Karbala dan Islam Revolusioner

Cucu Rasulullah Sawa, yang ketika masih kecil selalu digendong dan diciumi oleh beliau, bersama seluruh rombongannya, keluarganya, putra-putranya, laki-laki dan perempuan, semuanya dibantai dan disembelih, dibunuh dengan sangat sadis di padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Yang selamat hanya dua orang, yaitu Sayyidah Zainab dan Imam Ali Zainal Abidin. Itupun karena Imam Ali Zainal Abidin sedang sakit dan ditunggui oleh Sayyidah Zainab, sehingga mereka tidak keluar dari kemah. Seandainya beliau tidak sakit dan keluar dari kemah, tentulah Ahlul Bait sudah habis.

Abdul Qadir Jailani, dalam kitabnya yang berjudul Al Ghunyah, mengatakan bahwa Asyura itu termasuk hari berkeramat yang ke-10. Peristiwa Asyura disejajarkan dengan peristiwa Nuzulul Quran, Lailatul Qadr, Maulidil Rasul, Isra dan Mi’raj, Yaumil Arafah, Lailatul ‘Idain (Idul Fitri dan Idul Adha), dan termasuk yang ke-10 adalah hari yang penuh keramat, penuh kemuliaan bagi umat Islam, yaitu hari Karbala. Artinya, memperingati peristiwa adalah milik kita semua sebagai umat Islam.

Peristiwa Karbala adalah sebuah kisah epos dari sosok Al Husein cucu Rasulullah Sawa. Sedih hati kita saat membaca dan mendengar kronologis peristiwa ini. Ada orang yang mengaku cinta Nabi tapi pedangnya menghunus cucu Nabi, ada pengecut yang memanah seorang bayi tak berdosa, ada perilaku manusia yang lebih menunjukkan ciri kebinatangannya. Namun ada nilai lebih yang tak bisa di ukur dalam peristiwa ini, ialah gambaran tentang apa sebenarnya Islam. Islam bukan hanya sebatas kumpulan dogma yang di bungkus rapi oleh aqidah dan fiqih serta mengatur bagaimana tata cara beribadah yang baik, namun Islam adalah sebuah tatanan ideologis yang juga menjangkau permasalahan masyarakat dan politik.

Al Husein mewariskan Islam yang berani memberontak kepada penguasa dzalim, Islam yang berani memegang teguh kebenaran, Islam yang tidak berlindung di balik puing-puing emas penguasa, Islam yang mengajarkan kepahlawanan, Islam yang mengajarkan cinta tulus kepada Allah SWT, Islam yang tak pernah mau berkompromi dengan penguasa dzalim.

Sebuah gerakan yang tidak begitu banyak namun massiv, telah di tunjukkan oleh Al Husein dan pengikutnya. Kita selayaknya mengikuti jejak yang di ukir oleh mereka dalam sejarah Islam, bahwa Islam tak boleh vakum dari permasalahan sosial dan politik.

Perjuangan untuk meraih keadilan harus tetap di kawal dalam ranah agama sekalipun. Rasulullah dan ahlul bait dalam riwayat kehidupannya terus menerus memperjuangkan keadilan demi umat. Dalam buku “Voice Of Human Justice” karya George Jordac, sastrawan Lebanon, Imam Ali berkata “Tidak pernah aku melihat orang memperoleh kenimatan yang berlebih kecuali di sampingnya ada hak yang di sia-siakan”. Al Husein juga tidak jauh beda dengan ayahnya, beliau menjadi wakil dari rakyat tertindas.

Pemikir yang juga sosiolog asal Iran Ali Syari’ati mengungkapkan demikian. Dalam pandangan Syari’ati, Islam bukanlah agama yang hanya memperhatikan aspek spiritual dan moral atau hanya sekadar hubungan antara hamba dengan Sang Khaliq (Hablu min Allah), tetapi lebih dari itu, Islam adalah sebuah ideologi emansipasi dan pembebasan.

Corak Islam Revolusioner berangkat dari faham bahwa dalam ajaran Islam, Tuhan telah mengutus manusia untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Artinya, manusia adalah pemikul tugas sebagai pembaharu, dan penegak keadilan di muka bumi. Manusia tak boleh hanya sekedar pasrah dan menerima penindasan dengan hiburan “ini adalah takdir Tuhan”, namun manusia –sebagai Khalifah—harus menyuarakan protes kepada yang menindasnya.

Dewasa ini, Karbala masihlah berlangsung dan belumlah usai, karena dimana pun kaki kita berpijak, disitu pasti ada ketidakadilan, penindasan dan kedzaliman. Disinilah, manusia sebagai pewaris Al Husein bertugas untuk menghapuskan itu semua.

Namun, Islam revolusioner bukan berarti Islam yang selalu mengacungkan pedang. Islam tetaplah agama cinta kasih yang selalu menebarkan kasih sayang kepada sesama. Islam tak pernah mengajarkan permusuhan, Islam tak pernah mengajarkan intoleran kepada agama maupun keyakinan lain, Islam mengajarkan kita untuk terus menerus mengkaji, karena sesuai janji Tuhan bahwa Islam adalah agama yang lengkap dan mengikuti perkembangan zaman.

Dalam peristiwa Karbala, Al Husein adalah simbol cinta dan simbol revolusioner yang sebenar-benarnya. Karbala juga menjadikan sebuah refleksi atas kita umat Islam yang mengaku cinta Rasulullah apakah meratapi tragedi menyedihkan ini atau tidak, Karbala mengajarkan bahwa suatu saat darah akan mengalahkan pedang.

MG

No comments: