Pengaruh Susi (Suni-Syiah) dalam Paham Aswaja

Syiah di Indonesia lahir dengan konsep konsep “Islamisasi” pada awalnya, terutama jauh sebelum lahir Sukarno Hatta sebagai tokoh proklamator bangsa, atau sebelum para pejuang pembebasan anak anak negeri bermunculan diseluruh Nusantara, tepatnya ketika Indonesia tidak bernama Indonesia. Masa raja raja berkuasa pada wilayah kerajannya, syiah itu datang dengan membawa “islam” yang diperkenalkan melalui berbagai cara dan fase. Namun waktu awal kehadiran syiah tidak terdapat banyak yang tahu, bahwa model Islam yang dikembangkan Syiah, bukanlah Islam yang bebas dari gurita taqlid, yang mendewakan ulama sebagai dewa dewa yang ber-aliran biru  (turunan nabi). Munculnya Syiah memang tak bisa dilepaskan dari “Syiah Raya” atau Khilafah Syiah atau “Pemerintahan model syiah” , menjadi sebuah patokan pergerakan dan perjuangan Syiah sejak tumbangnya pemerintahan Ali bin Abi Thalib, dengan menjadikan media kecintaan pada ahlul bait model Syiah sebagai sarana utama mencapai maksud yang ditentukan.

Ciri ciri khas Syiah dalam perkembangannya banyak menempel pada Islam Islam tradisional yang secara redaksional meng-atas namakan dirinya sebagai “Aswaja” , sedangkan visi dan misinya bermuatan laten syiah. Memang terdapat corak perbedaan dalam beberapa hal yang menyangkut ubudiyah, tetapi dalam praktek kegamaannya Islam Aswaja tidak bisa menghindar dari fentalasi pemikiran syiah. Budaya syiah ini terjalin mesra dalam ruang lingkup beberapa amalan Aswaja, termasuk sikap taqlid yang menempatkan para tokoh Islam sebagai makhluk suci, lebih dari sekedar kitab suci itu sendiri. Sebab dalam praktek keagamaan yang ada ditanah air “paternalisme” menjadi pilihan Islam tradisi yang membangun keyakinan terikat dengan mitos kultus. Itu menjadi maghnet yang dapat menyerap banyak anggota tanpa mengenal perbedaan antara syirik dan tauhid. http://koepas.org/index.php/opini/370-syiah-mendompleng-jamaah-sholawatan

Sejarah Syiah di Indonesia sebenarnya sebuah kelemahan Islam waktu itu yang tidak punya filter, sehingga pada lahan garapan syiah, Indonesia menjadi ladang subur menelorkan dan menetaskan anak anak syiah yang begitu banyak. Itulah sebabnya Syiah lebih berdenyut dihati aswaja, karena memang lairnya aswaja itu sendiri di Indoensia tidak lepas dari rekayasa Syiah. Maka perpaduan syiah suni (model aswaja) , menjadi tekad yang sama , yaitu “anti wahabi” . Bila dibaca :” kehadiran wahabi dijaman itu jelas mencaplok kedaulatan syiah yang banyak berbaur dengan khilafah yang ada. Syiah tidak marah karena kalah perang dengan khilafah yang ada  waktu itu karena masih ada kesesuaian dalam khilafah waktu itu. Tetapi syiah menjadi marah oleh sebab wahabi spontan menguasai Mekkah sebagai Kiblat Islam. Siapapun orangnya dan pahamnya dalam Islam ketika berbeda wahabi, akan menjadi kerdil dan bernafas sesak mendengar dakwah dakwah Wahabi yang terbilang keras dan menyakitkan dimata rival pahamnya.

Ada detak nafas dan darah yang sama dalam aswaja dan syiah, mereka sama sama menanamkan taqlid, mengedepankan logika dalam beragama, meskipun penting pada sisi logika itu, namun dalam kaitanya dengan aswaja dan syiah, logika mengalahkan segalanya, bukan membimbing akal keluar dari wilayah libralisasi. Tumbuhnya kekuatan akal sebagai pemasok logika mereka beragama tidak diimbangi dengan kebebasan diri dari mitos kultus yang mengikat mereka menjadi logika fanatisme. sebuah gejala akal yang terbimbing pada reputasi kalangan paganis yang menuhankan akal dan sosok sosok pilihan mereka.

Demikian Syiah dalam kiatnya banyak mewarnai tradisi kegamaan di Indonesia, sehingga kehadiran mujahid dakwah dari gujarat bisa dipastikan dari kalangan anak anak syiah, selain Islam yang dibesarkan oleh seorang Kublaikhan dari daratan Cina yang Tanah Leluhur ( menurut Suya Negara ) .


Zulkarnain A

No comments: