Allen Pope dan Marilyn Monroe

Nama Allen Lawrence Pope termasuk sosok yang tidak akan dilupakan oleh petinggi militer Indonesia. Lebih khusus lagi bagi mereka yang pernah terlibat di dalam pemberontakan PRRI Permesta. Saya pernah berbincang-bincang dengan salah seorang yang ketika pemberontakan PRRI/Permesta juga ambil bagian dalam perjuangan  yang oleh penulis Barbara Sillars Harvey (Grafitipers, 1984) disebut sebagai ‘’Pemberontakan Setengah Hati’’. Ketika itu, dia tercatat sebagai salah seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di Tomohon dan sebagai salah seorang anggota Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI). Gara-gara pemberontakan ini, dia dianggap sudah tewas dan dipotongkan kambing untuk acara mendoakan kepergiannya.

Sosok tersebut yang ketika pemberontakan itu mencapai pangkat letnan satu, juga menjadi pesakitan. Pasalnya, ketika terjadi perundingan antara pemerintah RI dengan pemberontak menyusul kedatangan Abdul Haris Nasution di Sulawesi Utara, disepakati bahwa para tentara yang tergabung dalam perjuangan ini akan dikirim untuk menjalani pendidikan dan latihan di Salatiga. Tidak urung semua mendaftar dan mempersiapkan diri.

Entah apa yang mendorong, tiba-tiba saja tokoh yang saya wawancarai itu berubah pikiran. Padahal, pakaian dan senjatanya lengkap sudah ada di kendaraan. Suatu saat, truk-truk yang mengangkut ratusan tentara eks pemberontak itu mampir istirahat sejenak di salah satu asrama mahasiswa di Manado. Sang tokoh bertemu dengan beberapa orang temannya yang membujuknya agar membatalkan niat dan langkahnya menuju Salatiga.

Sang sosok juga terpesona dengan fasilitas asrama yang disiapkan oleh A.Barumuli, Gubernur Sulawesi Utara ketika itu. Di kamar-kamar dilengkapi dengan transistor, barang yang sangat luks pada masa itu. Sang sosok melihat enak benar kehidupan teman-teman di asrama yang difasilitasi Baramuli tersebut.

Tiba-tiba saja dia berlari ke truk, tempat barang-barangnya masih tersimpan. Dia merenggut barang-barangnya.

‘’Frans.. ambilalih pimpin kompi,’’ teriak sosok tersebut sambil berlari dan masuk ke asrama mahasiswa.

Belakangan, sang sosok ini mengetahui, teman-teman yang diangkut dengan kapal laut menuju Jawa itu tidak pernah tiba di lokasi pendidikan dan pelatihan. Setibanya di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, mereka langsung dijemput oleh truk-truk tentara. Mereka bukannya dibawa ke lokasi pendidikan dan pelatihan, melainkan diangkut ke sebuah penjara di Salatiga. Senjata-senjatanya sudah terlebih dahulu digudangkan begitu hendak embarkasi naik ke kapal saat di pelabuhan Manado.Sang tokoh ini pun selamat.

Pada kunjungan saya yang terbaru ke rumahnya di salah satu kota di Sulawesi Selatan, 8 November 2013, beliau kembali berkisah tentang pemberontakan tersebut untuk melengkapi data buku yang sedang saya tulis. Ketika saya menyebut nama Allen Pope, beliau sangat antusias. Ternyata, tokoh ini, sekarang menjalani kehidupan pascatugas sebagai pegawai negeri sipil, sering berkomunikasi dengan mantan agen CIA menjadi tentara bayaran tersebut.

Salah satu pengalaman Pope yang menarik adalah ketika menyerang memanfaatkan pesawat pembom B-26 Invader Auref (Angkatan udara Refolusioner). Dia mengisahkan, ketika akan menyerang kapal Indonesia, dia akan terbang dari arah sejajar dengan arah dating cahaya matahari. Jadi, tidak melawan atau dari arah samping kiri atau kanan sinar matahari. Maksudnya, agar bayingan pesawat tersebut tidak terlihat oleh musuh, sebab mustahil akan melihat ke arah datangnya arah matahari. Pada saat mendekati sasaran, dia menjatuhkan torpedo yang kemudian meluncur menghantam kapal dan Allen Pope langsung mengegas pesawatnya tajam ke atas menjauhi titik sasaran.

Menurut Wikipedia yang diunduh 19 November 2013,pukul 23.55 Wita, dalam misinya membantu PERMESTA, Pope kemudian ditugasi sebagai pilot AUREV (Angkatan Udara Revolusioner) yang berpangkalan utama di Mapanget, Sulawesi Utara (sekarang Bandara Sam Ratulangi) di bawah pimpinan Mayor Petit Muharto. AUREV sendiri berkekuatan sekitar 10 pesawat pembom-tempur, di antaranya adalah pesawat pengebom sedang/ringan B-26 Invader dan P-51 Mustang.

CIA sendiri sebenarnya sudah menyediakan 15 pesawat pengebom B-26 untuk PRRI/PERMESTA dari sisa-sisa Perang Korea, setelah dipergunakan di berbagai konflik di Kongo, Kuba dan Vietnam. Pesawat-pesawat itu disiagakan di sebuah lapangan terbang di Filipina, tempat yang juga digunakan untuk melatih para awak sebelum dikirim ke wilayah PERMESTA. Sejumlah modifikasi dilakukan agar tidak terlalu kelihatan bahwa mereka disiapkan oleh Amerika Serikat yang memiliki teknologi maju. Di antara modifikasi yang dilakukan adalah mengubah jumlah senapan mesin yang semula memiliki enam laras pada hidung pesawat, menjadi delapan laras.

Sejak saat itu, masih menurut Wikipedia, kekuatan udara AUREV menjadi momok yang menakutkan di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Timur. Berbagai misi dilakukan AUREV, di antaranya serangan udara pada tanggal 13 April 1958 terhadap lapangan terbang Mandai (sekarang Bandara Hassanuddin), Makassar. Yang lainnya adalah pelabuhan Donggala, Ambon, Balikpapan, Ternate dan tempat lainnya menjadi target serangan yang cukup mematikan. Kapal perang Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), RI Hang Toeah (satu dari empat kapal perang korvet yang dihibahkan Belanda atas perjanjian Konferensi Meja Bundar) yang sedang membuang jangkar di pelabuhan Balikpapan dibom hingga tenggelam. Kondisi inilah yang membuat Angkatan Bersenjata Republik Indonesia segera menuntaskan operasi PRRI dan langsung juga menuntaskan operasi PERMESTA dengan pemusatan perebutan keunggulan di udara yang saat itu masih dikuasai AUREV.

Di Mapanget sendiri banyak penerbang asing selain penerbang kulit putih. Ada pula penerbang lain yang berkebangsaan Filipina dan juga Taiwan. Taiwan sendiri sudah banyak membantu dan sudah siap-siap akan mengikuti Amerika Serikat untuk mengakui negara baru yang akan disebut-sebut akan didirikan PERMESTA bila mereka berhasil.

Allen Lawrence Pope, kemudian tertangkap saat pesawatnya ditembak jatuh oleh tentara Indonesia di kawasan Ambon, Maluku ketika dia hendak mengebom suatu operasi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), tujuh mil lepas pantai Tanjung Alang, tak jauh dari Kota Ambon. Pengeboman itu gagal. Pope berhasil ditembak jatuh, tetapi dia selamat berkat parasut yang mengembang dan kemudian ditangkap tentara republik.

Bung Karno ogah membebaskan Allen Pope dari penjara di Indonesia, karena tidak mau didikte oleh Barat. Namun Presiden Amerika Serikat John F.Kennedy dapat akal. Dia mengundang Bung Karno berkunjung ke Amerika Serikat April 1962. Pada saat inilah kesempatan sang proklamator yang menganggap wanita cantik sebagai suatu seni itu sempat bertemu dengan bintang film terkenal Amerika Marilyn Monroe (MM). Pertemuan yang terjadi empat bulan sebelum MM ditemukan tewas tanpa busana di kediamannya di Los Angelles, 5 Agustus 1962, (Hendrasamara, Grasindo, 2005:252) dianggap sebagai jalan masuk bagi Kennedy membujuk Bung Karno agar mau membebaskan Allen Pope dari penjara Indonesia. Dan, pasca Bung Karno balik dari Amerika Serikat,  Allen Pape pun sudah tidak lagi ditemukan di selnya di Indonesia. ***



M Dahlan

No comments: