Sejarah Islam: Lahirnya Mazhab Syiah

Kawan saya bercerita bahwa kemarin pagi mendengar siaran kuliah subuh di sebuah radio di Bandung. Tema kajiannya tentang Syiah. Dari narasumber itu ada “dalil” yang baru pertama kali saya dengar tentang cikal bakal munculnya Syiah.

Menurut narasumber di radio, gerakan Syiah muncul karena rasa cemburu para pengikut Ali bin Abi Thalib terhadap Aisyah. Istri Nabi yang satu ini dianggap merebut cinta Nabi pasca Khadijah. Kecemburuan itulah yang kemudian berubah menjadi kebencian. Ditambah lagi Aisyah punya kelebihan lebih cantik, lebih muda dan lebih cerdas. Sayangnya narasumber itu tidak menyebutkan rujukan-rujukan ketika membahasnya.

Setahu saya dalam sejarah bahwa yang dikagumi Rasulullah saw dengan paras cantik itu Ummu Salamah, Maryam Al-Qibtiyah, Shafiyah binti Huyay, dan Zainab binti Jahsyi. Kalau yang paling muda mungkin benar Aisyah.
Dalam buku Benarkah Aisyah Menikah dengan Rasulullah saw di Usia Dini? karya O.Hashem disebutkan Aisyah itu janda. Buku ini diterbitkan Mizan. Disebutkan Aisyah menikah dengan pemuda bernama Jubir bin Muthim sebelum dengan Rasulullah saw. Hal ini tertera dalam riwayat Ibnu Sa’ad yang dinukil dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata: Rasulullah saw melamar Aisyah binti Abu Bakar. Lalu Abu Bakar berkata: wahai Rasulullah, aku sudah berikan dia kepada Muth’im untuk dinikahkah kepada anaknya si Jubair. Jadi biarkan aku ambil dari mereka. Lalu Abu Bakar mengambilnya dengan cara halus kemudian menikahkannya dengan Rasulullah saw.
Berkaitan dengan sejarah Syiah, dalam buku Aliran-Aliran dalam Islam (Salamadani Publishing, 2009) disebutkan lahir pascawafat Rasulullah saw. Ketika wafat Nabi, Imam Ali bin Abi Thalib beserta keluarganya memandikan sampai mengurus pemakaman Rasulullah saw. Mereka ini yang disebut Syiah (golongan) Ahlulbait.
Sementara sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khaththab meninggalkan jenazah Rasulullah saw dan mendatangi Balai Saqifah. Di sana terjadi perdebatan antara sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar. Kaum Anshar mengajukan Saad bin Ubadah untuk menjadi pemimpin Islam. Ditolak oleh sahabat Muhajirin. Tibalah Umar dan Abu Bakar. Suasana semakin seru saling menyebutkan keutamaan di antara mereka dan saling mengajukan calon pemimpin setelah Rasulullah saw.
Sampai kemudian Umar langsung mengangkat tangan Abu Bakar untuk dibaiat. Lalu sahabat Muhajirin lain pun ikutan. Kemudian sahabat Anshar meninggalkan tempat tanpa memberikan baiat. Orang-orang yang memberikan baiat ini kemudian disebut ahlul khulafa. Sedangkan mereka yang ikut dalam pengurusan jenazah dan tidak memberikan baiat disebut Ahlulbait. Kemudian hari para pengikut Ahlulbait ini disebut Syiah Ali karena menjadi pendukung dalam Perang Shiffin melawan pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan dan Perang Jamal melawan pasukan Aisyah dan dua sahabat: Zubair dan Thalhah.

Sebagaimana yang telah saya tulis dalam kompasiana ini (Sejarah Islam: Muawiyah dan Khawarij), dalam Perang Shiffin pasukan Muawiyah yang memberontak kepada Imam Ali bin Abi Thalib terdesak saat melawan pasukan Imam Ali. Penasihat Muawiyah yang bernama Amr bin Ash menyarankan untuk mengacungkan Quran dengan tombak sebagai upaya perdamaian. Imam Ali mengetahui bahwa itu hanya taktik dan meminta pasukannya untuk terus memerangi mereka. Namun, segelintir orang-orang Kufah terpengaruh dengan taktik Quran tersebut. Mereka meminta Imam Ali untuk berhenti perang dan mengajak damai. Meski sudah dijelaskan itu hanya taktik, mereka yang terpengaruh itu memaksa dan mengancam akan balik menyerang.

Kedua pihak kemudian melakukan perundingan. Di antara keduanya sepakat bahwa pemimpin Islam harus diserahkan kepada umat Islam. Lalu, kedua belah pihak yang mewakili harus menurunkan masing-masing pemimpinnya. Yang pertama mengumumkan adalah yang tua: Musa Asyari perwakilan Imam Ali bin Abi Thalib. Ia menyatakan Imam Ali secara resmi bukan lagi khalifah. Giliran Amr bin Ash mewakili Muawiyah menyatakan bahwa ia menetapkan Muawiyah sebagai khalifah.

Terjadilah keributan. Orang-orang yang memaksa Imam Ali untuk berunding marah. Mereka meminta Imam Ali untuk membatalkannya Karena perjanjian diawal sudah dilakukan sehingga Imam Ali membiarkannya. Karena tidak direspon, orang-orang itu kemudian keluar dari pasukan Imam Ali atau Syiah Ali. Mereka inilah yang disebut Khawarij, yang gerakannya hampir sama dengan kelompok Muawiyah yang senang menggunakan kekerasan.

Dari kasus Perang Shiffin inilah yang disebut Syiah adalah yang mendukung dan setia kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Sedangkan mereka yang keluar dari dukungan disebut Khawarij. Orang-orang Khawarij ini, menurut almarhum Prof Harun Nasution, adalah orang-orang Islam baru dari desa-desa di sekitar Kufah, Irak. Mereka mendatangi Imam Ali ketika berpindah pemerintahan dari Madinah dan menyatakan masuk Islam. Keimanan yang tidak kuat tertanam itulah yang membuat mereka meninggalkan Imam Ali bin Abi Thalib dan menjadi gerakan mazhab tersendiri.

Teori lain tentang Syiah berasal dari Muhammad Babul Ulum dalam buku Memahami Syiah: Merajut Ukhuwah yang diterbitkan Marja (Nuansa Cendekia Bandung).

Ustad Babul Ulum menyebutkan Nabi Muhammad Saw pernah mengumpulkan kerabat dekatnya (Bani Hasyim). Setelah berkumpul, Nabi memperingatkan mereka sebagaimana perintah Allah dalam surah Al-Syu’ara ayat 214) dan berkata: Siapa di antara kalian yang menolongku untuk menjadi saudaraku, pewarisku, pengemban wasiatku, wazirku, penggantiku untuk memimpin kalian sepeninggalku? Tidak ada yang menjawab seruan Rasulullah saw selain Ali bin Abi Thalib. Seraya berdiri, Ali berkata: “Aku, wahai Nabiyullah. Aku bersedia menjadi pembantumu.”

Kemudian Rasulullah saw memintanya untuk duduk. Rasulullah saw mengulangi lagi. Ali kembali menyatakan. Rasulullah saw memintanya duduk dan menunggu yang lain. Lalu, mengulang lagi. Tidak ada yang merespon selain Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw berkata: “Dengarlah dia dan taatilah ia.” Mereka yang hadir itu berdiri sambil tertawa mengejek Abu Thalib, seraya berkata: “Lihatlah, dia telah menyuruhmu untuk mendengarkan dan taat kepada anakmu.”


Babul Ulum juga menyebutkan Rasulullah saw mengatakan kepada Ali bin Abi Thalib ketika menjahit sepatu bahwa Ali dan golongannya akan masuk surga. Dalam bahasa Arab, pengikut atau golongan disebut dengan istilah Syiah. Karena itu, menurut Babul bahwa istilah Syiah Ali sudah disebutkan oleh Rasulullah saw. Juga disebutkan dalam riwayat Ibnu Askar dari Jabir bin Abdillah saat menafsirkan ayat, “Mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk.” (QS Al-Bayyinah:7). Dalam riwayat itu disebutkan, “Saat itu kami tengah bersama Nabi. Lalu datang kepada kami Ali. Nabi berkata: “Demi Dia yang hidupku di tangan-Nya, dia (maksudnya Ali) beserta pengikut dan pendukung setianya akan menjadi orang-orang yang menang pada Hari Kebangkitan.”


Sejauh yang saya ketahui dari bacaan buku-buku sejarah, istilah Syiah kemudian menjadi Imamiyah atau Itsna Asyariyah, Ismailiyyah, Kisaniyah, Zaidiyah, dan Ghulat.

Imamiyah merujuk pada Syiah yang memercayai Rasulullah saw telah menetapkan dua belas imam dari Ahlulbait Rasulullah saw. Ismailiyah meyakini adanya imam yang berjumlah tujuh orang, yang terakhir adalah Imam Ismail putra Imam Jafar Shadiq. Kisaniyah hanya merujuk kepada lima orang: Rasulullah saw, Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, dan Sayidah Fathimah. Zaidiyah adalah Syiah yang meyakini jabatan imamah berhenti pada Imam Zaid bin Imam Ali Zainal Abidin (putra Imam Husain, cucu Rasulullah saw).


Sementara Ghulat, sesuai dengan istilahnya, mereka yang berlebihan dalam memuliakan Ahlulbait. Mereka ini yang dianggap mempertuhankan Imam Ali dan menyalahkan Malaikat Jibril salah memberikan wahyu. Bahkan menyandarkan tokohnya kepada Abdullah bin Saba yang menyebarkan ajaran Syiah Ghulat. Anehnya sosok Abdullah bin Saba ini hanya terdapat dalam kitab yang ditulis oleh Saif bin Umar At-Tamimi yang dirujuk oleh Ibnu Taimiyyah. Ulama Syiah sendiri menyebut Abdullah bin Saba sebagai tokoh fiktif yang sengaja diciptakan oleh pihak yang merasa terancam dengan Syiah sehingga ada “kambing hitam” untuk menyalahkan dan menyesatkan Syiah.


Kalau mau menelusuri dari buku Al-Milal wa Al-Nihal (Aliran-aliran Teologi dalam Islam) yang diterbitkan Mizan karya Muhammad ibn Abd Al-Karim Ahmad Al-Syahrastani (hidup abad 6 H/12 M.) akan tercengang bahwa Islam terpecah dalam mazhab-mazhab dan setiap mazhab melahirkan aliran-aliran kecil lagi. Syahrastani secara khusus membicarakan doktrin, aliran, dan sub-aliran dari mazhab Mu’tazilah, Jabariyyah, Shifathiyyah, Khawarij, Murjiah, dan Syiah dengan alirannya.

Bagaimana dengan Ahlussunah dan Wahabi? Apakah mazhab baru? Nantikan catatannya….

No comments: