Refleksi Hijrah
PERINGATAN tahun baru Islam, Hijriyah, berkaitan erat dengan tiga hal, yaitu universalisme ajaran Islam, etos gerak, dan cita-cita sosial berupa menciptakan masyarakat madani. Keuniversalan Islam bisa dilihat dari dipilihnya sistem edaran bulan sebagai penanggalan kalender. Yakni hasil observasi manusia pada siklus tiga-puluhan hari atas peredaran bulan yang berubah-ubah bentuk dari sabit sampai bundaran penuh (purnama). Berbeda jauh dengan kalender Masehi yang berdasarkan edaran bumi mengelilingi matahari.
Secara kasat mata, kalender rembulan tidaklah cocok dengan peredaran musim, seperti musim hujan dan kemarau, sebab musim beredar mengikuti perjalanan matahari, bukan rembulan. Siklus tahunan rembulan adalah sebelas hari lebih pendek daripada siklus matahari. Akibatnya, peredaran musim dalam kalender rembulan hanya terjadi selama 30-an tahun, sehingga tidak cocok untuk jadwal pertanian, misalnya.
Tetapi justru inilah letak keutamaan kalender rembulan. Menurut Alquran (Surah Al-Baqarah: 189), rembulan ditakdirkan beredar (seperti penjelasan di atas) untuk menentukan waktu manusia beribadah, seperti berpuasa dan haji ke Mekkah. Secara lebih tegasnya, perhitungan waktu menurut peredaran bulan dirancang terutama untuk perhitungan waktu beribadah (formal), bukan terutama untuk kegiatan praktis duniawi seperti pertanian.
Di sinilah desain Islam sebagai agama seluruh umat manusia tampak jelas, karena tidak peduli di manapun kita tinggal, baik di belahan bumi Utara, Barat, Timur atau Selatan, setiap manusia akan merasakan bulan penanggalan Hijriyah dalam setiap musim yang berbeda.
Misalnya saja bulan puasa, jika ibadah puasa ditetapkan pada jadwal kalender matahari, misalnya bulan Desember (bukan Ramadhan), maka akan terjadi ketidakadilan yang cukup mencolok: Muslim di belahan bumi Utara akan selalu berpuasa di musim dingin yang sejuk dan pendek, sementara muslim di belahan bumi Selatan akan selalu berpuasa di musim panas yang panjang dan gerah. Tetapi dengan digunakannya sistem peredaran bulan sebagai patokan, maka semua orang di semua tempat, dalam siklus 30 tahun, akan pernah merasakan berpuasa dalam satu musim.
Universalisme Islam
Jika universalisme Islam dapat dilihat dari perspektif astronomi dan geofisika, maka aktivitas hijrah itu sendiri mengajarkan etos gerak dalam Islam. Artinya, orang-orang Muslim didorong untuk bergerak, aktif dan senantiasa berbuat sesuatu yang baik. Agama Islam memang selalu dilukiskan sebagai jalan. Istilah-istilah syariah, thariqah, shirath, sabil, minhaj, dan maslak, pada dasarnya adalah berarti jalan. Maka Islam adalah jalan menuju kepada Allah guna memperoleh ridhaNya. Jika tidak begitu, maka hidup kita akan menjadi muspra atau suatu perdagangan yang merugi (khusr).
Konotasi jalan ialah gerak. Benda yang berada di atas sebuah jalan (misalnya kendaraan) semestinya bergerak, dan tidak diam. Dan jika benda itu diam, maka dia menyalahi kodrat sebuah jalan dimana dia berada. Jadi karena Islam selalu digambarkan sebagai jalan, orang-orang Muslim adalah orang-orang yang senantiasa bergerak maju, dinamis dan aktif. Jika seorang muslim bersifat pasif, statis, dan stagnan, maka ia telah menyalahi kodrad ajaran agamanya sendiri. Dan sejarah telah menunjukkan bahwa hukuman bagi umat yang diam, jumud, dan pasif adalah berupa kemunduran serta keterbelakangan dari segi ilmu pengetahuan, ekonomi, bahkan peradaban.
Sebagaimana diketahui, setelah bergerak dari Mekkah ke Yastrib, Nabi Muhammad saw mengubah nama kota itu menjadi Madinah. Maka memperingati hijrah adalah juga memperingati pergantian nama kota Yatsrib menjadi Madinah, yang maknanya ialah kota dalam pengertian “tempat peradaban, berkesopanan, dan teratur dengan hukum-hukum yang ditaati oleh semua warga”. Nama lengkapnya ialah Madinat al-Rasul atau Madinat al-Nabi (Kota Rasul atau Kota Nabi).
Di Madinahlah Nabi saw berhasil menciptakan masyarakat Islami, menghentikan perang antarsuku, mempersaudarakan kelompok yang bertikai, menegakkan supremasi hukum, serta melindungi hak-hak fakir miskin dan kelompok minoritas. Melihat prestasi Nabi semuanya berawal dari hijrah, maka tidak heran jika kemudian Khalifah Umar ibn Khattab memilih momentum peristiwa hijrah ini sebagai permulaan kalender Islam.
Alasannya sederhanya saja, karena Islam sangat menghargai prestasi atau hasil kerja seseorang, bukan prestise (kesukuan atau keturunan) seseorang. Bahkan menurut Ibn Taymiah, perbedaan orientasi prestasi dan orientasi prestise merupakan salah satu perbedaan antara paham Islam dan paham Jahiliah. Nabi saw sendiri juga memperingatkan bahwa “barang siapa mati berdasarkan semangat kesukuan, maka ia mati jahiliah.”
Itulah sebabnya maka Islam kemudian berhasil menghapuskan berbagai permusuhan antarsuku di kalangan bangsa Arab, dan mendorong masing-masing pribadi mereka untuk berlomba-lomba berbuat berbagai kebaikan.
Bertitik-tolak kepada semangat itu, maka kaum Muslim Arab berhasil membangun energi yang sedemikian hebatnya. Maka tidak seberapa lama setelah Nabi saw wafat terjadi apa yang dikatakan orang Barat sebagai “ledakan Arab” (Arab explosion), yaitu ketika bangsa Arab yang semula hampir tidak dikenal dunia luar tiba-tiba tampil sebagai kekuatan dahsyat yang mengalahkan negeri-negeri adidaya pada zamannya, yaitu Persia dan Bizantium.
Oleh sebab itu, semangat hijrah juga merupakan semangat persaudaraan. Nabi saw setelah hijrah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, serta mempersatukan suku Khaus dan suku Khazraj yang sebelumnya selalu bertikai.
Dalam konteks Aceh sekarang, semangat hijrah adalah semangat persaudaraan sesama warga Aceh, tak peduli asal suku dan bahasa daerahnya. Sifat merasa suku atau bahasa sendiri lebih tinggi dari suku atau bahasa orang lain termasuk budaya kesukuan yang merupakan bagian budaya jahiliah.
Semangat persaudaraan
Beranjak dari poin-poin di atas, maka peringatan hijrah merupakan peningkatan kualitatif perjuangan bersama menciptakan masyarakat yang sebaik-baiknya melalui kerja keras. Dan memang ciri menonjol dari masyarakat Islam pimpinan Rasulullah di Madinah itu adalah peradaban, penegakan hukum yang adil, serta kehidupan teratur yang dilandasi jiwa dan semangat persaudaraan di antara semua anggota masyarakat satu sama lainnya.
Maka jika kota tempat kita tinggal masih semraut, kotor, masyarakatnya tidak menaati hukum serta sesama warga saling bermusuhan karena politik ataug lainnya, berarti kita masih berada dalam suasana masyarakat jahiliah pra-hijrah. Oleh karena itu, peringatan hijrah atau tahun baru Islam yang dilakukan pemerintah Aceh janganlah hanya pada tataran acara seremonial.
Secara kepemimpinan, semangat hijrah bukanlah semangat festival, melainkan semangat peningkatan tata hidup masyarakat Aceh agar lebih ber-madaniyah, beradab, dan berbudaya. Inilah yang harus diusahakan oleh pemerintah Aceh di tahun baru Islam ini, karena hal-hal inilah yang dibangun Nabi saw sebagai pemimpin Madinah setelah hijrah, 1435 tahun yang lalu.
