Dalam Kesunyian Hijrah

Menyongsong Tahun Baru Islam 1435 H.)
IRONI sekali kehidupan dan gejala keberagamaan di negeri yang berazaskan ketuhanan ini. Kaum mayoritas tampak lebih resesif, sebaliknya kaum minoritas tampak lebih dominan. Setidaknya fenomena itu terekam pada setiap penghujung pergantian tahun. Pada 2013 ini, misalnya, secara kebetulan bertemu empat hari besar keagamaan, yaitu Hari Raya Idul Adha, Tahun Baru Hijriyah, Natal, dan Tahun Baru Masehi. Apa yang ganjil di sini adalah mayoritas dan minoritas suatu komunitas tidak lagi mempengaruhi secara linear progresivitas mereka dalam menunjukkan identitas keyakinan masing-masing. Kelompok minoritas, barangkali, memiliki sense of belonging yang signifikan terhadap agamanya (atau sekadar hura-hura?). Sementara kaum mayoritas, perasaan itu telah demikian melemah, sunyi dalam keheningan. Dan sebagian yang ‘tersesat’ malah ikut membaur dalam tradisi keagamaan umat minoritas itu, baik secara sadar maupun tidak.

Tulisan ini tidak bermaksud menyulut keretakan toleransi antarumat beragama di negeri ini yang rukun dan damai. Sebagai seorang muslim, tentu saya hanya ingin mendekorasikan ‘rumah sendiri’ tanpa mengintervensi atau malah mengkritik keluarga tetangga. Adapun yang saya maksudkan dalam prolog implisit di atas adalah mengapa suasana (tepatnya syiar atau gezah) menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram saban tahunnya begitu sunyi atau sepi senyap? Apakah umat Islam menganggap kurang penting pergantian tahun yang bersejarah ini? Tidak ada aktivitas yang menyolok yang dilakukan umat Islam untuk menyambut secara khusus dan khidmat pergantian tahun Hijriyah ini. Kecuali ada segelintir dari umat ini yang melaksanakan muhasabah dan istighasah di kesunyian tempat tertentu yang sifatnya terbatas. Apakah perasaan saya ini karena didera cemburu berat pada kemeriahan ‘tetangga’ di depan pekarangan rumah, dan seolah-olah menginginkan juga suasana seperti itu dalam batas-batas yang wajar sebagai manusia?

 Menampakkan syiar
Rasanya tidak salah jika dalam konteks ini kita membandingkan apa yang dilakukan saudara kita, kaum Nasrani, dengan penyambutan pergantian Tahun Baru Masehi mereka. Saban tahun, mulai dari kota sampai pelosok berlangsung meriah, ada pesta, hura-hura, ada spanduk, baliho, dan mendapat liputan luas dari media massa. Dilihat dari penampakan luar ini, diyakini ada kekuatan yang mem-back up kegempitaan acara old and new year itu. Siapa lagi kalau bukan sokongan ekonomi kapitalis yang berbau hedonis dan konsumtif ini. Di negeri ini, kaum minoritas tersebutlah yang memegang kendali perputaran ekonomi. Melalui kekuatan ekonomi, mereka bisa mewarnai pasar kapitalis dan wajah negeri ini dalam bentuk yang mereka inginkan. Mereka juga bisa membeli kebijakan ekonomi pasar, hukum, dan bahkan politik dengan kekayaan dan pengaruh mereka dari tangan penguasa. Mereka tidak kalah lihainya untuk mengkondisikan suasana apa saja, apakah religius, hedonis, atau beringas sekalipun. Kekuatan ekonomi telah memudahkan mereka sampai pada akses apa saja dengan cara mudah, tanpa melalui jalur birokrasi yang rumit.

Karena itu tidak mengherankan bila kemeriahan penyambutan tahun baru masehi terkesan wah dengan beragam serimonial. Tetapi ada satu catatan bahwa perayaan tersebut tidak lagi murni dengan tendensi keagamaan yang kental, melainkan telah dibaurkan dengan kepentingan pasar yang konsumtif dan moment untuk melampiaskan sikap hedonis yang kesarat. Jelasnya, proporsi antara prosesi ritual keagamaan kristiani ini dikalahkan oleh glamournya pesta duniawi jemaatnya yang telah lari kepada agama baru mereka, yaitu kapitalisme. Seraya meninggalkan doktrin teologis yang indigenous berdasarkan kitab suci nasrani sebelum diutak-atik. Lagi pula secara historis, pengkalenderan tahun masehi tidak mengandung muatan, bobot makna substantif apapun. Tidak ada peristiwa sejarah apapun yang mengirinya simbolisasi dari tahun masehi itu. Apalagi kesan religius yang mendalam yang dapat membakar gelora spirit kehidupan umat manusia untuk selalu dikenanng. Tahun baru masehi tidak lebih dari penanggalan waktu berdasarkan rotasi bumi mengitari porosnya dalam sistem tatasurya.

Berbeda dengan tahun Hijriyah yang “disunyikan” oleh umat Islam belakangan ini, bersamanya hadir sebuah peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah umat manusia. Yaitu peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw, seorang pencerah peradaban, dari kehidupan yang membelenggu di negeri Makkah saat itu menuju sebuah dunia baru di negeri Madinah, kota yang menjanjikan kebebasan dan pencerahan peradaban. Kebesaran sejarah ini kemudian diabadikan oleh penerus beliau, Khalifah Umar bin Khattab, seorang pemikir dan penggagas brillian, sebagai nama tahun dan tonggak awal  penanggalan tahun yang diadasarkan pada rotasi bulan ini. Sejarah yang monumental inilah yang diperingati oleh umat Islam sampai sekarang sebagai tahun baru hijriyah. Tetapi sayangnya, kebesaran dan kemasyhuran substansi dan nilai dari peristiwa besar itu kurang mendapat sambutan dari umat Islam sekarang. Hal ibi baik dilihat dari aspek eksoterisnya, konon lagi aspek esoterisnya.

 Mensyiarkan Islam
Dari aspek eksoteris, barangkali ada alasan bahwa mengadakan serangkaian serimoni positif yang jauh dari unsur kemubaziran dan kemaksiatan seperti kegatan sosial dan pembinaan mental spiritual memerlukan dukungan dana yang lumayan besar. Kekuatan ini boleh jadi secara merata tidak dimiliki oleh umat ini. Tetapi bagaimana dengan aspek esoterisnya, bukankah hal ini tidak memerlukan keuatan finansial yang begitu melimpah guna mengangkat syiar agama? Bukankah kegiatan ritual dan spiritual keislaman melalui paket kegiatan yang menarik generasi muda dapat dilakukan pada momen ini. Katakanlah seperti Pawai Ta‘aruf yang diiringi drum band Islami, lomba pidato, baca puisi, pameran buku sejarah Islam, lomba menulis, bedah buku sejarah perjuangan para pahlawan Islam dan berbagai kegiatan lainnya bisa digelar. Melalui kreativtas sebagaimana dicontohkan di atas, diharapkan dapat menggugah daya pikir dan zikir mereka terhadap khazanah dan peradaban agama mereka. Di samping itu juga untuk membalikkan imej yang telah terlanjur besar kepada budaya asing yang dikemas dengan nuansa modern. Alternatif ini dimungkinkan untuk menghalau pengaruh terlalu jauh dari budaya global yang menyesatkan fitrah kehanifan mereka dan sekaligus memberikan pilihan lain yang lebih tepat serta menyelamatkan. Tanpa upaya ini, dikhawatirkan mereka akan bertambah jauh dari semangat dan keluhuran nilai ajaran Islam yang kian menyusut dan resesif di “rumah” mereka sendiri.

Alhamdulillah, dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1435 Hijriyah, DPW BKPRMI Aceh bekerjasama dengan Panitia Penyelenggara Peringatan Hari-hari Besar Islam (P3HBI) Provinsi Aceh kembali menyelenggarakan Musabaqah Pawai (jalan kaki) Muharram (MPH) 1435 H tingkat Provinsi Aceh. Kegiatan ini diikuti oleh para siswa dari seluruh jenjang sekolah, mulai dari PAUD/TK, SD/MI, SLTP/MTs, SMA/MA yang ada di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar. Mereka akan berjalan kaki mengelilingi kota Banda Aceh dengan rute dimulai dari lapangan Blang Padang melewati Pendopo Gubernur, Simpang Surabaya, dan finish di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Untuk menambah spirit dan motivasi peserta, pihak panitia penyelenggra menyediakan hadiah jutaan rupiah bagi peserta terbaik. Kegiatan syiar agama ini direncanakan akan dilepas oleh Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Hadiah akan dibagikan pada malam peringatan 1 Muharram 1435 H di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Diharapkan dengan kegiatan ini, generasi muda Aceh dapat mengenal lebih dekat khazanah dan peradaban Islam yang pernah diperjuangkan oleh umat Islam di masa yang lalu.

Dalam konteks mensyi‘arkan sejumlah ritual keagamaan, umat Islam masih bersikap monoton. Sebagai contoh, dalam memperingati tahun baru hijriyah, aspek yang selalu diangkat adalah historisitas (masa lalu) kehidupan Nabi yang digambarkan secara apologis. Sementara  relevansi masa depan dari peristiwa hijrah Nabi itu bagi kemajuan umat Islam terasa kurang mendapat ruang kreativitas yang memadai. Selayaknya kita berharap kepada umat Islam, terutama generasi muda, jangan biarkan ‘napak tilas’ hijrah Rasulullah saw itu sekadar diperingati begitu saja. Tanpa sesuatu kesan yang bisa dijadikan i‘tibar bagi kehidupan masa kini dan masa mendatang. Dan yang lebih tidak pantas lagi adalah membiarkan peristiwa hijrah ini berlalu dalam kesunyiaannya, sebagaimana Nabi berhijrah di kesunyian malam pekat bersama sahabatnya Abu Bakar tanpa seorang pun yang tahu kecuali mereka berdua dan Sang Khalik, sutradara besar dalam peristiwa hijrahnya Nabi saw di malam kelam itu.

* Muhibuddin Hanafiah, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: ibnu_hanafi70@yahoo.com

No comments: