Mengapa Hanya Cut Nyak Dhien Perempuan Heroik Aceh?


1384861180217804560
Cut Nyak Dhien Sedang Duduk Diapit Oleh Dua Orang dan Panglima Laot Ali Sedang Duduk Berpakaian Serba Hitam (Sumber: Collectie Tropenmuseum/Wikipedia)

DI bulan ini (November), 105 tahun yang lalu atau tepatnya pada 06 November 1908, salah seorang pahlawan Republik Indonesia asal Aceh meninggal dunia. Jenazahnya disemayamkan di Sumedang, Jawa Barat. Nama perempuan yang dikenal gigih melawan Belanda itu adalah Cut Nyak Dhien. Ditetapkan menjadi Pahlawan Republik Indonesia melalui SK Presiden Republik Indonesia No. 106 Tahun 1964. Pada tanggal 02 Mei 1964.
Tapi, Cut Nyak Dhien bukanlah satu-satunya perempuan Aceh yang memiliki semangat baja dan sikap yang pantang menyerah ketika menghadapi penjajah Belanda. Banyak nama lainnya yang sengaja disamarkan oleh kalangan yang memiliki ”kemiripan” tertentu dengan Cut Nyak Dhien. Sehingga, seakan-akan Pahlawan di Aceh itu, yang perempuan adalah Cut. Sedangkan yang laki-laki adalah Teuku. Padahal sesungguhnya itu tidak benar sama sekali.
Perempuan-perempuan heroik Aceh antara lain, Keumala Hayati atau Malahayati, alumni sekolah akademi angkatan laut militer Turki Ottoman, Mahad Baitul Makdis, yang merupakan Laksamana angkatan laut perempuan pertama dalam sejarah militer dunia. Lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati. Ia pernah menjadi perbincangan hangat dikalangan kolonial Belanda karena berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dalam duel maut satu lawan satu di geladak kapal pada September 1599. Ada Teungku Fakinah, ulama perempuan yang gigih menentang kehadiran Belanda di Aceh. Cut Nyak Meutia, perempuan perkasa asal bumoe Pasee (Aceh Utara) yang lebih memilih ajal menjemputnya daripada diobati oleh kolonial Belanda. Pocut Meurah Intan, petempur gigih dari Tanoh Pidie (Pidie), yang akhirnya diasingkan Belanda ke Blora, Jawa Tengah. Pocut Baren, penentang kolonialisme Belanda dari Sungai Mas (Aceh Barat). Serta Inen Mayak Teri dan Datu Beru yang berasal dari dataran tinggi Gayo.
Karena bulan ini merupakan tahun yang ke- 105 sejak meninggalnya Cut Nyak Dhien pada 06 November 1908, maka alangkah baiknya bila kita melihat kembali jejak perjuangan Cut Nyak Dhien hingga ia disemayamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.
RIWAYAT CUT NYAK DHIEN
Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memiliki akal (QS. Yusuf, 12: 111)
Cut Nyak Dhien, gelar Cut menandakan bahwa ia adalah seorang putri dari Uleebalang (raja kecil yang ditunjuk oleh Sultan Aceh untuk memimpin daerah berdasarkan surat pengangkatan yang dibubuhi Sarakata Cap Sikureueng). Cut Nyak Dhien dilahirkan pada tahun 1848 di Lam Padang (Aceh Besar). Ia adalah anak dari Uleebalang VI Mukim, Teuku Nanta Setia. Nanta Setia adalah anak dari Teuku Nan Ranceh.
Cut Nyak Dhien memiliki kekerabatan dengan etnis Minang di Sumatera Barat. Sebab, Leluhur Cut Nyak Dhien berasal dari sana, yang bernama Makhudum Sati. Tapi, ada juga yang menyebut namanya adalah Mahmud Sati. Ia merantau dari Minangkabau ke Aceh, pada masa Sultan Aceh, Jamal ul Alam Badrul Munir (1703-1726). Putra Sati (Nan Ranceh), pernah berjasa kepada Sultan Aceh dengan menggagalkan upaya seorang Panglima Sagoe (sagi) yang hendak menjatuhkan Sultan. Gelar Teuku diberikan kepada Nan Ranceh. Sehingga menjadi Teuku Nan Ranceh. Dari Teuku Nan Ranceh, lahirlah dua orang putra, yaitu Teuku Nanta Setia (ayah Cut Nyak Dhien) dan Teuku Ahmad Mahmud (ayah Teuku Umar). Hubungan ini menunjukkan bahwa Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar adalah saudara sepupu, yang dikemudian hari menikah setelah suami pertama Cut Nyak Dhien, Teuku Ibrahim Lamnga gugur saat bertempur dengan Belanda.
