliau juga dimakamkan di sana bersama dua orang sahabatnya Abu Bakar ash Shiddiq ra dan Umar bin Khaththab ra. Bila kita berkesempatan shalat di raudah maka makam Rasulullah ada di sebelah kanan. Sayangnya, aku tidak bisa melihat langsung makam Rasulullah. Jadi kesempatannya hanyalah melihat kubah berwarna hijau dan perak yang menandakan di bawahnya ada raudah dan makam Rasulullah.
Dewi L P


Sebagai kepala keluarga, Rasulullah selalu masuk ke biliknya usai shalat Isya, bersiwak, dan langsung tidur. Di tengah malam, beliau bangun untuk bertahajud. Di penghujung malam, beliau membangunkan Aisyah. Jika fajar menyingsing, beliau shalat fajar dua rakaat lalu berbaring menghadap kanan sambil berbincang-bincang dengan Aisyah sampai muazin mengumandangkan iqamah.



Dewi L P




No comments:
Post a Comment