* Muhammad Mirza Ardi, Alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, dan Program IELSP di Ohio University, USA. Email: mirzaksd@yahoo.com
Secara kasat mata, kalender rembulan tidaklah cocok dengan peredaran musim, seperti musim hujan dan kemarau, sebab musim beredar mengikuti perjalanan matahari, bukan rembulan. Siklus tahunan rembulan adalah sebelas hari lebih pendek daripada siklus matahari. Akibatnya, peredaran musim dalam kalender rembulan hanya terjadi selama 30-an tahun, sehingga tidak cocok untuk jadwal pertanian, misalnya.
Tetapi justru inilah letak keutamaan kalender rembulan. Menurut Alquran (Surah Al-Baqarah: 189), rembulan ditakdirkan beredar (seperti penjelasan di atas) untuk menentukan waktu manusia beribadah, seperti berpuasa dan haji ke Mekkah. Secara lebih tegasnya, perhitungan waktu menurut peredaran bulan dirancang terutama untuk perhitungan waktu beribadah (formal), bukan terutama untuk kegiatan praktis duniawi seperti pertanian.
Di sinilah desain Islam sebagai agama seluruh umat manusia tampak jelas, karena tidak peduli di manapun kita tinggal, baik di belahan bumi Utara, Barat, Timur atau Selatan, setiap manusia akan merasakan bulan penanggalan Hijriyah dalam setiap musim yang berbeda.
Misalnya saja bulan puasa, jika ibadah puasa ditetapkan pada jadwal kalender matahari, misalnya bulan Desember (bukan Ramadhan), maka akan terjadi ketidakadilan yang cukup mencolok: Muslim di belahan bumi Utara akan selalu berpuasa di musim dingin yang sejuk dan pendek, sementara muslim di belahan bumi Selatan akan selalu berpuasa di musim panas yang panjang dan gerah. Tetapi dengan digunakannya sistem peredaran bulan sebagai patokan, maka semua orang di semua tempat, dalam siklus 30 tahun, akan pernah merasakan berpuasa dalam satu musim.
Universalisme Islam
Jika universalisme Islam dapat dilihat dari perspektif astronomi dan geofisika, maka aktivitas hijrah itu sendiri mengajarkan etos gerak dalam Islam. Artinya, orang-orang Muslim didorong untuk bergerak, aktif dan senantiasa berbuat sesuatu yang baik. Agama Islam memang selalu dilukiskan sebagai jalan. Istilah-istilah syariah, thariqah, shirath, sabil, minhaj, dan maslak, pada dasarnya adalah berarti jalan. Maka Islam adalah jalan menuju kepada Allah guna memperoleh ridhaNya. Jika tidak begitu, maka hidup kita akan menjadi muspra atau suatu perdagangan yang merugi (khusr).
Konotasi jalan ialah gerak. Benda yang berada di atas sebuah jalan (misalnya kendaraan) semestinya bergerak, dan tidak diam. Dan jika benda itu diam, maka dia menyalahi kodrat sebuah jalan dimana dia berada. Jadi karena Islam selalu digambarkan sebagai jalan, orang-orang Muslim adalah orang-orang yang senantiasa bergerak maju, dinamis dan aktif. Jika seorang muslim bersifat pasif, statis, dan stagnan, maka ia telah menyalahi kodrad ajaran agamanya sendiri. Dan sejarah telah menunjukkan bahwa hukuman bagi umat yang diam, jumud, dan pasif adalah berupa kemunduran serta keterbelakangan dari segi ilmu pengetahuan, ekonomi, bahkan peradaban.
Sebagaimana diketahui, setelah bergerak dari Mekkah ke Yastrib, Nabi Muhammad saw mengubah nama kota itu menjadi Madinah. Maka memperingati hijrah adalah juga memperingati pergantian nama kota Yatsrib menjadi Madinah, yang maknanya ialah kota dalam pengertian “tempat peradaban, berkesopanan, dan teratur dengan hukum-hukum yang ditaati oleh semua warga”. Nama lengkapnya ialah Madinat al-Rasul atau Madinat al-Nabi (Kota Rasul atau Kota Nabi).
Di Madinahlah Nabi saw berhasil menciptakan masyarakat Islami, menghentikan perang antarsuku, mempersaudarakan kelompok yang bertikai, menegakkan supremasi hukum, serta melindungi hak-hak fakir miskin dan kelompok minoritas. Melihat prestasi Nabi semuanya berawal dari hijrah, maka tidak heran jika kemudian Khalifah Umar ibn Khattab memilih momentum peristiwa hijrah ini sebagai permulaan kalender Islam.
Alasannya sederhanya saja, karena Islam sangat menghargai prestasi atau hasil kerja seseorang, bukan prestise (kesukuan atau keturunan) seseorang. Bahkan menurut Ibn Taymiah, perbedaan orientasi prestasi dan orientasi prestise merupakan salah satu perbedaan antara paham Islam dan paham Jahiliah. Nabi saw sendiri juga memperingatkan bahwa “barang siapa mati berdasarkan semangat kesukuan, maka ia mati jahiliah.”
Itulah sebabnya maka Islam kemudian berhasil menghapuskan berbagai permusuhan antarsuku di kalangan bangsa Arab, dan mendorong masing-masing pribadi mereka untuk berlomba-lomba berbuat berbagai kebaikan.
Bertitik-tolak kepada semangat itu, maka kaum Muslim Arab berhasil membangun energi yang sedemikian hebatnya. Maka tidak seberapa lama setelah Nabi saw wafat terjadi apa yang dikatakan orang Barat sebagai “ledakan Arab” (Arab explosion), yaitu ketika bangsa Arab yang semula hampir tidak dikenal dunia luar tiba-tiba tampil sebagai kekuatan dahsyat yang mengalahkan negeri-negeri adidaya pada zamannya, yaitu Persia dan Bizantium.
Oleh sebab itu, semangat hijrah juga merupakan semangat persaudaraan. Nabi saw setelah hijrah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, serta mempersatukan suku Khaus dan suku Khazraj yang sebelumnya selalu bertikai.
Dalam konteks Aceh sekarang, semangat hijrah adalah semangat persaudaraan sesama warga Aceh, tak peduli asal suku dan bahasa daerahnya. Sifat merasa suku atau bahasa sendiri lebih tinggi dari suku atau bahasa orang lain termasuk budaya kesukuan yang merupakan bagian budaya jahiliah.
Semangat persaudaraan
Beranjak dari poin-poin di atas, maka peringatan hijrah merupakan peningkatan kualitatif perjuangan bersama menciptakan masyarakat yang sebaik-baiknya melalui kerja keras. Dan memang ciri menonjol dari masyarakat Islam pimpinan Rasulullah di Madinah itu adalah peradaban, penegakan hukum yang adil, serta kehidupan teratur yang dilandasi jiwa dan semangat persaudaraan di antara semua anggota masyarakat satu sama lainnya.
Maka jika kota tempat kita tinggal masih semraut, kotor, masyarakatnya tidak menaati hukum serta sesama warga saling bermusuhan karena politik ataug lainnya, berarti kita masih berada dalam suasana masyarakat jahiliah pra-hijrah. Oleh karena itu, peringatan hijrah atau tahun baru Islam yang dilakukan pemerintah Aceh janganlah hanya pada tataran acara seremonial.
Secara kepemimpinan, semangat hijrah bukanlah semangat festival, melainkan semangat peningkatan tata hidup masyarakat Aceh agar lebih ber-madaniyah, beradab, dan berbudaya. Inilah yang harus diusahakan oleh pemerintah Aceh di tahun baru Islam ini, karena hal-hal inilah yang dibangun Nabi saw sebagai pemimpin Madinah setelah hijrah, 1435 tahun yang lalu.
* Muhammad Mirza Ardi, Alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, dan Program IELSP di Ohio University, USA. Email: mirzaksd@yahoo.com




No comments:
Post a Comment