Ibu dari Cut Nyak Dhien adalah putri Uleebalang Lam Pageu, Peukan Bada (Aceh Besar).
Pada tahun 1862 atau memasuki usia 12 tahun, Cut Nyak Dhien dinikahkan dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Seorang putra dari Uleebalang Lam Nga XIII (Aceh Besar). Mereka dikaruniai seorang anak lelaki.
ERA PERANG ACEH
Pada 26 Maret 1873, Belanda mengumumkan perang terhadap Aceh melalui kapal perang Citadel van Antwerpen, yang dibacakan oleh Komisaris Pemerintah Belanda, yaitu J. F. Nieuwenhuijzen. Tidak lama berselang, Perang Aceh pun berkobar. Dibawah komando Johan Harmen Rudolf Kohler, Belanda mengirimkan sekitar 3.198 prajurit, termasuk 168 orang Perwira KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger). Pada 08 April 1873, Belanda mendaratkan pasukannya di pantai Ceureumen, Ulee Lheue, Banda Aceh. Saat bergerak menuju Masjid Raya Baiturrahman untuk menguasainya, perlawanan sengit menghambat laju pergerakan pasukan Belanda. Bahkan, Kohler sendiri tewas ditembak oleh seorang sniper Aceh pada 18 April 1873 didekat pohon Geuleumpang yang berada di halaman Masjid. Kohler tewas saat melakukan inpeksi pasukan Belanda yang telah berhasil menguasai Mesjid Raya Baiturrahman. Tiba-tiba, seorang sniper dari reruntuhan Masjid Raya yang telah dibakar oleh kolonial Belanda, melepaskan tembakan melalui jarak 100 meter terhadap Kohler. Tubuh Kohler langsung terkapar dan tewas di tempat. Penembak Kohler diduga dilakukan oleh Teungku Imum Lueng Bata yang diisukan baru berumur 19 tahun. Nama aslinya adalah Teuku Nyak Raja. Anak dari Teungku Chik Lueng Bata. Dahulu, orang Aceh sangat jarang menyebut nama asli untuk seseorang, kecuali nama sapaan atau gelar orang tersebut.
Hingga kini, belum diketahui dimanakah Teuku Nyak Raja dimakamkan. Karena saat itu kondisi Aceh dalam status perang, maka keberadaan Nyak Raja pun ikut dirahasiakan agar aman dari incaran pihak kolonial Belanda. Ada isu yang menyebutkan bahwa ia syahid di Geuleumpang Minyeuk (Pidie) dan selanjutnya disemayamkan disana.
Dalam perang pertama ini (1873), Aceh meraih kemenangan dibawah kepemimpinan Sultan Mahmud Syah (1873-1874). Tapi, tidak pada perang kedua (1874).
Pada 26 Desember 1875, Cut Nyak Dhien bersama bayi laki-laki dan ibunya mengungsi Ke Montasik (Aceh Besar). Ia pergi dengan rombongan warga yang juga hendak menghindari gempuran kolonial Belanda. Tidak diketahui bagaimana nasib bayi laki-laki Cut Nyak Dhien selanjutnya. Hari itu, juga merupakan terakhir kalinya Cut Nyak Dhien bertemu dengan Suaminya, Teuku Ibrahim Lamnga (Adli Abdullah: Serambi Indonesia, 2011)
Pada 29 Juni 1878, kabar duka menghampiri Cut Nyak Dhien. Suaminya, Teuku Ibrahim Lamnga gugur. Ibrahim Lamnga gugur di Glee Taroen saat bertempur dengan kolonial Belanda.
Sepeninggal Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dhien kembali menikah. Janda ini menikah dengan lelaki yang juga masih saudara sepupunya yaitu, Teuku Umar. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang putri yang bernama Cut Nyak Gambang.
Selanjutnya, Cut Nyak Dhien dan Umar bersama-sama ikut bertempur dengan pasukan kolonial Belanda. Walau, dalam perjalanan perang ini, suaminya (Umar) pernah beberapa kali ”bermain mata” dengan Belanda.
