Jejak Portugis yang Tercecer di Nusantara
Jauh sebelum Belanda menginjakkan kaki di bumi nusantara, pengelana Portugis sudah bercokol di bandar-bandar strategis di kawasan negeri kita. Mereka juga meninggalkan warisan kosakata yang seringkali nyaris tak terlacak lagi karena sudah membaur dengan bahasa Melayu. Ambillah contoh istilah ‘bedil’ yang ternyata berasal dari kata Portugis ‘fuzil’. Atau istilah ‘si Polan’ (lelaki yang tidak diketahui namanya) yang nampaknya berasal dari kata Portugis ‘fulano’ (padanan bahasa Inggrisnya ‘guy’).
Ada nama jenis ikan yaitu ‘kerapu’ yang diserap dari kata Portugis ‘carapau’ (bahasa Inggris: mackerel) yang biasa dijadikan ikan sardin alias ikan kalengan. Selain sebutan ‘kelinci’, binatang yang imut-imut ini dinamakan dengan ‘terwelu’ yang rupanya dari kata ‘coelho’ (di KBBI ada kata ‘kuilu’ yang lebih mendekati bunyi asli kata Portugis ini). Juga yang sering membuat saya penasaran yaitu kata ‘pesero’ ternyata juga menyerap dari kata Portugis ‘parceiro’ yang dimaknai ‘milik patungan’ (part-owner).
Di kota Surabaya ada daerah/jalan yang bernama Baliwerti. Dari kecil saya sering bertanya-tanya dalam hati mengapa kawasan ini dinamai Baliwerti. Apakah masih ada kaitannya dengan kata ‘Bali’. Ternyata kata ‘baliwerti’ berasal dari sebutan ‘baluarte’ yang artinya ‘tembok pertahanan dari batu cadas’ (bahasa Inggris: bulwark atau rampart). Sangat besar kemungkinan di kawasan Baliwerti ini di abad 16, pernah berdiri tembok kokoh benteng Portugis untuk menghadapi serangan dari musuh.
Kata yang sangat akrab selalu hadir di tempat tidur kita ‘bantal’ juga merupakan warisan Portugis ‘avental’. Sebutan dua pulau terbesar di tanah air kita yaitu Celebes dan Borneo juga ‘hadiah’ dari pelaut Portugis. Konon Celebes dari kata ‘Os CĂ©lebres’ (sang selebriti) diberikan oleh pelaut Portugis pada tahun 1512 karena ombak di perairan di sini yang terkenal ganas. Saya tertarik dengan sapaan khas Bata k yaitu ‘horas’. Dalam bahasa Portugis ‘horas’ bermakna ‘jam/waktu’ (bahasa Inggris hour). Saya membayangkan pelaut Portugis yang saling berteriak kepada rekan-rekannya mengingatkan waktu sudah tiba untuk mengangkat sauh dan berpisah yang mungkin diadopsi di tanah Batak sebagai salam ‘horas’ seperti juga kata ‘aloha’ di Hawaii.
Tak semua kata yang kita serap dari orang Portugis asli dari bahasa mereka. Banyak juga kata dari India yang merupakan jajahan Portugis terbawa masuk oleh para pelautnya seperti kata ‘acar’, ‘gudang’, ‘cita’ (sejenis bahan kain). Juga nama buah-buahan, seperti ‘nanas’, ‘buah nona’ dan ‘papaya’, sebenarnya bukan asli dari Portugis, melainkan dibawa oleh pelaut Portugis dari Amerika Selatan dan diperkenalkan di nusantara. Nanas di Peru dinamakan nana dan di Brazilia dia disebut dengan nanas. Buah nona (srikaya) di kawasan Amerika Latin dinamakan dengan anona.
Dan yang terakhir mari kita melayangkan pandang ke kampung Tugu yang merupakan permukiman komunitas keturunan Portugis yang dahulunya merupakan budak yang dikirim oleh Belanda ke Batavia untuk dimerdekakan asal mereka berjanji untuk memeluk agama Protestan. Karena dimerdekakan mereka diberi nama ‘mardijker’ atau ‘vrijman’ yang kemudian bersalin menjadi kata ‘preman’. Sebutan Portugis ini adalah Portuguese maka tak mengherankan kalau kampung mereka kemudian disebut dengan kampung Tugu yang barangkali pemendekan dari Por(tugu)ese.
Gustaf K
Ada nama jenis ikan yaitu ‘kerapu’ yang diserap dari kata Portugis ‘carapau’ (bahasa Inggris: mackerel) yang biasa dijadikan ikan sardin alias ikan kalengan. Selain sebutan ‘kelinci’, binatang yang imut-imut ini dinamakan dengan ‘terwelu’ yang rupanya dari kata ‘coelho’ (di KBBI ada kata ‘kuilu’ yang lebih mendekati bunyi asli kata Portugis ini). Juga yang sering membuat saya penasaran yaitu kata ‘pesero’ ternyata juga menyerap dari kata Portugis ‘parceiro’ yang dimaknai ‘milik patungan’ (part-owner).
Di kota Surabaya ada daerah/jalan yang bernama Baliwerti. Dari kecil saya sering bertanya-tanya dalam hati mengapa kawasan ini dinamai Baliwerti. Apakah masih ada kaitannya dengan kata ‘Bali’. Ternyata kata ‘baliwerti’ berasal dari sebutan ‘baluarte’ yang artinya ‘tembok pertahanan dari batu cadas’ (bahasa Inggris: bulwark atau rampart). Sangat besar kemungkinan di kawasan Baliwerti ini di abad 16, pernah berdiri tembok kokoh benteng Portugis untuk menghadapi serangan dari musuh.
Kata yang sangat akrab selalu hadir di tempat tidur kita ‘bantal’ juga merupakan warisan Portugis ‘avental’. Sebutan dua pulau terbesar di tanah air kita yaitu Celebes dan Borneo juga ‘hadiah’ dari pelaut Portugis. Konon Celebes dari kata ‘Os CĂ©lebres’ (sang selebriti) diberikan oleh pelaut Portugis pada tahun 1512 karena ombak di perairan di sini yang terkenal ganas. Saya tertarik dengan sapaan khas Bata k yaitu ‘horas’. Dalam bahasa Portugis ‘horas’ bermakna ‘jam/waktu’ (bahasa Inggris hour). Saya membayangkan pelaut Portugis yang saling berteriak kepada rekan-rekannya mengingatkan waktu sudah tiba untuk mengangkat sauh dan berpisah yang mungkin diadopsi di tanah Batak sebagai salam ‘horas’ seperti juga kata ‘aloha’ di Hawaii.
Tak semua kata yang kita serap dari orang Portugis asli dari bahasa mereka. Banyak juga kata dari India yang merupakan jajahan Portugis terbawa masuk oleh para pelautnya seperti kata ‘acar’, ‘gudang’, ‘cita’ (sejenis bahan kain). Juga nama buah-buahan, seperti ‘nanas’, ‘buah nona’ dan ‘papaya’, sebenarnya bukan asli dari Portugis, melainkan dibawa oleh pelaut Portugis dari Amerika Selatan dan diperkenalkan di nusantara. Nanas di Peru dinamakan nana dan di Brazilia dia disebut dengan nanas. Buah nona (srikaya) di kawasan Amerika Latin dinamakan dengan anona.
Dan yang terakhir mari kita melayangkan pandang ke kampung Tugu yang merupakan permukiman komunitas keturunan Portugis yang dahulunya merupakan budak yang dikirim oleh Belanda ke Batavia untuk dimerdekakan asal mereka berjanji untuk memeluk agama Protestan. Karena dimerdekakan mereka diberi nama ‘mardijker’ atau ‘vrijman’ yang kemudian bersalin menjadi kata ‘preman’. Sebutan Portugis ini adalah Portuguese maka tak mengherankan kalau kampung mereka kemudian disebut dengan kampung Tugu yang barangkali pemendekan dari Por(tugu)ese.
Gustaf K




No comments:
Post a Comment