Dialah yang selalu berdiri di belakang layar. Saat Umar masih melakukan kerja sama dengan kolonial Belanda disekitar tahun 1894, harian Bataviaasch Handelsblad di Batavia (kini Jakarta) telah mensinyalir adanya pengaruh Cut Nyak Dhien. Harian Belanda itu mengatakan antara lain: ”Zoo staat Teukoe Oemar de man van het oogenblik in Groot Atjeh, geheel onder den invloed van zijn Tjoet Nja’ Dhien.” (Demikianlah, Teuku Umar, orang penting dewasa ini di Aceh Besar, sepenuhnya berada di bawah pengaruh isterinya, Cut Nyak Dhien). Harian itu mengupas betapa besarnya pengaruh perempuan-perempuan Aceh terhadap suaminya dan besarnya peranan mereka di bidang politik.
Pada 1905, Verslag menuliskan kekagumannya terhadap keberanian Cut Nyak Dhien dengan kalimat, Tjoet Nja’ Dien, die energieke weduwe van Teukoe Oemar, werkte ons vooral in Boven Meulaboh krachtig tegen.”
Kira-kira bermakna seperti ini, ”Cut Nyak Dhien, janda Teuku Umar yang energik itu merintangi kita dengan hebat terutama di Meulaboh Hulu (pedalaman).”
PASCA KEHILANGAN UMAR
Setelah Teuku Umar meninggal dunia pada 11 Februari 1899, akibat ditembak oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Verburgh sebagai bawahan Jenderal J. B. Van Heutsz, perlawanan Cut Nyak Dhien terhadap kolonial mulai menurun. Ini disebabkan oleh faktor usia dan penyakit yang diderita oleh Cut Nyak Dhien. Belum lagi, jumlah orang-orang yang bersamanya bertempur melawan kolonial Belanda, semakin berkurang karena telah menyerahkan diri kepada pihak penjajah.
MENINGGALNYA CUT NYAK DHIEN
13848614601627057220
Makam Cut Nyak Dhien di Sumedang, Jabar (Sumber: http://www.jabarprov.go.id/assets/images/menu/makam-cut-nyak-dien5.jpg)

Kondisi kesehatan Cut Nyak Dhien yang semakin mengkhawatirkan, membuat salah seorang anggota pasukan Aceh yang dipimpinnya menjadi iba. Prajurit itu adalah Panglima Laot Ali (Pang Laot). Ia tidak tega melihat Cut Nyak Dhien yang terus sakit-sakitan dan kesehatannya makin memburuk dari hari ke hari. Pang Laot pun berinisiatif untuk menyerah kepada kolonial Belanda. Ini dilakukan dengan syarat bahwa informasi tentang keberadaan Cut Nyak Dhien akan ia bocorkan kepada Belanda asalkan pihak kolonial berjanji tidak akan menyakiti Cut Nyak Dhien ketika akan ditangkap. Syarat yang diajukan oleh Pang Laot akhirnya disetujui oleh pihak penjajah.
Ketika mengetahui bahwa ia (Cut Nyak Dhien) tidak mungkin lagi melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda seperti dulu, dan berfirasat bahwa penjajah pasti akan berhasil menangkapnya, perempuan heroik ini pun berpesan kepada anaknya, Cut Nyak Gambang agar melarikan diri ke Tangse (Pidie). Cut Nyak Dhien tidak dapat lagi menemani anak perempuannya tersebut. Kelak, Cut Nyak Gambang menikah dengan salah seorang pejuang Aceh. Pejuang ini adalah Teungku Chik Mayet di Tiro, yang merupakan salah satu putra dari Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman (Pahlawan Nasional).
Cut Nyak Dhien akhirnya berhasil ditangkap oleh kolonial Belanda. Selanjutnya, ia diasingkan oleh penjajah ke pulau Jawa agar pihak pasukan Aceh yang masih tersisa tidak bisa lagi melakukan komunikasi dengan perempuan bermental baja ini.
Pada tanggal 06 November 1905, kolonial Belanda menyerbu ke hutan, tempat persembunyian Cut Nyak Dhien. Karena tidak kuasa untuk melawan, ia pun berhasil ditangkap oleh penjajah saat berada di jambonya (tempat sederhana mirip balai). Namun, sebelum berhasil ditangkap, Cut Nyak Dhien sempat mengeluarkan rencongnya hendak melawan. Dengan gerakan cepat, Letnan van Vuuren berhasil merampas rencong tersebut. Cut Nyak Dhien yang sedang murka, kemudian memaki Vuuren dengan berkata, ”Jangan kau menyentuh kulitku, kafir!” (Said, Mohammad, (2007). Aceh Sepanjang Abad jilid 2 cetakan 3).
Saat Belanda membawa Cut Nyak Dhien ke markas besarnya di Meulaboh, dalam perjalanan Cut Nyak Dhien menumpahkan kemarahannya kepada Kapten Veltman dengan berkata, ”Kau kafir jahanam, tembak saja aku! Di Meulaboh pun kau akan membuangku ke laut.” Kapten Veltman tidak menghiraukan kata-kata Cut Nyak Dhien tersebut. Terhadap Panglima Laot Ali, Cut Nyak Dhien melabelinya sebagai pengkhianat. Ia berkata, ”Kau pengkhianat.” (Said, Mohammad: 2007, 339)
Setelah beberapa saat berada di Meulaboh, Cut Nyak Dhien kemudian di bawa ke Kuta Raja (Banda Aceh). Karena pengaruhnya yang masih besar, akhirnya Cut Nyak Dhien dikirim ke Batavia (Jakarta) dan kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Disana, Cut Nyak Dhien mendapatkan perlakuan istimewa dari kolonial Belanda. Karena ini merupakan bagian kesepakatan antara Panglima Laot Ali dengan penjajah. Masyarakat disana memanggil Cut Nyak Dhien dengan sebutan Ibu Perbu dan tidak pernah mengetahui bahwa perempuan yang bersama mereka itu adalah sosok heroik asal Aceh yang sangat ditakuti oleh Belanda.
Besarnya pengaruh Cut Nyak Dhien dikalangan masyarakat, khususnya di Meulaboh dan sekitarnya, pernah dituliskan oleh C. van Der Pol dalam bukunya sebagai berikut: Nog maar weinige jaren geleden was Tjoet Nja’ Dhien erin geslaagd de meeste Meulaboh’s kejuruan, dato’s, tji’s en tengku’s, d.z. zoowat alle categorien van hooge en lage gezagsdragers in verzet te houden. Wat die menschen deden was in hoodzaak haar werk. De taktiek van de in Boven Meulaboh zoo langen tijd volgehouden, voor de Ned. mobiele colonne en patrouilles vaak uiterst nootlottige klewang aan vallen was door deze vrouw persoonlijk geïnstrueerd. Maar ze deed nog veel meer heerschte gedurende aantal jaren feitelijk over heel Aceh in dezen zin, dat zelfs in Groot Aceh aan het Ncd. Bestuur door haar is voorgeschreven hoete handelen.”
Yang lebih kurang bermakna, di Meulaboh Keujreuen (Uleebalang), datuk-datuk, penghulu-penghulu dan lain-lain mulai dari setinggi-tingginya sampai serendah-rendahnya telah berhasil dipengaruhi oleh Cut Nyak Dhien supaya melawan Belanda. ”Apa yang mereka lakukan adalah pada hakikatnya adalah karya Cut Nyak Dhien sendiri. Serangan-serangan klewang yang hebat-hebat dialami oleh Belanda umumnya digerakkan oleh pejuang-pejuang atas instruksi dari Cut Nyak Dhien sendiri. Lebih lagi, di kemudian hari apa yang dikerjakan terutama di Aceh Besar betul-betul menurut petunjuknya.”
Zentgraaff, prajurit kolonial Belanda yang merangkap sebagai wartawan militer, dalam bukunya menuliskan mengenai ketahanan Cut Nyak Dhien dalam menjalani hidup saat bertempur sebagai berikut: Dia (Cut Nyak Dhien) telah menderita kelaparan di hutan-hutan, sementara patroli telah memburunya ke mana saja dari suatu tempat sembunyian ke tempat sembunyian lain. Adalah berminggu-minggu lamanya tidak pernah dia mendapat walau sesuap nasi. Ketika itu makanannya hanya pisang-pisang hutan yang direbus. 6 tahun lamanya wanita ini berjuang mati-matian.”
Pada 06 November 1908 atau tepat di usianya yang ke- 60, Cut Nyak Dhien menghembuskan nafas terakhirnya di Sumedang. Beliau dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.
Semoga Cut Nyak Dhien mendapatkan tempat yang terbaik disisi Allah Swt. Damailah Pahlawan kami.
Ruslan

No comments: